SANG mentari mulai menari. Sinarnya yang menyilaukan tak dapat dipungkiri, bahwa cahayanya tetap menjadi penghangat bagi diri Raya. Kini, wanita itu tengah berada dalam perjalanan bersama sang Ibu untuk menuju ke rumah sakit. Pandangan Raya tak henti menyusuri tepi jalan di mana tak ada habisnya oleh orang-orang yang berlalu lalang. Bahkan, tak jarang tampak tawa dan canda menghiasi mereka yang sedang berjalan. Entah kapan terakhir kali Raya bisa tertawa seperti itu.
“Kau juga bisa tersenyum ceria kembali seperti mereka, Raya,” sahut Bintang yang berada tepat di belakang kursi wanita itu. Arwah itu seolah tahu dengan apa yang tengah dipikirkan oleh wanita di depannya yang sedari tadi menatap ke arah orang - orang itu melalui kaca jendela.
Raya tak menyahut. Ia hanya mengembuskan napas p