“RAVIN!”
Jeritan Bunga memecah seisi studio.
Segalanya terjadi terlalu cepat setelah itu. Beberapa kerabat kerja berlarian dari sudut ruangan. Seseorang berteriak memanggil nama Melly. Seseorang yang lain berteriak supaya lampu-lampu lain segera dimatikan. Ada suara kabel yang ditarik, ada suara kursi yang terjatuh, ada suara langkah kaki yang bertabrakan satu sama lain.
Bunga masih berada di bawah tubuh laki-laki itu.
“Ravin.” Ia mengguncang bahu Ravin dengan kedua tangannya yang gemetar hebat. “Ravin, bangun. Ravin!”
Tidak ada jawaban.
Beberapa orang datang dan mengangkat standing lamp yang tumbang itu bersama-sama. Baru setelah itu Bunga bisa keluar dari bawah tubuh laki-laki tersebut, dengan lutut yang lemas dan napas yang tersengal-sengal.
“Jangan digerakkan!” cegah seseorang ketika ada yang hendak membalikkan tubuh Ravin. “Punggungnya yang kena. Tunggu ambulans!”
“Sudah ditelepon?”
“Sudah! Sedang di jalan!”
Bunga berlutut di samping kepala Ravin. Ia meletakkan telapak tangannya di pipi laki-laki itu, yang terasa dingin dan basah oleh keringat.
“Ravin, dengarkan aku.” Suaranya pecah. “Kau tidak boleh pergi. Kau dengar aku? Kau tidak boleh pergi juga.”
Kelopak mata Ravin bergerak sedikit. Bibirnya bergerak, mengeluarkan sesuatu yang nyaris tidak terdengar.
“Apa? Ravin, apa?”
“Ka … kau tidak apa-apa?”
Bunga tercekat.
Laki-laki itu bahkan tidak menanyakan keadaan dirinya sendiri.
“Aku tidak apa-apa,” isaknya. “Aku tidak apa-apa, Ravin. Aku tidak kena sama sekali.”
Sudut bibir Ravin terangkat sedikit.
Kemudian, kesadarannya benar-benar menghilang.
••••••••
Lorong rumah sakit itu terang benderang dan berbau obat.
Bunga duduk di kursi tunggu dengan kedua tangan yang saling meremas di atas pangkuannya. Riasannya masih menempel. Pakaian pemotretannya bahkan belum sempat diganti. Seseorang menyampirkan jaket ke bahunya beberapa waktu yang lalu, dan sampai sekarang ia belum sadar siapa yang melakukannya.
“Bunga, kau harus duduk yang benar. Wajahmu pucat sekali,” ujar Melly sambil menyodorkan sebotol air.
“Aku tidak apa-apa.”
“Kau bilang begitu sejak dua jam yang lalu.”
Bunga tidak menjawab.
Melly menghela napas, lalu duduk di kursi sebelahnya.
“Bukan salahmu,” ucapnya pelan.
“Kalau saja aku tidak berdiri di situ—”
“Bunga.” Melly menoleh. “Kabel lampu itu memang sudah harus diganti sejak bulan lalu. Aku yang menandatangani laporannya, dan aku yang menundanya. Jadi kalau kau mau mencari orang yang bersalah, cari saja aku.”
Bunga membuka mulut, lalu menutupnya lagi.
Pintu di ujung lorong terbuka. Seorang dokter keluar sambil melepas sarung tangannya.
Bunga langsung bangkit terlalu cepat hingga pandangannya berkunang-kunang. Ia berpegangan pada sandaran kursi supaya tidak jatuh.
“Keluarga pasien?”
“Sa … saya temannya, Dok.”
Dokter itu melenggut. “Kondisinya sudah stabil. Tidak ada pendarahan dalam, dan tidak ada patah tulang. Kami sudah melakukan pemeriksaan menyeluruh.”
Bunga mengembuskan napas lega hingga bahunya turun.
“Tapi,” lanjut dokter itu, “ada memar yang cukup luas di punggung bagian bawah, dan ada tekanan pada saraf di sekitar sana. Untuk sekarang kami belum bisa memastikan seberapa jauh dampaknya.”
“Maksud Dokter?”
“Maksud saya, jangan menganggap ini luka ringan hanya karena tidak ada tulang yang patah.” Dokter itu menutup mapnya. “Cedera punggung seperti ini kadang baru terasa berminggu-minggu setelahnya. Kalau nanti dia mengeluh nyeri saat berdiri lama, atau kesemutan sampai ke kaki, segera bawa kembali ke sini. Jangan ditunda.”
Bunga melenggut berkali-kali.
“Dan satu lagi.” Dokter itu menatapnya. “Dia butuh istirahat total. Minimal dua minggu. Bukan istirahat yang setengah-setengah, ya. Bukan yang sambil bekerja sedikit-sedikit.”
Melly di belakang sana mendesah panjang, sudah membayangkan berapa banyak jadwal yang harus dibatalkan.
“Apa saya boleh melihatnya?”
“Boleh. Tapi jangan dibangunkan. Biarkan dia tidur.”
••••••••
Ruangan itu remang-remang.
Bunga menarik kursi kecil ke sisi ranjang, lalu duduk dengan hati-hati sekali.
Ravin terbaring di sana dengan selang infus di punggung tangannya. Wajahnya pucat, jauh lebih pucat daripada biasanya. Rambutnya masih tertata rapi oleh penata rias, dan entah kenapa justru itulah yang membuat pemandangan ini terasa begitu salah.
Bunga menatapnya lama sekali.
“Kenapa kau melakukannya?” bisiknya.
Tentu saja tidak ada jawaban.
“Kau bisa saja menarikku ke samping. Kau bisa saja berteriak lalu menghindar. Kenapa harus memelukku seperti itu?”
Ia menunduk, menatap kedua tangannya sendiri di atas pangkuan.
“Aku ini bukan siapa-siapa, Ravin. Aku hanya teman kerjamu yang kaku di depan kamera dan selalu memarahimu karena mengambil roti terlalu banyak.”
Suara mesin di samping ranjang berbunyi teratur.
Bunga memejamkan matanya.
Sungguh, ada satu hal yang sejak tadi berputar-putar di dalam kepalanya, dan ia benci sekali kepada dirinya sendiri karena memikirkannya di saat seperti ini.
Bahwa selama ini, sudah bertahun-tahun lamanya, tidak ada satu pun orang yang bisa berdiri di depan tubuhnya untuk melindunginya.
Bukan karena tidak ada yang mau.
Melainkan karena orang yang paling ingin melakukannya justru tidak memiliki tubuh untuk melakukannya.
“Maafkan aku,” gumam Bunga entah kepada siapa.
Air matanya jatuh ke atas punggung tangannya sendiri.
••••••••
Menjelang pukul sembilan malam, Bunga keluar sebentar ke lorong dan menelepon seseorang.
“Halo?” Suara di seberang sana terdengar mengantuk. “Bunga? Ini sudah malam.”
“Maaf, Raya. Aku membangunkanmu, ya?”
“Tidak juga. Bayi ini yang membangunkanku sejak tadi.” Terdengar suara seseorang yang menggeser posisi tidurnya. “Kau kenapa? Suaramu aneh.”
Bunga menyandarkan punggungnya ke dinding lorong.
“Raya, hari ini hampir terjadi sesuatu padaku.”
Hening sesaat.
“Hampir?”
“Ada lampu besar yang jatuh di studio. Tepat ke arahku.” Bunga menutup matanya. “Aku bahkan tidak sempat menoleh. Kalau saja tidak ada yang menarikku, mungkin sekarang aku yang berbaring di sini.”
“Bunga.” Suara Raya berubah tajam. “Kau di rumah sakit sekarang?”
“Aku baik-baik saja. Sungguh. Aku tidak terluka sedikit pun.”
“Lalu siapa yang terluka?”
Bunga membisu cukup lama.
“Temanku,” jawabnya akhirnya. “Dia yang kena.”
Terdengar embusan napas panjang di seberang sana.
“Bunga, dengarkan aku baik-baik.” Suara Raya melunak. “Jangan menghukum dirimu sendiri malam ini. Aku tahu kau sedang melakukannya. Aku mengenalmu.”
“Aku tidak—”
“Aku pernah melakukan hal yang sama selama berminggu-minggu, dan tidak ada satu pun hal baik yang keluar dari itu.” Raya berhenti sebentar. “Orang yang melindungimu itu tidak melakukannya supaya kau merasa bersalah. Dia melakukannya supaya kau selamat. Jangan sia-siakan itu dengan menghancurkan dirimu sendiri.”
Bunga menunduk. Air matanya jatuh lagi.
“Kenapa kau selalu tahu apa yang harus dikatakan?”
“Karena dulu ada yang mengajariku.” Terdengar tawa kecil yang getir di seberang sana. “Arwah menyebalkan yang suka duduk di atas lemari pakaian.”
Kedua tangan Bunga bergetar.
“Raya.”
“Hm?”
“Apa dia … baik-baik saja?”
Hening cukup lama.
“Dia bertahan,” jawab Raya akhirnya. “Sama seperti kita semua.”
Sambungan itu berakhir beberapa menit kemudian.
Bunga berdiri di lorong itu cukup lama sebelum akhirnya kembali masuk ke dalam ruangan.
••••••••
Malam itu Bunga tidak pulang.
Melly sempat memaksanya berkali-kali. Manajemen bahkan sudah menyiapkan mobil untuk mengantarnya. Namun, gadis itu bersikeras.
“Aku akan pulang besok pagi. Aku janji.”
“Bunga, kau sendiri belum sehat betul. Kau baru sembuh dari demam minggu lalu.”
“Aku tahu.”
“Lalu kenapa keras kepala sekali?”
Bunga tersenyum tipis. “Karena kalau aku pulang sekarang, aku tidak akan bisa tidur juga. Jadi lebih baik aku tidak bisa tidur di sini saja.”
Melly akhirnya menyerah. Ia meninggalkan sebungkus roti dan sebotol air di atas meja, lalu pamit sambil menggerutu panjang lebar tentang orang-orang keras kepala yang bekerja di industri ini.
Setelah semua orang pergi, ruangan itu benar-benar sunyi.
Bunga menyandarkan punggungnya ke kursi, menarik jaket yang menyampir di bahunya lebih rapat, lalu menatap langit-langit ruangan.
Di luar, hujan mulai turun lagi. Suaranya terdengar samar-samar dari balik kaca, teratur dan tidak tergesa-gesa, seperti sesuatu yang sudah terbiasa datang tanpa diundang.
Ia menoleh ke arah jendela, ke arah tirai yang tertutup rapat.
Dan untuk pertama kalinya sejak berbulan-bulan, ia tidak menahan diri.
“Bintang,” bisiknya sangat pelan. “Kalau kau bisa mendengarku dari mana pun kau berada sekarang … aku minta maaf.”
Tidak ada jawaban.
Tidak ada hawa dingin di tengkuknya. Tidak ada tirai yang bergerak. Tidak ada suara yang menegurnya karena tidur di kursi.
Tidak ada apa-apa.
Bunga menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, dan menangis tanpa suara supaya tidak membangunkan laki-laki yang terbaring di sampingnya.
••••••••
Ia tertidur menjelang pukul empat pagi, dengan kepala bertumpu di tepi ranjang dan tangan yang masih menggenggam ujung selimut.
Ketika cahaya pertama menerobos masuk melalui celah tirai, ruangan itu berubah menjadi kekuningan dan hangat.
Suara langkah perawat mulai terdengar dari lorong. Ada troli yang didorong. Ada seseorang yang membuka jendela di ruangan sebelah.
Dan di atas ranjang itu, jari-jemari seorang laki-laki bergerak sedikit.
Kelopak matanya bergetar. Sekali. Dua kali.
Lalu, perlahan-lahan, terbuka.
Hal pertama yang dilihatnya adalah langit-langit yang asing. Hal kedua adalah selang infus di punggung tangannya sendiri.
Dan hal ketiga, yang membuat kesadarannya benar-benar kembali sepenuhnya, adalah seorang gadis yang tertidur di sisi ranjangnya, dengan riasan yang belum sempat dibersihkan dan wajah yang terlihat begitu lelah.