Bintang tidak tahu sudah berapa lama ia berjalan.
Bagi manusia, ada matahari yang terbit dan tenggelam. Ada rasa lapar. Ada kaki yang pegal dan memaksa mereka berhenti. Semua itu adalah tanda bahwa waktu sedang berjalan.
Sesosok arwah tidak memiliki satu pun dari itu.
Yang ia tahu, langit di atas kota ini sudah berubah gelap dan terang beberapa kali. Yang ia tahu, salju sempat turun sebentar, lalu berhenti, lalu turun lagi. Yang ia tahu, kedua kakinya masih terus bergerak ke depan tanpa pernah ia perintahkan.
Ia melewati taman yang luas. Ia melewati jembatan yang panjang. Ia melewati stasiun bawah tanah yang berisik dan berbau besi.
Dan di sepanjang jalan itu, ia terus mengulang satu hal yang sama di dalam kepalanya.
Aku tidak berhak marah.
Ia sendiri yang pergi. Dua tahun yang lalu, ia sendiri yang menembus dinding itu ketika gadis tersebut memanggil-manggil namanya sampai serak. Dan beberapa bulan yang lalu, ketika gadis itu memintanya berhenti datang, ia sendiri juga yang menurutinya.
Jadi untuk apa sekarang ia merasa dikhianati?
“Kau tidak berhak,” gumamnya kepada dirinya sendiri untuk yang kesekian kali. “Kau tidak berhak, Bintang.”
Namun, dada itu tetap terasa remuk.
Rupanya, hati tidak pernah peduli pada hal-hal yang masuk akal.
••••••••
Pada suatu sore, ia berhenti di sebuah taman kecil di tengah kota.
Bukan karena lelah. Melainkan karena ada sesuatu yang menahan langkahnya di sana.
Di salah satu bangku, duduk seorang pria tua di kursi roda. Di sampingnya berdiri seorang pemuda yang sedang membetulkan letak selimut di pangkuan pria tersebut, lalu menyodorkan segelas kopi hangat sambil mengatakan sesuatu yang membuat pria tua itu tertawa.
Bintang berdiri diam di depan mereka.
Ia tidak mengerti sepatah kata pun dari yang mereka ucapkan. Bahasanya asing. Wajah mereka asing. Bahkan pakaian mereka pun asing.
Namun, dadanya berdenyut hebat.
“Ayah,” gumamnya.
Ia teringat teras rumah bernomor 25 A. Ia teringat pot-pot kecil yang berjajar. Ia teringat seorang pemuda berkacamata yang selalu mendorong kursi roda itu berkeliling kompleks setiap sore, lalu pulang tepat ketika azan magrib berkumandang.
Dan ia teringat sesuatu yang lain.
Seorang wanita yang sedang mengandung, yang tidur dengan lampu menyala, dan yang setiap pagi menunggu seseorang mengomelinya supaya mau sarapan.
Bintang menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.
“Astaga,” gumamnya. “Apa yang sedang kulakukan di sini?”
Ia sudah meninggalkan mereka semua di sana, ribuan kilometer jauhnya, hanya untuk menyeret dirinya sendiri berkeliling kota asing sambil meratapi sesuatu yang bahkan bukan miliknya lagi.
Sungguh, kalau Raya melihatnya sekarang, wanita itu pasti sudah memukul udara di dekat kepalanya berkali-kali.
Kau arwah paling bodoh yang pernah kutemui, Bintang.
Bintang tertawa pelan. Air matanya jatuh bersamaan.
“Iya,” jawabnya kepada suara yang hanya ada di dalam kepalanya. “Aku tahu.”
••••••••
Malam itu ia berteduh di sebuah stasiun bawah tanah.
Bukan karena ia bisa kedinginan. Melainkan karena tempat itu terang, ramai, dan penuh suara. Dan sejak beberapa hari terakhir, ia menyadari bahwa keramaian adalah satu-satunya hal yang membuat kepalanya sedikit lebih tenang.
Bintang duduk di salah satu bangku besi yang panjang.
“Kau bukan dari sini.”
Ia menoleh cepat.
Di ujung bangku yang sama, duduk seorang laki-laki tua bertopi, dengan mantel yang sudah lusuh dan sepatu yang berlubang di bagian jempolnya. Orang-orang berjalan melewatinya begitu saja. Beberapa bahkan menembusnya tanpa sadar.
Bintang menegakkan tubuhnya.
“Kau … bisa melihatku?”
Laki-laki tua itu tertawa serak. “Tentu saja. Kita sama.”
Bintang menatapnya lama sekali. Sungguh, ini pertama kalinya sejak bertahun-tahun ia bertemu dengan seseorang yang sama seperti dirinya.
“Sudah berapa lama Anda di sini?” tanyanya akhirnya.
Laki-laki tua itu mengangkat bahu. “Entah. Aku berhenti menghitung sejak kereta yang di sana masih berwarna hijau.”
“Kenapa Anda belum pergi?”
“Kenapa kau belum pergi?”
Bintang membisu.
Laki-laki tua itu terkekeh lagi, lalu menyandarkan punggungnya ke dinding.
“Dulu aku pikir aku bertahan karena ada yang harus kuselesaikan,” ucapnya. “Aku menunggu bertahun-tahun. Aku memastikan semuanya beres. Anakku besar. Rumahku dijual. Semua urusanku selesai satu per satu.”
“Lalu?”
“Lalu aku masih di sini.” Ia mengangkat kedua telapak tangannya. “Ternyata bukan urusan yang menahanku.”
“Lalu apa?”
Laki-laki tua itu menoleh, dan untuk pertama kalinya tatapannya berubah sungguh-sungguh.
“Kemarahan, Nak,” jawabnya. “Selama masih ada satu orang di dunia ini yang tidak bisa kau maafkan, kau tidak akan bisa ke mana-mana. Termasuk dirimu sendiri.”
Sebuah kereta datang, membawa embusan angin yang kencang di sepanjang peron.
Ketika kereta itu berlalu, bangku di ujung sana sudah kosong.
Bintang duduk di sana sendirian cukup lama, sambil memikirkan satu nama yang sejak beberapa hari terakhir ini terus muncul di dalam kepalanya.
••••••••
Ia kembali ke gedung itu pada malam terakhir.
Bukan untuk menemui gadis itu. Ia sudah memutuskan untuk tidak melakukannya. Ia hanya ingin memastikan satu hal saja sebelum pulang.
Bunga sedang berada di lobi hotel ketika ia sampai. Duduk sendirian di sofa dekat jendela, dengan mantel tebal yang masih dikenakan dan sebuah koper kecil di sampingnya.
Gadis itu sedang menatap ponselnya.
Bintang berdiri di seberang lobi, di balik sebuah pilar, dan hanya memandanginya dari sana.
Wajah gadis itu tidak terlihat bahagia.
Tidak ada senyum. Tidak ada binar seperti malam pertunjukan itu. Yang ada hanya wajah seseorang yang sudah dua hari tidak tidur dengan benar.
Beberapa saat kemudian, seorang laki-laki datang menghampirinya sambil membawa dua gelas minuman hangat.
Bunga mendongak. Ia menerima gelas itu, mengucapkan sesuatu, lalu tersenyum tipis.
Senyum yang sopan. Senyum yang canggung. Senyum yang jelas-jelas dibuat-buat.
Dan entah kenapa, melihat senyum itu justru membuat dada Bintang terasa sedikit lebih ringan.
“Kau juga sedang kacau, ya,” gumamnya.
Ia menatap gadis itu beberapa saat lagi.
“Baiklah, Bunga.” Ia menarik napas panjang, walau ia tidak lagi membutuhkannya. “Aku pergi dulu. Kali ini sungguhan.”
Ia mengangkat tangannya sedikit, seolah sedang melambai, walau tidak ada yang membalasnya.
“Selamat, ya. Aku selalu tahu kau bisa sampai ke sini.”
Akhirnya kalimat itu terucap juga.
Terlambat beberapa hari, dan kepada seseorang yang tidak mendengarnya sama sekali. Namun setidaknya, kalimat itu tidak lagi tersimpan di dalam dadanya.
Bintang berbalik dan melangkah keluar dari lobi itu.
••••••••
Ia berhenti sekali lagi di trotoar seberang jalan.
Bukan untuk menoleh ke arah hotel. Melainkan karena sesuatu yang sejak beberapa hari terakhir ini terus mengusiknya, dan baru sekarang ia berani memikirkannya dengan tenang.
Laki-laki itu melihatnya.
Bukan merasakan. Bukan menebak. Melainkan benar-benar melihat, dengan kedua matanya, dari jarak sejauh itu, di ruangan yang penuh oleh orang.
Selama ini, hanya ada segelintir manusia yang pernah bisa melakukan hal itu kepadanya. Arsen, yang mewarisi kemampuan neneknya. Raya, yang entah kenapa. Dan Bunga, yang menyembunyikannya bertahun-tahun.
Semuanya orang yang dekat dengannya. Semuanya punya alasan.
Lalu laki-laki itu apa?
Bintang mengepalkan tangannya.
Dan ada satu hal lagi yang jauh lebih mengganggu daripada itu semua.
Senyum itu.
Orang biasa yang tiba-tiba melihat sesosok arwah pasti akan terkejut. Pasti akan pucat. Pasti akan mundur, seperti pemuda berambut pirang di Jepang dulu yang menjerit sampai serak.
Laki-laki itu justru tersenyum.
Seolah sudah terbiasa. Seolah sudah sering. Seolah keberadaan sesosok arwah di ruangan yang sama adalah hal yang paling biasa baginya.
“Siapa kau sebenarnya?” gumam Bintang.
Angin dingin berembus, menerbangkan beberapa lembar koran bekas di sepanjang trotoar. Seorang perempuan yang lewat menarik syalnya lebih rapat sambil menunduk, lalu berjalan semakin cepat menuju ke ujung jalan.
Ia teringat pada sesuatu yang pernah dikatakan Arsen kepadanya dulu, di ruangan sempit yang penuh berkas itu.
Orang yang bisa melihat kami, biasanya pernah berada sangat dekat dengan kematian.
Bintang menegakkan tubuhnya.
Kalau memang benar begitu, maka laki-laki itu bukan sekadar model tampan yang beruntung. Ada sesuatu di belakangnya. Ada sesuatu yang tidak diketahui oleh siapa pun, termasuk oleh gadis yang sekarang duduk di lobi hotel itu bersamanya.
Dan Bintang berniat mencari tahu apa itu.
Bukan untuk merebut siapa pun kembali. Ia sudah selesai dengan hal semacam itu.
Melainkan karena, entah kenapa, sejak pertama kali melihat senyum tersebut, ada satu perasaan yang terus menempel di dalam dadanya dan tidak mau pergi.
Perasaan bahwa gadis itu sedang berdiri terlalu dekat dengan sesuatu yang berbahaya, tanpa menyadarinya sama sekali.
“Aku akan pulang,” gumam Bintang sambil menatap langit malam kota itu. “Dan aku akan mencari tahu siapa kau sebenarnya, Ravin.”
Ia memasukkan kedua tangan ke dalam saku, lalu mulai melangkah menuju ke arah selatan, ke arah pulang.
Sebab, setiap orang yang tersenyum seperti itu kepada sesosok arwah pasti pernah punya cerita. Cerita yang panjang, dan hampir selalu buruk.
Dan cerita seperti itu selalu dimulai dari suatu tempat yang jauh, jauh sebelum semua orang mengenalnya. Dari sebuah hari biasa, di sebuah kota yang jauh dari sini, ketika laki-laki itu belum menjadi siapa-siapa.