“Bertahanlah …,” lirih Luna untuk yang kesekian kalinya.
Gadis itu duduk di samping brankar, dengan seragam kuliah yang basah kuyup dan rambut yang menempel di pipinya. Kedua tangannya menggenggam tangan laki-laki yang terbaring di hadapannya, dan ia tidak melepaskannya sedikit pun sejak ambulans itu berangkat.
Tangan itu dingin sekali.
Bukan dingin seperti orang yang kehujanan. Melainkan dingin seperti sesuatu yang sudah lama sekali tidak disentuh oleh apa pun yang hangat.
“Dek, kau keluarganya?” tanya seorang petugas di sampingnya sambil memasang sesuatu di lengan laki-laki itu.
“Bukan, Pak.”
“Temannya?”
Luna menggeleng.
Petugas itu mengerutkan kening. “Lalu kau siapa?”
Gadis itu membuka mulut, lalu menutupnya lagi.
Sebab, ia tahu betul jawaban yang sebenarnya akan membuat orang di hadapannya ini menatapnya dengan cara yang aneh.
“Saya yang menemukannya,” jawabnya akhirnya.
Petugas itu melenggut, lalu kembali sibuk dengan pekerjaannya.
Luna menunduk, menatap wajah pucat di atas brankar itu.
Sungguh, sampai sekarang pun ia masih belum benar-benar mengerti kenapa ia bisa berada di sini.
Sore tadi ia hanya ingin pulang. Hujan turun deras sekali, dan angkot yang biasa ia naiki tidak kunjung datang. Ia berdiri berteduh di halte selama hampir setengah jam sambil menggerutu sendirian.
Lalu, seorang wanita berdiri di sampingnya.
Wanita itu tidak basah sedikit pun, padahal hujan turun begitu deras. Wajahnya lembut, dan matanya sembab seperti orang yang sudah menangis terlalu lama.
Tolong, Nak.
Luna waktu itu langsung menoleh ke arah lain. Ia sudah terbiasa. Sejak kecil, ia sudah tahu bahwa yang paling aman dilakukan ketika bertemu dengan hal seperti itu adalah pura-pura tidak melihat.
Tolong anakku.
“Saya tidak bisa membantu Anda,” bisik Luna waktu itu, nyaris tidak terdengar.
Wanita itu tidak memaksa. Ia hanya menoleh ke arah ujung jalan, ke arah jembatan yang berdiri di sana, lalu kembali menatap Luna dengan tatapan yang membuat dada gadis itu terasa sesak.
Dia satu-satunya yang kupunya.
Dan entah kenapa, kedua kaki Luna bergerak sendiri.
••••••••
Rumah sakit itu ramai malam itu.
Luna duduk di kursi tunggu dengan jaket yang dipinjamkan seorang perawat, sambil memeluk tas kuliahnya yang basah. Kedua kakinya masih gemetar sejak tadi.
“Mbak, keluarga pasien yang tadi belum ada yang datang?”
“Belum, Sus.”
“Nomor teleponnya juga tidak ada di dompetnya?”
“Tidak ada apa-apa di dompetnya, Sus. Hanya kartu identitas.”
Perawat itu menghela napas, lalu berlalu.
Luna menoleh ke arah lorong.
Sudah empat jam. Dan tidak ada satu pun orang yang datang. Tidak ada ibu yang menangis. Tidak ada ayah yang panik. Tidak ada teman yang berlarian di sepanjang lorong sambil bertanya-tanya.
Tidak ada siapa-siapa.
“Kau tidak apa-apa, Nak?”
Luna mengangkat wajahnya.
Wanita itu berdiri di ujung lorong. Masih dengan wajah yang sama. Masih dengan mata yang sembab.
Luna menoleh ke kanan dan ke kiri. Lorong itu kosong.
“Anak Ibu masih di dalam,” bisiknya sepelan mungkin. “Katanya sudah stabil.”
Terima kasih.
“Ibu, kenapa Ibu tidak masuk saja ke dalam? Ibu bisa melihatnya dari dekat.”
Wanita itu tersenyum. Senyum yang paling sedih yang pernah dilihat Luna seumur hidupnya.
Aku tidak bisa masuk ke ruangan itu. Aku sudah mencoba bertahun-tahun.
“Kenapa?”
Karena dia tidak mau melihatku.
Luna membuka mulut, hendak bertanya lagi. Namun, ketika ia berkedip, lorong itu sudah kosong kembali.
••••••••
Laki-laki itu membuka matanya keesokan siangnya.
Luna sedang meletakkan sekantong buah di atas nakas ketika ia mendengar suara serak dari arah ranjang.
“Siapa kau?”
Gadis itu terperanjat hingga hampir menjatuhkan kantongnya.
“Ah, kau sudah bangun!” Ia buru-buru mendekat. “Sebentar, aku panggilkan perawat.”
“Aku bertanya, siapa kau.”
Luna berhenti.
Nada suara itu membuat bulu tengkuknya berdiri. Bukan karena kasar. Justru sebaliknya. Suara itu datar sekali, tanpa emosi apa pun, seperti suara orang yang sedang membaca daftar belanja.
“Namaku Luna,” jawabnya. “Aku yang menemukanmu semalam.”
Laki-laki itu menatap langit-langit.
“Siapa yang menyuruhmu?”
“Apa?”
“Aku bertanya siapa yang menyuruhmu.” Ia menoleh, dan untuk pertama kalinya tatapan mereka bertemu. “Tidak ada orang yang berjalan sejauh itu di tengah hujan tanpa alasan.”
Luna membeku.
Kedua mata itu gelap sekali. Dan yang paling membuatnya merinding adalah, tidak ada satu pun rasa syukur di dalamnya. Tidak ada lega. Tidak ada takut.
Yang ada hanya kekesalan.
“Tidak ada yang menyuruhku,” jawab Luna akhirnya. “Aku hanya kebetulan lewat.”
“Bohong.”
“Terserah kau saja.” Gadis itu meletakkan kantong buahnya, lalu menyilangkan kedua lengannya. “Dan sama-sama, ya. Tidak perlu berterima kasih.”
Laki-laki itu memalingkan wajahnya ke arah jendela.
“Aku tidak minta ditolong.”
Luna terdiam beberapa saat.
Kemudian, tanpa ia rencanakan, kalimat itu keluar begitu saja dari bibirnya.
“Aku tahu,” ucapnya pelan. “Tapi ada yang minta.”
Laki-laki itu menoleh cepat.
“Apa maksudmu?”
Namun, Luna sudah berbalik dan berjalan menuju pintu.
“Hei. Aku bertanya padamu!”
“Istirahatlah,” jawab gadis itu tanpa menoleh. “Buahnya dimakan. Jangan dibiarkan busuk.”
••••••••
Luna datang lagi keesokan harinya. Dan hari berikutnya. Dan hari berikutnya lagi.
Ia tidak pernah berhasil menjelaskan kepada dirinya sendiri kenapa ia melakukan itu. Kuliahnya padat. Jarak rumah sakit itu jauh. Dan laki-laki di dalam ruangan tersebut bahkan tidak pernah sekali pun mengucapkan terima kasih.
Namun, setiap sore ia tetap datang.
Kadang ia membawa buah. Kadang bubur. Kadang hanya duduk di kursi sambil mengerjakan tugas kuliahnya, sementara laki-laki itu menatap ke arah jendela tanpa berkata apa-apa selama berjam-jam.
“Kau ini benar-benar dingin, ya,” gerutu Luna pada suatu sore.
Tidak ada jawaban.
“Perawat di lantai ini bahkan sudah punya julukan untukmu. Mau tahu?”
Tidak ada jawaban.
“Tuan Es.”
Laki-laki itu menoleh sedikit.
“Itu julukan yang bodoh.”
“Setidaknya kau menjawab.” Luna menyeringai puas sambil kembali menunduk ke bukunya. “Berarti berhasil.”
Untuk sepersekian detik, sudut bibir laki-laki itu bergerak sedikit.
Hanya sepersekian detik. Dan Luna sempat mengira ia hanya salah lihat.
Namun sore itu, untuk pertama kalinya, buah di atas nakas itu berkurang setengahnya.
••••••••
Pada hari kedelapan, hujan turun lagi.
Luna duduk di kursi yang sama sambil menatap ke luar jendela, sementara laki-laki itu bersandar di ranjangnya dengan tangan yang sudah tidak lagi terpasang selang.
“Kenapa kau masih datang?”
Luna menoleh. Itu pertanyaan pertama yang diajukan laki-laki tersebut tanpa didahului olehnya.
“Karena aku bosan di rumah.”
“Bohong.”
“Kau ini selalu bilang bohong.” Luna menutup bukunya. “Baiklah. Karena tidak ada orang lain yang datang. Puas?”
Laki-laki itu terdiam.
“Itu bukan urusanmu.”
“Memang bukan.” Gadis itu mengangkat bahu. “Tapi kalau aku juga tidak datang, berarti benar-benar tidak ada siapa-siapa. Dan aku tidak suka membayangkan hal seperti itu.”
Hujan terdengar semakin deras di luar sana.
“Ibuku sudah lama meninggal,” ucap laki-laki itu tiba-tiba.
Luna menegakkan tubuhnya.
“Ayahku ada. Tapi dia jauh.” Nada suaranya tetap datar, seolah sedang membicarakan orang lain. “Jadi jangan berharap ada yang datang. Tidak akan ada.”
Gadis itu tidak menjawab.
Sungguh, ada begitu banyak hal yang ingin ia katakan pada saat itu. Bahwa ibunya tidak sejauh yang ia kira. Bahwa wanita itu berdiri di lorong hampir setiap malam. Bahwa satu-satunya alasan laki-laki ini masih bernapas hari ini adalah karena seseorang berdiri di halte pada sore yang basah dan memohon kepada orang asing.
Namun, ia tidak mengatakannya.
Sebab, ia tahu betul apa yang terjadi kalau ia mengatakannya. Orang-orang akan menganggapnya gila, lalu menjauh. Sudah terlalu sering.
“Kalau begitu,” ucap Luna akhirnya sambil membuka bukunya lagi, “aku saja yang datang. Sampai kau bosan melihat wajahku.”
Laki-laki itu memalingkan wajah ke arah jendela.
Namun kali ini, ia tidak menyuruh gadis itu pergi.
••••••••
Semuanya berakhir pada hari kesebelas.
Luna datang seperti biasa, dengan kantong berisi jeruk dan sebuah novel yang ingin ia pinjamkan. Ia menaiki tangga sambil bersenandung kecil, lalu berbelok ke lorong yang sudah ia hafal.
Pintu ruangan itu terbuka lebar.
Seorang petugas kebersihan sedang mengepel lantainya. Ranjangnya kosong, seprainya sudah diganti dengan yang baru, dan nakas di sampingnya sudah bersih tanpa satu pun barang di atasnya.
Luna berdiri di ambang pintu.
“Mbak, pasien yang di sini ke mana?”
“Sudah pulang tadi pagi.”
“Pulang?”
“Iya. Katanya dijemput.” Petugas itu melanjutkan pekerjaannya. “Sudah selesai administrasinya juga.”
Luna melangkah masuk perlahan-lahan.
Ia berdiri di samping ranjang kosong itu cukup lama, dengan kantong jeruk yang masih tergantung di tangannya.
Tidak ada pesan. Tidak ada catatan. Tidak ada apa pun.
Sebelas hari. Sebelas sore. Dan laki-laki itu pergi begitu saja tanpa satu kata pun.
“Ya sudah,” gumam Luna kepada dirinya sendiri, sambil berusaha tersenyum. “Memangnya aku siapa.”
Ia meletakkan kantong jeruk itu di atas nakas, lalu berbalik dan berjalan keluar.
Di ujung lorong, ia sempat berhenti sebentar dan menoleh ke belakang. Sebab, entah kenapa, ia berharap akan melihat seorang wanita berdiri di sana untuk mengucapkan sesuatu.
Namun, lorong itu kosong.
Kali ini benar-benar kosong.
Luna menghela napas panjang, lalu menuruni tangga rumah sakit itu untuk yang terakhir kalinya.