Lily Starr berjalan masuk ke dalam hutan. Tadi dia tidak sengaja menjatuhkan labu bibi Elizabeth di atas meja hingga labu kuning yang terlalu masak itu hancur dan ketika bibi Elizabeth melihatnya, dia bergidik.
"Betapa aku terkena kutukan karena sudah merawat monster kecil sepertimu!" bibi Elizabeth mengutuk. Sama seperti hari-hari ketika wanita paruh baya yang tidak pernah menikah seumur hidupnya itu merasa marah. Bibi Elizabeth seorang pengutuk handal. Dia bahkan pernah mengutuk seekor semut yang menggigitnya karena bibi Elizabeth tidak sengaja menginjak sarang semut tersebut. Hal-hal kecil selalu membuat wanita itu marah. Lily Starr selalu berpikir kalau bibinya tidak menikah karena tidak seorangpun pria yang mau menikah dengan wanita pengumpat seperti bibi Elizabeth.
"Pergilah ke pasar dan belikan aku labu yang baru. Ingat! Besok kau tidak akan kuberi sepeserpun uang saku ke sekolah," ancam bibi Elizabeth.
Lily Starr berjalan terus masuk menuju kedalaman hutan. Ini jalan pintas yang biasa dilaluinya jika ingin pergi ke pasar. Andai dia melalui jalan raya, mungkin akan memakan waktu satu jam perjalanan kaki. Tapi Lily punya cara untuk mempersingkat perjalanannya. Yaitu melalui hutan belakang peternakan milik keluarga Murray. Bibi Elizabeth pernah mengingatkannya agar tidak pernah mendekat ke sana. Tapi Lily sudah melanggar peringatan itu lebih jauh. Parahnya lagi, dia tidak hanya mendekati hutan. Lily sudah berkali-kali masuk ke dalamnya.
"Bibi Elizabeth yang pemarah selalu membuatku ingin menangis. Andai ibu masih hidup." Lily meratap sendirian. Di dalam hutan ini, dia selalu mengatakan apa saja yang tidak bisa dikatakannya pada siapapun. Bahkan pada Laura, teman baiknya.
"Andai saja ibuku masih hidup, mungkin aku tidak akan ada di sini. Berjalan dengan perut kosong karena bibi Elizabeth tidak memberiku makan siang," ratap Lily. Menangisi nasib buruknya.
Karena merasa sedih, Lily yang berjalan sambil melamun tersangkut akar pohon. Gadis itu ambruk tepat di depan jurang yang menganga lebar.
"Argh!"
Sebuah tangan menahan lengan Lily. Lily yang merasa jantungnya hampir lepas, semakin terkejut dengan adanya pria asing yang tiba-tiba menolongnya.
Pria itu menarik lengan Lily dan membiarkan gadis itu menyeimbangkan diri. Lily berdiri dengan tatapan waspada. Seperti yang selalu diperingatkan bibi Elizabeth.
"Laki-laki selalu membawa sesuatu yang buruk. Bahkan ketika dia seolah menyelamatkanmu. Padahal, dia sedang ingin menjerumuskanmu."
"Siapa kau?" tanya Lily. Nada bicara gadis itu cepat dan gugup.
Pria di hadapan Lily menggaruk kepalanya. Dia seperti orang linglung yang kebingungan.
"Aku Alex. Kau Lily bukan?"
Lily terkejut. Bagaimana bisa pria di hadapannya yang baru pertama kali dia lihat tahu namanya.
"Kau menguntitku? Kau penculil?" tanya Lily dengan ketakutan.
Alex yang kebingungan segera menyergah prasangka Lily. "Tidak. Tentu saja aku bukan penculik. Aku hanya orang baru di sini dan kebetulan mendengar sesuatu tentangmu."
Meskipun Alex menjelaskan, tapi di telinga Lily penjelasan itu sangat tidak masuk akal. Dari mana Alex mendengar tentangnya, sementara di desa kecil ini Lily bukan siapa-siapa. Dia hanya gadis yatim piatu yang miskin yang begitu beruntung karena salah seorang kerabat mau menampungnya di rumahnya.
Tanpa basa-basi, Lily ketakutan. Dia segera berlari meninggalkan Alex. Persetan dengan lumut yang licin dan akar pohon yang bisa saja membuatnya jatuh lagi seperti tadi. Adrenalin dalam tubuh Lily muncul. Gadis itu berlari secepat kilat dalam hutan tanpa menoleh ke belakang.
Di belakang, sebuah suara berlari juga terdengar mengikutinya. Lily mempercepat lajunya.
'Tuhan, ku mohon jangan sampai penjahat itu membunuhku. Aku ingin hidup. Aku akan berbuat baik pada bibi Elizabeth dan tidak akan ceroboh lagi. Aku juga tidak akan nerharap kematian menjemputku agar aku bisa bertemu ibuku. Tuhan, tolong selamatkan aku!' Lily berdoa dalam hati sambil terus berlari.
Sepuluh meter lagi! Sepuluh meter lagi Lily akan berada di jalan raya dan bebas dari hutan lebat itu. Lily memperlaju larinya. Selamat! Akhirnya dia keluar dari hutan.
Lily menghela nafas lega. Doanya terkabul. Gadis itu merasa dia baru saja lepas dari kematian.
****
"Berhenti mengejar gadis itu, Max!" seru Alex pada sepupunya.
Max mengeram. Menunjukkan taringnya pada Alex pertanda dia sedang marah. "Kau menggagalkan buruanku lagi kali ini, Alex."
"Dia gadis yang kusukai. Aku harap kau menjauhinya atau aku sendiri yang akan membuatmu mati." Alex memperingatkan.
Max tertawa mengejek. "Kita bahkan sudah mati. Jadi, perlukah untuk mati dua kali? Bercandamu keterlaluan, Alex."
Alex mengeram. Dia menampilkan taringnya yang lebih tajam, lebih besar dari milik Max. Mata Alex berubah menjadi semerah darah. "Jauhi Lily atau ancamanku padamu benar-benar terjadi." Alex mendesis.
Max mundur. Aura kemarahan Alex mempengaruhi atmosfer di sekitarnya. Vampire merah itu benar-benar marah.
Max ciut. Dia menahan diri agar tidak mengatakan kalau dirinya sangat menginginkan darah Lily. Gadis itu benar-benar harum. Bahkan dari jarak sejauh ini, Max dapat mencium aroma harum darah Lily.
Alex menghilangkan taringnya. Dia melompat dan pergi menjauhi Max yang merasa ketakutan dan putus asa karena tidak memiliki banyak kekuatan untuk melawan Alex. Max mengepalkan tangannya geram. Andai ada sesuatu yang bisa membuatnya memiliki kekuatan yang lebih dari vampire merah, Max pasti akan melakukan apapun untuk memperbesar kekuatannya.
****
Lily pulang ke rumah berjalan kaki. Kali ini gadis itu melalui jalan raya. Lily bersumpah tidak akan lagi pergi ke hutan belakang peternakan milik keluarga Ruth. Lily merasa di sana nyawanya berada di ambang kematian. Beruntung, Tuhan menyelamatkannya hari ini. Tapi tidak selamanya dia akan selamat kalau pergi ke sana dengan nekat. Lily memutuskan akan melupakan jalan pintas itu.
"Mana labu yang kau beli? Kenapa wajahmu pucat?" tanya bibi Elizabeth. Pertanyaan bibinya bagi Lily adalah sebuah introgasi membosankan yang akan berujung pada bibi Elizabeth yang akan menyalahkannya atas segala hal buruk yang terjadi.
"Mungkin kelelahan," jawab Lily asal.
Bibi Elizabeth melihat keponakannya dengan wajah mencibir. "Dasar kau monster kecil tidak tahu sopan santun. Andai saja ibumu tidak mati bunuh diri dengan garpu, pasti hidupku akan tenang karena tidak perlu mengurus anak nakal dan kurang adab."
Lily membuat segelas teh mint untuk menenangkan perasaannya. Bibi Elizabeth yang selalu menyinggung tentang kematian ibunya sudah bisa didengar Lily sehingga dia bisa mengabaikannya dengan baik. Emily bisa membuat telinganya tuli untuk sesaat. Sehingga apapun sesuatu yang tidak disukainya, pasti akan masuk telinga kiri dan keluar di telinga kanan.
Emily, ibunya Lily konon katanya mati karena frustrasi akibat sang suami tidak kunjung kembali. Bahkan kematian Emily menjad celaan seluruh kota.
"Bunuh diri dengan sendok? Yang benar saja!" begitulah kata mereka..