Aku tidak bisa menahan desahan yang keluar dari mulutku. Pria ini begitu pandai memainkan daerah sensitive yang ada di leherku. Aku mengalungkan kedua tanganku dilehernya. Aku merasakan dia tersenyum disela-sela kegiatannya menciumi leherku. Lalu aku merasakan kakiku melayang. Aku pikir dia sedang menggendongku. Aku tidak bisa merespon, aku terlalu menikmati sentuhannya.
Kemudian aku merasakan dia berhenti mencium leherku. Aku sedikit kecewa. Tetapi aku berusaha menutupi kekecewaanku dengan tersenyum manis kearahnya. Anehnya, aku tidak bisa melihat jelas wajahnya mungkin karena cahaya dari rembulan diluar sana yang begitu terang sehingga aku tidak bisa melihat wajahnya.
Dia membawaku kedalam kamar yang memiliki pintu coklat besar. Kamar ini berbau maskulin, dan ruangannya remang-remang oleh cahaya bulan. Dia meletakkanku dengan hati-hati di atas ranjang king size yang aku yakin adalah miliknya.
Dia sedikit melonggarkan pelukanku. Tetapi aku malah memperarat pelukannya. Sehingga tubuh kami benar-benar menempel dengan erat. Ini aneh, aku merasakan nyaman yang luar biasa saat dipelukannya. Dan wangi maskulin yang ada ditubuhnya membuat aku meledak oleh jutaan rasa asing yang belum pernah aku rasakan dengan siapapun.
Ada perasaan aneh yang melingkupi diriku, seperti tak ingin lepas dari pelukannya. Seharusnya aku sebagai wanita terhormat tidak melakukan hal ini. Tetapi ajaran moral yang selama ini aku pegang sebagai pedoman tidak menjadi pedoman lagi. Yang aku inginkan adalah memeluknya dengan erat. Dan pria itu memelukku dengan erat juga. Dia menciumi lekukan leherku dan menghirup aromanya seperti surga dunia yang didapatkannya. Nafasku tidak teratur, aku rasa lonjakkan kegembiraan yang aku rasakan berhasil membuat aku sesak nafas.
“Kita akan segera bertemu, secepatnya.” Ucapnya dengan lembut di leherku.
“Dan apa yang harus aku lakukan agar segera bertemu denganmu?” Aku bertanya.
“Pertama yang harus kamu lakukan adalah tidur, sayang. Selamat tidur.” Dia mencium puncak kepalaku dengan lembut. Kemudian yang aku rasakan adalah kegelapan yang menelanku seperti gumpalan asap hitam.
Aku mendengar jeritan dari suara yang tak asing lagi dari telingaku. Tetapi aku begitu malas untuk membuka mataku dan mengakhiri mimpi indahku bersamanya. Aku begitu ingin waktu tidurku begitu panjang. Sepertinya suara jeritan itu telah berubah menjadi teriakan yang begitu kuat.
“Jessy, jika kau tidak segera bangun. Maka aku akan langsung menyeretmu ke Bali, sekarang.”
Bali? Sekarang? Astaga aku terlambat.
Aku langsung loncat dari tempat tidurku. Aku melihat sekilas April dan Bibi Marry tertawa cekikikan. Aku tidak mempedulikan tawa mereka yang semakin membahana. Aku langsung mandi dengan cepat. Dan tak lupa menggunakan setelan kebangganku, yaitu Jeans pendek dua puluh cm diatas lutut dan kaos oblong dengan tulisan ‘I’m b***h’ berwarna putih. Dengan setelan bawah wedges merah. Terlihat berantakan saat ke Bali, aku tdak peduli.
Aku langsung menuruni tangga dan masuk ke ruang makan. Ada Jason, April dan Bibi Marry yang sedang memotong sandwichnya.
“Aku pikir kita sudah terlambat. Tetapi kenapa kalian masih santai?” Aku langsung duduk dan meminum s**u yang disodorkan Bibi Marry.
“Well… kita masih punya waktu satu jam lagi. Jadi, sarapan di pagi hari tidak ada masalah.” Kata Jason santai.
“Hmm.. terserah.” Aku hanya memakan sandwichku dalam diam.
Jason dan April terlihat bersemangat dengan liburan ini. mereka menceritakan semua rencana liburan mereka ke Bibi Marry. Dan yang paling bodohnya adalah mereka tidak ingin liburan ini diganggu olehku. Ya ampun.. akupun tidak ingin menganggu liburan mereka.
*****
Tidak butuh waktu lama bagi kami untuk mengantri di ruang tunggu di bandara Ngurah Rai, Bali. Waktu dua jam yang kami habiskan terasa melelahkan bagiku.
Aku menarik koperku kearah taksi yang sudah menungguku. Aku memakai kacamata hitam ini untuk menutupi mata pandaku. Aku tidak ingin orang asing melihatnya.
Ketika didalam taksi, aku melihat daftar tempat wisata yang harus aku kunjungi. Aku ingin tempat yang tenang dan jauh dari kebisingan kota. Jadi aku memutuskan untuk ke Ubud. Meskipun terletak cukup jauh dari Bali. Bagiku itu tidak masalah.
April dan Jason memilih menginap di hotel dekat pantai Kuta tentu saja dengan kamar terpisah. Mereka ingin melihat sunset yang indah di pantai Kuta. Aku juga ingin mengunjungi Kuta. Tetapi aku ingin mengunjunginya di hari terakhir di Bali. Dan April menyetujuinya.
Setelah cukup lama aku duduk di taksi. Akhirnya hotel bintang lima yang aku tuju sampai juga. Aku langsung keluar dari taksi dan membayar ongkosnya. Walaupun kunjungan pertama, aku langsung menyukai suasana pedesaan yang ada di Ubud. Aku belum pernah merasakan suasana seperti ini selama di Inggris dan Australia. Menurutku, Bali is amazing’.
Aku memilih lantai paling atas yang mempunyai kamar dengan fasilitas tinggi dengan harga yang mahal. Saat aku memasuki kamarku, waktu sudah menjelang siang. Tidak ingin menghabiskan waktu dengan percuma maka aku langsung mengambil dompet dan tas selempang berwarna merah muda serta iphoneku.
Aku memutuskan untuk makan siang direstoran yang ada di hotel. Aku langsung duduk di meja yang masih kosong. Restorannya cukup ramai. Kebanyakan dari para tamu adalah turis asing sepertiku.
Aku langsung memesan menu special yang ditawarkan oleh pelayan. Sepertinya menu baru tidak terlalu buruk untuk dicoba. Sambil menunggu pesananku datang, aku memainkan iphoneku. Aku meng-chatt April. Tetapi April tidak membacanya. Mungkin dia terlalu sibuk.
Aku merasakan perasaan aneh. Perasaan seperti sedang diawasi. Aku memperhatikan orang-orang yang ada disekelilingku. Tetapi tidak ada tanda orang yang sedang mengawasiku. Beberapa menit kemudian, pesananku telah tiba.
Aku langsung memakannya dengan cepat. Karena aku merasakan jantungku berdebar tak menentu. Dan perasaan was-was yang aku rasakan semakin menjadi ketika aku melihat sepasang mata yang melihatku kemudian mengalihkan pandangannya ke tempat lain ketika aku melihatnya.
Setelah selesai makan siang. Aku memutuskan untuk kembali ke hotel dan menelpon April. Aku harus menceritakan semuanya kepada April dan Jason.
Aku menunggu lift sambil memainkan iphoneku. Saat aku melihat lift ternyata liftnya masih berada dilantai dua sedangkan aku berada dilantai satu. Lalu tak berselang lama lift berdenting kuat. Aku langsung masuk dengan memainkan iphone yang masih kupegang.
Aku tidak meyadari bahwa ada seorang pria dengan badan yang jangkung dan tegap masuk. Aku menyadarinya ketika sampai dilantai empat. Setelah selesai memainkan iphone, aku langsung memasukkannya dan diam menunggu lift terbuka di lantai sepuluh.
Aku merasakan jantungku kembali berdebar dan perasaan sedang di intai kembali kurasakan. Aku memperhatika prian dengan tampilan jas hitam legam yang sedang menunduk. Aku tetap menatapnya tanpa berkedip, seperti perasan déjà vu. Jantungku berdebar semakin kuat dan rasa penasaran semakin kuat kurasakan. Aku melihat pria itu sedikit menaikkan kepalanya namun tetap dengan kata menunduk.
Aku menatapnya. Dari sepatu kulitnya yang berwarna hitam dan setelan jas yang mahalnya. Aku mencium bau maskulin yang tak begitu asing dihidungku. Aku menyukai wangi parfumnya. Dan wanginya terasa nyaman dihidungku. Aku mencoba mengingat wangi ini milik siapa. Tetapi aku tidak mengingatnya.
Pria itu mendongak. Dan wajah tampanya terlihat sempurna. Dia memiliki wajah bule seratus persen dan matanya berwarna biru laut. Rambutnya berwarna coklat tua. Sama sepertiku, dan bulu matanya yang lentik terlihat sempurna. Bibirnya terlihat seksi dan penuh dengan warna merah yang mencolok. Aku menatap matanya, dan mata itu memerangkap mata hijau milikku. Menguncinya kedalam tatapan mautnya.
Aku melihat pria itu tersenyum manis. Dan lekukan bibirnya begitu indah.
“Aku menemukanmu…” Ucapnya serak dengan senyum yang masih setia. Dia berjalan secara perlahan untuk mendekatiku. Seharusnya aku mundur. Tetapi kakiku begitu kaku untuk digerakkan. Dan mataku tak pernah lepas dari tatapannya. Seakan tersadar dari kata-katanya. Aku sedikit panik saat tahu bahwa dialah yang mengintaiku.
“Apa maumu?” tanyaku pelan. Bahkan suaraku terlalu pelan untuk kudengar di telingaku sendiri.
“Aku ingin.. kau.” Ucapnya manis. Dia berhenti dan mengunciku diantara kurungan tubuhnya. Dia memerangkapku, dengan kedua tangannya yang berada di atas kepalaku di dinding lift ini.
“Ke- kenapa?”
“Kau melupakannya? Hmmm…” Dia memainkan ujung rambutku. Dan menciumnya dengan lembut. Sedangkan aku masih menatapnya yang aku yakini dengan tampang bodohku.
“Aku akan mengingatkanmu dengan semuanya. Semuanya, sayang.” Katanya didepan wajahku yang hanya berjarak beberapa centimeter. Aku dapat mencium wangi mint yang keluar dari mulutnya.
Aku pikir pria ini gila. Siapapun tolong aku. Lift ini sepertinya berhenti bergerak. Sehingga tidak ada yang tahu bahwa ada ORANG GILA YANG SEDANG MENGINGINKANKU.
Kemudian aku mengingat semuanya. Semua mimpi yang selalu aku alami setiap malam dan mimpi pertama yang aku alami saat di Australia. Semua mimpi itu seperti putaran film hitam putih yang bergilir. Terasa cepat. Hingga titik terakhir di film itu adalah wajah pria yang sekarang berada tepat di depan mataku. Aku sadar bahwa pria yang ada di setiap mimpiku adalah pria yang sama yang saat ini berada didepanku. Aku mendongak dan melihat wajah tampannya.
Lalu pria itu tersenyum manis dan mengecup keningku cukup lama. Dia juga mengecup puncak kepalaku. Aku tidak bisa merespon apapun. Sebab aku merasakan perasaan bahagia saat bibirnya menyentuh keningku. Aku tahu ini tidak bermoral dan ajaran moral itu tidak bisa aku respon di otakku.
“Kau adalah milikku. Dan milikku tak akan pernah aku bagi.” Ucapnya dengan serak.
Aku masih sadar saat pria itu mengatakan kepemilikannya atas diriku. Tetapi saat terakhir kali di mencium keningku, aku merasakan kegelapan. Kegelapan itu menarikku ke dalam pusaran hitam yang menenangkan. Hal terakhir yang aku pikirkan sebelum tidak sadar adalah Seharusnya aku menginap di hotel yang sama dengan April. Atau seharusnya aku tidak liburan di Bali. Jika seperti ini, aku benar-benar menyesal telah datang ke Bali. Aku menyesal.
********
Aku merasakan kehangatan disekujur tubuhku. Dan aku merasakan tempat disekitarku yang empuk. Aku mengeluarkan erangan kecil karena perasaan nyaman ini. Aku pikir tidur nyenyakku tak pernah senyamanan ini. Tidak ada mimpi buruk. Apalagi pria gila yang ada di lift.
Seakan tersadar dari apa yang aku pikirkan. Aku langsung duduk dari posisi tidurku. Hal pertama yang aku lihat adalah kamar luas dengan background biru laut dan putih yang begitu lembut. Dengan wangi maskulin yang memenuhi hidungku. Aku tahu ini bukan kamarku dan aku juga tahu bahwa ini bukan karma hotel tempat aku menginap.
Aku melihat ke jendela. Sepertinya waktu sudah malam hari. Itu berarti aku tidur terlalu lama. Aku meneliti ruangan tersebut, ada sebuah lemari yang berisi buku-buku besar dan ada sebuah pintu bercat putih yang sepertinya adalah sebuah kamar mandi. Tirai yang menutupi jendela berwarna coklat dan tirai itu terbang-terbang tertiup angin malam. Ada sebuah closet tempat ganti baju didekat pintu kamar mandi. Dan lampunya bercahaya putih. Kebanyakan warna di kamar ini adalah putih.
Aku melihat ke sekelilingku. Dan aku menemukannya. Pria itu duduk manis di kursi dengan sebelah kaki ia letakkan diatas paha kirinya. Tangan kananya mengelus dengan lembut permukaan dagunya. Di terlihat sedang menilai sesuatu. Aku menatapnya. Dan tatapan mataku jatuh ke bibir seksinya yang begitu menggoda.
Aku tidak lagi memikirkan keadaanku yang kacau balau. Karena aku terperangkap dalan senyumannya. Dia berjalan mendekatiku. Pria tersebut berhenti tepat di depanku. Kemudian ia duduk diranjang tepat dihadapanku.
Dia menjulurkan tangannya kearah pipi mulusku. Dan menyentuhnya dengan lembut. Aku tak tahu apa yang kurasakan, yang pasti aku mendambakan sentuhannya. Aku hanya meresponnya dengan menutup mataku dan menikmati sentuhanya dikulitku.
Ini gila… benar-benar gila yang luar biasa. Aku mendambakan sentuhan pria asing yang tidak aku kenal. Yang tidak tahu mengapa dia membawaku ke kamarnya. Dan tidak tahu mengapa ia menyentuhku. Dia terus menyentuh kedua pipiku. Seperti memeriksa bentuk wajah tirusku. Mulai dari pipi, mata, hidung, dan yang terakhir adalah bibirku. Di mengusapkan ibu jarinya di kedua bibirku. Dan aku masih menutup mataku. Aku tidak tahu mengapa aku begitu gila dengan setuhannya.
“Merindukan sentuhanku?” Tanyanya
Deg.
Kata-katanya menusuk pikiranku untuk segera sadar. Aku langsung membuka mataku. Dan menjauhkan wajahku dari tangannya yang masih menyentuh bibirku. Namun dia tetap memegang wajahku. Aku kalah dengan perlawanaku sendiri. Dan dia tersenyum menang.
“Siapa kau?” Tanyaku. Dan pertanyaanku berhasil membuatnya melepaskan bibirku.
“Aku pikir kau sudah tahu. Dan aku tidak perlu menjelaskannya.” Dia gila.
“Aku tidak tahu. Jadi, aku mohon beritahu aku.”
“Tidak. Jika aku memberitahumu pasti kau akan lari. Jadi aku tidak akan memberitahumu.” Katanya tegas.
“Beritahu aku, kenapa aku disini?” Aku mencoba bertanya yang lain. Sebab pertanyaan pertamaku tidak mendapatkan respon yang baik.
“Kau ada disini karena kau adalah milikku, belahan jiwaku.” Katanya dengan manis dan kembali meyentuh pipiku. Membuatku kembali menutup mataku secara reflex. Aku tidak pernah disentuh oleh seorang pria seperti ini bahkan Juno pun tidak pernah menyentuhku seperti ini.
“Aaaku..” aku tergagap untuk merespon kata-katanya yang begitu manis dan asing bagiku.
“Ssssttt… cukup diam dan rasakan.” Dia meletakkan jari telunjuknya dibibirku. Dan aku hanya mengangguk sebagai jawaban iya.
Sepertinya sentuhannya membuatku terlena dan mengantuk secara bersamaan. Sehingga aku menutup mataku semakin dalam sebelum memasuki alam tidur. Hal terakhir yang aku rasakan adalah pelukan hangat yang terasa nyata. Tidak seperti mimpi lagi. Pelukan hangat yang terasa aman dan nyaman bagiku.