Cahaya menembus rimbunan pepohonan. Bunyi jangkrik bersahutan terdengar nyaring.
Ini ketiga kalinya Noura melewati pintu yang sama seperti vampir lainnya ketika akan ke dunia manusia, yaitu pintu yang letaknya berada di sebelah gerbang masuk kerajaan. Noura tiba di sebuah gua yang berada di Hutan Appalachia, dia berjalan santai menyelusuri hutan. Dia tidak perlu takut ada yang melihatnya karena vampir lainnya ke dunia manusia saat sore atau malam hari, menghindari matahari pagi yang begitu terik.
Noura sudah di tepi hutan. Noura menunduk. Entah kenapa dia percaya begitu saja dengan ucapan Orlan yang mengatakan kalau dia merupakan mate dari Alpha Redwood Pack itu dan dia menerima cincin hitam pemberian laki-laki itu. Bahkan Noura tanpa berpikir dan menaruh curiga dengan menunggu Orlan yang katanya mau menjemputnya.
Sepuluh menit berlalu. Noura merutuki dirinya yang menunggu Orlan, tetapi tidak mungkin Orlan berbohong. Kemarin mereka saling bertukar nomor telepon dan Orlan mengatakan sedang dalam perjalanan. Noura hanya perlu menunggu dengan sabar.
"Sedang mencari uang?" Noura mendongak mendengar suara yang tidak asing di telinganya. Mata cokelat Noura membelalak melihat Orlan yang berdiri di samping mobil seraya menebar senyuman tampan. “Maafkan aku yang telah membuatmu menunggu.”
"Kamu benaran ...." Noura tidak percaya Orlan benar-benar menjemputnya.
"Iya, aku tidak pernah melanggar janji yang telah kubuat."
Noura terenyak setelah menyadari sesuatu. Kalau dipikir-pikir, ini akan menjadi kedua kalinya dia berada di mobil, hanya berduaan dengan seorang laki-laki.
"Ayo, nanti telat." Orlan membuka pintu mempersilakan Noura masuk.
*
"Aku mendengar dari Arva. Mengenai werewolf yang tewas di hutan." Noura membuka percakapan. Setelah beberapa menit keheningan menimpa mereka berdua.
Orlan melirik Noura sekilas yang sedang memainkan cincin hitam yang melingkar sempurna di jari lentiknya itu. Padahal dari tadi Orlan sedang memikirkan percakapan apa yang akan dia bangun, ternyata Noura memulai lebih dulu.
"Iya, kami sedang mencari tahunya. Mengumpulkan banyak bukti," kata Orlan.
"Asal kamu tahu. Kami juga mengalami hal yang sama. Banyak vampir yang ditemukan tewas di Hutan Appalachia dan dugaan sementara, mereka tewas karena merupakan mate werewolf. Aneh bukan?" Noura menatap Orlan penuh tanya.
"Merupakan mate werewolf?" Orlan jadi tidak konsentrasi.
"Iya. Aku telah menyelidiki kasus ini selama satu bulan. Setelah ditelusuri lebih dalam, fakta menariknya, mereka merupakan mate seorang werewolf."
Orlan terkejut. "Apa kemungkinan werewolf dan vampir yang tewas itu merupakan sepasang kekasih?" Orlan menoleh ke arah Noura yang tengah menatapnya.
Noura mengedikkan bahunya. "Aku tidak tahu. Lalu informasi apa yang telah kamu dapat?"
"Masih diselidiki. Karena saat ditemukan, rata-rata mereka telah meninggal selama kurang lebih satu minggu."
Noura termangut-mangut. "Aku bertanya-tanya. Jika benar. Kenapa para werewolf yang memiliki mate vampir itu tidak me-reject mate-nya?" Seketika Orlan mengerem mendadak. Noura terdorong ke depan, untung dia memakai sabuk pengaman.
"Kenapa Orlan?" tanya Noura panik.
Orlan merasa tenggorokannya tercekat. Kasus ini jelas sama seperti yang sedang dirinya dan Noura alami. Werewolf dan vampir yang ditakdirkan untuk bersama.
Senyum jail terlukis di wajah cantik Noura. "Kamu ingin me-reject-ku?"
Orlan akui. Saat tahu mate-nya merupakan vampir. Dia sempat kecewa dan tidak terima dengan takdir hidupnya, tapi dia tidak bisa berbohong pada dirinya sendiri. Dia menginginkan Noura, membutuhkan gadis vampirnya itu dalam hidupnya. Cukup sudah selama 449 tahun dia hidup dalam kesepian dan kesendirian. Selama ini, hidupnya terlalu hampa.
Orlan mengira, dia telah dikutuk. Karena tidak menemukan mate-nya. Ternyata tidak. Takdir hidupnya memang terlalu rumit. Moon Goddess pasti mempunyai alasan kenapa mate-nya merupakan vampir.
"Orlan?" Noura melambaikan tangannya di depan wajah Orlan yang memucat.
Iris biru Orlan memancarkan kesedihan. Dia berusaha menutupinya dengan menatap Noura serius. "Aku tidak akan melakukannya. Tidak akan pernah. Jangan berbicara hal seperti ini lagi."
Noura tersenyum samar. Dia hanya bercanda, tapi Orlan menanggapinya dengan serius. Entahlah, dia tidak tahu apa yang akan terjadi nantinya pada hubungan mereka ini.
Orlan menghela napas panjang. Dia memejamkan matanya sejenak. Jangan terbawa emosi. Orlan menenangkan dirinya sendiri, emosi hampir menguasai dirinya. Setelah dirasa emosinya meredam. Dia menjalankan mobilnya kembali.
Jay meraung, serigalanya itu juga sedih. "Orlan, berjanjilah padaku. Bila emosi menguasai dirimu. Kau harus tetap sadar. Jangan sampai kau me-reject Noura. Aku tidak takut mati bila di medan perang. Aku akan mati jika hidup tanpa seorang mate. Aku sangat mencintai mate kita."
"Ya, aku tidak akan pernah melakukannya, Jay."
*
Noura merasa bersalah. Wajah Orlan terlihat murung. Entah kenapa dia merasakan apa yang saat ini Orlan rasakan. Padahal baru kemarin dia bertemu dan mendengar ucapan Orlan yang terdengar konyol. Dia mate-nya? Ya Dewa. Ini terlalu memusingkan.
"Nanti aku akan menjemputmu." Orlan menatap Noura dengan tatapan sendu, nada suaranya terdengar sedikit bergetar. Orlan mengecup kening Noura, mate-nya itu berjengit kaget.
"Tunggu aku." Orlan mengelus lembut rambut Noura. Noura mematung di tempatnya berdiri, dia tidak menyangka Orlan dengan beraninya mencium keningnya. Noura merasa ada desiran di dadanya.
*
"Asyik, kakak berhasil," ucap Arva heboh.
"Ternyata Alpha Orlan hebat juga." Leon tersenyum tipis.
Mereka berdua melihat dari jendela kafe. Keduanya tersenyum bahagia.
Tidak ada yang peduli dengan ramalan penyihir tahun 1150. Mereka tidak mau memikirkan itu. Melihat wajah datar dan dingin Orlan yang seketika melembut saat bersama Noura. Membuat mereka terenyak.
Tidak ada yang peduli, apa yang akan terjadi bila keduanya bersama. Perang ketiga? Perpecahan bangsa werewolf? Atau justru perpisahan?
"Selamat pagi, Putri Noura." Arva menyambut Noura dengan wajah berseri-seri.
Noura mengerutkan dahinya.
"Selamat pagi, Luna." Leon tersenyum jail.
"Luna?" tanya Noura kebingungan. Noura menggali ingatannya, dia pernah mendengar istilah itu di bangsa werewolf. Dia mengingat ucapan Arva bertahun-tahun yang lalu. "Luna? Oh, itu." Noura menggaruk kepalanya. "Jangan panggil aku dengan sebutan itu. Itu terdengar aneh." Noura tersenyum kaku.
"Kamu akan menjadi bagian dalam bangsa werewolf. Karena kamu mate dari seorang Alpha." Arva menjelaskan. Leon mengangguk-angguk.
Noura menggaruk kepalanya yang tak gatal. Semuanya terasa mustahil. Dia sekarang berpikir. Apa reaksi bangsa vampir kalau tahu dia merupakan mate dari seorang werewolf? Apalagi mate seorang Alpha? Apa yang akan terjadi? Kenapa dia tidak memikirkan hal ini dari kemarin? Kenapa dari kemarin dia terlalu santai?
"Jangan panggil aku itu." Noura menolak. Dia melihat wajah kecewa yang ditunjukkan Arva dan Leon. Ya Dewa. Pagi hari ini, dia telah membuat kecewa tiga orang? Noura menggigit bibir bawahnya. Dia telah membuat suasana pagi hari menjadi tidak menyenangkan.
"Maafkan saya, Tuan Putri. Jangan terlalu dipikirkan." Leon tahu, harusnya dia tidak memanggil Putri Noura dengan sebutan Luna. Karena Putri Noura belum sepenuhnya milik Alpha Orlan, dia masih Tuan Putri dari Kerajaan Vampir Appalachia.
**
Semua jendela terkunci dan gorden tertutup rapat, tidak ada celah untuk sinar matahari masuk ke dalam. Penerangan dari lampu yang tergantung di atas langit-langit merupakan satu-satunya cara agar ruangan ini terlihat terang.
Bisa dilihat di atas meja terdapat banyak kertas yang berserakan. Laki-laki yang memakai kemeja putih yang digulung sampai ke siku itu tengah bersandar pada sandaran kursi.
"Yang Mulia, Anda memanggil saya?" Terdengar suara pada balik pintu.
"Iya, masuklah." Carlen segera menegakkan badannya.
"Yang Mulia, apa ada tugas baru untuk saya?" Sebelum bicara jenderal Nehan sempat membungkukkan badannya menghormat.
"Tolak semua kiriman darah hewan dari Ferin. Apa pun caranya, jangan sampai darah hewan itu beredar kembali di istana dan kalangan warga. Musnahkan semua darah hewan yang masih tersisa." Carlen menatap lurus jenderal Nehan.
"Baik, saya mengerti Yang Mulia." Jenderal Nehan menyanggupi permintaan sang raja.
"Saya tidak mau lagi mendengar tugas ini gagal. Jika kali ini gagal, saya akan mencopot jabatan jenderal yang tersemat pada Anda." Carlen menatap tajam vampir tua yang berdiri di hadapannya. Jenderal Nehan merupakan ketua prajurit yang telah mengabdi dari zaman kepemimpinan ayahnya, raja Alison. Jenderal Nehan juga merupakan salah satu vampir kepercayaannya.
"Baik, Yang Mulia. Saya pastikan kali ini akan berhasil." Jenderal Nehan berucap yakin.
Carlen mempersilakan Nehan untuk keluar dari ruangannya untuk segera menjalankan perintahnya.
Selang beberapa menit Aaron datang.
"Yang Mulia, apa tidak menunggu malam hari saja? Saya akan datang ke Redwood Pack. Anda tahu Yang Mulia. Siang ini cuaca sangat terik, matahari berada di atas kepala. Anda tahu, bukan? Saya ini bukan vampir murni. Saya bisa gosong dan menjadi abu bila terkena sinar matahari dalam jangka waktu yang lama." Aaron protes meminta keringanan.
"Tidak biasanya Anda menyuruh saya ke Redwood Corp pada siang hari." Aaron sama sekali tidak takut dengan Carlen yang memelototinya. Selain Aaron merupakan pengawal dan asisten pribadi Carlen, dia juga merupakan teman Carlen dari kecil.
Carlen memutar bola matanya. "Pakai kalung yang saya berikan! Jangan mendramatisasi, Aaron!"
Aaron menyengir. "Kalung itu tidak terlalu berfungsi, saya tetap merasa terbakar bila berada di bawah sinar matahari."
Carlen menatap Aaron sangat datar. "Siapa yang menyuruh kau berdiri di bawah sinar matahari? Kau ini! Pakai mobil kerajaan biar kau tidak merasa panas!" geram Carlen.
Aaron tersenyum kecut. "Baiklah." Aaron menundukkan badannya menghormat, lalu segera menuju Redwood Corp.
Carlen menghela napas. Jika saja dia bisa keluar dari istana ini. Dia akan melakukan semuanya sendiri. Tidak perlu menyuruh siapa pun, tapi itu hanya sebatas pengandaian.
***
Orlan terduduk lemas di kursi seraya menopang dagunya.
Orlan mengingat ucapan Noura. Jika benar werewolf dan vampir yang tewas merupakan sepasang kekasih. Berarti tidak lama lagi, dia dan Noura juga akan dibunuh? Siapa yang berani melakukan hal itu? Sebelum pelaku itu membunuhnya dan Noura, Orlan akan terlebih dahulu membunuh si pelaku.
Siapa gerangan pelaku dari pembunuhan itu? Apa motifnya? Apa yang mendasari semua kejadian ini?
Orlan mengacak rambutnya frustrasi. Moon Goddess. Dia juga ingin seperti yang lainnya. Hidup bahagia dengan mate-nya. Bukan seperti ini yang terus dibayangi dengan banyak pertanyaan.
Ah, tidak boleh. Orlan harus optimis. Hubungannya dengan Noura akan berjalan baik-baik saja. Tidak ada halangan yang menghambat dan mengalir saja bagaikan air yang bergerak dari hulu ke hilir.
Orlan harus menguatkan hatinya sekuat baja. Apa pun yang terjadi, dia akan hadapi.
"Aku selalu bersamamu, Orlan. Jangan lupakan kehadiranku." Ucapan Jay membuat Orlan tersenyum lebar. Ya, dia tidak boleh melupakan Jay dalam dirinya.
Orlan menoleh ke arah pintu yang terketuk.
"Aaron ingin menemui Anda, Alpha," kata Dafa.
"Selamat siang, Alpha. Maksud saya, Direktur." Aaron menunduk hormat.
Orlan tersenyum samar. "Panggil Alpha juga tidak masalah."
Aaron tersenyum kikuk.
Dafa berdiri di samping Alpha-nya.
Aaron menyerahkan sebuah map. "Ini laporan mutiara yang Kerajaan Appalachia dapatkan dari bangsa mermaid."
Orlan membuka map berwarna merah tersebut. Membaca jumlah mutiara yang dikirimkan Kerajaan Appalachia.
Berhubung Kerajaan Appalachia merupakan perkumpulan makhluk vampir. Mereka hanya keluar pada malam hari dan tidak memungkinkan untuk membuka perusahaan di dunia manusia. Mereka selalu mengirimkan hasil produk ke Redwood Corp supaya Redwood Corp yang memasarkannya. Kerja sama ini memang saling menguntungkan kedua belah pihak.
"Kirim semuanya." Orlan menyipitkan matanya, melihat tulisan paling bawah yang tertera pada kertas. "Banyak sekali mutiara yang berwarna putih kemerahan." Orlan heran. Jika mutiaranya berwarna putih kemerahan dapat dipastikan mermaid yang menghasilkannya sedang sangat bersedih. Karena mutiara ini didapatkan dari air mata para mermaid.
"Iya, benar. Banyak sekali. Apa bulan ini para mermaid sedang sedih secara bersamaan?" tanya Dafa.
"Mungkin. Katanya ada banyak mermaid yang tewas karena dimakan oleh ikan hiu." Perkataan Aaron membuat Orlan dan Dafa terkejut setengah mati. Kasihan sekali bangsa mermaid. Risiko hidup di lautan bebas.