Alunan melodi syahdu penyalur rindu, mengalun indah terdengar merdu, sampai tidak bisa ku bantahkkan lagi, nyatanya hati sudah memilihmu menjadi penjaganya. Menjadi satu-satunya yang bertahta di hatiku.
Hanya kamu, dan selamanya akan begitu.
***
Suara kaki kuda yang berlari pelan menyelusuri jalan di hutan kerajaan. menimbulkam perpaduan bunyi yang menyatu dengan alam, menimbulkan suara hentakan kuat kaki kuda yang memecahkan kesunyian yang semula terbentuk disana. Sepasang anak adam yang sudah menjadi penyebab suara hentakan kaki kuda itu terdengar, duduk tenang diatas punggung kuda. Sepasang anak adam yang terlihat semakin mencolok dengan pakaian Khas keluarga kerajaan melekat indah ditubuh mereka. Merekalah para penerus kerajaan Wilshon dan William. yang akan menggantikan sang raja Robert Wilshon dan King William yang sekarang memerintah.
Kedekatan mereka membuat semua putra dan putri kerajaan tetangga dan bahkan dari kalangan bangsawan menaruh iri dan dengki namun tidak ada yang bisa mengusik keduanya, saat sadar kedua kerajaan itu dengan mudah akan menghancurkan mereka kalau berani mengusik sang pewaris tahta.
Mereka terlindungi, dan mereka adalah raja dan ratu masa depan negeri ini.
"Pangeran kita mau kemana?" tanya sang putri, yang masih saja kebingungan dengan tingkah sang pangeran yang tiba-tiba mengajaknya berkuda menyelusuri hutan kerajaan.
Padahal sebelumnya, pangeran tidak pernah mengajaknya pergi sejauh ini. Biasanya mereka hanya akan berkeliling taman kerajaan saja, atau mungkin pergi berkunjung ke kerajaan kekasihnya ini, selebihnya mereka benar-benar hanya menghabiskan waktu mereka dalam kerajaan, melakukan berbagai hal untuk membantu mereka menjadi seperti yang kedua orang tua mereka inginkan dan juga negeri ini inginkan, mereka benar-benar mempersiapkan diri untuk menjadi pewaris tahta terbaik.
"hn" jawab sang pangeran singkat, membuat sang putri menggerutu jengkel. Gumaman itu lagi, dan ia bahkan tidak mengerti maksudnya apa, padahal ia sudah lama mengenal pengerannya ini.
"itu jawaban atau apa. ambigu" gumam sang putri jengkel dengan suara yang sangat kecil. tapi tentu itu dapat di dengar oleh pangeran yang duduk memeluknya erat diatas punggung kuda.
"Haha" pangeran tertawa geli melihat tingkah sang putri yang sekarang sedang merajuk padanya. Princesnya memang begitu menggemaskan, karena itu juga ia tidak bisa meninggalkan princessnya ini terlalu lama, tapi tugasnya sebagai pangeran membuatnya kerap kali meninggalkan Sang putri sendirian dalam kurun waktu yang lama.
"Berhentilah merajuk putri, sebentar lagi kita akan sampai. " ucapnya gemas, sang putri memberungut kesal membuatnya ingin sekali mengecup lembut bibir menggoda yang sekarang sedang dimanyunkan oleh pemiliknya itu.
“Hm" Balas sang putri masih dengan kegiatan merajuknya. pangeran tidak mengerti, mengapa putri dari raja Wilshon bisa semanis ini, ditambah lagi sang putri yang sering merajuk belakangan ini, membuatnya semakin gemas saja. Kalau begini mana mungkin ia sanggup meninggalkan sang putri dalam kurun waktu yang lama lagi, ia pasti akan sangat rindu.
Seperti saat ini.
"Oo ayolah Princess, berhentilah memanyunkan bibirmu. Kau tahu, kau membuatku tidak tahan ingin menciummu putri" ucap pangeran nakal, dengan kepala yang sengaja ia tenggelamkan diantara lekuk leher sang putri. menghirup aroma chery yang menjadi wangi khas sang putri Alexsa. Membuat rona merah kembali menghiasi kedua pipi putih sang putri, membuatnya semakin gemas saja. sampai tidak tahan untuk mencubit kedua pipi sang putri yang sedari tadi menggoda kedua tangannya untuk berbuat nakal.
“Auu sakit” pangeran terkekeh geli, melihat wajah memberungut kesal dengan kedua pipi yang semakin memerah karena ulah tangannya. Sang putri melotot kesal padanya dengan kedua netra itu menuntutnya untuk mengaku salah, selalu saja begitu, hanya dengan tatapannya saja sang putri berhahsil membuatnya takluk.
“Maaf-maaf” ucapnya menyesal, mengusab pelan kepala berhiaskan tiara di depannya, sang putri semakin merona di buatnya.
Menggemaskan!
"Ayo turun kita sudah sampai" ucap sang pangeran akhirnya, setelah mereka sampai di tempat tujuan. Dengan tangan terulur menunggu sang putri menyambutnya, dan membantunya untuk turun dari kuda.
“kita sudah sampai Princes” sang putri masih diam, menelusuri setiap apa yang bisa netra hitamnya tangkap.
1 detik
2 detik
3 detik...
Indah_
“Ini_” Sang putri terpaku di tempatnya, matanya berkedip beberapa kali seolah tidak percaya dengan apa yang dilihatnya sekarang. Ini indah sekali, bagaimana mungkin tempat seindah ini ia tidak tahu selama ini. Danau ini, iya danau ini benar-benar danau terindah yang pernah ia lihat. dengan hamparan air sebening kristal yang seolah membuatnya bisa melihat gerombolan ikan berenang didalamnya, dan hamparan pepohonan rindang di sekitar danau membuatnya merasa benar-benar nyaman dan tenang.
Ini indah sekali.
Sang putri langsung berbalik menatap senang kearah pangeran yang masih memberinya senyum terbaiknya.
“ini indah sekali” ucapnya takjub dengan binar bahagia di kedua matanya.
"Pangeran, bagaimana pangeran tahu tempat seindah ini. ini adalah danau terindah yang pernah aku lihat pangeran." kagumnya dengan mata berbinar senang.
"Apapun untukmu princess. " balas pangeran
sang putri benar-benar tidak bisa menyembunyikan kekagumannya pada keindahan danau yang masih sangat alami ini. Membuatnya berjalan mendekati tepi danau dengan wajah berbinar cerah sampai akhirnya kakinya menyentuh tepian danau bagaimana mungkin tangannya tidak tergerak untuk sedikit menyentuh airnya. yang ternyata masih sangat dingin, walaupun hari sudah siang.
"Pangeran, ini sangat indah. Aku sangat senang bisa kemari, terimakasih" sang putri berucap tulus, ia tidak menyangka ia bisa kemari walaupun ini masih didalam wilayah kekuasaan ayahnya tapi tetap saja, sebagai seorang putri ia tidak bisa keluar semudah itu dari kerajaan tanpa pengawal. Dan hanya dengan kekasih nya ini ayahanda mengizinkannya pergi sejauh ini.
Dia senang. Dia senang sekali.
"sama-sama Princes" balas sang pangeran. sambil mendekat ke tempat sang putri berdiri, ikut merasakan air danau yang masih terasa begitu dingin saat matahari sudah berada diatas kepala.
"apa kita akan kesini lagi nanti?“ tanya sang putri semangat, diikuti sebuah tangan yang mulai mencari tempat ternyaman di pinggangnya yang ramping.
"pangeran?" gumam sang putri saat merasa ada kedua tangan yang memeluk nya possesif..
"Yes Princes" pangeran tersenyum simpul, netra sekelam malam itu menatap intens gadis manis di depannya. Kapan pun itu, ia pasti tidak akan menolak untuk kembali membawa pujaan hatinya kemari. melihat senyum bahagia itu, ia benar-benar merasa sangat senang. Tangannya yang terbebas terangkat, mengusab pelan wajah seputih persolen di depannya. ia rindu saat-saat setenang ini hanya berdua dengan pujaan hatinya, terkadang kesibukannya sebagai pewaris tahta membuatnya tidak bisa berlama-lama dengan putri Alexsa.
Dan itu menyebalkan sekali. Andai saja ia bisa menghentikan waktu, ia ingin waktu berhenti sekarang juga.
"_"
"_"
Keduanya hanya diam menikmati suasana danau yang masih asri didepan mereka. Sesekali sang putri bergerak tak nyaman karena ulah sang pangerang yang terus menciumi lehernya. kesal dengan kejahilan pangeran, dengan berat hati sang putri melepaskan pelukan possesif tangan kekar pangerang dan berbalik menghadap sang pangeran dengan kedua tangan bersidekap d**a kesal kesal.
"berhentilah membuat aku geli, pangerann. " ucap sang putri kesal. Pangeran tersenyum jail, netra hitamnya menatap lembut gadis yang masih menatapnya kesal dengan cara yang begitu menggemaskan.
"Aku menyukainya putri. kamu sangat wangi, itu seperti candu buatku" balas sang pangeran semakin mempersempit jarak diantara mereka.
"pangerann_” sang putri berucap malu, ia yakin sekarang kedua pipinya kembali semerah buah tomat kesukaan sang pangeran.
Angin berhembus pelan di sekeliling mereka. pangeran semakin mendekatkan wajahnya pada sang putri, menghirup aroma chery yang sudah menjadi candu untuknya. sampai akhirnya benda kenyal itu menyatu, mengecap pelan sangat pelan sekali.
“Em_”
Sang putri melenguh pelah, ciuman sang pangeran selalu bisa membuatnya nyaman dan membiarkan saja sang pangeran mengekpotasi bibirnya, saling melumat, saling menukar saliva, saling membagi kehangatan di setiap lumatan yang mereka ciptakan .
“Emkh" sang putri berdesah pelan saat sang pangeran menggigit nakal bibirnya.
Saling mengecap penuh cinta, sang putri terbuai dengan ciuman lembut tanpa kesan terburu-buru yang pangeran lakukan, sampai ahirnya ia merasa pasokan udaranya yang semakin menipis. Sang putri memukul pelan d**a bidang di depannya. dengan berat hati akhirnya pangeran menyudahi ciuman mereka. Dengan benang saliva yang masih terhubung dan rona merah semerah buah kesukaannya yang tersaji di depannya, ia yakin ia ingin kembali mengulang kejadian beberapa detik lalu, andai saja ia tidak ingat sang putri juga butuh pasokan udara di paru-parunya yang seolah benar-benar berkurang karena ciuman mereka tadi.
"apa kita akan kesini lagi pangeran?" tanya sang putri lagi, setelah beberapa saat mencoba bernafas dengan teratur, dengan pasokan udara yang benar-benar menipis di paru-parunya.
"Tentu Princes" jawab sang pangeran sambil membawa tubuh mungil sang putri ke dalam dekapan hangatnya. Kapanpun itu ia tidak akan menolak, selama itu untuk kebahagiaan sang putri ia siap.
***
"OIIIIIIIII BANGUN!" teriak seorang lelaki di depan seorang gadis yang masih asik dengan dunia mimpinya, sesekali ia melihat jam dinding di kamar sang gadis dan kembali berdecak kesal saat ternyata ia sudah menghabiskan banyak waktunya disini.
"Oiiiii bangun, aduh bisa gila gue bangunin lo. bangun OIIIII. " Teriaknya lagi
‘Kok suara pangeran cempreng gitu ya. Ih, mana mungkin ah. ni pangeran masih meluk gue kok. mimpi kali gue’
" kepala lo puyeng ya, makin gak waras deh adek gue. malah meluk guling dia." teriak cowok itu lagi. lelah terlalu lama berteriak-teriak namun tidak ada respon yang berarti dari gadis di depannya. Sambil tersenyum jail, tangannya terangkat mengambil posisi yang tepat diatas selimut yang digunakan adiknya.
"Baik lah kalau Lo maksa Princess" ucapnya sambil menyeringai licik.
“ALEXSA BANGUN”
DUKKK. BRUUKK.
“AUUUUU, SAKITT”
Teriakan kesakitan terdengar nyaring memenuhi kamar seorang gadis bernama Alexsa yang terjatuh dengan tidak elitnya dari atas tempat tidur miliknya, akibat ulah kejahilan sang kakak. Cowok dalam balutan seragam SMA elit itu terkekeh geli melihat pelototan adiknya yang begitu menyeramkan, untung ia sudah biasa menerimanya.
"Lo apaan sih kak, ganggu mimpi gue aja lo. kacau lo ah" sembur sang gadis tak terima. sambil mengulus-ngulus kepalanya yang terhantam sisi nakas dan pantatnya yang menghantam lantai kamarnya.
Benar-benar menyakitkan.
"Salah sendiri, lo pikir ini sudah jam berapa. oiii telat ni gue kesekolah" balas Alex sambil menunjukkan jam tangannya kedepan wajah Alexsa sebelum akhirnya tersenyum angkuh.
"Gue sih gak apa telat. Secara kan ini masih hari orientasi. nah situ_ "lanjut Alex sambil tersenyum sinis mengejek kesialan gadis di depannya.
Sadar akan posisinya yang tidak menguntungkan untuk mendebat lelaki di depannya, Alexsa langsung memasang ekpresi memohon minta dikasihani yang sukses membuat Alex merotasikan matanya bosan.
Sudah biasa, sudah gak mempan.
“Ih kak Alex mah gitu, dia jahat ih. izinin Alexsa kenapa" rajuknya masih mencoba meluluhkan hati cowok di depannya, walaupun sebenarnya ia juga sadar itu percuma.
Alex tersenyum mengejek dengan netra hitamnya yang tidak lepas dari wajah menggemaskan yang ditampilkan gadis di depannya, bibir yang sedikit dimanyunkan, netra hitam yang serupa dengannya yang menatapnya memohon minta dikasihani. Sangat menggemaskan, ingin rasanya dia mengecup pelan bibir merah alami yang sedang mencoba merayunya itu, kalau saja ia tidak ingat siapa gadis menggemasan di depannya ini.
"Gak bisa Princess, kamu harus datang. udah deh, cepat sana mandi. nanti kamu benar-benar telat lo, kakak gak tanggung jawab ya " balas Alex sambil mengelus kepala Alexsa lembut.
Alexsa semakin memberungut kesal, ia ingin libur dengan memanfaatkan posisi kakaknya sebagai kakak tingkat. tapi sepertinya ia gagal total, kakaknya tidak bisa diajak kompromi pagi ini.
"Iya ah, udah sana keluar aku mau mandi" ucap Alexsa ketus, Alex terkekeh pelan. Tahu gadis yang sedang berjalan kekamar mandi dengan kaki yang dihentak-hentakkan itu sedang kesal dengannya.
Masih dengan tawa gelinya, Alex melangkah keluar dari kamar Alexsa. Sampai akhirnya ia terpaksa berhenti dengan tangan siap membuka kembali pintu kamar adiknya saat telinganya dengan jelas mendengar Alexsa menggerutu kesal dari dalam kamar mandi.
"Dasar perusak mimpi orang, Oh pangerang see you again in my dream. dasar kak Alex jahat, apa juga gunanya dia jadi ketua penyelenggara orientasi di SMA baru ku, Aku pengen libur aja susah, Dasar jahat. "
Alex terekeh pelan, Alexsa pasti sangat kesal padanya. Lagi pula sudah cukup ia memberikan Alexsa izin dihari pertama orientasi bahkan juga hari kedua, jadi khusus hari terakhir ini ia ingin ALexsa datang.
"Aku mendengarnya princes" balas Alex sambil membuka kenop pintu kamar Alexsa.
"YAAAA. KELUAR SANA" teriak Alexsa sambil melempar sebuah benda yang berakhir membentur pintu kamar mandi. yang Alex yakin itu pasti botol shampo.
"HAHAHAHA" Alex terus tertawa keras tidak memperdulikan tatapan heran Mommynya. yang terus melihatnya heran sejak Alex turun dari lantai dua.
Mau bagaimana lagi, menjaili Alexsa pagi-pagi begini sungguh membuatnya bahagia sekali. Paginya yang cerah menjadi semakin cerah hanya karena Alexsa.
"Kamu kenapa Alex?" tanya Mommy nya heran, sambil melanjutkan sarapan yang tadi sempat tertunda karena tawanya.
"Biasa Ma, Alexsa ngelantur gak jelas lagi" jawab Alex asal masih dengan senyum jahilnya, Membuat wanita di depannya menggeleng prihatin dengan nasib putrinya yang kembali dijaili putranya.
"Kamu ini, kasian adikmu jangan kamu kerjain terus"
Alex tersenyum lebar dengan anggukan kepala namun dalam hati ia malah tertawa senang dengan kesialan Alexsa.
“Gak bisa ma, kalau gak ngerjain ia. itu bagaikan hidup tak bernyawa. bagaikan sayur tanpa garam. gak kerasa Ma. hambar hari-hari Alex nanti" Alex membatin Ria, tidak berani mengucapkannya lansung, takut dimarahi dengan ancaman uang jajan di potong.
NGERI OI.
"iya Ma." Balas Alex patuh, sambil ikut memakan sarapannya.
"Daddy mana Ma, sudah berangkat?" tanya Alex heran dengan Daddy nya yang belum juga terlihat di meja makan.
"Daddy kamu ada rapat penting di kantor pagi ini. " balas Mommynya, sambil meminum s**u coklat diatas meja. Alex mengangguk pelan.
"Ooo " balas Alex tenang, lebih memilih melanjutkan sarapannya, setelah sadar wanita cantik di depannya ini pun, sepertinya sedang terburu-buru menyelesaikan sarapannya. lagipula ini sudah sering terjadi. Daddy nya yang pergi kekantor terlalu pagi. atau Mommy nya yang tiba- tiba terburu-buru seperti saat ini.
Hy, jangan berpikir kalau ini cerita tentang keluarga yang tidak bahagia dengan anak-anak mereka yang berakhir mencari kebahagiaan mereka sendiri seperti yang banyak terjadi di cerita Broken Home, Atau serial drama TV lainnya. tentunya mereka keluarga yang sangat amat bahagia sejagat raya.
Mengapa begitu?
Tentu saja dengan perhatian penuh yang orang tua Alex dan Alexsa berikan kepada mereka, sesibuk apapun kedua orang tuanya tapi perhatian dan kasih sayang yang diberikan kedua orang tua mereka tidak pernah kurang, tidak pernah. Mengingat kesibukan kedua orang tuanya yang berprofesi sebagai dokter bedah dan juga pemilik dari Robecha Hospital dan Daddy nya yang sekarang menjabat sebagai CEO di Wilshon Grop. Bukankah kedua orang tua mereka sangat sibuk.
"Lama amat princes" sapa Alex, saat melihat Alexsa sudah duduk manis di sebelahnya. sambil memakan sarapannya dengan buru-buru, tidak adalagi Robecha disana, Mamanya itu sudah pergi sejak lima menit yang lalu sebelum ALexsa muncul.
Pagi mereka benar-benar sibuk.
"Hy, pelan-pelan Princes" lanjutnya mengingatkan.
"Kakak tahu_ "Alexsa menyorot Alex kesal, membuat Alex mengernyit bingung.
"KITA SUDAH TELAT, LO PUNYA JAM KOK GAK DI LIHAT SIH LEX" teriak Alexsa geram didepan wajah Alex, hitung-hitung balas dendam atas kajailan Alex tadi di kamarnya.
"AAPA" Alex tersentak kaget sambil melihat jamnya. kemudian beralih melihat Alexsa yang sudah siap dengan sarapannya.
Cepat sekali.
"AYOOO" teriaknya lagi saat melihat Alex yang masih menatapnya bengong.
"Santai dong" balasnya saat sadar, kemudian langsung ikut berjalan cepat mengikuti Alexsa yang sudah berada di depannya, dengan cepat Alexsa memasuki mobil mewah kesayangan kakaknya yang sudah terparkir di depan rumah mereka.
“Cepat Elah “ Alexsa berucap geram, netra kelamnya menyorot Alex kesal. Alex benar-benar tidak sadar posisi, seharusnya setelah memaksanya ke sekolah hari ini Alex sadar dong kalau ia ini hanya siswa baru yang tidak boleh terlambat barang sedetikpun itu. seharusnya Alex tahu itu kan?.
“Sabar“ Alex berucap kesal sambil melajukan mobil kesayangannya keluar dari kediaman mereka.
"Sabar-sabar, jidak lo bocor." umpat Alexsa kesal. " kakak enak senior kan. nah aku juniornya, yang hari ini di ospek kan aku bukan kakak" lanjut Alexsa masih dengan ekspresi kesalnya, Alex mengangguk mengerti mencoba memahami kekesalan Alexsa pagi ini.
"iya, ini udah cepat kok Princes." balas Alex sambil menambah kecepatan mobilnya.
"Kakak pun kenapa gak mau izinin Alexsa. coba kalau kakak izinin Alexsa, kan gak ribet gini." balas Alexsa menggurutu kesal, Membuat Alex kembali merotasikan matanya bosan, padahal ia sudah meminta izin untuk Alexsa dari hari pertama orientasi, tapi memang dasarnya Alexsa tidak ingin mengikuti acara penyambutan siswa baru disekolah mereka, Alexsa benar-benar tidak menyukai kegiatan orientasi.
"Kamu harus pergi hari ini. Tidak mungkin kan tiap hari izin, memangnya kamu tidak mau melihat bagaimana orientasi di sekolah baru kamu " jelas Alex berusaha membujuk, dan Alexsa langsung menggeleng cepat tidak tertarik sama sekali.
"Gak” jawabnya masih kesal. Alex menghela nafas panjang, ia harus bisa membuat mood Alexsa membaik, sebelum mereka tiba di sekolah. Tidak lucu bukan kalau nanti Alexsa marah-marah disana.
"Jangan marah-marah dong, ini kan hari pertama kamu sekolah. lagipula siapa yang akan berani melabrak kamu nanti, kamu kan ketua karate putri waktu SMP, yang ada malah kamu nanti yang labrak mereka.. " jelasnya lagi dengan nada menggoda.
Karena mengingat bagaimana Alexsa aslinya. mana mungkin ada yang berani melabrak adiknya ini. Alexsa pemegang sabuk hitam karate saat SMP, bahkan Alexsa pernah memukul anak laki-laki sampai sekarat di rumah sakit, membayangkannya saja sudah ngeri sendiri. seorang gadis kecil yang manis tapi punya kekuatan bak moster, hiiii menyeramkan.
"Ahh males". Jawabnya, kali ini dengan nada yang sedikit lebih tenang. Alex tersenyum penuh arti, mood Alexsa sedikit lebih baik sekarang.
Alex memilih diam tidak lagi berusaha beradu argumen dengan Alexsa, karena pasti tidak akan ada habisnya. Alex melajukan mobilnya dengan sedikit lebih cepat lagi, berbaur dengan kendaraan di jalan raya. berusaha menerobos padat nya lalu lintas Ibu Kota, agar mereka lebih cepat sampai di sekolah.
***