Biibbb.. Biibbb..Biibb
Biibbb... Biibbb... Biibb...
Suara alarm dari Android versi lama itu berdering menunjukkan pukul 04.30. Namun, sebelum Aliya sempat mematikannya, suara lain yang lebih nyaring memotong.
TOK TOK TOK!
"Saudari Aliya! Buka pintunya! Ini dari bank!" Jantung Aliya langsung jatuh ke perut. Ia meraba-raba ponselnya di bawah bantal, lalu mematikan alarm dengan tangan gemetar.
Sisa hujan tadi malam masih menetes dari genting seng yang bocor. Udara lembap dan dingin menusuk sampai ke tulang. Rumah tipe 36 ini dulu dibeli menggunakan nama Ayah. Sekarang... surat peringatan sita ketiga sudah ditempel di pagar sejak seminggu lalu.
"JATUH TEMPO 7 HARI LAGI" tulisan merah itu masih menghantui kepalanya.
"Selamat pagi, Pak," sapa Aliya sembari membuka pintu rumahnya.
"Gimana pelunasannya, Bu Aliya? Ini jatuh tempo 7 hari lagi, lho. Utang Ibu tidak sedikit ya, Bu. Rp250 juta harus sudah ada! Kalau tidak, silakan angkat kaki dari rumah ini!"
"Saya juga sedang mengusahakannya, Pak. Mohon maaf karena Mama saya juga sedang menjalani pengobatan, jadi banyak pos keuangan yang harus saya penuhi."
"Kami tidak mau alasan lagi, Bu Aliya! Seminggu lagi kami kemari harus ada minimal pembayaran 10%. Jika tidak, silakan kemasi barang-barang Ibu!" ucap penagih itu sambil melempar surat tagihan ke wajah Aliya.
Aliya menatap nanar kertas penagihan ditangannya, dimana ia harus mencari 25 juta dalam waktu seminggu, menjual motor satu-satunya tidak mungkin, kepalanya serasa mau pecah, tenang Aliya tarik nafas, ayok semangat, kamu pasti bisa.
"Kak, orang bank lagi, ya?" Suara itu menyadarkan Aliya. Seorang gadis keluar dari tempat persembunyiannya. Aliya memaksakan senyum di wajahnya dan mengangguk.
"Tenang aja, yuk. Kita pasti bisa melewati semuanya, kok. Nanti Kakak akan cari jalan keluarnya, kamu fokus sekolah saja, ya."
"Katanya Mama harus operasi minggu depan. Dokter bilang kalau ditunda, sarafnya bisa mati total!" Aliya tercekat. Operasi Mama menurut estimasi dokter setidaknya membutuhkan biaya Rp45 juta di awal, belum lagi ia harus menyiapkan biaya untuk kuliah adiknya. Sejak kepergian sang Ayah beberapa tahun lalu, Aliya tinggal bertiga bersama Ibu dan adiknya, Ayu.
Mama Aliya sebenarnya memiliki keahlian memasak dan mempunyai bisnis katering untuk menopang perekonomian keluarga. Namun, sejak 7 tahun lalu sang Mama terdiagnosis autoimun yang menyerang saraf, sehingga praktis hanya Aliya yang menopang ekonomi keluarga.
Belum lagi utang yang ditinggalkan sang Ayah dan biaya pengobatan Mamanya, hingga Aliya terpaksa menjaminkan satu-satunya rumah yang mereka tinggali. Saat ini Aliya bekerja sebagai guru di salah satu SMA swasta di dekat tempat tinggalnya. Alasannya agar tidak terlalu jauh dari sang Mama dan ia bisa tetap merawatnya. Sementara itu, sang Adik saat ini berada di kelas 12 SMA dan beberapa bulan lagi akan masuk kuliah.
"Gak mandi?" tanya Aliya, menahan air mata.
"Nggak perlu. Hari ini ada ujian. Harus hemat air," jawab Ayu santai. Terlalu santai untuk anak berusia 17 tahun. Tatapan Aliya melembut sekaligus perih. Adiknya ini terlalu cepat dewasa. Terlalu paham.
Sementara ia... sebagai kakak, merasa gagal.
***
Mereka berangkat beberapa saat kemudian dengan berboncengan. Aliya mengajar di sekolah yang tidak jauh dari sekolah Ayu, dan hanya berjarak sekitar 30 menit dari rumahnya. Tepat 15 menit sebelum bel berbunyi, Aliya sudah sampai di sekolah tempat ia mengajar. Sekolah itu dinaungi sebuah yayasan kecil, tetapi memiliki banyak siswa. Dalam sehari Aliya mengajar 4–5 kelas.
“Al, tau nggak kabar dari ‘atas’ bilang kalau kas sekolah udah nipis banget, takut banget tiba-tiba ke lay off,” bisik Siska salah satu teman mengajar Aliya.
“Masak sih ? kayaknya nggak, kan kemarin udah dapat suntikan dana dari pusat,” timpal Aliya sambil mengunyah bekalnya.
“Ih beneran Al, By the way aku ada tawaran ngisi privat Bahasa Inggris, fee nya gede, 250 per sesi, cuman anaknya agak rewel.”
Tawaran Siska sedikit menarik perhatian Aliya. Alisnya sedikit terangkat karena penasaran.
“Rewel gimana ?”
“Tuh anak homeschooling, katanya Ayahnya single parent jadi dia agak susah sama orang baru. Sebulan ini udah ganti empat Tutor, banyaklah problemnya, cuman yaitu keluarganya sanggup bayar tinggi, bahkan kalau bisa bikin anaknya cocok, mereka mau bayar 2 kali lipat, dengan total pertemuan 3kali seminggu.”
Otak Aliya otomatis langsung menghitung fee misalkan ia bisa mengambil job tersebut, kurang lebih ia bisa mendaatkan tambahan sekitar, 6 -7 juta, lumayan untuk menambah biaya pengobatan Mamanya.
“Sis, dimana rumahnya ?”,
“Lo mau Al? gue rekomendasikan ke PIC gue ya? Nanti langsung gue kabarin kalau ada jawaban, sini kirim portofolio lo.”
“Gue sent ke email lo yaa, makasi banyak ya Sis.” Siska tersenyum sebagai balasan.
Siska dan Aliya adalah teman sekelas semasa kuliah dan menjadi semakin akrab setelah menjadi rekan seprofesi.
***
Aliya baru saja memarkir motor matic kesayangannya saat ia melirik jam di rumah sudah menunjukkan pukul 22.03. Ia baru saja selesai mengisi kelas di salah satu bimbel, Ayuk terlihat sudah tertidur dan lampu kamarnya sudah gelap.
“Al, baru pulang Nak?”
“Kok belum tidur Ma?” Aliya menjawab pelan dan duduk di ranjang Mamanya.
“Capek ya Al? Maafin Mama ya, Mama udah nambahin beban kamu sama adikmu.”
“Ma.. udah gak usah bilang gitu, yang penting Mama minum obat terartur, terus bisa sehat lagi.”
“Mama ndak usah berobat lagi gimana Al? kasian kamu, ini juga Mama udah nggak papa sebenernya.”
“Ma, pokoknya Mama harus sembuh total, aku masih bisa kok cari uang buat kita, buat kuliah Ayuk juga, udah pokoknya Mama tenang ya,” ucapnya berusaha menenangkan Mamanya.
“Tapi jangan terlalu maksain diri ya Nak, ingat Kesehatan kamu juga. Terus kamu juga harus nabung buat dirimu sendiri, kamu nanti menikah dan punya keluarga sendiri.”
”Iya Ma, Aliya ngerti kok, Mama jangan mikir lagi yaa.” Mamanya mengangguk dan tersenyum menyanggupi.
***
Aliya melemparkan diri ke ranjang setelah masuk ke kamarnya, teringat handphonenya mati ia segera mengambil charge dan menyalakannnya. Beberapa pesan langsung menyerbu masuk, mata Aliya terpaku pada salah satu pesan dari nomor asing.
Selamat Malam Miss Aliya, perkenalkan Saya Anggi PIC dari homeschooling Tunas Bangsa, berdasarkan portofolio yang telah direkomendasikan sebelumnya, apakah Saudari berkenan mengisi Kelas Bahasa Inggris untuk siswa usia 7 tahun, alamat siswa dan informasi lain akan saya jelaskan setelah konfirmasi dari Miss Aliya.
Aliya terlonjak duduk dan langsung membalas pesan tersebut.
Selamat Malam Miss Anggi, baik Saya bisa mengisi sesi tersebut
Bebrapa saat kemudian satu balasan muncul
Baik berikut saya kirim profil siswa serta materi dan kebijakan lembaga ya Miss.
Aliya membaca seksama profil siswa tersebut, profil itu hanya berisi nama siswa, sekolah, dan catatan belajarnya, namun Aliya tidak menemukan keterangan keluarganya.
“Zeneka Mahesa Dirgantara,” bisik Aliya membaca nama siswa tersebut.
Tapi.. wait Dirgantara? Mungkinkah?
Aliya geli sendiri dengan pikirannya, ada banyak nama Dirgantara, mungkin hanya kebetulan sama pikirnya.