Sandra’s POV
Dengan tertatih-tatih, aku berjalan ke gerbang sekolah. Aku banyak meringis karena aku benar-benar kesakitan dan aku tidak bercanda tentang hal ini. Luka yang ada di lututku rasanya perih, belum lagi pergelangan kakiku yang terkilir. Aku harus berteriak begitu kencang saat tadi kakiku dipijit. Ketika aku berusaha keras untuk berjalan dengan baik, beberapa gadis mendekatiku dengan wajah mengejek. Mereka menatapku seolah-olah mereka ingin menelanku.
"Berhentilah bermain drama, b******k,"
"Sadar diri dong, jelek!" pekikkan lainnya,
Apa mereka pikir aku sengaja mengorbankan kakiku hanya untuk mencari perhatian Peter yang sama sekali tidak kuinginkan? Maksudku apa-apaan ini?!
Aku ingin sekali membela diriku, namun tiba-tiba Peter berjalan menghampiriku dan merangkul bahuku. Tubuhku menegang, merasa sangat terkesiap karena kehadirannya yang tiba-tiba. Aku tidak berani melirik Peter, itulah sebabnya aku tidak menoleh padanya dan terus menatap lurus kedepan yang mana aku menemukan gadis-gadis itu terlihat agak takut.
"Pergi," perintah Peter dingin. Kali ini aku meliriknya, dia sepertinya menatap tajam ketiga gadis itu. Dengan sebuah kata saja, mereka benar-benar meninggalkan kami berdua. Perkataan pria itu benar-benar seperti sebuah sihir yang membuat siapapun menurut kepadanya. Aku menghela nafas berat, sementara itu Peter melepaskan rangkulannya dan segera berjalan pergi.
"Terima kasih," kataku, yang tidak ditanggapinya sedikit pun. Bukankah dia terlihat sangat aneh? Aku tidak tahu dari mana dia sebelumnya tapi lagi-lagi kami bertemu.
Ah sudahlah, bodo amat.
Aku terus berjalan lagi ke luar gerbang. Aku merogoh sakuku, mencari ponselku. Ketika aku fokus pada sakuku, sebuah mobil berhenti di depanku. Aku tidak terlalu memperhatikan dan tidak terlalu peduli dengan mobil itu, tetapi begitu kaca mobil itu diturunkan, alangkah kagetnya aku ketika Peter yang ada di sana, menatapku, seolah-olah dia memintaku untuk masuk ke mobilnya.
Peter menatapku diam dan itu membuatku takut. Sepertinya aku tidak punya pilihan untuk menolaknya.
Dengan perlahan aku pun berjalan masuk ke dalam mobil pria itu. Selama perjalanan kami hanya diam, tidak ada percakapan apapun diantara kami. Ditambah lagi, tidak ada radio atau lagu apa pun, rasanya sunyi sekali. Aku hanya bisa menoleh ke luar jendela, menikmati sedikit pemandangan di sana,
"Dimananya rumahmu?"
"Umm... lurus ke depan. Akan ada g**g kecil di sisi kiri. Turunkan aku di sana, aku bisa berjalan sendiri,"
"Aku akan mengantarmu sampai ke rumahmu," katanya dengan tenang,
"Tapi mobil tidak bisa masuk-"
Perkataanku terpotong olehnya,"Aku tahu,"
“Dia tahu?”
"Kalau kau tahu, seharusnya kau tidak perlu mengantar-"
"Aku bilang, aku akan mengantarmu sampai ke rumah," tuturnya seolah-olah dia tidak ingin dibantah. Aku menutup mulutku, karena sepertinya menolaknya tidak akan berhasil. Aku tidak bisa menebak apa pun darinya, aku benar-benar ingin berterimakasih dengan apa yang sudah dia lakukan kepadaku. Jika dia melakukan ini dengan alasan ingin membalas apa yang sudah kulakukan kepadanya, aku pikir ini sudah cukup.
Maksudku, aku benar-benar ingin mengakhiri semuanya. Aku tidak ingin terlibat dan menjadi korban berikutnya dari penggemar-penggemarnya.
Aku benar-benar ingin hidup damai di masa sekolahku ini!
Hingga akhirnya, aku tidak menyadari bahwa kami telah sampai. Peter memarkirkan mobilnya sejenak, sebelum dia keluar dari mobilnya dan dengan cepat dia membantuku untuk keluar dari mobilnya. Kuakui dia memiliki sikap yang lumayan gentle. Dia benar-benar berjalan bersamaku dari g**g kecil itu ke rumahku. Aku meliriknya beberapa kali, dan… Hah, rasanya canggung sekali. Kami tidak memiliki percakapan yang berarti sepanjang perjalanan ke rumahku.
Akhirnya kami sampai dan ketika dia hampir berbalik, aku bertanya-tanya dalam diriku mengapa mulutku memanggil namanya. Aku bahkan kaget sejenak, sampai aku tahu apa yang harus aku lakukan setelah aku memanggilnya,
"Tunggu dulu," kataku sebelum aku pergi ke kulkas, dan mengambil sebotol jus jambu untuknya.
"Terima kasih," katanya begitu dia menerima jus itu dan dia mulai pergi dari rumahku.
***
Aku menghela napas malas, kakiku belum benar-benar sembuh sehingga aku kesulitan dalam melakukan banyak hal. Ketika aku masuk ke dalam kelas, aku kondisi kelas yang biasa saja karena aku tidak ingin menjadi pusat perhatian kelas karena kakiku. Begitu aku sampai di kelas, aku mengerutkan keningku dengan heran karena orang-orang menatapku dengan tatapan aneh mereka. Aku tidak tahu bagaimana menggambarkannya, tetapi aku benar-benar tidak nyaman dengan ini.
Apa yang sedang terjadi? Apa salahku?
Ketika aku berjalan ke kelas, teman-teman sekelasku juga menatapku dengan aneh, kecuali Bianca, yang mendekatiku tepat setelah dia menyadari keberadaanku,
"Apakah kau tahu, mengapa orang-orang menatapku dengan aneh?" tanyaku sembari berbisik kepadanya.
"Aku tahu, tapi bisakah kita keluar dulu?" ajak Bianca yang kuangguki mengerti. Kami pun berjalan ke luar kelas dan memilih tempat yang agak sepi untuk berduaan.
"Jadi, apa masalahnya?" tanyaku ketika kami sudah duduk di kursi besi yang terletak di lorong sekolah. Bianca tampak begitu senang, aku bahkan bingung, mengapa ia terlihat begitu senang?
"Ada rumor mengenai kau dan Peter… Jadi, jujur lah kepadaku, apa kau berkencan dengan Peter?" tanyanya seakan sedang menggodaku juga,
Dengan cepat aku menggelengkan kepalaku,"Tentu saja tidak!" balasku sembari menyilangkan tanganku di depan dadaku.
“Aih, sudahlah, mengaku saja… seseorang melihatmu bersamanya kemarin,"
“Hmm? Bukankah dia hanya membantuku saja kemarin ketika aku terjatuh?” tanyaku yang mendapat pukulan pelan dari Bianca. Jujur saja, aku sama sekali tidak mengerti maksud Bianca itu apa,
“Bukan, bukan itu… di luar jam sekolah! Seseorang melihat kalian berdua di luar jam sekolah!”
Aku menggigit bibirku ketika aku mendengarnya. Tentu saja, aku tidak bisa menyangkal hal ini dan aku tidak menyangka jika ada yang melihat kami. Aku melirik Bianca, yang sedang menungguku untuk menjelaskan hal itu,
"Bagaimana? Sekarang ngaku ke aku mengenai hubungan kalian!" katanya dengan sangat senang.
Aku menghela napas,"Kami tidak berkencan. Dia hanya mengantarku pulang, itu saja,”
Aku bisa mendengar kekecewaan dari ekspresi Bianca,"Jadi kalian berdua belum berkencan ya?" tanyanya dengan lemas.
“Belum berkencan?! Kami tidak akan berkencan, oke?" ujarku dengan pasti. Tentu saja! Siapa juga yang mau pacaran dengan es batu seperti Peter? Pasti sangat membosankan berpacaran dengan pria seperti dirinya. Aku bisa melihat Bianca melipat tangannya kepadaku,"Ini benar-benar konyol, mengapa kau tidak menyerah saja sih?"
Aku memukul tangannya dengan geram, "Jangan bicara sembarangan!"
"Aku mengatakan yang sebenarnya. Peter menggendongmu, merawat lukamu, dan juga kalian pulang bersama. Apa lagi? Apakah ada hal lain yang ku lewatkan dari kalian berdua? "
"Ada," jawabku dengan refleks,
“Itulah mengapa, pergilah berkencan dengan Peter dan menyerahlah dari Pier!” pekiknya yang masih tidka bisa aku terima sama sekali. Aku menggelengkan kepalaku dengan jelas, “Tidak, tidak, tidak! Aku tidak akan!"
"Sudah cukuplah Sandra, kamu tidak akan mendapatkan kesempatan apapun darinya," kata gadis itu yang tampaknya mulai lelah kepadaku. Namun meskipun dia benar, aku merasa tidak bisa menghentikan diriku untuk tidak menyukai Pier. Perasaanku pada Pier sudah berjalan begitu lama, bukankah tidak mudah untuk berpaling pada orang lain?
"Ow, sepertinya seseorang mencarimu," kata Bianca ketika dan ketika aku menoleh, terlihat Peter ada di sana. Mata kami bertemu dan aku terkejut ketika dia menghampiriku. Aku membeku di tempat, tidak tahu harus bereaksi bagaimana.
Aku tak bergumam ketika aku melihatnya mendekat padaku,
"Kita perlu bicara," katanya sebelum dia mengambil tanganku.
Aku sangat bingung sampai aku tidak tahu apa yang harus aku katakan kepadanya. Aku menoleh dan melihat Bianca mengatakan 'semoga sukses' kepadaku.
Peter tampak sangat muram, aku tidak tahu mengapa. Apakah itu karena rumor yang Bianca katakan kepadaku tadi? Tapi lebih dari itu, sebenarnya orang yang dirugikan di sini adalah aku! Aku tidak bisa membayangkan bagaimana penggemarnya lakukan kepadaku setelah ini. Aku pikir mereka mungkin sudah merencanakan sesuatu untukku.
Ini tidak adil, bukankah Peter sendiri yang pertama kali menghampiriku? Aku memang membantunya di awal, tetapi tidak ada yang tahu tentang itu. Dia sendiri yang secara terang-terangan menggendongku, menjemputku dan sekarang dia menarik tanganku.
Aku masih bergumul dengan pikiranku, tidak menyadari bahwa Peter sudah berhenti berjalan, dan akhirnya aku menubruk tubuhnya.
Aku benar-benar gugup dan merasa malu pada saat yang sama,
"Ada apa?" tanyaku, mencoba memulai percakapan kami.
"Apakah kau baik-baik saja?" tanya Peter kepadaku.
"Apa maksudmu dengan baik-baik saja?" tanyaku dengan bingung, apa yang dia maksud tubrukan kecil tadi atau rumor yang baru saja beredar?
"Apa maksudmu itu mengenai rumor yang baru saja beredar?" tanyaku yang dianggukinya,"Iya,"
“Hmm… aku mengabaikannya sih. Aku tahu itu hanya rumor yang konyol yang tidak berlandaskan apapun yang berarti,” jawabku dengan keren. Aku masih menatap Peter yang entah mengapa seakan ia mendekatiku. Aku memundurkan tubuhku ketika dia melangkah maju ke arahku. Dia menatapku tanpa keraguan, tetapi tidak seperti aku, dan aku terkesiap ketika dia meraih tanganku dengan erat,
"Bisakah kita berkencan?" tanyanya dan aku menatapnya dengan kaget. Apa-apaan? Apa dia baru saja menawarkan dirinya untuk berkencan denganku?
"Tunggu apa? Kita tidak harus mengikuti gosipnya, bukan? Maksudku..."
"Maksudmu, kau tidak ingin berkencan denganku?"
"Aku? Tentu saja aku tidak mau!" Peter melepaskan tangannya dari tanganku dan aku terus berbicara ketika dia masih menatapku,
"Kurasa kita tidak harus menganggap rumor ini serius. Biarkan saja, paling juga nanti reda sendiri dan maaf jika kau merasa tidak nyaman dengan itu,"
Tunggu? Kenapa aku yang minta maaf? Aku tidak tahu mengapa, tetapi dia mengalihkan pandangannya dariku. Mungkin dia merasa malu karena secara random memintaku untuk berkencan dengannya? Entahlah, aku tidak bisa menebak apapun darinya,
"Apakah itu karena Pier?" tanyanya tanpa menatapku. Meskipun dia berpaling dari wajahku, namun aku bisa melihat jelas raut wajah pria itu saat ini.
Huh? Apa yang terjadi dengan wajah sedih nya itu?
Dan bagaimana dia bisa tahu?!
“A-tidak seperti itu. Aku hanya tidak mau... "
"Apa?"
“Menjadi korban berikutnya”, jawabku dalam hati.
"Aku... aku minta maaf!" ujarku sembari memekik dan membungkukkan tubuhku. Dengan langkah pincang aku meninggalkannya. Wajahku memanas, aku juga tidak bisa mengendalikan detak jantung yang menggila ini. Bahkan tanganku bergetar sekarang!