Sandra’s POV
Aku mencuci mukaku dari sisa riasan yang aku gunakan dengan Bianca. Bianca mengajari aku banyak hal, termasuk beberapa tips kecantikan yang dia tahu. Dia juga mencukur alisku, sehingga alisku lebih mudah dibentuk menggunakan pensil alis.
Selain itu, dia juga memberi aku banyak pin.
Dia mengatakan kepada aku untuk lebih memperhatikan penampilanku, seperti rambut dan caraku berpakaian. Aku selalu mengikat rambutku menjadi kuncir kuda, baik di rumah maupun di sekolah, karena memiliki rambut panjang akan sangat mengganggu jika aku tidak mengikatnya.
Aku hanya akan melepas ikatan rambutku ketika aku mau tidur saja.
Aku melihat wajahku ke cermin, dan memperhatikan rambutku. Mungkin Bianca benar, aku harus lebih memperhatikan penampilanku. Sejujurnya, aku sedikit kagum melihat diriku sendiri setelah Bianca meriasku. Ketika aku melihat diriku di depan kaca rias, aku langsung menyesali ketidaktahuanku terhadap kecantikan yang terpendam dalam diriku.
Aku berjalan keluar dari kamar mandi, lalu membaringkan tubuhku lelah. Aku merenggangkan tubuhku sehingga leherku sedikit sakit. Ah… aku terlihat seperti orang bodoh.
Aku menarik selimutku dan tidur. Aku berusaha untuk tidur tapi tiba-tiba ada pesan masuk. Aku berusaha mengabaikannya dan kembali tidur. Namun, sekali lagi ponselku berdering. Aku tidak menahan diriku, dan bangun dari ranjangku, mengambil ponselku, dan berbaring sambil memainkannya. Aku memeriksa ponselku, dan menemukan pesan Peter yang belum aku lihat.
Peter: “Aku ingin mengunjungimu besok sepulang sekolah, bisakah?”
"Besok?" Aku bergumam sambil memikirkan agendaku besok,
Peter: “Aku ingin mengunjungimu besok sepulang sekolah, bisakah?”
Sandra: “Umm sepertinya aku tidak bisa. Aku harus bertemu bos aku dan memberikan surat pengunduran diriku”
Aku terkejut dengan isi Peter yang langsung menjawab pesanku, padahal sudah pukul 1 malam.
Peter: “Aku akan pergi bersamamu ke sana...”
Sandra: “Kau tidak perlu melakukan itu”
Peter: “Aku harus melakukannya.”
Sandra: “Mengapa?”
Mungkin dia merasa bertanggung jawab atas apa yang terjadi padaku? Meskipun Peter telah membangkitkan kemarahan si b******k itu, Peter juga yang membantku. Tapi, aku agak penasaran, apa yang sebenarnya Peter katakan pada pria itu? Kenapa dia bisa begitu marah padanya?
Aku terkesiap ketika sebuah panggilan masuk dari Peter yang diperlihatkan di layar ponselku. Aku buru-buru mengambil earphone lalu memasangnya di telingaku. Aku mengambil napas gugup, lalu menerima panggilan itu,
“H-halo?”
“Ya…”
Jantungku berdetak cepat tanpa alasan ketika aku mendengar suaranya. Aku bahkan megap-megap, seolah sedang tersengat listrik. Entah bagaimana, dia terdengar lebih ramah di telepon daripada di kehidupan nyata? Atau hanya perasaanku saja?
"Apa itu?"
"Aku akan mengantarmu ke sana," katanya, dengan lugas,
"Aku sudah bilang jangan lakukan itu, "
"Aku -"
"Kau tidak perlu merasa menyesal, Pete. Ini bukan salahmu, oke? ”
"Tidak seperti itu ..." katanya, membuatku mengerutkan kening dengan heran,
"Jadi kenapa?”
"Aku merindukanmu,"
Seperti patung, aku terdiam.
Jantungku berdetak lebih cepat, rasanya kencang, tapi anehnya sangat menyenangkan. Aku menggelengkan kepala, mencoba mencerna kata-kata Peter yang mungkin salah dengar,
"Sandra, aku merindukanmu," katanya lagi, meyakinkan kebingunganku pada apa yang telah kudengar dari bibirnya. Aku masih diam dengan apa yang ia katakan
"A-ah begitukah…" ujarku dengan canggung.
“Pokoknya, tunggu saja aku, oke?”
“Oke…” ujarku masih terdiam saat dia mematikan teleponnya.
Aku mengutuk kebodohan aku ketika aku baru menyadari bahwa aku baru saja mengatakan ‘oke’ kepadanya. Perhatianku beralih pada ponselku yang baru saja bergetar. Aku mengambilnya dan menemukan pesan Peter yang merupakan kata pengantar untuk tidurku,
Peter: “Good nightJ”
****
Hari ini adalah hari aku kembali ke sekolah. Aku sangat bersyukur atas respon dari orang di sekolah aku yang terlihat normal, seolah-olah tidak terjadi padaku. Hanya saja, ada beberapa hal yang membuat aku sangat bingung, mengapa anak laki-laki di sekolah aku tiba-tiba menjadi begitu ramah kepada aku?
Beberapa dari mereka biasanya acuh tak acuh kepada aku, mereka bahkan tampak enggan untuk melihat aku. Biasanya, ketika mereka berada di dekat aku, mereka secara terang-terangan meninggalkan aku begitu saja. Lainnya juga menatapku ringan, dan hal terburuk adalah mereka sengaja menyenggol aku bahuku, yang membuat barang-barangku jatuh dan kemudian mereka akan meninggalkan aku dengan tawa mereka.
Tapi entah kenapa, mereka yang biasanya acuh tak acuh, mereka memperhatikanku dan beberapa dari mereka tersenyum padaku. Dan orang-orang yang biasanya suka menyenggol bahuku, mereka bahkan tiba-tiba menawarkan diri untuk membantu membawa buku-buku aku.
Kenapa ya? Apa ini karena penampilan aku? Ah, tapi benarkah?
Jika itu benar, aku tidak pernah berpikir penampilan ini benar-benar akan mempengaruhi kesan orang sebanyak ini,
Dan mengenai semalam, Peter benar-benar datang menjemputku begitu dia baru saja pulang dari sekolah.
Aku menghela nafas malas ketika harus menghapus papan tulis yang terlalu tinggi untukku. Aku harus melompat-lompat sehingga aku bisa menghapus tulisan itu. Aku menyeka keringat ketika tulisan-tulisan itu selesai aku hapus.
Sebenarnya aku adalah ketua kelas di kelas aku sendiri, tetapi aku tidak menganggapnya sebagai sesuatu yang bisa dibanggakan karena teman sekelasku tidak ingin diatur, mereka cenderung memilih aku karena mereka ingin lolos dari tugas piket mereka. Karena merekalah, aku jadi mengambil tanggung jawab untuk seluruh kelas.
Setelah papan tulis itu berhasil kuhapus, aku berjalan ke belakang untuk merapikan kursi yang berantakan.
"Fiuh, akhirnya ," kataku dengan senyum bangga,
Seluruh sekolah sangat sunyi karena sudah waktunya pulang. Baru saja aku ingin menggendong tasku, aku mengangkat kepalaku ketika seseorang menawari aku minuman dingin, dan aku menemukan Arania yang sedang memperhatikanku,
"Terima kasih," kataku, sebelum aku mendapat anggukan darinya. Aku langsung meminum minuman ionik yang dia berikan, karena aku sangat haus,
"Aku tidak melihatmu dalam beberapa hari,"
Aku tertawa canggung, "Haha, aku minta izin selama beberapa hari,"
Yah, sepertinya Bianca benar, tidak ada yang tahu tentang apa yang terjadi padaku. Gadis itu hanya mengangguk mengerti begitu aku mengatakannya.
"Aku ingin bertanya mengenai sesuatu padamu," katanya sambil memainkan jari-jarinya. Aku melirik dan mendapati kukunya yang sudah polos. Kenapa dia membuang nail-art nya? Bukankah itu cantik??
"Apa itu?” tanyaku berusaha untuk tetap fokus terhadap apa yang ingin dia katakana.
“Apa kau benar-benar tidak berkencan dengan Peter?”
Aku aku menggigit bibirku, menggaruk bagian belakang leherku yang tidak gatal sementara dia terus menatapku, menunggu perkataanku selanjutna,
"Apa yang kau bicarakan, tentu saja tidak ,"
Sebenarnya Peter sendiri yang memintaku untuk mengencaninya, tapi aku menolaknya, ujarku dalam batin.
"Apa kau yakin? Kau benar jujur kan?” tanya nya dengan serius. Aku mengerutkan kening atas keseriusannya terhadapku. Apa ini? Aku tidak suka ini,
"Mengapa kau sepenasaran itu?" aku bertanya, mengembalikan tatapan serius ini kepadanya,
Lagi-lagi dia menunduk canggung,“Ti-tidak. Hanya saja aku sangat penasaran, karena Daisy dan teman-temannya sepertinya membencimu,"
"Hah? Jangan bilang mereka masih mempermainkanmu?! ”
Dia gemetar, “Tidak, mereka tidak melakukan apapun kepadaku. Lihat, tidak ada luka memar atau apalah itu,” katanya, menunjukkan kepada aku lengan, kaki dan bagian lain miliknya. Aku menghela nafas pelan, mengendalikan emosiku yang akan meledak.
"Bisakah aku mendapatkan nomormu? ”
“Tentu,” kataku sambil meminta ponselnya. Aku mengetik nomor ponselku, lalu memanggil nomor ponselku. Aku juga mengambil ponselku sebagai bukti nomornya benar.
Drrt !
sial, aku terlalu kaget sampai aku hampir menjatuhkan ponselku begitu ada telepon masuk dari Peter. Aku tidak tahu apa Arania melihat itu atau tidak, aku langsung menolak panggilan dari Peter, dan mengambil meletakkan ponselku ke saku aku,
"Umm .. sepertinya aku harus pergi," ujarku yang dianggukinya.
Aku menggigit bibirku, sepertinya aku harus mengganti nama Peter di kontakku supaya hal seperti ini tidak terjadi lagi.