Petunjuk yang sebenarnya datang bukan dari penipu di terminal, melainkan dari arah yang tidak terduga, sebuah video amatir yang dikirim seorang pendengar ke akun band. Video itu menampilkan seorang pengamen di sebuah kota seberang, memainkan gitar di depan sebuah stasiun. Pengirimnya menulis: "Mas, ini cara dia mainin gitar mirip banget sama intro lagu kalian. Aku langsung inget wawancara kemarin."
Aksa menonton video itu puluhan kali sampai pukul tiga pagi. Kualitasnya buruk, wajah pengamen itu tertutup topi dan cahaya remang. Tapi caranya memetik, peralihan kunci yang khas, cara jemarinya menari di fret dengan luwes seolah tidak bertulang, semua itu menusuk dada Aksa dengan kemiripan yang membuat napasnya tercekat. Itu gaya Reno. Aksa hafal gaya itu sampai ke tulang. Reno punya kebiasaan memetik dengan ibu jari di nada-nada bawah, ciri khas yang jarang ia lihat pada pemain lain.
"Gue harus ke sana," kata Aksa pada Senja keesokan paginya, video itu sudah ia putar untuknya.
Senja menonton dengan saksama, alisnya berkerut. "Gue ngerti kenapa lo yakin. Caranya emang mirip." Ia menatap Aksa. "Tapi Sa, lo inget pelajaran terminal kemarin? Mirip nggak sama dengan sama."
"Gue tau. Tapi ini beda. Ini bukan orang ngaku-ngaku minta duit. Ini gaya main yang nggak bisa dipalsuin. Lo nggak bisa fake cara orang megang gitar yang dia bangun bertahun-tahun."
Senja diam sejenak, lalu mengangguk. "Oke. Tapi gue ikut. Lo nggak ke kota seberang sendirian buat ini."
Mereka pergi naik kereta ekonomi pagi itu, berbohong pada yang lain bahwa mereka ada urusan keluarga, karena Aksa belum sanggup menanggung harapan empat orang lain di atas pundaknya. Perjalanan tiga jam itu Aksa habiskan dengan menatap ke luar jendela, kota berganti sawah berganti kota lagi, jantungnya berdebar makin keras setiap kilometer.
"Lo kebanyakan ngebayangin," kata Senja di tengah perjalanan, menyodorkan sebotol air mineral. "Gue liat dari muka lo. Lo udah ngebayangin ketemu dia, ngomong apa, dia jawab apa."
Aksa tidak menyangkalnya. "Gue nggak bisa nahan."
"Gue cuma mau lo siap, dua-duanya." Senja menatapnya. "Siap kalau itu beneran dia. Dan siap kalau bukan. Jangan cuma siapin yang satu, terus yang satunya ngehantam lo nggak karuan." Ia bersandar ke kursi. "Gue nemenin lo bukan cuma kalau berhasil, Sa. Gue nemenin lo juga kalau buntu."
Aksa mengangguk, tapi diam-diam ia tahu ia hanya menyiapkan satu kemungkinan di kepalanya, kemungkinan yang ia inginkan. Dan itu, ia sadari kemudian, adalah kesalahannya.
Stasiun di kota seberang itu lebih kecil, lebih tua, lebih sepi. Mereka mencari berdasarkan video, bertanya ke beberapa pengamen lain, ke penjaga warung, ke tukang parkir. Seseorang akhirnya mengenali deskripsi mereka. "Oh, yang main gitar di depan situ? Biasanya sore. Coba tungguin."
Maka mereka menunggu. Sore turun perlahan, langit berubah jingga, dan lampu-lampu stasiun mulai menyala. Aksa duduk di tepi trotoar, lututnya tidak bisa diam, sementara Senja berdiri di sampingnya, diam menemani.
Lalu pengamen itu datang.
Aksa berdiri begitu cepat sampai kepalanya pening. Dari jauh, sosok itu, topi, gitar tersampir, cara berjalan, semuanya cocok. Jantungnya menghantam tulang rusuk. Ia melangkah, lalu setengah berlari, dan baru saat ia hampir mencapai sosok itu, ia berseru, suaranya pecah, "Kak Reno!"
Sosok itu berbalik.
Dan dunia Aksa runtuh dengan pelan.
Wajah itu bukan wajah Reno. Lebih tua, lebih lelah, dengan bekas luka di pipi dan mata yang asing. Lelaki itu menatap Aksa dengan bingung. "Maaf, Mas? Saya bukan Reno."
Aksa berdiri membeku di tengah trotoar, napasnya tersengal, dan untuk beberapa detik ia tidak bisa memproses apa pun. Kemiripan yang menyeretnya tiga jam dengan kereta, harapan yang ia bangun semalaman, semua runtuh dalam satu detik saat wajah itu berbalik.
"Maaf," kata Aksa parau. "Saya... saya kira Anda orang lain."
Lelaki itu, melihat kekecewaan yang begitu telanjang di wajah Aksa, melembut. "Mas nyariin orang, ya? Yang main gitar?"
Aksa hanya bisa mengangguk. Senja sudah sampai di sampingnya, tangannya menyentuh punggung Aksa, menopang.
"Gaya main saya emang sering dibilang mirip orang," kata lelaki itu. Ia menjelaskan ia belajar dari seorang senior pengamen, gaya petik ibu jari itu memang menyebar di antara komunitas pengamen kota ini, bukan ciri khas satu orang seperti yang Aksa kira. Yang Aksa anggap sidik jari Reno yang tak mungkin dipalsukan, ternyata bahasa bersama yang dibagi banyak tangan asing.
Mereka pulang naik kereta malam. Gerbong hampir kosong, hanya beberapa penumpang yang tertidur. Aksa menatap kegelapan di luar jendela, pantulan wajahnya sendiri menatap balik, lelah dan hampa.
"Gue tolol," katanya pelan.
"Lo nggak tolol." Senja duduk di sampingnya, bahu mereka bersentuhan karena guncangan kereta. "Lo cuma kangen. Dan kangen bikin orang liat yang dia mau liat."
"Gue yakin banget kali ini, Sen. Yakin banget. Caranya main, semua." Suara Aksa retak. "Gue capek. Tiap petunjuk yang gue kira nyata, ujungnya buntu. Penipu di terminal. Pengamen ini. Sosok di pintu auditorium yang gue nggak yakin lagi beneran ada atau cuma gue ngarep." Ia menutup wajahnya. "Gimana kalau Kak Reno emang nggak mau ditemuin? Gimana kalau gue ngejar bayangan doang?"
Senja tidak menjawab dengan kata-kata penghibur kosong. Ia hanya bersandar, membiarkan kepala Aksa jatuh ke bahunya, dan membiarkan kereta membawa mereka pulang menembus malam. Tapi di balik diamnya, ada sesuatu yang mulai mengganjal di dalam dirinya sendiri, sesuatu yang belum ia ucapkan, sesuatu yang tumbuh setiap kali Aksa berlari mengejar bayangan dan melupakan bahwa ada orang yang berdiri tepat di sampingnya, ikut lelah, ikut terbawa, tapi tak pernah benar-benar dilihat.