Keputusan Ilana untuk berontak tidak berubah. Ia tahu bahwa ibunya tidak pernah menyayanginya, dan ia tidak akan pernah lagi mengharapkannya. Ia sudah terlalu lama diam dan menuruti wanita itu. Ia tidak ingin lagi hidup dalam dunia yang diciptakan ibunya. Ia tidak peduli lagi dengan hidupnya yang memang sudah hancur sejak awal.
Hal pertama yang akan Ilana lakukan adalah mengakui kecurangan pada guru bahasa Inggris. Ia tidak peduli lagi pada hidupnya. Sejak pagi, ibunya telah mewanti-wanti dan bilang pada Ilana bahwa hidupnya akan hancur jika ada yang tahu bahwa ia berbuat curang. Ilana tidak peduli lagi. Seperti katanya, hidupnya telah hancur sejak dulu.
Ilana melangkah dengan mantap menuju ruang guru yang ada di ujung koridor. Ia telah memantapkan dirinya. Ia tidak sanggup lagi menahan beban rasa bersalah yang kerap muncul. Ia ingin hidup dengan tenang.
Ia berdiri di depan pintu ruang guru dan menarik napas panjang. Ia memilin kedua jari-jarinya pelan sebelum akhirnya memberanikan diri mengucapkan salam dan membuka salah satu daun pintu. Beberapa guru yang ada di sana menatap ke arahnya. Ia mengulas senyum tipis dan langsung menghampiri meja guru bahasa Inggrisnya. Wanita berkacamata itu mempersilakan Ilana untuk duduk. Tapi Ilana bilang bahwa ia ingin membicarakan sesuatu yang penting. Miss Elina akhirnya pergi ke salah satu ruangan yang ada di sana. Ruangan yang biasa guru pakai untuk rapat. Ilana mengekorinya hingga akhirnya duduk di salah satu kursi kosong, tepat di depan Miss Elina.
***
Keenan menatap meja yang ditempati oleh Joseph, Nadine dan Emma. Ia menatap ketiganya yang tampak asik berbincang-bincang. Ketiganya sesekali tertawa, sambil menghabiskan isi nampannya. Tatapan Keenan kini terfokus pada Nadine yang duduk menghadap ke arahnya. Gadis itu tampak menikmati obrolan mereka. Gadis itu tampak tak terpengaruh dengan rumor yang ia sebarkan. Gadis itu tak lagi peduli dengan orang-orang yang memanggilnya dengan panggilan-panggilan yang terdengar menyakitkan di telinga. Gadis itu tampak menikmati hidupnya dan bersikap seolah-olah ia baik-baik saja.
Sebelah tangan Keenan terkepal di atas meja. Ia marah saat apa yang ia lakukan sama sekali tak memengaruhi gadis itu. Ia tidak suka saat semua yang ia lakukan sia-sia. Ia ingin melihat gadis itu tertekan hingga menangis diam-diam, lalu memohon padanya untuk menghentikan rumor itu. Ini jelas diluar bayangannya. Ia tidak menyangka akan melihat gadis itu tertawa hari ini.
“Ilana…” Emma sedikit berteriak dan melambai saat Ilana tampak memindai ruangan dengan nampan di tangannya.
Ilana menatap Emma yang mengisyaratkan padanya untuk di depannya, lalu ke arah Nadine yang menatapnya tanpa ekspresi. Setelah berpikir, Ilana akhirnya mendekati meja itu dan duduk di samping Joseph.
“Kamu ke mana saat jam pelajaran pertama?” Emma memilih pertanyaan itu sebagai pertanyaan pertama. Ia memang berada cukup lama di ruang guru. Ia telah memberitahukan semuanya pada Miss Elina. Ia jujur pada apa yang ia lakukan dan ia bilang bahwa ia menyesal melakukan itu. Ia bilang bahwa ia tidak sanggup menyimpan rahasia itu. Ia tidak sanggup menahan beban itu selamanya. Ilana sudah memikirkan konsekuensi terburuk dan ia siap menerimanya.
Miss Elina bilang bahwa ia akan membicarakan ini kepala sekolah. Menurutnya ini masalah yang cukup serius. Ia jelas kecewa dengan Ilana yang ternyata berani melakukan itu. Namun wanita itu berjanji akan membuat Ilana mendapatkan hukuman seringan-ringannya. Mereka juga akan menghubungi ibunya dan memintanya datang ke sekolah.
Ilana tidak peduli dengan hukuman apa yang akan ia dapatkan. Ia pikir itu akan sebanding dengan ketenangan hidup yang didapatkannya. Saat keluar dari ruang guru, ia merasa lega… dan bebas. Ia bangga pada dirinya sendiri karena berani mengakui kesalahannya.
“Ada sedikit urusan di ruang guru.” hanya itu yang bisa keluar dari mulut Ilana. Miss Elina berjanji bahwa rahasia ini hanya akan berputar di antara pimpinan sekolah. Ia memastikan bahwa rahasia ini tidak akan bocor ke anak-anak lain.
Nadine tidak tahu kenapa Emma meminta Ilana duduk satu meja dengan mereka, dan lebih tidak menyangka saat gadis itu benar-benar duduk di depan Emma. Ia tidak pernah tahu sejak kapan Emma dan Ilana menjadi dekat, bahkan Joseph sesekali menimpali obrolan keduanya. Awalnya terasa canggung bagi Nadine. Namun Emma sangat pintar mencairkan suasana sehingga ia bisa masuk ke dalam obrolan.
Orang-orang di ruang makan itu silih berganti. Namun Keenan masih ada di mejanya kendati isi nampannya sudah habis. Ia sama sekali tidak bisa mengalihkan tatapannya pada Ilana yang kini bergabung dengan ketiganya. Ia sama sekali tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Ilana membenci Nadine, semua orang tahu itu. Jangankan duduk satu meja, saling menatap pun gadis itu dulu tak sudi. Ia tidak tahu apa yang ia lewatkan hingga bisa melihat Nadine dan Ilana duduk satu meja, dan saling mengobrol.
Ia membenci mereka semua. Keenan berdiri dari duduknya dan keluar dari ruang makan. Ia sedang menyusuri koridor lantai satu saat melihat seorang wanita baru saja keluar dari mobil mewahnya. Mata Keenan memicing hanya untuk meyakinkan diri bahwa yang kini sedang berjalan menuju ruang guru adalah ibu dari Ilana.
***
Ini adalah kali pertama Ilana membuat masalah dan merepotkannya. Helen tidak pernah menyangka jika gadis itu tidak main-main dengan kata-katanya. Ia berbicara di depan kepala sekolah dan beberapa guru, memastikan bahwa Ilana tidak akan melakukan hal tercela itu lagi. Ia juga memohon untuk tidak menganulir nilai ujian Ilana. Tapi keputusan kepala sekolah sudah bulat. Dengan berbagai pertimbangan, sanksi yang ia berikan pada Ilana adalah berupa penghapusan nilai ujian bahasa Inggris. Itu jelas lebih baik dari pada keputusan pertamanya yang ingin mengeluarkan gadis itu. Ilana adalah gadis yang berprestasi sehingga ia berpikir akan memberikan gadis itu kesempatan. Jika gadis itu terbukti melakukan kecurangan itu lagi, ia tidak akan segan-segan untuk mengeluarkannya meski sebentar lagi mereka akan akan ujian kelulusan. Jika hal ini sampai terdengar ke luar, jelas ini akan mencoreng nama baik sekolah.
Helen keluar dari ruang guru dan matanya langsung menatap Ilana yang baru saja keluar dari ruang makan. Gadis itu tak hanya sendiri, melainkan bersama tiga orang lainnya. Dan salah satunya adalah Nadine. Pandangan Helen menyebrangi lapangan yang memisahkan mereka. Ia melihat mereka berempat jalan bersisian di koridor sambil mengobrol. Jarak mereka yang cukup jauh membuat Ilana tidak melihatnya. Ia mengikuti pergerakan mereka hingga akhirnya mereka menghilang saat naik ke lantai atas.
***
Ilana masuk ke dalam kamarnya dan menarik napas panjang-panjang. Ia tidak boleh menangis. Ini adalah konsekuensi yang harus ia terima. Ia mengusap kepalanya yang terasa sakit karena dipukul ibunya. Selama satu jam, ibunya memarahinya karena ia memilih untuk mengakui kesalahannya. Ibunya menyentaknya dan bilang bahwa ia adalah anak yang tidak tahu diuntung dan selalu mengecewakannya. Ibunya bilang bahwa apa yang sudah diberikan padanya sia-sia. Ibunya bilang bahwa dirinya harus memohon agar ia tak dikeluarkan dari sekolah. Ibunya bilang bahwa ia merepotkan dan mempermalukannya. Tidak hanya amukannya, Ilana juga menerima satu pukulan di kepalanya, juga beberapa cengkraman dan cubitan di lengannya yang ia yakin akan membiru besok. Lebam akibat cengkraman kemarin saja belum hilang dan besok akan bertambah lagi. Untuk menyembunyikan itu, Ilana harus memakai jasnya seharian.
Ilana menjatuhkan diri di ranjang empuknya. Ia menatap langit-langit kamarnya. Ibunya mengomel panjang lebar, namun kenapa ia yang merasa begitu lelah. Tapi ia bersyukur karena semakin hari, ia semakin sekuat baja. Ia tidak lagi menangis ataupun meringis menahan sakit. Toleransi terhadap rasa sakitnya semakin besar.
***
“Kenapa ada jerawat di dahimu?” Axel bertanya saat mereka bertemu untuk makan malam. Ada Alex juga di sana. Mereka berada di restoran steak yang malam itu cukup ramai.
Emma menelan ludah. “aku sedang PMS.” kata Emma. Ia mendesis, padahal ia sengaja menutupi jerawat di dahinya agar laki-laki itu tak melihatnya. Axel memang selalu ingin bertemu dengannya dalam keadaaan sempurna. Laki-laki itu tak suka bahkan jika hanya ada satu jerawat di wajahnya, seperti kali ini. Jika biasanya ia memilih menunda pertemuan dengan laki-laki itu jika wajahnya sedang bermasalah, kali ini ia pikir ia bisa menyembunyikan jerawat itu dengan poninya. Mereka sudah beberapa hari tidak bertemu karena laki-laki itu sibuk, dan ia sangat merindukannya.
“Itu hanya jerawat.” kata Alex. Sama sekali tidak tahu apa yang dipermasalahkan adiknya dengan jerawat yang sekecil itu.
“Aku tidak suka.” kata Axel pada kakaknya. Ia lalu menatap Emma yang duduk di depannya, “bukankah aku sudah sering bilang bahwa sebaiknya jangan bertemu jika wajahmu sedang bermasalah.” Ia sedikit menyentak Emma yang menunduk.
Emma menelan ludah lalu menarik napas panjang. Ia sudah sangat sering mendengar kalimat seperti itu keluar dari mulut Axel, namun entah kenapa kali ini terasa menyakitkan sehingga ia ingin menangis. Ini tempat umum dan ada Alex di antara mereka, tidak bisakah laki-laki itu mengecilkan nada suaranya, atau menoleransi hal itu satu kali ini saja.
“Maaf…” hanya kata itu yang bisa keluar dari mulut Emma.
“Apa yang salah dengan jerawat? itu kan pengaruh hormon dan hal yang biasa.” ujar Alex. Ia menatap Emma yang masih sedikit menunduk dan menatap jari-jarinya di atas meja.
“Aku tidak suka.” kata Axel. “bungkus saja makananmu.” katanya lagi.
Alex melotot mendengar kalimat itu keluar dari mulutnya. Ia tidak percaya jika laki-laki itu mengusir Emma hanya karena satu jerawat di dahinya. Setelah lama tinggal terpisah dari adiknya, ia makin tidak mengerti dengan laki-laki itu.
“Jangan. Aku yang mengajakmu dan Emma. Kamu tidak bisa mengusir dia begitu saja. Apalagi hanya karena masalah jerawat.” kata Alex.
Setelah sebelumnya mereka berdua membicarakan berat badannya, kini mereka berdua membicarakan jerawatnya. Ia memang sepertinya jangan lagi bertemu dengan Alex karena masalah ini pasti terdengar sangat sepele di telingannya dan membingungkan.
Axel mendesah lalu memilih tak menimpali.
“Aku tidak suka dia jerawatan.” kata Axel. Mencoba memberitahu kakaknya bahwa ada hal-hal yang tidak bisa ia toleransi.
“Tapi dia pacarmu. Wajahnya tidak lantas berubah hanya karena ada satu jerawat.”
Axel mengalah. Ia tidak ingin berdebat dengan kakaknya berlarut-larut. Ia membiarkan Emma tetap di mejanya saat pesanan mereka disajikan di atas meja.
Di sela-sela obrolannya dengan Axel, Alex sesekali melirik Emma yang hanya fokus pada makannya. Meski sudah beberapa kali bertemu, mereka memang tidak terlalu akrab. Namun di pertemuan kemarin, gadis itu sudah mulai tak canggung saat ikut mengobrol.
Kini jangankan mengobrol, mengangkat tatapannya dari piring saja gadis itu enggan. Ia tahu bahwa gadis itu mungkin malu karena sikap Axel, atau karena keberadaan dirinya.
TBC
LalunaKia