Ilana tidak tahu bahwa dalam semalam, hidupnya bisa berubah sedemikian rupa. Hidupnya jungkir balik, dan ia sama sekali tidak pernah menyangka akan ada di tahap seperti ini. Beberapa bulan lalu- sampai beberapa hari yang lalu, ia selalu melihat bagaimana Nadine menjadi musuh anak-anak lain. Gadis itu dihujat dengan caci maki, diejek, dirisak dan segala macam hal yang keterlaluan. Kini, tiba-tiba saja ia menggantikan posisi gadis itu.
Ia dicaci maki, diejek, ditatap dengan tatapan jijik seakan ia adalah kotoran yang harus dijauhi. Ilana tidak pernah tahu bahwa hidupnya yang tenang akan berubah sekelam itu.
Suara pintu kamarnya yang diketuk pelan membuat Ilana langsung menoleh. Ia tidak bangun dari posisi tidurnya dan melihat ibunya masuk ke dalam kamarnya.
“Kenapa kamu belum siap-siap berangkat les?” Helen bertanya sambil masuk ke dalam rumah.
“Ilana boleh libur hari ini saja? Ilana lelah.” pinta gadis itu. Ia menunjukkan seraut wajah memelas demi mendapatkan simpati ibunya. Namun Helen bukan tipe orang yang mudah tersentuh. Helen mendekati meja belajar Ilana dan mengambil penggaris besi dari sana.
Ilana yang merasa sudah begitu lelah akhirnya memejamkan matanya. Tak lama, ia terkejut saat sebuah penggaris menyentuh lengannya cukup keras. Ia sedikit menjerit dan beringsut menjauh.
“Sudah seperti ini, kamu berani-beraninya ingin libur?” kata Helen. Ia menatap Ilana yang menyentuhkan punggungnya ke kepala ranjang. Sebelah tangannya mengusap lengan yang baru saja ia pukul.
“Jika sejak awal kamu mau menuruti Mama. Mama tidak akan sekeras ini, Ilana.”
Ilana menggeleng. Sejak dulu ibunya memang sudah keras padanya. Tak peduli apa yang ia lakukan. Tak peduli ia menurut atau tidak, ibunya memang sama sekali tidak pernah melunak.
“Mama memang selalu keras. Mama tidak pernah memikirkanku. Mama hanya peduli dengan obsesi Mama.” kata Ilana. Ia memejamkan mata dan menunduk saat melihat Ibunya bersiap memberikan pukulan lagi dengan penggaris besi di tangannya. Tapi pukulan itu tak juga mendarat di tubuhnya. Ia membuka mata dan melihat ibunya tengah menarik napas panjang. Wanita itu seperti tengah menahan amarahnya.
“Mama tidak mau tahu, jangan pernah kamu berpikir untuk berhenti. Kamu harus belajar lebih keras. Masih ada beberapa bulan sampai ujian kelulusan dilaksanakan.” kata Helen. Ia melempar penggaris besi itu ke lantai, menimbulkan bunyi saat benda itu membentur lantai marmer kamar Ilana.
Ilana menarik napas panjang. Ia menjatuhkan kepalanya di lipatan kakinya. Ia terdiam sebentar. Sampai akhirnya ia turun dari ranjang dan masuk ke kamar mandi. Cukup lama ia berada di bawah pancuran air yang membasuh tubuh telanjangnya. Ia melirik lengannya yang sudah meninggalkan bercak lebam membiru di sana-sini dan terasa sakit jika disentuh.
Setelah membersihkan dirinya, ia keluar dari kamar mandi dengan bathrobe membalut tubuhnya. Ia membuka lemarinya dan memindai isinya. Ia perlu sesuatu yang bisa menutupi lengannya yang lebam. Sebelah tangannya terulur untuk mengambil sweater berwarna hijau muda dan celana jeans. Ia memakainya lalu menyiapkan buku-bukunya untuk les. Tidak peduli tubuhnya terasa lelah, untuk mengistirahatkan tubuhnya sendiri saja ia tidak bisa.
***
Nadine menjaga toko lebih awal hari ini karena ibunya sudah pergi ke rumah majikannya jam setengah empat sore. Ibunya bilang majikannya minta ditemani untuk berbelanja bulanan. Dengan buku-bukunya, Nadine menjaga tokonya sambil belajar.
Sebuah mobil yang berhenti di depan tokonya membuat perhatiannya teralihkan. Ia berdecak saat mengenali mobil itu. Tak lama pintu mobil itu terbuka dan menampakkan sosok Keenan dengan wajah pongahnya.
Laki-laki itu menyeringai saat melihatnya dan berjalan pelan menghampirinya. Nadine bangun dari duduknya saat melihat laki-laki itu sudah berdiri di depan etalase.
“Hai… Nadine.” sapa laki-laki itu. Nadine tidak menjawab, ia malah mendengus. Memberitahu laki-laki itu bahwa ia tidak suka dengan kedatangannya.
Tapi Keenan tidak peduli bahkan jika gadis itu mengusirnya. Ia melirik ke dalam etalase dan menilik kue-kue yang tertata rapi di sana. “Aku mau yang ini, ini dan ini…” laki-laki itu menunjuk beberapa kue dalam etalase. Dengan berat hati, Nadine membungkus kue pilihan Keenan dan menyebutkan nominal yang harus laki-laki itu bayar.
Setelah mengambil kotak kue yang diulurkan Nadine, laki-laki itu mengedarkan pandangannya ke dalam ruko.
“Bisa-bisanya kamu tinggal di tempat ini.” kata Keenan. Ia menatap Nadine yang masih terdiam. “tempat ini lebih mirip kandang ayam dibanding tempat untuk ditinggali.” katanya lagi.
Nadine menghela napas kasar, mencoba bersabar.
“Tapi sepertinya kamu mulai terbiasa… kamu sudah terlihat cocok tinggal di sini.” kata Keenan lagi. Tidak memedulikan wajah Nadine yang sudah menahan marah. “apa di dalam banyak kecoa dan tikus?” tanya Keenan dengan nada mengejek yang membuat Nadine akirnya kehilangan kesabarannya.
Nadine keluar dari tokonya dan menarik tangan Keenan hingga mereka berdiri di samping mobil laki-laki itu.
“Aku tidak peduli dengan omong kosongmu.” kata Nadine, “kamu harus tahu bahwa semua hinaanmu tidak akan berpengaruh padaku.” tambahnya. “jadi sebaiknya jangan repot-repot datang ke sini hanya untuk menghinaku, karena itu sia-sia.”
Nadine melotot ke arah Keenan yang menyeringai.
“Aku punya banyak waktu untuk melakukan perbuatan sia-sia itu.” kata Keenan. “jalani saja hidupmu dengan baik, jangan pedulikan apa yang akan aku lakukan.” Keenan menjatuhkan kotak kue di tangannya lalu menginjaknya hingga kue yang ada di dalam rusak dan berceceran mengenaskan.
Mata Nadine membulat. Dilihatnya kue buatan ibunya yang berserakan di aspal. Kue yang ibunya buat sejak pagi-pagi sekali.
“Kue buatan ibumu tidak enak.” kata Keenan lagi. Tidak sadar bahwa Nadine d**a Nadine mulai naik turun karena marah.
Gadis itu menengadah dan menatap Keenan yang menatapnya tanpa rasa bersalah. Bagi laki-laki itu, harga kuenya mungkin tidak seberapa. Tapi itu adalah hasil kerja keras ibunya sejak pagi. Sejak awal, ia memang seharusnya tidak melayani laki-laki itu. Sejak awal ia seharusnya langsung mengusir laki-laki itu saat laki-laki itu datang. Seharusnya ia memang bersikap tegas sejak awal.
Sebelah tangan Nadine akhirnya melayang hingga mengenai sebelah pipi laki-laki itu. Cukup keras karena kepala laki-laki itu sampai terlempar ke samping. Keenan mengusap sebelah pipinya yang langsung terasa panas.
“Jangan pernah datang ke sini lagi.” kata Keenan, “aku tidak sudi memberikan kue buatan ibuku meski kamu membayar jutaan sekalipun.” Nadine menyentak dengan nada terengah-engah. Ia kembali ke tokonya, mengambil uang di kotak dan kembali pada Keenan yang masih ada di samping mobilnya. “ambil uangmu.” gadis itu mengulurkan uang yang digunakan Keenan untuk membayar dan memasukkan ke dalam saku kemeja laki-laki itu.
Keenan mengambil sebelah tangan Nadine dan mencengkeramnya, “kamu pikir kamu siapa, hah?” Keenan mulai kehilangan kendalinya. “siapa kamu berani-beraninya menamparku?” Keenan menyentak sambil mengeratkan cengkramannya hingga membuat Nadine meringis. “jangan pernah sentuh aku dengan tangan kotormu itu.” Keenan membuang tangan Nadine dengan kencang lalu membalik badan dan masuk ke dalam mobilnya.
Nadine menarik napas panjang saat satu tetes air matanya jatuh. Ia menatap kue ibunya yang sudah tidak berbentuk. Ia berjongkok dan memunguti kue itu dengan perasaan sedih luar biasa. Ibunya selalu menjaga kualitas kue mereka dengan tidak menjual lagi kue yang tersisa kemarin. Ibunya lebih suka membagikan sisa kue pada orang-orang membutuhkan di sekitar ruko. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan ibunya jika melihat ini. Nadine yang tidak membuatnya saja merasakan sedih, apalagi ibunya.
Nadine membereskan kue itu dan membuangnya ke tempat sampah. Menutupnya sedemikian rupa agar ibunya tidak melihat.
***
Joseph memasuki kafetaria tempat lesnya dan langsung menghampiri kulkas di dekat kasir. Ia mengambil satu kaleng soda dan membayar di kasir. Saat ia memindai meja-meja yang ada di sana, ia melihat Ilana berada di meja dekat dinding kaca. Ia cukup terkejut melihat gadis itu ada di sana. Tak seperti biasanya, tak ada buku di meja, ataupun gawai di tangan gadis itu. Gadis itu melempar pandangan ke luar jendela dan termenung. Ia tahu gadis itu melewati hari yang berat hari ini. Ia pikir ia tidak akan melihat gadis itu di sini. Ia pikir gadis itu akan memilih mengurung diri di kamarnya dari pada datang ke sini untuk belajar.
Joseph sama sekali tidak ingin mengganggu gadis itu. Ia mengambil tempat di belakang gadis itu, tak terlalu jauh namun gadis itu tidak akan melihatnya. Ia membuka minuman kalengnya dan menatap punggung Ilana yang tampak tenang. Gadis itu terlihat tak terdistraksi dengan apapun yang ada di sekitar. Gerombolan orang yang masuk ke kafetaria, ataupun obrolan di meja lainnya. Gadis itu seperti fokus pada dunianya sendiri.
Ilana tidak tahu apakah ia bisa menyambut hari esok. Apakah ia datang ke sekolah dengan semua tatapan mencemooh yang mengiringi langkah kakinya. Ia sadar bahwa tidak ada yang bisa membantunya. Ibunya tidak akan membantu jika ia menceritakan semua yang terjadi. Wanita itu mungkin malah akan semakin menyalahkannya. Dan jelas ia tidak bisa protes pada guru Miss Elina yang sudah menjamin kerahasiaan ini. Ia tahu tidak ada yang bisa ia lakukan karena kini semuanya sudah terlanjur terjadi. Semua anak sudah terlanjur tahu apa yang telah ia lakukan. Ia hanya perlu menyiapkan diri dan menelan semua cemoohan itu. Ilana hanya berpikir, bisakah ia? kuatkah ia? apa ia bisa menanggung semuanya seorang diri? Sampai kapan orang-orang akan membicarakannya. Sampai kapan predikat buruk itu akan tersemat padanya. Ilana tidak sanggup membayangkan bagaimana hidupnya selama di sekolah jika orang-orang terus menerus mengingat hal itu. Ia tidak bisa membayangkan menghabiskan sisa masanya di sekolah itu dengan predikat buruk yang melekat padanya. Ia takut bahwa cerita itu tidak hanya sampai di angkatan saat itu, namun juga menjadi turun temurun. Ilana tidak siap menjadi legenda sebagai pencuri soal ulangan. Ia lebih baik dikenal sebagai gadis dengan peringkat dua seperti sebelumnya, daripada anak yang berbuat curang demi nilai tertinggi.
TBC
LalunaKia