Semakin hari, hidup Ilana semakin berat. Ia tidak lagi punya gairah hidup. Ilana merasa bahwa hidupnya sudah hancur dan tidak akan bisa ia perbaiki lagi. Ilana sudah berpikir bahwa ia akan menghabiskan hidupnya sampai kelulusan seperti ini. Ia sadar ia tidak akan sanggup, tapi tak ada yang bisa ia lakukan. Ilana seperti terjebak dalam ruangan penuh pecahan kaca tanpa pintu untuk jalan keluar.
Ibunya jelas tidak akan mengabulkan keinginannya untuk pindah sekolah. Ibunya juga kini malah semakin menjadi-jadi. Ibunya mendorongnya semakin keras. Memukulnya semakin kencang. Marah dan makian ibunya setiap hari bercampur dengan cemoohan teman-temannya di sekolah. Membuat kepala Ilana selalu terasa penuh. Ilana merasa semua energinya terkuras habis hanya karena melihat orang-orang menatapnya denga