*PoV Kayla*
Triiing!
Terdengar notifikasi pesan masuk dari gawaiku. Saat kulihat ternyata transferan dari Aa sudah masuk sebesar 3 juta rupiah.
Gede banget, buat apaan aja nih. Batinku, melihat jumlah nominalnya.
Tak berselang lama masuk juga notifikasi dari aplikasi w******p.
[Teh, cek transferan udah masuk belum. Yang 2 juta buat beli keperluan bulanan rumah sama lauk makan seminggu, 500 nya buat beli keperluan kamu. Aa cek tadi pagi keperluan kamu udah pada mau abis. Trus saldo grab juga udah diisi.]
"Baru juga mau ngechat nanyain buat apa aja, Alhamdulillaah, bulan ini bisa beli keperluan pribadiku yang memang sudah mau habis." Ujarku bicara sendiri.
Segera aku bersiap untuk berangkat membeli semua kebutuhan rumah ke salah satu supermarket grosir yang berjarak sekitar 1,5 KM dari rumah kami. Tak lupa catatan kebutuhan bulanan kumasukkan dalam tas.
[Iya, A. Makasih ya ada jatah buat keperluan pribadi aku bulan ini. Aku berangkat dulu, A.]
Kukirimkan pesan pada suamiku sesaat sebelum berangkat.
[Yaudah hati-hati.]
Jawab Aa.
Segera aku naik ke dalam mobil taksi online yang sudah tiba di depan rumah dan meluncur menuju supermarket.
Sejak awal kami menikah, Aa Syafiq memang tak pernah memberiku nafkah yang besar. Namun aku juga tak mempermasalahkan itu, sebab semua kebutuhan rumah sudah dihandle olehnya. Termasuk jika aku menginginkan sesuatu, aku hanya perlu meminta padanya, yang biasanya selalu langsung dibelikan.
Gaji bulanannya saja aku tak pernah tau berapa yang didapat setiap bulannya. Memang sedari awal aku tak pernah menanyakan hal itu. Bahkan sejak proses lamaran dia sudah mengatakan bahwa nafkah yang akan diberikan untukku adalah sebesar lima ratus ribu. Hanya untukku pribadi, terserah mau aku gunakan untuk apa uang itu. Namun yang pasti aku tak pernah kelaparan atau kekurangan, karena semua kebutuhan di rumah sudah disiapkan olehnya. Termasuk bahan makanan yang selalu ada untuk kumasak di dalam lemari pendingin, lengkap beserta bumbu dapurnya.
Bagiku tak penting nafkah besar atau kecil, selama kebutuhanku dipenuhi dengan baik. Tak perlu aku tahu berapa penghasilannya, dan kemana saja digunakan. Yang terpenting bukan dilihat dari seberapa besar uang bulanan yang diberikan. Tapi seberapa tercukupikah kebutuhan lahirku sebagai seorang istri, termasuk kebutuhan rumah dan seluruh isinya. Sebab nafkah lahiriah untuk seorang istri yang menjadi kewajiban suami itu mencakup nafkah sandang, nafkah pangan, dan nafkah papan. Sedangkan uang bulanan itu menjadi nafkah khusus, yang diibaratkan seperti gajinya seorang istri. Hendak kemana digunakan selama untuk kebaikan, itu menjadi haknya sepenuhnya. Tanpa harus terbagi untuk kebutuhan lainnya.
*****
"Kay? Ini Kayla, kan?"
Seseorang dengan suara bariton yang kukenal, menepuk bahuku ketika aku sedang memilih-milih lauk di stand ikan dan daging. Saat kutengok ternyata yang menyapaku adalah Raihan. Sahabat baikku sejak di taman kanak-kanak, juga cinta monyetku dulu.
"Mmm, Raihan kan?" Tanyaku sambil menelisik wajahnya yang agak berbeda, karena dipenuhi cambang halus disekitar dagunya.
"Iya, aku Raihan. Masih inget aja kamu." Ujarnya seraya tersenyum hangat, senyum yang dulu akan membuatku berdebar-debar saat melihatnya.