“Jadi… Anda ingin mengambil intel mengenai Takeshi Kaoru, Hanashima yang menaunginya, juga informasi beberapa siswa lainnya… Mengapa?”
Berdiri menghadap jendela besar dari ruangan Kochi seraya mengamati lapangan serta siswa-siswi yang sedang berolahraga, aku menanyakan pertanyaan itu kepada Kochi yang sedang menyeruput mie instannya.
“Sudah merupakan tugas sebagai tuan dari pelayanku untuk melindunginya. Langkah pertama, tentunya—yaitu mengurus siapa pun yang memiliki urusan dengannya. Bukankah begitu?”
“Jangan-jangan…”
“Rupanya beberapa lelaki di sekolah ini berusaha untuk mendapatkan hati gadis milik Sylvie. Aku tidak bermasalah dengannya… Namun setelah Kaoru mengungkapkan perasaannya, Sylvie mengalami demam psikogenik.”
“Haah… Saya sudah mengira masalah seperti ini akan terjadi…”
“…Mengapa?”
“Seperti yang Dika telah mengerti, Kusumajaya—layaknya berbagai kota yang ada di belahan timur maupun barat bumi ini—selalu bekerja dengan kekuasaan hierarki yang ada. Lihat pada keberagaman yang dimiliki oleh siswa… Tidak. Bahkan warga-warga Kusumajaya, mereka akan selalu berusaha mendapatkan apa yang mereka inginkan. Suatu kompetisi, seperti apa yang sedang kita lakukan.”
“…”
“Jika skala itu diperkecil, contohnya apa yang telah Kaoru lakukan, para siswa yang mengetahui berita itu akan segera mengambil kelengahan itu dan melaksanakan misi mereka… Mendapatkan hati pelayan anda.”
“…Jadi keseimbangan kekuasaan telah runtuh.”
“Benar sekali. Lalu di manakah respon dari Kochi dan bawahanmu?”
“Setelah mengetahui ini? Segera. Sepertinya mengandalkan pepatah tidak ada kata terlambat tidak akan menyelamatkannya sekarang… Jika anda segera menyerangnya dengan cepat dan terbuka, maka kemungkinan besar sisa lelaki dengan hati berdegup mereka akan mundur dari usahanya.”
“Aku memiliki ide… Oleh karena itu aku membutuhkan berbagai informasi mengenai mereka semua. Cari berbagai kotoran yang melekat pada Kaoru dan khususnya Hanashima. Dendamku akan menunggu dengan penuh kesabaran.”
“Baiklah… Saya akan menyediakan informasinya. Tapi sebagai kepala sekolah, saya tidak menyetujui penggunaan kewenangan sekolah hanya karena masalah simpel ini. Ilegal, bahkan…”
“Oh? Lihat perkataan yang datang dari seorang agen pemerintah sepertimu.”
“…B-Benar juga.”
“Bagaimana pun, aku akan kembali sebelum Kiki menangkapku dengan kedua tangannya sendiri… Dan satu lagi, aku butuh informasi mengenai Sylvie.”
“…Baiklah. Apakah informasi Sylvie dibutuhkan sekarang?”
“Tidak juga… Aku hanya ingin memeriksa latar belakang yang ia miliki.”
“Boleh juga…”
…
~~~
*Creak!*
“Hadeh… Dika ada-ada saja. Hari pertama sekolah sudah telat masuk kelas…”
“…Kiara.”
“Ada apa, sayang~?”
“Gkh! K-Kiara pernah melihat Dika ngambil informasi pribadi seseorang di luar tugasnya?”
“Hm… Kalau tidak salah cuma sekali, beberapa hari setelah pacaran sama Niki kan?”
“Benar juga…”
“…Kenapa emang?”
“Enggak enggak, cuma kepikiran saj—eh t-tunggu itu mie punyaku! Tolong jangan dimakan semua…”
…
***
*RING!!*
“Y-Yo… Namaku Bagas Galang S-Saputra, 3B… S-Senang bertemu denganmu, Sylvie…”
“N-Nama saya S-Sylvie le Bienveillant… K-Kelas 1A… Saya p-pelayannya Kak Dika…”
“…”
Pukul 3 sore, memasuki kembali klinik setelah berakhirnya jam sekolah, aku memutuskan untuk memeriksa Sylvie dengan Bagas—menemukannya sedang duduk menghadap jendela yang kini menumpahkan cahaya jingga padanya serta ruangan ini. Mengabaikan pemandangan yang menyerupai sebuah lukisan romantisme, aku memiliki ide untuk memperkenalkan mereka berdua—korban dengan pahlawannya.
“…Bagas adalah sosok yang menyelamatkanmu darinya tadi.”
“P-Penyelamat kamu bilang…”
“M-Makasih… Tu… Tuan S-Saputra…”
“Eh?? S-Sama-sama, Sylvie… Tapi kamu bisa panggil aku K-Kak Bagas saja…”
Melirik padaku, Sylvie dengan jelas mencari persetujuaanku atas permintaan Bagas. Memberikan anggukan padanya, Sylvie kembali menatap Bagas—tentunya dengan keraguan berat karena peristiwa siang ini.
“B-Baik… Kak B-Bagas…”
“Apa kamu dapat menunggu di luar? Aku ingin berbicara sejenak dengannya.”
“S-Silahkan silahkan!”
Menunggu keberangkatan Bagas dari klinik, aku memutuskan untuk berjalan dan duduk pada kursi di hadapan Sylvie. Tidak diherankan, aku masih dapat menemukan ekspresi syok dari mata yang berusaha menahan dirinya dari menangis.
“Bagaimana keadaanmu?”
“S-Saya tidak apa-apa kak! Hanya sedikit le-lelah saja…”
“Maaf… Sebagai tuanmu, aku seharusnya memiliki kewajiban untuk melindungi dirimu.”
“!!—T-Tidak kak! Maafkan saya karena tidak bisa berbuat apa-apa…”
Mencondongkan badan, aku meletakkan tangan kananku pada bahu kanan Sylvie. Jika semua bergantung padaku, maka aku akan terpaksa mengikuti klise yang kubenci sekali lagi.
“Bagaimana dengan ini… Ketika kamu menjumpai masalah seperti tadi, bayangkan bahwa aku selalu mengamati kalian dari jauh. Tidak masalah jika kamu takut, karena sesungguhnya ia kalah jauh dengan pentingnya perasaanmu. Gunakan segala cara untuk memenangkannya. Aku akan menjagamu.”
“…”
“…Tunggu. Itu tidak masuk akal.”
Sepertinya menghiraukan apa yang kukatakan, Sylvie segera mengelap wajahnya dan memberikan senyuman yang terhias oleh air matanya. Kini aku dapat menghela napas lega, mengetahui ekspresi sedih dan penyesalan yang menghilang itu.
“…T-Terima kasih, kak… Tapi…”
“Jangan khawatir akan Bagas… Untuk sekarang, mari kita sepakat bahwa ia adalah teman baruku di sini. Setuju?”
“Pfft! B-Baik, Kak Dika!”
“Itu lebih baik.”
(…Takeshi Kaoru)
…
Seseorang pernah berkata padaku bahwa generasi ini menjadi lemah karena adanya keberadaan egoisme serta ketergantungan berlebihan dalam hidupnya. Ingin atau tidak, aku selalu mendapati diriku terpaksa mengikuti regimen beliau agar dapat bertahan hidup di dalam kebun binatang bernama bumi ini.
Melihat kembali nasihat itu 5 tahun kemudian, aku kini menemukan sepotong kebenaran di dalamnya. Akan selalu ada manusia yang diharuskan untuk menunduk dari posisi terbawahnya dalam suatu hierarki, hanya dapat mengikuti orang lain hingga terkendalikan layaknya boneka yang dimainkan oleh dalangnya. Sementara itu, seluruh manusia juga berlomba-lomba untuk mendapatkan kejayaan mereka.
“…Anjir… Gepreknya enak lho, Sylvie!”
“T-Terima kasih, kak.”
“…”
“Astaga… Dari tadi Dika melamun terus. L-Lihat! Piringmu masih banyak isinya!”
“…Saya yakin Kak Dika hanya ingin menikmati suasana tempat ini!”
“Benar juga.”
Menyegarkan kesadaran, aku menemukan Bagas di hadapanku sedang menyantap potongan ayam yang terlapisi oleh keju leleh serta sambal. Sebaiknya ia berhati-hati agar tidak tersedak olehnya.
Hari ini adalah hari kamis, 3 hari setelah insiden itu. Sylvie rupanya memutuskan untuk mengajak kita makan bersama sebagai rasa terima kasih. Rasa sungkan dan repot dengan cepat memudar karena tiada pilihan selain menyetujuinya… Namun di sini aku berkata layaknya itu adalah hal yang buruk.
Gazebo taman di mana aku menyaksikan perempuan silat itu menjadi pilihan atas lokasi makan siang kita. Naungan pohon dan pemandangan danau buatan sepertinya cukup menjadi alasanku memilih tempat ini. Bagaimana pun, aku lega melihat Sylvie telah menghilangkan rasa takut itu. Dan juga—memperhatikannya hari ini—ia terlihat lebih terbuka kepada kita daripada hari itu.
Mengenai hari itu dan khususnya Kaoru, aku beberapa kali menemukan diriku berhadapan dengannya. Cukup mengamatinya dari jauh, aku hanya ingin membuatnya memaafkan dirinya. Sungguh sebuah cara halus untuk menyerang diri acuh itu berkali-kali tanpa perlu turun tangan.
“Ini kak, teh-nya!”
“…S-Sylvie gak makan? Enak lho padahal masakanmu!”
“Ah! Kalau begitu…”
“…”
Bagaimana pun, ini adalah suasana yang nyaman dan damai. Hasratku kini kembali muncul untuk menginginkan keberadaan Nikita di sini sekarang… Bersama-sama kabur dari masalah sepele yang dimiliki oleh dunia ini. Ignorance is bliss.
*Clank*
“…Astaga.”
“Ada apa, Bagas?”
Rupanya Bagas dengan sengaja menjatuhkan sendoknya. Apakah ia ingin berlagak dramatis sebelum menyuarakan apa pun keluhannya?
“Mi… Minggu depan…”
“Ah! Jangan-jangan karena minggu ujian, Kak Bagas?”
“Kgh! S-Stop… Aku malah jadi tambah ingat…”
“…”
Ujian. Kochi telah mengajariku sejenak mengenai ujian ini. Meski hanya memahami dasarnya, aku lebih terkejut mengetahui ujian seperti ini memiliki beberapa kemiripan dengan tes yang pernah diberikan padaku di masa lampau.
“S-Saya rasa apa yang ingin Kak Bagas katakan adalah ujian sekolah ini… B-Bisa dikatakan punya standar berbeda kak.”
“…Anggap saja seperti anak TK yang mengerjakan intergral.”
“…Bagaimana kemampuanmu, Sylvie?”
“Y-Yah… Saya mungkin akan mendapat peringkat 10 besar dari angkatan saya…”
“K-Kalian semua terlalu pintar…”
“Bagaimana kondisimu, Bagas?”
“Pe… Peringkat 4 dari 24 siswa…”
“…Itu tidak buruk, melihat jumlah siswa pada sekolah ini.”
“L-Lah tapi Dika bisa dapat beasiswa masuk sini? Kelas A lagi… Emang puinter atau jenius gitu??”
“…Tidak. Aku diundang oleh sekolah ini.”
“Ah… Diundang… Kok bisa seberuntung itu…”
Kehabisan kata-kata, aku memutuskan untuk mengangkat bahuku demi mengembalikan keheranan Bagas.
“Haah… Aku menyerah. Gimana ya cara dapetin nilai bagus nanti?”
“…K-Kenapa kita tidak belajar bersama, Kak Dika, Kak Bagas?”
“…”
“…”
“S-Sylvie… Kita semua berbeda kelas.”
“Ah! B-Benar juga—”
“Mengapa tidak? Tidak ada salahnya kita mencoba.”
“O-Okelah… Nanti sore setelah selesai sekolah ke perpus?”
“Boleh kak!”
“Mhm.”
*RINGG!!*
“Dih! Sudah bunyi saja…”
“…Aku akan membantumu, Sylvie.”
“Huh? Ah! T-Terima kasih, Kak Dika!”
“Ma… Makasih, Sylvie… T-Tunggu! Kok Dika sudah selesai makan!?”
…
***
*Tap* *Tap* *Tap*
“…Kak Bagas seharusnya sudah di sana ya, Kak Dika?”
“Mungkin saja.”
“Ah! Di sana, kak!”
Mengalihkan pandangan dari Sylvie yang sedang menelusuri koridor sekolah bersamaku, aku menemukan sosok siswa beralmamater merah rupanya sedang bersandar pada pilar beranda, melambaikan tangannya kepada kita.
“Yo! L-Lama amat kalian!”
“…Aku hanya menunggu Sylvie menyelesaikan projek kelas miliknya.”
“O-Oh… Gimana kalau langsung masuk saja? Aku tadi lihat di dalam sudah ramai saja tuh, belajar untuk minggu depan.”
Membuka pintu ganda serta memasuki perpustakaan sekolah, kita rupanya disambut oleh sebuah ruangan besar dengan dua tingkat serta atrium besar pada bagian tengahnya, menunggu siapa pun untuk mendongak ke atas untuk mengapresiasi atap mosaik bundar itu. Dinding dan lantai yang menggunakan bahan andesit serta mabel juga berhasil memberikan kesan dingin, tertutup, nan misterius bagi pengunjungnya.
“*Sniff* *Sniiff* Haah… Aroma buku lama memang beda…”
“Kak! Ada meja kosong di sana!"
“…”
Memilih dan duduk pada meja yang terletak pada salah satu sudut perpustakaan, Bagas segera mengeluarkan berbagai macam buku pelajaran dari dalam ransel abu-abu yang ia rupanya rangkul.
“Hgh! Matematika… Manajemen… Sains politik…”
“…Harus aku katakan, itu adalah pilihan yang menarik.”
“Te… Terima kasih? Aku sih cuma ingin kerja di perusahaannya papaku… Meski gitu, aku… P-Punya sedikit keinginan untuk jadi politikus…”
“…Politikus? Itu mengejutkan.”
“K-Kak Bagas ingin masuk dunia politik??”
“I-Itu gak pasti! Tapi dulu sih iya… Cuman ngelihat kenyataannya sekarang, aku yakin diriku gak bakal selamat kalau tidak punya visi dan ketahanan yang bagus. Sheesh… Apalagi terjun di dalam dunia itu aku bisa diincar serigala setiap saat… Hahaha…”
“…”
Sayangnya, itulah kenyataan yang sedang terjadi pada beberapa belahan bumi ini. Seorang pemimpin membutuhkan dukungan rakyatnya. Mendengarkan dan menyelesaikan permasalahan sosial, merendahkan dirinya meski memegang posisi tersohor, hingga membaur dengan rakyat… Bukan seorang penguasa yang hanya dapat menyengsarakan dan menundukkan rakyat di bawah telapak kaki mereka.
Menambahkan kewenangan yang didapatkan, mereka juga dapat membersihkan catatan hidup dari segala kotoran yang pernah ada. Dengan semua itu, maka kita tidak dapat menyalahkan rakyat yang merasa terkhianati atas terbongkarnya kejahatan itu… Segalanya harus dilaksanakan untuk mencegah keterlambatan akhir itu.
*Pleep!*
Muncul dari kehampaan, aku dapat mendengar dering yang menyerupai sebuah PDA, rupanya berasal dari ponsel yang tersimpan pada saku celanaku. Melirik kepada Sylvie dan Bagas, tidak diherankan jika aku menemukan mereka menatapku kembali.
“…Siapa tuh yang nelpon?”
“…Maaf, namun aku perlu menjawab ini.”
“Wokeh tenang aja.”
“Silahkan kak!”
…