Anggraeni
“Ayo lah ni, anggap aja ini salah satu bentuk protes kamu sama takdir. Kamu harus bisa ngebangkang sama yang kamu bilang namanya takdir itu.”
Aku masih ingat dengan jelas bagaimana menggebu-gebunya Aleena minggu lalu saat mempengaruhi ku untuk menghadiri acara senin besok.
“Gimana kalo ternyata jalannya emang gini?”
“Takdir kamu ya tergantung pilihan mu, ni.”
“Kan belum di coba,”
Astaga, lama-lama Aleena semakin mirip sama pak Uli guru BK ku dulu di sekolah. Kalau saja aku ini seorang anak yang akan ikut lomba, bisa dipastikan aku jadi pemenang dengan motivasi terbanyak sangking seringnya mendapat wejangan dari dia.
Sepanjang jumat sore minggu lalu dia menjadi sangat aktif setelah menemukan secarik undangan di sebelah tempat tidurku, lebih tepatnya undangan reuni akbar alumni universitas tempat ku sempat kuliah dulu. Aku memang berniat untuk hadir, entah hidayah dari mana yang Aleena dapat sehingga dia berpikir aku tidak akan hadir, jadilah hampir seminggu ini dia merecoki aku baik langsung maupun melalui chat. Seakan-akan aku sepengecut itu saja.
Gadis satu ini memang cukup heboh kalau sudah berhubungan dengan kegiatan yang akan aku lakukan, padahal aku tidak seterkenal itu untuk mempunyai seorang asisten. Beruntung lah bahwa aku adalah manusia super sabar dan betah berlama-lama berteman dengan segala makhluk abstrak, termasuk dia diantaranya.
Bicara tentang reuni, aku pasti datang, karena memang aku harus berada di sana seharian besok. Membayangkan bagaimana sibuknya besok saja sudah cukup untuk membuatku semakin kesal, astaga kok lama-lama banyak orang kurang kerjaan di negara ini. Orang gila mana yang akan mengadakan reuni akbar pada senin pagi, cuma mereka orangnya. Aku terpikir untuk protes kepada panitia acara ini. Mereka benar-benar berhasil menghancurkan ekspektasi orang banyak yang berharap mendapatkan hujan emas di hari senin -setidaknya bukan kegiatan habis-habisan yang paling mungkin menyebabkan cranky di selasa pagi.
***
Voilà
Baru tiga puluh menit yang lalu pesawat yang aku tumpangi mendarat dan benar saja jalanan sudah sangat ramai oleh kendaraan, selain anak sekolah dan para pekerja pasti sebagian besar kendaraan-kendaraan ini tengah mengangkut alumni kampus yang akan reuni di depan sana.
Aku sedang duduk di salah satu warung makan nasi campur tempat yang dulunya hampir setiap hari ku singgahi, selain murah warung ini juga bersebelahan dengan warung fotocopy dan masuk jangkauan WiFi fakultas terdekat. Sebuah paket komplit yang menjadi alasan warung makan ini selalu ramai sejak dulu. Ajaibnya semua masih sama, seperti memang sudah ditetapkan dalam bentuk begini. Kemacetan di jembatan, warung fotocopy, password WiFi fakultas di depan itu, dan sosok yang berada beberapa langkah dari trotoar.
***
Yudhistira
Aku terpaku untuk beberapa saat sebelum kemudian kembali melangkah menyebrangi jalan raya. Perempuan itu tidak seharusnya berada di kota ini, tempat ini terlalu jauh dari kampung halamannya untuk sekedar mencari sarapan pagi. Hal yang paling tidak mungkin adalah bahwa ia tinggal di kota ini, aku pernah menyusuri hampir semua sudut kota ini, dan tidak ada dia.
Bisa aku pastikan dia sudah terlebih dulu melihatku sehingga dia tampak sangat buru-buru untuk keluar dari tempat itu.
Sepertinya aku adalah salah satu orang yang tidak ingin dia temui.
Aku sempat berpikir sejenak bahwa dia hanya bagian dari halusinasi, tapi dia terlalu nyata dan dekat. Astaga, dia memang sedekat itu barusan setelah berada di luar jangkauan selama kira-kira 10 tahun belakangan. Aku tahu dia tidak akan bisa kemana-mana lagi, pagi ini aku akan memberinya kesempatan untuk menghindar sebentar.
See you soon, Re...