Coach Hendra datang lagi keesokan paginya, dan kali ini Bima tidak menyuruhnya pergi.
Hendra duduk di bangku panjang dekat ring latihan, kopi sachet di tangan, menatap Arga yang sedang memukul samsak dengan kombinasi yang masih kasar tapi mulai punya bentuk. Wajah Hendra sudah lebih tua dari yang Bima ingat — kerut di sudut mata, uban di pelipis. Mereka pernah satu generasi, ia, Bima, dan Reza. Tiga bocah miskin yang mimpinya satu ring.
"Tawaranku masih berlaku," kata Hendra hati-hati, seperti orang melangkah di atas es tipis. "Lisensi pelatih resmi buat kamu. Jalur amatir legal buat Arga. Aku bisa bukain pintunya. Komisi provinsi kenal aku."
Dulu, dua minggu lalu, Bima menolak keras. Ring resmi adalah tempat Reza mati. Kata 'lisensi' terasa seperti undangan kembali ke gedung tempat sahabatnya jatuh dan tak bangun lagi.
Tapi hari ini Bima memikirkan ranjang kosong di klinik Maya.
"Kalau Arga lewat jalur kamu," kata Bima pelan, matanya tak lepas dari samsak yang berayun, "dia jadi atlet resmi. Tercatat. Ada namanya di komisi. Ada wasit, ada dokter ring, ada aturan."
"Betul," kata Hendra.
"Broto nggak bisa nyentuh atlet resmi yang dikenal publik. Kalau Arga hilang, semua orang nanya."
Hendra menegakkan badan, mulai mengerti arah Bima. "Jalur legal itu perlindungan. Selama Arga cuma anak jalanan yang pernah utang, dia rapuh. Begitu dia jadi petinju amatir terdaftar—"
"Dia terlalu terang buat disembunyiin di gudang," sambung Bima.
Arga berhenti memukul. Ia menoleh, napasnya memburu, sarung tinjunya turun. "Maksudnya aku... boleh tanding beneran? Yang ada juaranya? Yang nggak di gudang?"
Bima menatap muridnya. Bocah kurus-liat yang dulu datang ke sasana minta dilatih untuk lari dari utang, kini matanya bersinar oleh hal lain. Bukan ketakutan. Bukan kemarahan. Tujuan.
Dan di situlah letak keraguan Bima, yang menggerogoti perutnya. Ring resmi adalah tempat Reza mati. Membawa Arga ke sana berarti menempatkan satu nyawa lagi di bawah tali yang sama. Bagaimana kalau ia menciptakan Reza kedua? Bagaimana kalau hook yang ia ajarkan suatu hari membunuh anak ini juga?
"Bima," kata Hendra pelan, membaca wajahnya. "Aku tahu apa yang kamu pikirin. Aku juga di gedung itu malam Reza jatuh." Suaranya parau. "Tapi tinju resmi ada dokternya. Ada cek kesehatan. Ada head guard di amatir. Reza... kalau dia diperiksa dengan standar yang ada sekarang, pembuluh darahnya ketahuan. Dia nggak akan diizinin tanding." Ia menatap Bima lurus. "Yang ngebunuh Reza bukan tinju. Itu sistem yang waktu itu belum benar. Bawa Arga ke jalur yang benar justru bikin dia lebih aman daripada di sini, daripada di gudang, daripada di mana pun."
Bima menutup mata. Di kegelapan kelopaknya ia melihat dua hal: ranjang kosong di klinik, dan dagu Reza yang terkulai di kanvas tiga tahun lalu. Dua kemungkinan masa depan Arga, tergantung pintu mana yang ia pilih hari ini.
"Capek itu pilihan," gumamnya, kata-kata yang biasa ia teriakkan pada murid. "Berdiri."
Kali ini ia mengatakannya pada dirinya sendiri.
Bima membuka mata dan menatap Hendra. "Aku nggak mau ini buat aku," katanya tegas. "Aku nggak peduli sama lisensiku, sama nama Palu Garuda, sama apa pun. Aku ngambil ini cuma buat satu hal — biar anak ini punya pintu keluar yang sah. Pintu yang nggak bisa ditutup Broto." Ia menelan ludah. "Aku ambil lisensinya."
Hendra menghembuskan napas panjang, seolah ia sudah menahannya selama tiga tahun. "Aku urus berkasnya."
Arga berdiri di tengah ring, sarung tinju masih di tangan, dan untuk sesaat ia tampak seperti hendak meledak, antara tawa dan tangis. Lalu ia hanya mengangguk, keras kepala seperti biasa, dan kembali ke samsak, memukul lebih bertenaga dari sebelumnya, seakan setiap pukulan adalah pintu yang ia dorong terbuka.
Di sudut, Gento yang sedang mengepel berhenti, menatap, dan tidak berkata apa-apa. Tapi Bima melihat sesuatu di mata raksasa itu — seperti seseorang yang menyaksikan jalan yang dulu tertutup untuknya, kini terbuka untuk orang lain, dan memutuskan itu cukup baik.