Gedung olahraga itu bau lantai vinil dan keringat baru. Lampu terang merata, bukan neon temaram gudang pelabuhan, dan ada wasit berkemeja putih yang membunyikan peluit, bukan centeng yang membunyikan teriakan taruhan. Arga berdiri di sudut biru dengan head guard merah yang membungkus pelipisnya, dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia bertinju di tempat yang sah.
"Lupakan KO," kata Bima pelan di telinganya, tangan di pundak bocah itu. "Di sini menang itu poin. Sentuh, mundur, sentuh, mundur. Kamu bukan mau menghancurkan dia. Kamu cuma mau lebih pintar dari dia tiga ronde."
"Tangan saya gemetar," bisik Arga.
"Bagus. Berarti kamu masih punya akal sehat." Bima menepuk head guard itu. "Tinju itu soal kaki. Tenaga dari tanah. Injak lantai itu, rasakan, dia milik kamu."
Bel berbunyi. Arga maju.
Lawannya seorang pemuda klub Mahaputra, dua tahun lebih senior, gerakannya rapi dan terlatih. Pukulan pertama datang lurus ke wajah Arga dan bocah itu hampir lupa semua yang ia pelajari—kakinya membeku, bahunya naik tegang seperti hari pertama dulu di sasana. Pukulan kedua menyerempet head guard-nya.
Dari sudut ring, Bima mengepalkan tangan tanpa sadar. Sinta, di kursi penonton dengan blazer rapi dan tangan terlipat di pangkuan, menahan napas.
Lalu sesuatu berubah. Di ronde itu, di antara dua pukulan yang nyaris merobohkannya, Arga mendengar suara Bima di kepalanya—bukan teriakan, melainkan kalimat yang sudah ribuan kali diulang di pagi buta. *Cinta sama jab.* Arga melepas jab. Sekali. Mendarat tipis di sarung lawan. Footwork-nya kembali, kaki kiri menggeser, badan memutar. Jab lagi. Mundur. Lawan Mahaputra itu mengejar, dan tiap kali ia mengejar, Arga sudah tak ada di sana.
"Itu dia," gumam Bima. "Itu dia, Nak."
Ronde kedua, Arga mulai membaca. Ia menemukan ritme lawannya—setiap kali pemuda itu hendak melepas pukulan kanan, bahu kirinya turun sepersekian detik lebih dulu. Arga belajar membaca itu dari Bima, cara Bima dulu membaca Gento yang seberat 110 kilo. Setiap kali bahu itu turun, Arga sudah bergeser, dan jab-nya menyambar pipi head guard lawan. Wasit memberi poin. Penonton klub mulai bersorak untuk si pendatang baru.
Tapi ronde ketiga adalah neraka kecil. Lawan Arga, frustrasi karena tak bisa menangkapnya, menyerang membabi buta, dan satu hook menyentak kepala Arga hingga dunianya berkedip putih. Lutut bocah itu melembek. Untuk sesaat ia ingin balas—ingin melepas amarah yang dulu jadi satu-satunya senjatanya, ingin meremukkan.
"Jangan!" teriak Bima dari sudut, suaranya menembus riuh gedung. "Pakai kepala! Bukan dendam!"
Arga menelan amarah itu. Ia menggeleng, membersihkan kabut di matanya, dan melakukan hal tersulit dalam tinju—ia bergerak mundur dengan tenang, mengulur waktu, membiarkan lawan membakar staminanya sendiri pada bayangan. Detik-detik terakhir, Arga melepas tiga jab beruntun yang bersih, lalu satu pukulan kanan yang ia tahan tepat sebelum mendarat penuh—menyentuh, bukan menghancurkan. Bel terakhir berbunyi.
Wasit mengangkat tangan Arga.
Kemenangan tipis. Angka, bukan KO. Tapi saat tangan kurus itu terangkat ke langit-langit gedung yang terang, sesuatu di dada Bima nyaris pecah. Ia teringat ring lain, gedung lain, tiga tahun lalu, ketika tangan yang terangkat justru menandai bencana. Kali ini tak ada tubuh di matras. Kali ini tak ada darah yang tak bisa ditarik kembali. Hanya seorang bocah yang menang karena pintar, bukan karena membunuh.
Arga turun dari ring dan langsung menghambur ke arah Bima, head guard masih basah keringat. "Saya menang, Coach. Saya menang tanpa—"
"Tanpa menghancurkan siapa pun," potong Bima, suaranya serak. Ia memeluk bocah itu, satu pelukan kaku dari lelaki yang tak terbiasa memeluk. "Itu kemenangan yang paling susah, Ga. Dan kamu dapat."
Sinta menyeka sudut matanya dengan punggung tangan, lalu pura-pura sibuk merapikan tas. Di kejauhan, papan skor digital menampilkan nama yang tak pernah ada di ring resmi selama tiga tahun: di bawah Arga, tertulis nama klubnya—Garuda Mas.