Takut? Tentu saja. Bahkan bukan hanya itu yang Laura rasakan. Tetapi juga sangat malu karena kedapatan masuk ke kamar orang tanpa meminta izin terlebih dahulu kepada sang pemilik.
‘Kenzo ... kamu kecil-kecil udah pinter ngerjain orang!’ Laura bersungut-sungut dalam hati. Dan apabila dilihat menggunakan mata batin, mungkin telinganya juga berasap.
Laura masih menutup matanya rapat-rapat. Sebab dia mendapati lelaki itu tadi tengah bertelanjang d**a. Astaga, ternoda sudah matanya yang bersih suci, dan murni itu.
Bingung dengan apa yang harus ia lakukan. Perlahan, ia membuka matanya. Namun ternyata sudah tidak ada lagi orang di depannya. Ivan telah pergi.
Laura menggigit bibirnya, pikirannya kalut dan bercabang tak karu-karuan. Hari pertama kerja sudah ketiban banyak sekali kesialan-kesialan.
Ia hanya terus berdoa mudah-mudahan lelaki itu tak marah atau menuduhnya dengan prasangka yang tidak-tidak. Hanya berniat mengambil tisu basah saja jadi panjang begini ceritanya.
Gadis itu mulai keluar, bola matanya mengedar ke seluruh ruangan. Lalu matanya menangkap sosok lelaki yang baru saja ditabraknya tadi. Sedang duduk berada di dekat anaknya.
“Maaf, Pak. Tadi saya masuk ke dalam. Hanya mau mengambil tisu basah. Saya sudah tanya sama Kenzo, katanya kamar dia ada di sana, jadi saya masuk aja,” ujar Laura menjelaskan, “saya dikerjain sama dia, Pak.”
“Kamar Kenzo ada di sebelah sana,” ujar lelaki itu menunjuk ke arah yang berlawanan dengan kamarnya.
Syukurlah, kalau dia nggak marah.
Laura mengikuti ke mana arah jari telunjuk itu mengacung. Setelah dia mengerti, kemudian mendekati Kenzo yang masih fokus bermain memasang puzzle. Meraih tisu tersebut, lalu mengusap bibirnya yang berantakan.
“Setelah kamu memberinya makan siang ini, kamu harus menurunkannya,” kata Ivan menjelaskan kebiasaan putranya. “Jangan menidurkan Kenzo terlalu sore, supaya tidur malamnya tidak terlalu larut dan kamu bisa beristirahat.”
“Baik, Pak.” Laura menangguk santun. Dia kembali menatap raut wajah Ivan. Memastikan bahwa lelaki itu sedang baik-baik saja karena insiden tadi. Namun karena tertangkap basah sedang melihatnya, Laura kembali menundukkan pandangannya lagi.
Selepas lelaki itu pergi darinya, Laura langsung menghembuskan napasnya lega. Huft ... ‘Dasar Om tua frezer!’
Seperti apa yang katakan oleh Ivan, Laura pun mulai melakukan tugasnya. Dia menuju ke belakang untuk bertanya kepada Mira, makanan apa saja yang biasa dimakan oleh Kenzo. Dan ternyata bocah itu suka sayur brokoli. Laura menatap kagum kepada bocah sekecil ini yang sudah dilatih sejak dini untuk menyukai sayuran. Berbeda dari anak-anak lainnya yang cenderung lebih menyukai makanan kering; seperti goreng-gorengan,njunkfood dan lain-lain sebagainya.
“Piring makan Kenzo ada di rak piring khusus. Di sebelah sini kalau mau mencarinya. Nanti setelah dicuci, kamu balikin lagi ke ke sini. Pakai sabun yang ini juga,” papar Mira menunjukkan semua yang Laura perlukan nanti.
“Makasih, Mbak Mira. Sudah dikasih tahu.”
“Sama-sama, Laura.”
Laura puas melihat cara kerjanya. Dia telah berhasil membuat bos kecilnya kenyang sampai terkantuk-kantuk. Bahkan sudah merengek untuk meminta ditidurkan. Hmm, bos kecil sudah makan sampai dua kali. Lalu dirinya? Belum sekalipun. Cacing perutnya sudah terdengar serentak berdemo, berbunyi keruyuk-keruyuk.
‘Sebentar, ya, perut. Nunggu bos kecil tidur dulu.’
Tidak sulit menidurkan bocah kecil tersebut. Setelah Laura menyalakan AC dan menyelimuti tubuhnya, serta membacakan dongeng-dongeng yang masih Laura ingat pada masa kecilnya—akhirnya bocah itu tertidur dengan pulas.
Memastikan bocah tersebut aman, Laura meninggalkannya dengan membiarkan pintu sedikit terbuka. Antisipasi. Kalau-kalau bocah itu bangun, menangis memanggil siapa yang ada.
‘Ngomong-ngomong,di mana sih, Ibunya? Kalau Ivan bercerai, biasanya anak seusia itu pastibersama ibunya. Tetapi ... ini kenapa ikut dengan Ivan? Apa istrinya meninggal?’ banyak pertanyaan berpendar di kepalanya. Namun tak dapatdiuraikan. Tapi perlahan, pasti Laura akan mengetahuinya.
***
Menuju ke belakang, Laura kembali melihat sosok Ivan lagi yang sedang berada di meja makan menikmati makan siangnya. Namun berbeda dengan tadi karena dia sudah mengenakan bajunya secara lengkap.
Rupanya, lelaki itu pulang pada saat dia tengah tertidur pulas di atas. Kemudian mandi pada saat Laura turun dan tanpa sengaja terpergok olehnya.
Kerja apa dia jam segini pulang tapi banyak duit?Jangan-jangan dia punya pesugihan babi ngepet.
Astaga!
Laura langsung menggeleng menghilangkan pikiran buruknya yang sedang semena-mena menuduh orang lain. Mana mungkin Om tua itu ngepet? Masa ganteng-ganteng jadi ....
Laura melintas menuju ke belakang dan menarik kursi di sana, serta merta mengisi perutnya dengan makan siang yang sebelumnya sudah Mira masakkan. Tidak terbayang sebelum ia datang, bagaimana repotnya wanita itu sendirian mengurus rumah sebesar ini sambil menjaga Kenzo. Kasihan sekali.
***
Selesai sudah pekerjaannya hari ini. Tepat pukul jam sembilan malam, Laura naik ke kamarnya dan menghempaskan tubuhnya ke kasur.
Oh, begini, ya, rasanya bekerja? Padahal tidak angkat-angkat benda berat. Tetapi tetap saja rasanya amat melelahkan.
Membuka ponsel, Laura melihat notifikasi pesan yang masuk ke DM-nya yang ternyata adalah pesan dari Papa. Bukan dari teman-temannya yang entah sudah tak tahu ke mana sekarang ini. Mungkin saja mereka sudah tertelan bumi.
Papa : Laura, kamu di mana sekarang? Jangan lupa kabari Papa.
Laura melihat isi pesan tersebut dengan perasaan nelangsa. Dia selalu berharap, tantenya tetap memperlakukan papanya dengan baik walau beliau sudah tidak seperti dulu lagi. Tetapi dari yang selama ini Laura lihat, Tantenya selalu baik. Ya, mudah-mudahan saja demikian.
Laura : Ada di Kota Tangerang Selatan, Pa. Papa tenang aja, ya. Laura sekarang udah kerja, kok. Papa sehat terus, ya. Pokoknya jangan khawatirkan Laura. Laura baik-baik saja.
Klik. Pesan terkirim. Tak lama setelah itu, matanya terpejam. Mengantuk.
Baru sekitar beberapa puluh menit Laura tertidur, gadis itu terbangun. Bajunya basah, dia kepanasan dan tenggorokannya terasa kering.
Wajar saja Laura merasakan hal demikian. Baru sekali ini Laura tidur menggunakan kipas angin. Dan sekarang malah justru tubuhnya terasa jadi panas dingin tak karu-karuan. Perubahannya yang jadi orang biasa secara tiba-tiba itu tidak dapat diterima dengan mudah ditubuhnya.
Laura beranjak dari tidurnya. Dia menatap kosong. Matanya mengembun.
‘Aku butuh AC, aku butuh kasur yang empuk, aku butuh jalan-jalan, aku butuh cermin besar untuk make up, aku butuh bath up untuk berendam. Tapi sekarang semuanya udah nggak ada lagi.'
Lantaran tak bisa tertidur lagi, gadis itu turun ke bawah untuk mengambil minum air dingin di dapur. Dia membuka kulkas, lalu menuangkan minum ke gelasnya dan meneguknya hingga tandas.
Tapi sialnya, lagi-lagi saat Laura akan kembali, ia harus bertemu dengan Ivan. Lelaki itu sudah berada dimeja makan, sedang membuat s**u untuk anaknya.
‘Apa setiap malam dia selalu begini? Owh, kacian ...,” dalam hatinya Laura menertawakan.
“Lain kali jangan lupa mengisi termos. Jadi saya tidak perlu keluar malam-malam seperti ini,” ujarnya tanpa menoleh.
“Maaf, Pak. Bukan lupa. Tapi saya benar-benar nggak tahu. Belum hafal kebiasaan-kebiasaannya di sini,” jawab Laura.
Hening.
Tak ada jawaban lagi hingga kemudian lelaki itu membalikkan tubuhnya. “Kenapa kamu turun malam-malam?”
“Panas, Pak. Panas banget. Saya nggak bisa pakai kipas. Kalau dikecilin kepanasan, kalau dibesarin bikin masuk angin. Duh, gimana ya? Serba salah. Boleh nggak, request pasangin AC gitu,” jawab Laura tanpa ingin berpura-pura.
Dia berharap lelaki itu mengerti dan mau menyejahterakan orang-orang di bawahnya.
Meski Mira atau siapa pun itu tidak pernah melayangkan protes, tetapi bukankah kita sebagai manusia harus mempunyai sifat perasa dengan memosisikan diri sebagai orang lain?
Agak lama lelaki itu terdiam menatapnya dengan sorot mata tak terbaca, hingga kemudian menjawab dengan singkat, “Baiklah, kalau itu maumu.”
Tanpa disadari Laura menyipitkan matanya dan bertepuk tangan kecil, “Yeay!”
“Kamu berikan ini padanya!” Tiba-tiba Ivan menyodorkan botol s**u untuk anaknya.
“Kok, saya?” ucap Laura merasa agak keberatan. Dia sudah lelah, panas dan mengantuk, tapi malah diberi tugas lagi. Sesaat Laura menyesal lantaran sudah turun kebawah.
“Mau membantah?” tegur Ivan dengan sorot mata horor seperti biasanya. “Baiklah, kamarmu tidak akan saya pasang AC.”
“Iyaaaa iyaaa!” sela Laura langsung mengambil alih botol tersebut dari tangan Ivan. Lantas masuk ke dalam kamar bos kecil, takut ancaman itu benar-benar terjadi. ‘Huh, niat turun ingin minum malah dikasih kerjaan lagi,’ batinnya menggerutu kesal.
Pada pertengahan malam, Ivan kembali keluar untuk memastikan keadaan Kenzo, tetapi pada saat ia membuka pintu, kedua orang yang baru mengenal belum satu hari itu, tidur dengan saling memeluk dalam satu selimut yang sama.
Tanpa sadar, bibir Ivan mengembang membentuk sebuah lengkungan.