Callista pulang dari rumah sakit ketika matahari sudah tinggi. Gaun pesta tersembunyi di balik jas Dave, rambutnya kusut, dan pikirannya penuh kata pernikahan. Ia belum tidur lebih dari satu jam, tetapi tidak mampu memejamkan mata.
Audi membuka pintu apartemen dan langsung membulatkan mata. 'Kau pergi ke pesta atau melarikan diri dari pesta pernikahan?'
'Aku mungkin akan memiliki pesta pernikahanku sendiri.'
Callista menceritakan semuanya. Audi mendengarkan tanpa memotong sampai mendengar Lucas menginginkan kehidupan masing-masing setelah menikah. Ia kemudian berdiri dan berjalan mondar-mandir.
'Jangan katakan kau akan menerima karena sudah lama tergila-gila kepadanya.'
'Aku belum bilang begitu.'
'Wajahmu mengatakannya.'
Callista menatap tangannya. 'Kesempatan ini mungkin tidak datang lagi.'
'Pernikahan bukan tiket konser, Call. Kesempatan langka belum tentu kesempatan baik.'
Ucapan itu tajam tetapi diperlukan. Callista meminta Audi membantunya menulis alasan menerima dan menolak. Di sisi menerima ada perasaannya, kedekatan dengan Amanda serta Lucia, dan kemungkinan mengenal Lucas di luar dinding dinginnya. Di sisi menolak ada Carissa, ketidaksetiaan yang tidak disembunyikan, ketimpangan uang, dan risiko kehilangan hidupnya sendiri.
Daftar menolak lebih panjang.
'Kalau begitu jawabannya jelas,' kata Audi.
'Perasaan tidak berhitung seperti daftar.'
Audi duduk di sampingnya. 'Kalau kau tetap menerima, aku ingin kau memiliki uang sendiri, pekerjaan, dan tempat pergi. Jangan biarkan mimpimu berubah menjadi kandang berlapis emas.'
Callista mengangguk. Ia sudah menyampaikan beberapa syarat, tetapi sekarang sadar syarat lisan mudah dilupakan. Ia membutuhkan orang yang memahami hukum.
Dave menelepon siang itu untuk memastikan keadaan Callista. Ketika Callista meminta rekomendasi pengacara, Dave tidak bertanya mengapa terlalu banyak. Ia memberi nama Evelyn Hart, pengacara keluarga yang tidak bekerja untuk keluarga Dixie.
'Aku akan membayar konsultasinya,' ujar Dave.
'Tidak. Lucas mengatakan pihaknya menanggung penasihat independen, tetapi aku yang memilih. Biaya harus tercatat dalam perjanjian, bukan menjadi utang kepada siapa pun.'
Dave terdengar terkesan. 'Kau belajar cepat.'
'Aku sedang berusaha tidak tenggelam.'
Pertemuan dengan Evelyn dilakukan sore berikutnya. Ben mengirim rancangan perjanjian setebal puluhan halaman. Evelyn membacanya sambil membuat tanda merah.
Dokumen itu memberi Callista tunjangan, tempat tinggal, kendaraan, serta pembayaran bila pernikahan berakhir. Sebagai gantinya, ia wajib menjaga kerahasiaan keluarga, menghadiri acara tertentu, tinggal di kediaman Dixie, dan tidak membuat pernyataan publik yang merusak reputasi Lucas.
'Mereka tidak melarangmu bekerja,' kata Evelyn, 'tetapi jadwal kegiatan keluarga dapat membuat pekerjaanmu mustahil. Klausul reputasi juga terlalu luas. Bila Lucas mempermalukanmu dan kau membela diri, mereka bisa mengatakan kau melanggar.'
Callista meminta semua itu diubah. Ia ingin batas acara maksimal, hak bekerja, rekening pribadi, kebebasan memilih dokter, larangan pemantauan perangkat, dan masa keluar tanpa penalti. Bila salah satu pihak memiliki hubungan dengan orang lain, tidak boleh dibawa ke rumah bersama atau dijadikan tontonan publik.
'Kau bersedia menerima hubungan di luar pernikahan?' tanya Evelyn.
Callista menelan pahit. 'Aku tidak bersedia. Tetapi dia terang-terangan mengatakan tidak menjanjikan kesetiaan. Aku perlu tahu apakah menerima berarti aku mengizinkannya menyakitiku.'
'Kau dapat menolak pernikahan. Kontrak tidak mengubah rasa sakit menjadi aman.'
'Aku tahu.'
Evelyn menatapnya beberapa saat. 'Apakah ada tekanan dari kondisi Amanda?'
'Ada rasa bersalah, tetapi tidak ada ancaman langsung.'
'Rasa bersalah tetap tekanan. Aku akan meminta masa pertimbangan lebih panjang.'
Callista hanya memiliki dua hari yang ia tentukan sendiri, bukan batas Lucas. Ia dapat memperpanjang, tetapi Amanda akan pulang dari rumah sakit dan persiapan keluarga mungkin dimulai. Callista menyadari ia berusaha melindungi Amanda dari kecewa dengan mengorbankan waktu berpikirnya.
Ia menelepon Amanda malam itu. 'Saya belum mengambil keputusan.'
'Tidak perlu terburu-buru,' jawab Amanda. Suaranya masih lemah. 'Kalau jawabanmu tidak, Mommy akan menerimanya.'
'Apakah Anda benar-benar akan menerima?'
Amanda diam sejenak. 'Aku akan sedih. Tapi aku tidak ingin menantu yang masuk ke keluarga ini karena takut membuatku sakit.'
Kejujuran tersebut meringankan satu beban. Callista meminta satu minggu. Amanda setuju tanpa membujuk.
Lucas mengirim pesan beberapa menit kemudian: Ben mengatakan kau meminta perubahan. Kirim melalui pengacaramu. Aku akan membacanya.
Tidak ada salam atau pertanyaan keadaan. Callista hampir kesal, lalu mengingat dirinya meminta urusan tersebut ditangani jelas. Ia menjawab singkat.
Sean datang ke kafe keesokan hari. Callista kembali bekerja karena rutinitas membantunya berpikir. Sean mengetahui kabar dari Lucia, yang rupanya sulit menyimpan kegembiraan.
'Kau ingin menikah dengannya?' tanyanya.
'Aku menyukainya.'
'Itu bukan jawaban yang sama.'
Callista tersenyum getir. Semua orang memberinya pertanyaan yang tepat dan tidak satu pun dapat memberi jawaban.
Sean mengaku dirinya menyukai Callista. Ia tidak menjadikan pengakuan itu alasan Callista harus memilihnya. Ia hanya tidak ingin Callista mengira Lucas adalah satu-satunya orang yang dapat melihatnya sebagai perempuan.
'Aku tidak meminta jawaban darimu sekarang,' kata Sean. 'Aku juga tidak akan berdiri menunggu bila kau menikah. Aku hanya ingin kau tahu pilihanmu lebih dari ya atau kesepian.'
Callista berterima kasih. Pengakuan itu tidak mengubah hatinya, tetapi memulihkan sesuatu dalam harga dirinya. Ia memang dapat dicintai tanpa harus memenangkan pertandingan melawan perempuan mati.
Pada hari kelima, Evelyn mengirim revisi. Lucas menyetujui sebagian besar, menolak klausul yang mengatur kehidupan pribadinya, dan menawarkan hak cerai tanpa masa tunggu bila ia mempermalukan Callista secara publik.
Callista membaca jawaban itu berkali-kali. Lucas tetap tidak bersedia setia. Namun ia bersedia memberi Callista pintu keluar serta identitas terpisah. Itu bukan cinta. Setidaknya bukan kebohongan.
Hari ketujuh, Callista berdiri di depan cermin apartemen. Ia tidak memakai gaun atau riasan. Audi menunggu di ruang tamu.
'Aku akan menerima,' katanya.
Audi menutup mata sesaat. 'Karena apa?'
'Karena aku ingin mencoba, bukan karena Amanda atau uang. Tapi aku tidak akan menjanjikan bertahan bila aku kehilangan diriku.'
'Dan jika Lucas tidak pernah mencintaimu?'
Callista menarik napas. 'Maka suatu hari aku harus cukup berani pergi.'
Ia menelepon Lucas, bukan Amanda. Begitu sambungan terangkat, Callista tidak memberi ruang bagi suaranya bergetar.
'Aku menerima pernikahan ini dengan revisi terakhir dari Evelyn. Tetapi ada satu hal yang tidak dapat ditulis kontrak.'
'Apa?'
'Jangan pernah mengira persetujuanku hari ini berarti aku akan menerima semua perlakuanmu besok.'
Lucas terdiam, lalu menjawab, 'Baik.'
Callista menutup telepon sebelum dapat mengharapkan lebih. Ia telah memilih sebuah pernikahan yang mungkin menghancurkan hatinya. Namun kali ini ia masuk bukan sebagai gadis yang hanya ingin ditatap Lucas. Ia masuk membawa nama, pengacara, pekerjaan, sahabat, dan hak untuk berubah pikiran.