Lucas mengajak Callista makan malam tanpa acara bisnis untuk pertama kali. Ia tidak menyerahkan daftar restoran kepada Ben. Ia bertanya tempat mana yang Callista sukai dan menerima ketika jawabannya sebuah restoran kecil dekat studio.
'Tidak ada ruang privat,' kata Lucas setelah melihat situsnya.
'Kita bisa duduk seperti pelanggan lain.'
'Media mungkin datang.'
'Kalau begitu kita pergi bila mengganggu.'
Mereka datang dengan satu petugas di luar. Pemilik mengenali Callista dari kafe dan menempatkan mereka dekat jendela. Lucas terlihat terlalu resmi, tetapi melepaskan jas setelah Callista mengejeknya.
Percakapan awal canggung. Mereka terbiasa membahas kontrak, rumah, dan masalah. Callista bertanya makanan masa kecil Lucas. Ia menjawab sup buatan Amanda yang sebenarnya terlalu asin. Lucas bertanya mengapa Callista memilih bekerja di layanan pelanggan. Ia bercerita tentang kebutuhan uang serta kepuasan mengingat orang dari pesanan kecil.
'Kau mengingat pesananku?' tanya Lucas.
'Kopi hitam, terlalu panas, tanpa gula. Kau juga selalu meletakkan uang tip seperti membayar denda.'
Lucas tersenyum. 'Aku tidak tahu jumlah yang tepat.'
'Karena kau tidak pernah bertanya.'
Mereka tertawa. Seorang pelanggan mengambil foto, tetapi tidak mendekat. Callista memilih tetap makan.
Setelahnya mereka berjalan menuju studio. Hujan turun dan Lucas membuka payung terlalu kecil. Bahu mereka bersentuhan. Callista merasakan ketertarikan yang selama ini ditahan oleh kewaspadaan.
Di depan studio, Lucas bertanya apakah ia boleh masuk. Callista mengizinkan. Bagian depan studio memiliki meja, sofa kecil, rak, dan alat pembuat kopi. Tidak ada staf atau sejarah Carissa.
'Ini sangat kau,' kata Lucas.
'Kau baru melihat empat dinding.'
'Tidak ada benda yang dipilih karena mahal.'
'Itu pujian yang masih terdengar seperti evaluasi.'
Lucas tertawa lagi. Callista mendekat dan menciumnya lebih dulu. Lucas membalas, lalu berhenti.
'Apakah kau ingin melanjutkan?'
'Aku ingin mencium. Aku belum tahu lebih dari itu.'
'Baik.'
Mereka duduk di sofa dan berciuman tanpa menjadikan setiap sentuhan izin bagi sentuhan berikutnya. Lucas bertanya sebelum menyentuh pinggang; Callista mengarahkan tangannya. Ketika napasnya berubah tegang karena ingatan honeymoon, ia berkata berhenti.
Lucas mundur segera. 'Apa kau baik-baik saja?'
'Aku teringat rekaman.'
Lucas tampak terluka, tetapi tidak meminta Callista meyakinkan dirinya berbeda. Ia menawarkan pergi atau membuat kopi. Callista memilih kopi.
Mereka berbicara tentang pemicu tersebut. Lucas mengaku suara rekaman juga mengganggunya karena masa lalunya digunakan sebagai senjata. Callista mengatakan pengalaman mereka berbeda: Lucas malu terhadap masa lalu; dirinya dibuat percaya dikhianati pada malam pernikahan.
'Aku tahu aku menciptakan jalan menuju itu,' kata Lucas.
'Dan aku tahu kau tidak melakukan hubungan malam itu. Tubuhku masih mengingat suara sebelum laporan.'
Mereka tidak mencoba lagi malam tersebut. Lucas pulang setelah hujan berhenti. Callista tidur di studio dan mengirim kabar sesuai kesepakatan.
Pada konseling, Miriam membantu membuat cara komunikasi saat kedekatan. Mereka memilih kata berhenti, lambat, dan lanjut, serta memastikan diam bukan persetujuan. Salah satu dapat berubah pikiran tanpa memberikan alasan lengkap.
Lucas bertanya apakah struktur sebanyak itu membuat hubungan terasa klinis. Callista menjawab struktur membuat dirinya cukup aman untuk spontan. Miriam mengatakan kebiasaan bertanya dapat menjadi alami seiring kepercayaan.
Minggu berikutnya, Callista mengajak Lucas ke studio lagi. Ia menyalakan musik, mematikan ponsel, dan mengatakan ingin mencoba lebih dekat. Lucas memastikan tidak ada alkohol atau obat yang mengganggu keputusan.
Mereka berciuman. Callista menggunakan kata lambat ketika perlu dan lanjut ketika siap. Kedekatan berkembang tanpa rincian yang perlu diketahui dunia. Ketika keduanya memilih masuk ke kamar kecil di belakang studio, pintu ditutup dan adegan menjadi milik mereka.
Pagi hari Lucas bangun lebih dulu di ranjang sempit. Ia tidak memotret, memesan sarapan mewah, atau menyebut malam itu bukti pernikahan pulih. Ia bertanya bagaimana perasaan Callista.
'Baik. Sedikit takut.'
'Aku juga.'
'Kau takut apa?'
'Bahwa aku akan menganggap kedekatan ini menjamin kau tinggal.'
Callista menggenggam tangannya. 'Tidak ada jaminan. Tapi aku memilih malam tadi.'
Lucas mencium punggung tangannya setelah bertanya. Mereka membuat sarapan dengan roti yang hampir gosong.
Ketika kembali ke rumah, mereka tetap tidur di kamar terpisah. Amanda tidak diberi laporan dan staf tidak mengubah pengaturan. Kedekatan fisik bukan pengumuman untuk menghapus batas ruang.
Beberapa malam kemudian, Lucas mengundang Callista ke kamarnya. Callista bertanya apakah ada barang Carissa yang akan membuat dirinya merasa masuk ke kenangan orang lain. Lucas telah memindahkan foto pribadi ke ruang kenangan, bukan menyembunyikan sejarah tetapi memisahkan ruang.
Callista masuk setelah melihat. Mereka hanya membaca bersama dan tertidur tanpa hubungan fisik. Malam yang tidak dijadwalkan telah membuka pintu, tetapi keduanya tidak berlari melewatinya.
Untuk pertama kalinya, Callista tidak merasa sedang menaklukkan lelaki dingin. Lucas juga tidak merasa menggantikan Carissa. Mereka menjadi dua orang dewasa yang dapat menginginkan, takut, berhenti, dan memilih kembali tanpa satu tubuh menjadi pembayaran bagi cinta yang belum sepenuhnya dinamai.
Mereka juga menjalani pemeriksaan kesehatan seksual secara terpisah. Lucas menyerahkan hasil relevan tanpa meminta Callista membuka catatan lain. Hubungan masa lalunya dengan Naomi membuat pemeriksaan diperlukan, bukan alasan mempermalukan siapa pun.
Callista memilih kontrasepsi yang dapat ia hentikan sendiri setelah berkonsultasi dengan dokter. Lucas menawarkan ikut biaya melalui rekening bersama dan tidak bertanya rincian di luar dampak yang perlu mereka ketahui. Keputusan tersebut membuat kedekatan terasa lebih bertanggung jawab daripada spontanitas tanpa persiapan.
Masalah muncul ketika Lucas sekali menganggap ciuman Callista sebagai ajakan melanjutkan. Callista berkata berhenti dan Lucas segera mundur, tetapi ia tampak kecewa. Kekecewaan itu membuat Callista merasa bersalah.
Pada konseling, Miriam menjelaskan orang boleh kecewa tanpa menjadikan pihak lain bertanggung jawab menghilangkan perasaan. Lucas belajar mengatakan, 'Aku kecewa, tetapi keputusanmu tetap aman.' Callista belajar tidak menawarkan kembali hanya untuk meredakan wajah Lucas.
Mereka membuat kebiasaan bertanya setelah kedekatan: apa yang nyaman, apa yang tidak, dan apa yang tidak perlu dibahas saat itu. Tidak semua jawaban menjadi evaluasi panjang. Kadang Callista hanya berkata ingin tidur, dan Lucas mematikan lampu.
Satu malam Lucas mengalami mimpi buruk tentang kecelakaan setelah mereka tidur bersama. Ia terbangun menyebut nama Carissa. Callista merasakan luka, tetapi tidak pergi diam-diam. Ia membangunkan Lucas dan bertanya apakah ingin ruang atau bantuan.
'Ruang,' jawabnya dengan napas berat.
Callista kembali ke kamar biru. Esok pagi Lucas meminta maaf, bukan karena bermimpi, tetapi karena Callista mungkin merasa dibandingkan. Mereka membahas dalam terapi. Duka dapat hadir setelah kedekatan tanpa berarti kedekatan baru palsu.
Callista tidak menuntut nama Carissa hilang dari tidur Lucas. Ia hanya meminta Lucas tetap hadir ketika terbangun. Lucas menyetujui. Cinta lama dan tubuh baru tidak harus bertanding, tetapi orang hidup tetap membutuhkan perhatian setelah pintu masa lalu terbuka tanpa sengaja.