Callista terpilih memimpin uji kurikulum di tiga kota selama dua belas minggu. Tugas itu bukan promosi jabatan, tetapi membutuhkan dirinya tinggal bergantian di Baltimore, Philadelphia, dan Richmond. Ia hanya pulang setiap dua akhir pekan.
Ketika memberi tahu Lucas, jawaban pertamanya adalah bertanya apakah jadwal dapat diubah.
'Bisa,' kata Callista. 'Kalau aku menolak tugas.'
'Aku tidak memintamu menolak.'
'Kau langsung mencari cara mengubah jaraknya.'
Lucas menyadari itu. Ia meminta waktu sebelum menjawab lagi. Malamnya ia mengatakan rasa takut muncul karena rumah baru belum terasa tetap dan Callista akan pergi ketika ia masih belajar hidup tanpa kantor dan baru meninggalkan alamat lama.
'Aku mengerti takutmu,' kata Callista. 'Tapi aku tidak bisa menjadi benda terakhir yang tidak bergerak.'
'Aku tahu.'
Mereka membawa persoalan ke Miriam sebelum perjalanan dimulai. Jadwal komunikasi dibuat sebagai pilihan, bukan pengawasan. Mereka sepakat melakukan panggilan video tiga kali seminggu, memberi kabar bila rencana malam berubah, dan tidak menuntut lokasi langsung. Jika salah satu tidak sanggup bicara, pesan singkat cukup.
Lucas bertanya apakah boleh mengunjungi kota tempat Callista bekerja. Callista menyetujui satu akhir pekan setelah minggu keempat, selama ia tidak muncul di pelatihan tanpa undangan atau mengubah perjalanan menjadi pemeriksaan.
'Aku ingin menjadi suamimu, bukan petugas inspeksi,' katanya.
'Kalimat yang bagus. Tindakannya akan dinilai.'
Minggu pertama, Lucas mengirim terlalu banyak pesan. Ia menanyakan apakah Callista sudah makan, tiba di hotel, mengunci pintu, dan mengenal sopir. Pada hari ketiga, Callista menelepon.
'Empat belas pesan sebelum makan siang terasa seperti aku sedang melapor.'
'Aku hanya khawatir.'
'Khawatir adalah perasaanmu. Pesan itu menjadi pekerjaan untukku.'
Lucas meminta maaf. Mereka mengubah aturan: satu pesan pagi, satu malam, kecuali darurat atau percakapan alami yang dijawab keduanya. Lucas mematikan notifikasi perjalanan yang sebelumnya dikirim kalender bersama.
Tanpa Callista, rumah terasa terlalu sunyi meski lebih kecil. Lucas mencoba mengisi waktu dengan mengunjungi Amanda setiap hari. Pada kunjungan ketiga, Amanda menolak membukakan pintu karena sedang bermain kartu bersama tetangga.
'Kau boleh datang hari Minggu,' katanya melalui telepon. 'Aku tidak menjadi pekerjaanmu juga.'
Lucia tertawa ketika mendengar cerita itu, tetapi juga menolak makan malam mendadak karena sudah memiliki rencana dengan Dave. Lucas tersinggung selama satu jam, lalu menyadari keluarganya sedang memakai batas yang ia katakan dukung.
Ia memperluas hidupnya pelan-pelan. Kelas arsip berlanjut. Ia bergabung dengan kelompok dukungan untuk mantan eksekutif yang kehilangan jabatan, tetapi keluar dari pertemuan pertama karena beberapa peserta hanya membicarakan cara merebut posisi berikutnya. Dr Helen menyarankan mencari kelompok duka dan identitas, bukan jaringan karier.
Kelompok kedua berisi pensiunan, orang yang kehilangan kemampuan karena sakit, serta seorang atlet yang kariernya berakhir akibat cedera. Lucas memperkenalkan diri tanpa menyebut nilai saham.
'Aku tidak tahu apa yang membuat hariku berarti kalau tidak ada keputusan besar,' katanya.
Seorang mantan perawat menjawab, 'Mungkin arti tidak selalu terasa besar.'
Lucas mulai menjadi sukarelawan dua pagi dalam seminggu di pusat dokumentasi. Ia juga belajar memasak lima hidangan, bukan agar Callista memujinya, tetapi karena dirinya perlu makan. Hidangan pertama terlalu asin. Ia menghabiskannya selama tiga hari alih-alih memanggil koki.
Callista mengalami kesulitan sendiri. Di Baltimore, seorang koordinator lokal menolak metode dari New York dan mengatakan kurikulum tidak memahami pekerja hotel yang sebagian besar memakai bahasa berbeda. Callista ingin membela hasil audit, lalu mengingat kritik terhadap kepemimpinannya.
Mereka menerjemahkan materi bersama pekerja dan menghapus contoh yang tidak relevan. Jadwal mundur satu minggu. Mateo tidak memarahinya; ia meminta dokumentasi alasan agar kota lain dapat belajar.
Pada panggilan malam, Callista bercerita tentang kesalahan itu. Lucas mendengarkan lalu bertanya apakah ia ingin saran.
'Tidak. Aku ingin mengeluh lima menit.'
'Waktumu dimulai sekarang.'
Callista tertawa. Lima menit menjadi dua puluh, tetapi keputusan memperpanjang tetap miliknya.
Akhir pekan kunjungan, Lucas datang naik kereta dan menginap di hotel yang sama tanpa meminta kamar Callista. Mereka makan di restoran kecil, berjalan di pelabuhan, dan kembali setelah saling bertanya ingin tidur bersama atau tidak. Callista mengundangnya. Keintiman mereka tidak menjadi bukti jarak gagal; pagi hari Lucas tetap pulang sesuai jadwal.
Pada minggu kedelapan, Callista melewatkan panggilan karena ponselnya mati. Lucas mengalami serangan panik ringan. Ia menelepon hotel sekali, mengetahui Callista sudah masuk kamar, lalu berhenti. Ia memakai latihan napas, menghubungi anggota kelompok dukungan, dan mengirim satu pesan.
Callista menelepon pagi hari. 'Aku minta maaf tidak memberi kabar.'
'Aku takut. Tapi aku tidak mengirim keamanan atau datang.'
'Terima kasih sudah mengelola takutmu tanpa menjadikannya kurungan.'
Mereka membahas cadangan pengisi daya dan nomor darurat yang hanya dipakai bila benar-benar perlu. Callista juga mengakui aturan kabar malam telah disepakati, sehingga kelalaiannya berdampak. Kesetaraan tidak berarti perasaan Lucas selalu dianggap kontrol.
Dua belas minggu berakhir dengan enam kota memakai kurikulum yang telah diubah. Callista pulang membawa satu koper, tumpukan catatan, dan kebiasaan tidur diagonal di ranjang hotel. Lucas menjemput di stasiun tanpa pengawal. Ia tidak membawa bunga besar, hanya roti yang disukai Callista.
Di rumah, beberapa benda berpindah. Lucas membuat sudut baca sendiri dan menanam tanaman yang hampir mati. Callista merasa asing sesaat, lalu senang bahwa rumah tidak membeku menunggunya.
'Aku merindukanmu,' kata Lucas.
'Aku juga.'
'Aku baik-baik saja saat kau pergi. Tidak setiap hari, tapi cukup.'
'Aku senang. Aku tidak ingin ketidakhadiranku menghancurkanmu.'
Mereka membongkar koper bersama setelah Callista meminta bantuan. Jarak tidak membuktikan cinta mereka lemah atau kuat. Jarak hanya menunjukkan bahwa hubungan dapat meregang tanpa salah satu orang menarik begitu keras hingga yang lain kehilangan bentuk.
Malam itu Callista memilih tidur sendiri karena lelah. Lucas kembali ke kamarnya dan membaca. Pintu di antara mereka tidak ditutup dengan marah. Keesokan pagi mereka bertemu di dapur sebagai dua orang yang telah menjalani hari-hari terpisah dan masih ingin berbagi sarapan.