Setelah dua tahun menikah, Dave mengatakan ia ingin mulai mencoba memiliki anak. Ia menyampaikannya dalam sesi konseling yang masih mereka jalani setiap tiga bulan, bukan saat makan keluarga atau setelah melihat bayi teman.
Lucia menjawab bahwa dirinya belum ingin dan mungkin tidak akan pernah ingin hamil. Kata mungkin membuat Dave meminta kepastian. Lucia tidak memilikinya.
'Dulu kau bilang belum tahu,' katanya.
'Sekarang aku masih belum tahu. Waktu tidak otomatis mengubah belum menjadi ya.'
Dave mengakui keinginannya semakin jelas. Ia membayangkan menjadi ayah, mengajari seorang anak memasak, dan membangun keluarga yang berbeda dari rumahnya sendiri. Ia tidak ingin memaksa Lucia, tetapi juga takut menunda sampai pilihan biologis semakin sempit.
Terapis meminta mereka tidak mencari kompromi palsu. Anak tidak dapat dimiliki setengah. Salah satu tidak boleh setuju hanya untuk mempertahankan pernikahan, dan yang lain tidak wajib meninggalkan keinginan mendalam agar tampak mencintai.
Mereka pulang ke apartemen masing-masing untuk satu minggu. Bukan perpisahan, melainkan ruang berpikir tanpa setiap sarapan menjadi negosiasi. Lucia memberi tahu keluarga hanya bahwa mereka sedang membahas keputusan pribadi.
Amanda menebak dan menelepon Callista. 'Aku ingin membantu, tapi aku tahu aku seharusnya tidak bertanya.'
'Kalau begitu jangan,' kata Callista.
'Sulit sekali menjadi ibu yang lebih baik.'
'Sulit bukan berarti Lucia harus membayar latihanmu.'
Amanda tidak menghubungi Lucia tentang cucu. Ia mengirim pesan bahwa dirinya tersedia bila diminta dan berhenti di sana.
Lucas juga ingin bicara kepada Dave, tetapi Callista bertanya apakah Dave meminta nasihat. Lucas mengatakan tidak. Ia mengajak Dave bermain basket seperti biasa dan tidak menyebut anak. Dave akhirnya membuka topik sendiri.
'Kalau Lucia tidak pernah ingin, apakah meninggalkannya membuatku jahat?' tanyanya.
'Tidak,' jawab Lucas setelah berpikir. 'Memaksanya akan jahat. Mengakui kalian menginginkan hidup berbeda bisa menyakitkan tanpa ada penjahat.'
'Kau akan membenciku?'
'Aku akan membenci melihat adikku terluka. Tapi pernikahanmu bukan janji kepadaku.'
Lucia berbicara kepada Callista di studio. Ia takut keengganannya berasal dari penolakan terhadap tekanan keluarga, bukan keinginannya sendiri. Selama bertahun-tahun cucu telah menjadi tugas yang dilempar antara dirinya dan Lucas.
'Bagaimana kau tahu kau belum ingin?' tanyanya.
'Aku melihat hidup yang kupilih sekarang dan tidak ingin tubuh serta waktuku berubah seperti itu,' jawab Callista. 'Alasanku bisa berubah. Hari ini tetap cukup.'
'Bagaimana kalau aku menyesal saat terlambat?'
'Kau mungkin menyesal dengan keputusan apa pun. Tidak ada pilihan yang menghapus semua kehidupan lain.'
Lucia mencari konselor reproduksi sendiri. Ia mempelajari kehamilan, pembekuan sel telur, adopsi, pengasuhan, dan hidup tanpa anak. Informasi tidak menghasilkan hasrat yang belum ada. Ia menolak membekukan sel telur hanya untuk membeli waktu karena prosedur, biaya, dan tubuhnya bukan polis asuransi sederhana.
Dave menjalani konseling individual. Ia menemukan sebagian bayangannya tentang anak berkaitan dengan keinginan membuktikan dirinya dapat menjadi ayah yang hadir. Terapis mengingatkan bahwa anak bukan kesempatan memperbaiki masa kecil orang tua. Meski begitu, setelah motif itu diperiksa, Dave tetap ingin menjadi ayah.
Empat minggu kemudian mereka kembali ke sesi bersama. Lucia mengatakan dirinya tidak ingin hamil dalam masa yang dapat ia bayangkan dan tidak dapat menjanjikan perubahan. Ia terbuka menjadi orang dewasa penting bagi anak dalam komunitas, tetapi tidak ingin mengasuh penuh hanya sebagai kompromi.
Dave mengatakan keinginan menjadi ayah tetap besar. Mereka menangis sebelum keputusan apa pun dibuat. Terapis membantu menyusun masa evaluasi enam bulan dengan aturan bahwa tidak ada pihak menekan, mencari kehamilan diam-diam, atau menganggap hubungan otomatis berakhir pada tanggal tertentu.
Mereka kembali tinggal bersama sebagian minggu, mempertahankan apartemen, dan membicarakan hal lain. Masa enam bulan bukan audisi Lucia untuk berubah. Dave juga tidak diwajibkan menghilangkan keinginannya.
Pada bulan ketiga, Dave mulai menjadi relawan di program memasak remaja. Ia menikmatinya, tetapi tidak menyebut pengalaman itu pengganti anak. Lucia sesekali membantu administrasi tanpa memaksa diri merasakan naluri keibuan.
Pada bulan kelima, seorang teman mengumumkan kehamilan. Dave pulang sedih dan berkata ia iri. Lucia mendengarkan tanpa meminta maaf karena tidak memberi hal yang sama. Malam berikutnya Lucia menangis karena membayangkan kehilangan pernikahan. Dave memeluk setelah bertanya, tanpa mengatakan ia akan mengorbankan semuanya.
Ketika enam bulan selesai, jawaban mereka belum bertemu. Dave tetap ingin anak. Lucia tetap tidak ingin menjadi orang tua. Mereka memperpanjang bukan karena takut mengambil keputusan, melainkan karena ingin memeriksa apakah bentuk hubungan lain mungkin tanpa salah satu menunggu yang lain berubah.
Mereka berkonsultasi tentang perpisahan percobaan. Keuangan dibagi sesuai perjanjian pranikah, kontrak sewa apartemen tetap atas nama masing-masing, dan terapi berlanjut. Keluarga diberi tahu setelah rencana jelas.
Amanda menangis, tetapi tidak meminta Lucia memberi cucu demi mempertahankan Dave. Lucas menawarkan rumahnya, lalu Lucia mengingatkan ia sudah mempunyai tempat tinggal sendiri. Callista hanya bertanya kapan Lucia ingin ditemani.
Perpisahan berlangsung tiga bulan. Dave tinggal sendiri dan menyadari kerinduannya kepada Lucia tidak menghapus keinginan menjadi ayah. Lucia merindukan Dave tetapi merasa tubuhnya lebih tenang ketika pertanyaan anak tidak hadir setiap hari.
Pada sesi terakhir, mereka memilih bercerai dengan mediasi. Tidak ada perselingkuhan, kekerasan, atau cinta yang tiba-tiba hilang. Mereka hanya menemukan satu masa depan yang tidak dapat dijalani bersama tanpa mengkhianati seseorang.
'Aku mencintaimu,' kata Dave.
'Aku juga mencintaimu,' jawab Lucia. 'Itu sebabnya aku tidak akan menjanjikan anak yang tidak kuinginkan.'
Perceraian diselesaikan tanpa perang aset. Mereka menjual beberapa barang bersama, menyimpan hadiah pribadi, dan memutuskan tidak memaksa persahabatan segera. Dave keluar dari grup percakapan keluarga Dixie atas pilihannya sendiri. Amanda mengirim satu pesan terima kasih karena pernah mencintai Lucia, tanpa memintanya kembali.
Lucia memakai kembali apartemennya sebagai rumah penuh. Malam pertama terasa lebih menyakitkan daripada ketika ia belajar hidup sendiri dahulu. Namun rasa sakit bukan bukti keputusan salah. Ia telah memilih tidak memakai tubuh, anak yang belum ada, atau harapan Dave sebagai harga mempertahankan bentuk pernikahan.
Jawaban mereka memisahkan. Tidak ada cara menghiasnya menjadi kemenangan. Tetapi perpisahan yang jujur menjaga sesuatu yang cinta mereka dahulu ajarkan: pasangan bukan milik, kesetiaan bukan penyerahan masa depan, dan akhir sebuah pernikahan tidak otomatis berarti semua yang dijalani di dalamnya gagal.