Empat tahun setelah ulang tahun pertama, Alina memiliki rambut gelap, pertanyaan tanpa akhir, dan kebiasaan menyimpan batu di saku. Ia mengenal nama lengkapnya, tetapi menyebut dirinya Alina saja ketika orang bertanya.
Menjelang masuk taman kanak-kanak, Lucas membuat daftar dua belas sekolah. Tiga memiliki keamanan ketat, kelas kecil, dan jalur langsung menuju universitas terkenal. Salah satu kepala sekolah menawarkan kunjungan pribadi setelah mengetahui nama keluarga Alina.
Callista bertanya apakah semua calon murid mendapat kunjungan yang sama. Jawabannya tidak. Sekolah menyebutnya penghormatan bagi keluarga yang telah memberi kontribusi, meski Lucas belum pernah menyumbang.
'Mereka sudah menghitung uang yang mungkin datang,' kata Callista.
'Keamanan mereka terbaik.'
'Keamanan bukan alasan menerima kursi yang anak lain tidak dapat.'
Lucas mengatakan Alina akan dinilai melalui proses biasa. Dua hari kemudian kantor penerimaan mengirim surel bahwa ruang selalu dapat ditemukan bagi keluarga penting. Lucas meneruskan pesan itu kepada komite etik sekolah dan menarik pendaftaran.
'Kau kecewa?' tanya Callista.
'Ya. Sekolahnya bagus.'
'Menolak keuntungan tidak membuat keuntungan berhenti ada.'
'Aku tahu. Setidaknya kita tidak pura-pura prosesnya adil.'
Mereka mengunjungi sekolah negeri lingkungan, sekolah swasta kecil tanpa seleksi donor, dan program pendidikan alternatif. Alina ikut dalam kunjungan singkat, tetapi tidak diminta memilih berdasarkan brosur yang belum dipahaminya.
Di sekolah lingkungan, ia tertarik pada kebun kecil dan seekor cacing. Kelas lebih besar, gedung tua, dan keamanan mengandalkan pintu masuk tunggal serta staf terlatih, bukan pengawal bersenjata.
Lucas melihat cat mengelupas dan ingin membayar renovasi. Kepala sekolah mengatakan sumbangan boleh diberikan melalui yayasan distrik tanpa menjamin kelas, perlakuan, atau papan nama.
'Kalau kami menyumbang, apakah anak kami mendapat keuntungan?' tanya Lucas.
'Ia mendapat gedung lebih baik bersama semua anak,' jawab kepala sekolah. 'Tidak ada jalur khusus.'
Mereka memilih sekolah itu setelah menilai kebutuhan belajar Alina dan berbicara kepada beberapa orang tua. Sumbangan diberikan anonim melalui dana fasilitas seluruh distrik, tidak hanya sekolah Alina. Jumlahnya dibatasi agar satu keluarga tidak menentukan prioritas.
Aturan hadiah guru juga berlaku sama. Lucas tidak boleh memberi perjalanan atau bonus pribadi pada akhir semester. Bila keluarga ingin berterima kasih, mereka mengikuti batas nilai yang ditetapkan sekolah atau menyumbang ke dana kelas bersama. Guru Alina tidak perlu merasa penilaian jujur dapat menghilangkan bantuan besar bagi sekolah.
Masalah berikutnya adalah keamanan pribadi. Tim Lucas mengusulkan petugas mengikuti Alina ke kelas. Sekolah menolak orang luar berada di ruang belajar. Mereka menyepakati pengemudi terverifikasi, satu petugas di luar area sekolah tanpa seragam mencolok, dan protokol komunikasi yang dikendalikan sekolah saat Alina berada di dalam.
'Kalau ada ancaman nyata?' tanya Lucas.
'Protokol berubah berdasarkan penilaian bersama,' jawab kepala sekolah. 'Bukan hanya rasa takut orang tua.'
Lucas menerima dengan susah. Ia juga meminta Alina tidak dicantumkan dalam foto daring. Sekolah memiliki kebijakan pilihan privasi bagi semua murid, sehingga permintaan tidak memerlukan perlakuan khusus.
Callista dan Lucas berbicara kepada Alina dengan bahasa sederhana. Mereka menjelaskan sebagian orang mungkin mengenali nama ayahnya, foto tidak boleh diambil tanpa izin, dan ia dapat memberi tahu guru bila ada pertanyaan yang membuat tidak nyaman.
'Kenapa nama Daddy dikenal?' tanya Alina.
'Karena Daddy dulu memimpin perusahaan besar dan keluarga Daddy membuat keputusan baik serta buruk yang diberitakan,' jawab Lucas.
'Daddy jahat?'
Lucas menahan napas. 'Daddy pernah melakukan hal yang menyakiti orang dan pernah tidak melihat hal buruk di perusahaan. Daddy berusaha bertanggung jawab. Manusia tidak hanya satu kata.'
Alina berpikir lalu menunjukkan batu baru. Percakapan cukup untuk usianya dan akan diulang saat ia mampu memahami lebih banyak.
Hari pertama sekolah, Lucas ingin mengantar sampai meja. Orang tua hanya boleh sampai pintu kelas. Ia berlutut di depan Alina.
'Kalau kau ingin pulang, bilang kepada gurumu.'
'Aku mau lihat cacing.'
Callista membantu melepas satu batu dari saku karena terlalu besar. Alina menyimpan dua yang kecil. Ia masuk tanpa menangis, lalu berbalik melambaikan tangan.
Lucas tetap berdiri setelah pintu tertutup.
'Kita harus pergi,' kata Callista.
'Lima menit.'
'Semua orang tua diminta meninggalkan lorong.'
Lucas berjalan keluar. Petugas keamanan tidak melaporkan setiap gerakan Alina. Selama enam jam, guru menjadi orang dewasa yang bertanggung jawab dan orang tua mereka harus menunggu.
Callista pergi ke kantor tim riset. Ia kini memimpin proyek dengan masa jelas, bukan seluruh koperasi. Lucas mengajar dua kelas arsip dan menjaga jadwal penjemputan sebagai tugasnya.
Pukul dua, Lucas tiba dua puluh menit terlalu awal. Ia berdiri bersama orang tua lain tanpa jalur khusus. Seorang ayah mengenalinya dan meminta foto. Lucas menolak dengan sopan karena anak-anak akan keluar.
Alina berlari membawa gambar tiga garis hijau.
'Ini cacing dan rumahnya,' katanya.
'Bagaimana harimu?'
'Aku tidak mau cerita semua.'
Lucas hampir tertawa. 'Baik. Apa yang mau kau ceritakan?'
Alina mengatakan guru membaca buku, seorang anak mengambil krayonnya, dan ia mengambil kembali setelah berkata masih memakai. Lucas tidak menelepon sekolah menuntut laporan tentang krayon. Ia bertanya apakah Alina merasa masalah selesai. Alina mengangguk.
Malamnya foto buram Alina memasuki sekolah muncul di situs gosip. Wajahnya ditutup sebagian karena aturan media, tetapi nama disebut. Pengacara mengirim permintaan penghapusan dan sekolah mengingatkan orang tua tentang foto di gerbang tanpa menuduh siapa pun.
Lucas ingin mengganti sekolah. Callista berkata satu pelanggaran tidak otomatis berarti tempat tidak aman. Mereka menilai bersama kepala sekolah dan memperbaiki zona penjemputan. Alina tetap masuk keesokan hari.
Pintu sekolah itu sama bagi semua murid. Dalam kenyataan, Alina membawa kekayaan, nama, serta perlindungan yang tidak dimiliki banyak anak. Lucas dan Callista tidak dapat menghapus perbedaan hanya dengan memilih sekolah biasa. Mereka dapat menolak membeli pintu lain, membuka sumber daya bagi lebih banyak anak, dan mengajarkan Alina bahwa kesempatan bukan bukti dirinya lebih pantas.
Pada Jumat pertama, Alina masuk tanpa menoleh. Lucas merasa kehilangan kecil lalu membiarkannya. Pagar tidak dibangun lebih tinggi. Pintu tertutup selama kelas dan dibuka kembali pada waktunya, bukan karena nama Dixie mengetuk.