Tubuh Ferdi jatuh tersungkur di lantai setelah terdengar sebuah pukulan keras. Bila membuka matanya takut-takut dan menemukan Jac ada di depannya. Wajah Bila sepenuhnya sudah basah oleh air mata. Ia menghambur ke pelukan Jac. Jac berusaha menenangkan Bila dengan mengelus punggungnya. "Tidak apa-apa, ada aku di sini. Kamu aman sama aku," bisiknya. Bila masih sesenggukan dalam pelukannya.
Ferdi mencoba bangkit dan merintih merasakan sekitar perutnya yang sakit. Bagian itu tadi mendapat tendangan keras dari Jac, untuk melepaskan rengkuhannya pada tubuh Bila.
Ketiganya berbicara di ruang tamu rumah Bila saat keadaan lebih tenang. Ferdi mendapatkan kesadarannya penuh setelah mendapat pukulan tadi. Bila tidak mau menatap wajah Ferdi lagi. Kebenciannya semakin memuncak pada pria masa lalunya itu. Bila hanya menunduk atau menyembunyikan wajahnya di d**a Jac. Tangan Jac senantiasa memeluk erat bahu gadisnya itu. Memberikan rasa aman.
Ferdi berkali-kali memohon maaf atas perbuatannya tadi dengan alasan dirinya tidak sadar. Tapi reaksi Bila hanya menggelengkan kepalanya di d**a Jac. Tidak menerima permohonan itu. Bisa dipastikan akan menjadi ketakutan lagi bagi Bila. Trauma.
"Kau pulang saja, Bila sepertinya tidak bisa menerimanya sekarang. Mungkin saat dia sudah tenang nanti, dia bisa memikirkannya."
Tatapan Ferdi semakin memohon. Tapi tidak ada reaksi dari Bila. Ferdi menghela nafas dan menghembuskannya dengan kasar. "Maafin aku, Bil," katanya lagi sebelum akhirnya bangkit dari duduknya. Matanya menatap Bila, merasa bersalah. Kemudian melangkah meninggalkan keduanya.
Jac meraih wajah Bila dengan kedua tangannya. Wajah yang tadi tersenyum senang, hingga menangis histeris, kini terlihat sangat lelah. Memerah karena kelamaan menangis. Matanya juga sayu, antara lelah menangis dan mengantuk. Dikecupnya singkat kening dan bibir mungil itu. Ibu jarinya bergerak menghapus sisa air mata di wajah Bila. "Semua baik-baik saja sekarang. Aku ada di sini bersamamu," bisiknya.
"Bagaimana kalau dia balik lagi ke sini?" tanya Bila. Bukan ingin bermanja-manja, tapi ingatannya akan hal tadi masih membayanginya.
Jac menggeleng pelan meyakinkan Bila dengan senyum tipis di bibirnya. "Tidak akan. Dia tidak akan berani balik ke sini." Dipeluknya lagi tubuh mungil kekasihnya. Menenangkannya semampunya. "Kamu harus istirahat. Kamu pasti lelah," tambah Jac.
Bila mengangguk. Benar. Dia memang lelah dan butuh istirahat. Tapi setelah semuanya, bagaimana dia bisa istirahat dengan tenang.
Bila menarik nafas. Bagaimanapun juga, dia harus mencobanya. Tidak boleh menyusahkan orang lain, sekalipun itu adalah kekasihnya sendiri. Mencoba mandiri akan lebih baik. Bukankah dia telah mandiri selama ini? Menghilangkan pikiran buruk itu dengan membayangkan hal yang indah sepertinya cukup ampuh.
"Aku akan istirahat, kamu pulanglah."
Jac menatap mata gadisnya dengan setengah ragu tapi kemudian meyakinkan dirinya sendiri juga. Sama seperti yang dilakukan Bila sebelumnya. "Pastikan semuanya terkuci rapat dan jangan sembarangan membuka pintu. Kalau aku yang datang, aku pasti akan memberitaukanmu lebih dulu."
Bila mengangguk lemah. "Hm, kamu kenapa datang lagi? Ada yang ketinggalan?" tanya Bila saat teringat kenapa pria ini ada di rumahnya di saat yang tepat.
"Oh, itu tadi dompet kamu terjatuh di mobil. Kayaknya kamu nggak merhatiin. Itu, ada di dekat tv," tunjuk Jac ke arah tv yang memang dompetnya ada di sana. "Ya, karena aku juga merindukanmu, sebenarnya," seloroh Jac. "Hatiku merasa ada yang tidak beres dan pikiranku langsung tertuju padamu. Aku hampir terlambat."
"Kamu pulanglah, aku baik-baik saja." Bila bangkit dari duduknya.
Jac mengikutinya berdiri. Hatinya berteriak ingin menemani Bila di rumah ini, tapi tidak ingin mengakuinya. Sulit sekali mengatakannya. Gadisnya itu bukan gadis lemah. Ia sendiri juga meyakinkan dirinya kalau semua akan baik-baik saja seperti apa yang disampaikannya pada Bila. Jac mengecup kening Bila cukup lama. Beralih ke hidung kecil nan mancung dan berakhir di bibir. Ia melumat sebentar bibir mungil itu kemudian mengecup singkat. "Aku pulang dulu," bisiknya.
Bila memasuki kamarnya setelah mengantarkan Jac sampai ke pintu depan. Ia menutup serta hingga seluruh wajahnya. Memaksa matanya untuk terpejam.
***
Bila melakukan pengecekan di keseluruhan rumahnya. Memeriksa rumahnya kalau masih dalam keadaan aman. Takut kalau saja seseorang muncul di rumahnya. Aman. Akhirnya Bila memulai aktivitasnya.
Jac muncul di depan rumahnya dan membunyikan klakson mobilnya. Jac memang sudah memberitaukan kalau dia akan mengantar jemput Bila, memastikannya dalam keadaan aman. Terkesan memanjakan memang, dan Bila sedikit tidak menyukainya. Ia menerima tawaran itu untuk menghargainya. Tidak ingin membuatnya kecewa, sekaligus merasa terlindungi dengan hal itu. Jac sudah mengorbankan dirinya menjado supir Bila yang selama ini bahkan menggunakan jasa supir pribadi.
"Selamat pagi. Tidur kamu nyenyak?"
Bila hanya menggumam pelan sembari memasangkan sabuk pengamannya.
Jac sengaja mengendarai mobil sport miliknya yang hanya bisa menampung dua orang saja untuk menghindari Jaz meminta ikut padanya. Menurutnya, kehadiran gadis yang hanya beda dua tahun dengannya itu hanya akan mengacaukan rencananya. Mobil ini hanya sesekali dia gunakan. Biasanya dia akan mengendarai atau dijemput oleh supir menggunakan sedan mewah.
"Kenapa membawa mobil ini?" tanya Bila saat mereka sudah mulai bergerak meninggalkan rumah.
"Menghindari pengacau memaksa ikut," jujur Jac.
Bila menatap wajah Jac, mencari tau siapa yang dimaksudkannya. Ah, Bila tau. "Berhenti mengatainya seperti itu. Bagaimanapun juga, dia adalah adikmu. Dan sifat kalian juga sama. Jadi, kamu mengatainya sama saja kamu mengatai dirimu sendiri."
"Dan kamu juga berhenti terlalu baik padanya. Berhenti membelanya, terlebih itu di hadapanku."
"Seperti itu sikapmu sebagai kakak?" Bila menatap tajam.
"Lupakan saja. Nanti aku akan menjemputmu pada jam makan siang. Kita akan makan siang bersama."
"Makan siang di luar itu butuh waktu yang lama. Aku akan terlambat masuk. Lagipula kenapa harus makan siang bersama? Yang penting tidak melewatkan makan siang kan, demi menjaga kesehatan. Tidak perlu berlebihan. Baru satu malam saja kamu sudah menunjukkan sifat menyebalkan itu."
Jac menepikan mobilnya. Menatap dalam ke arah Bila. "Apa yang kamu maksud? Kamu tidak menyukainya?"
"Hm..." Bila menjawabnya sesantai mungkin. Tidak terpengaruh sama sekali akan tatapan Jac.
"Hei, lihat aku." Jac meraih dagu Bila. "Kamu itu milik aku sekarang, dan aku orang yang tidak akan melepaskan milikku begitu saja. Apalagi ada kejadian seperti semalam, bagaimana aku bisa tenang meninggalkanmu sendirian? Katakan aku posesif atau apa, aku tidak peduli. Yang pasti aku akan menjaga milikku, bagaimanapun caranya. Aku mengkhawatirkan kamu, sayang." Suara Jac melembut.
"Tapi aku tidak sendirian, Jac. Bagaimana kamu menyimpulkan kalau aku sendirian? Di kantor itu ada banyak orang lain. Sangat banyak. Kalau ada yang berniat mencelakaiku, ada banyak yang bersedia membantuku."
Hening seketika. "Ayo cepat, aku akan terlambat. Percuma kamu menjemputku kalau membuatku terlambat masuk kerja. Aku bukan seperti dirimu yang bisa datang sesuka hati ke kantor tanpa memikirkan akan dipecat oleh atasan. Ayo."
Jac melajukan kembali mobilnya tanpa menanggapi Bila.
"Hm, kenapa kamu tidak pindah saja ke kantorku? Dulu sudah aku berikan kartu nama kalau butuh bantuan, kenapa tidak menggunakannya?" Jac tiba-tiba saja teringat kejadian itu saat menyinggung masalah pekerjaan.
"Ah, saat itu aku sudah interview dan hanya hanya menunggu panggilan saja. Aku juga sudah memasukkan banyak lamaran di beberapa perusahaan. Sebagian memang sudah menolak dengan alasan tidak memenuhi kriteria. Perusahaan kecil saja ada yang menolakku dengan alasan itu. Bagaimana mungkin aku punya kepercayaan untuk melangkahkan kaki memasuki perusahaan besar milikmu?"
"Tapi buktinya kamu malah melamar di kantormu yang sekarang."
Bila menarik nafas. "Itu kan memasukkan lamarannya sebelum mendapat penolakan dari mana-mana. Aku juga tidak terlalu berharap mereka menerimaku setelah interview itu. Kalau saja mereka memang tidak menerima, berarti aku akan berarti aku akan berakhir di klub dan cafe."
"Ah, sudah sampai. Aku pergi dulu ya. Sampai ketemu nanti."
"Bye, aku akan menjemputmu nanti. Kita makan di cafe sebelah saja biar tidak terlalu lama."
Bila hanya berdehem singkat, kemudian keluar. Memasuki gedung tinggi yang menjadi tempatnya mencari uang. Kalau dia menanggapi celotehan jac, bisa-bisa dia benar-benar terlambat masuk.
"Pacar atau suami?" tanya Mr. Xanders yang tiba-tiba saja muncul di sebelah Bila. Mengikuti langkah cepat Bila yang mengejar waktu untuk absen karyawan. Bila sampai terjingkat kaget akan kehadiran pria tampan yang tegas itu, sedetik kemudian menundukkan kepala menghormatinya namun tidak menghentikan langkahnya. Hanya sedikit mengurangi kecepatan langkahnya saja. Mr. Xanders melihatnya tadi?
"Oh, masih pacar, mister," jawab Bila sedikit malu, namun tetap mengakuinya.
"Dia pria yang beruntung bisa memilikimu, Sabila. Saya harap kalian bahagia."
Bila tak percaya dengan apa yang didengarnya. Apa maksud pria itu mengatakannya. Uh, lebih baik tidak berpikiran lebih jauh, Bil, batinnya. Ingin mencari maksud di baliknya, tapi tidak berani menatap pria yang ada di sebelahnya. Keduanya kini menaiki lift yang sama menuju ruangannya. Tidak hanya berdua, ada beberapa karyawan lain yang juga baru tiba.
"Hei, gue dengar lo udah punya pacar, orang kaya," celutuk Cindy saat bertemu di ruangan. Bagaimana bisa berita itu menyebar secepat mungkin?
"Ganteng lagi," tambah Rani. Tumben sekali gadis tidak banyak bicara ini ikut menggosip.
"Kalian memang biang gosip."
"Tapi itu bukan gosip. Itu fakta." Cindy tak terima.
"Ya, terserah lo. Gue mau kerja dulu." Bila langsung menyalakan komputer di depannya. Memulai pemeriksaannya akan angka-angka yang tersimpan di sana. Mengecek jumlah angka nol dan memastikan tidak ada yang keliru. Mengkonfirmasi pada bagian-bagian lain yang sudah mengirimkan laporan keungannya pada bagian keuangan dimana Bila bekerja.
Berkutat dengan pekerjaan membuat waktu berjalan terasa cepat. sudah jam makan siang saja. "Lo nggak makan, Bil. Ini udah jam makan siang nih. Lo nggak ngerasain lapar apa?" tanya Cindy saat melihat Bila yang masih asik padahal jam makan siang sudah sejak sepuluh menit yang lalu.
Buru-buru, Bila mengecek ponselnya. Astaga, ada beberapa panggilan semuanya dari Jac. Ada pesan yang juga menanyakan keberadaannya dari orang yang sama. Tanpa mempedulikan apa-apa, Bila berlari setelah menyambar tas dan blazernya yang tergantung di sandaran kursinya. Memasukkan ponsel ke dalam tas dan menggantung blazer di tangan. Menghilang di balik pintu tanpa memberikan alasan apa-apa bagi bagi Cindy.
Bila mendapati Jac yang duduk dengan santainya di kap mobilnya. Matanya tertuju pada ponsel keluaran terbaru dari apple itu.
"Sorry, tadi sibuk sama pekerjaan," jelas Bila saat pandangan Jac tertuju padanya.
Jac mengangguk pelan dan keduanya memasuki mobil. Tidak ingin menghabiskan waktu dengan berjalan kaki menuju cafe yang memang tidak jauh dari kantor Bila.
"Apa kamu tidak punya pekerjaan di kantor hingga mencari kesibukan dengan melakukan hal-hal mubajir seperti ini? Bukannya kamu seorang yang sibuk terus?"
Jac tertawa ringan. "Bukan tidak ada, tapi sedang tidak sibuk. Lagipula untuk apa aku membayar karyawan sekian banyak kalau tidak bisa melakukan pekerjaan itu?" Uh, jawaban yang tidak bertanggung jawab. Enak sekali dia.
"Sepertinya kamu bos yang menyeramkan," ledek Bila. Sedangkan Jac hanya mengendikkan bahunya. Dengan gaya sok cool miliknya itu, bisa menarik perhatian semua orang di dalam cafe. Padahal dalam diam saja, dia sudah menjadi pusat perhatian. Banyak sekali wanita yang menatapnya mendamba. Apalagi ini jam makan siang, cafe itu penuh sekali. Bila hanya bisa menarik nafas saat menyadari hal itu. Menjadi orang terdekat CEO tampan ini ternyata tidak mudah.