Pada siang hari ketujuh itu, beberapa jam sebelum malam di rumah kayu, Dave menunggu sampai meja makan dibereskan di rumah Carter. Carter sudah kembali ke ruang kerjanya, Angelica naik ke kamar untuk beristirahat, dan Nick, yang pulang ke rumah hanya untuk makan, sedang menandatangani berkas yang dibawa Andrew di serambi depan. Perempuan itu berdiri di ambang perpustakaan kecil di sebelah ruang makan, memegang sebuah buku yang belum ia buka.
"Nona Alexa." Dave menutup pintu perpustakaan dengan ujung tongkatnya. "Boleh saya minta lima menit?"
Perempuan itu menoleh, dan sedetik ia tampak seperti binatang yang menimbang apakah ia sudah terlalu jauh dari liang. Lalu ia tersenyum. "Tentu, Dave. Duduklah, kamu pasti lelah."
"Saya berdiri saja." Dave menumpukan beban pada tongkatnya. "Ada satu hal yang mengganggu saya sejak Nona pulang. Boleh saya ajukan sebuah pertanyaan sederhana?"
"Tentu saja."
"Hari di Galaxi, ketika Nona keluar dari ruang meeting sesudah tanda tangan. Sebelum saya berdehem untuk menghentikan langkah Nona, Nona bergumam sendirian di lorong. Saya mendengarnya dari balik pintu. Saya tidak pernah menceritakannya kepada siapa pun." Ia menatap lurus. "Apa yang Nona gumamkan waktu itu?"
Satu detik. Dua. Perempuan itu mengerjap, bibirnya terbuka sedikit dan menutup lagi.
"Dave, itu sudah lama sekali."
"Belum lama, Nona."
"Aku... aku tidak ingat. Waktu itu pikiranku penuh. Tentang Nick, tentang pekerjaan. Yang kuingat hanya kamu menanyakan kapan dan di mana aku pertama bertemu dia, dan aku bilang di bar dekat London Eye."
"Itu bisa dibaca di rekaman yang saya serahkan kepada Tuan, Nona." Dave tidak bergeming. "Gumaman itu tidak ada di rekaman mana pun."
"Aku tidak ingat!" Suaranya mulai naik, dan jari-jarinya meremas sampul buku. "Kenapa kamu menanyakan hal seperti itu? Aku baru saja pulang dari tempat yang mengerikan. Aku nyaris tidak bisa tidur. Dan kamu berdiri di sini seperti hakim yang mencari kesalahan."
"Saya hanya bertanya."
"Kamu menatapku seperti itu sejak aku pulang!" Air matanya muncul begitu cepat hingga nyaris tidak ada jeda di antara kalimat dan tangisnya. "Di rumah sakit, di meja makan, di tangga. Seolah-olah aku orang asing. Apa salahku, Dave? Kenapa tidak ada yang percaya aku yang sebenarnya?"
Pintu perpustakaan terbuka keras. Nick berdiri di sana, napasnya memburu, pulpen masih terselip di jari. Ia sudah berlari sepanjang koridor begitu mendengar suara tangis.
"Ada apa ini?"
"Tidak apa-apa, Tuan." Dave menunduk. "Saya hanya mengajukan pertanyaan."
"Dia mencurigaiku, Nick." Perempuan itu melangkah ke arah Nick, dan lengannya merangkul pinggang pria itu sambil menyembunyikan wajah di dada kemejanya. "Dia terus menguji aku, seolah aku berbohong."
Nick memeluknya pelan. Ia merasakan bahu perempuan itu bergetar, dan ada sesuatu yang bergerak di dadanya sendiri, rasa kasihan yang tulus, dan rasa kasihan itu menutup suara-suara lain dalam kepalanya. Di surat pagi tadi, di antara semua baris, ada satu yang ia tulis dengan huruf besar: percaya Dave. Ia membaca baris itu lagi dalam kepala, berhadap-hadapan dengan perempuan yang menangis di dadanya, dan tidak tahu mana yang harus diberi tempat lebih dulu.
"Dave," ujarnya akhirnya, dengan suara yang ia coba buat tegas. "Kamu terlalu lelah. Rusukmu belum pulih, lenganmu belum pulih, dan kamu belum tidur dengan benar sejak kejadian itu. Aku tahu niatmu baik. Tetapi cukup."
"Tuan..."
"Beristirahatlah. Sungguh. Aku butuh kamu sehat, bukan bekerja sampai mati." Nick mengusap punggung perempuan itu perlahan. "Dan mulai besok kamu tidak perlu datang untuk mengingatkan aku di pagi hari. Alexa sudah di sini. Biar dia."
Dave tidak langsung menjawab. Ia menatap Nick, kemudian menatap perempuan yang tersembunyi di dada tuannya, yang matanya, di antara lipatan lengan kemeja Nick, terbuka dan kering sepenuhnya, dan menatap balik.
"Baik, Tuan," ujar Dave.
***
Ia berjalan keluar perpustakaan dengan tongkat yang mengetuk lantai lebih lambat daripada biasa. Di ruang tengah, ia bertemu Angelica yang baru turun dari lantai dua dengan baki berisi kompres untuk Alexa. Angelica berhenti, melihat wajah Dave, lalu menaruh baki itu di meja kecil.
"Dave. Ada apa?"
"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, Nyonya. Saya diminta beristirahat." Dave membuka kancing jasnya, merogoh saku dalam, dan mengeluarkan sebuah amplop putih tebal yang direkatkan rapat dan ditandatangani di sambungan penutupnya. Tulisan tangannya rapi: Untuk Tuan. "Saya ingin menitipkan ini kepada Anda."
Angelica menerimanya dengan dua tangan seperti menerima sesuatu yang bisa pecah. "Untuk Nick? Kenapa tidak kau berikan sendiri?"
"Karena kalau saya yang menyerahkannya, ia akan membacanya sebagai perintah saya, dan ia sedang menuruti perintah orang lain." Dave tersenyum samar. "Untuk Tuan, kalau ia merasa kosong." Dave berbicara pelan, memastikan tak ada langkah lain di sekitar mereka. "Maksud saya, kalau suatu pagi ia membaca suratnya dan merasa ada yang tidak sesuai, tetapi tidak tahu apa. Kalau hari itu datang, Nyonya, berikan amplop ini. Jangan sebelum itu."
"Apa isinya?"
"Hal yang selama ini selalu saya ingatkan setiap pagi, ditulis ulang tanpa perantara." Dave menunduk dalam, lebih dalam daripada hormat biasa. "Nyonya, saya tidak bisa membuktikan apa pun. Tetapi saya rasa Anda sudah merasakan sesuatu."
Angelica memegang amplop itu dan tidak menjawab. Dave menunggu, lalu mengangguk hormat, dan pergi dengan Andrew yang sudah menunggu di pintu.
Sesudah pintu depan menutup, Angelica masih berdiri di tempatnya. Dari perpustakaan terdengar suara perempuan itu, sudah tenang, sudah ringan, bahkan tertawa kecil menanggapi sesuatu yang dikatakan Nick. Tawa itu merdu, dan tidak sekali pun menyisakan napas di ujungnya seperti tawa Alexa. Angelica membalik amplop di tangannya, meraba tepi segel yang masih licin, lalu menyelipkannya ke saku kardigannya seolah ia sendiri yang sedang menyembunyikan sesuatu dari rumahnya sendiri.
***
Malam itu, ketika rumah sudah sepi, Nick duduk di pinggir ranjang membaca surat yang baru ia tulis. Ia menulis bahwa Dave harus beristirahat atas perintahnya sendiri, bahwa mulai besok yang membangunkannya bukan Dave dan bukan Andrew, melainkan Alexa. Ia menulis bahwa itu keputusannya. Setelah menandai halaman dengan pulpen, ia meletakkannya di dalam Kotak Pagi dan menutup tutupnya.
Ketukan pelan terdengar di pintu. Perempuan itu masuk dengan gaun tidur putih panjang, membawa segelas susu hangat. Ia duduk di tepi ranjang, agak jauh.
"Aku sudah bicara dengan Mom," ujarnya lembut. "Besok pagi aku yang akan membangunkanmu. Jam enam. Kamu tidak perlu mendengar ketukan siapa pun. Aku yang akan ada di sini, orang pertama yang kamu lihat."
"Aku tahu." Nick tersenyum lelah. "Aku sudah menulisnya."
Perempuan itu melirik Kotak Pagi di samping bantal. "Boleh aku membaca suratmu malam ini? Aku ingin tahu apa yang kamu tulis tentang aku."
Nick menggeleng pelan, ringan, tanpa menyinggung. "Itu satu-satunya hal yang kupegang sendiri. Maaf, Alexa."
"Tidak apa-apa." Senyumnya tidak bergeser sedikit pun. "Bagus." Ia menaruh gelas di meja kecil. Ia menyibak selimut sedikit, menepuk bantal, dan berdiri. "Tidur nyenyak, Hubby. Mulai besok, kamu tidak perlu mengingat apa pun. Aku yang akan mengingat untukmu."
Ia keluar dan menutup pintu perlahan. Di tikungan koridor, Angelica berdiri dalam bayang-bayang tangga dengan jubah tidur, tangan kanannya di saku, menggenggam sebuah amplop tebal. Ia menahan napas ketika langkah perempuan itu lewat sangat dekat, begitu dekat hingga ia mencium parfum yang bukan milik Alexa.
Langkah itu terus berjalan, tenang, tidak tergesa, menuju kamar tamu, dan berhenti di sana.