Pamela's POV
Aku patut bersyukur pada Tuhan karena hari ini Zoe tidak sedang bersama kekasihnya yang super cupu itu, hari ini kami memutuskan untuk berbelanja di Super market di Swalayan, seperti Mall tengah kota. Isi dapur dari Apartemen ku sedang kosong hari ini begitu pula isi Dapur Zoe.
"Bagaimana, kau sudah bercinta dengan Harry yang kuakui tampan dan panas itu?" tanya Zoe saat kami sedang memilih buah-buahan.
Aku melemparnya dengan sebiji jeruk Australia yang sedang kupilih, "kau pikir setelah bertemu tiga kali Aku sudah bisa bercinta dengannya? Satu lagi Zoe, jangan sampai kau jatuh cinta dengan Harry, setidaknya kau mencari lelaki lain jika menyesal telah merasakan milik Sammy," ujarku membuatnya mendecih.
"Kau jangan sok suci, Pamela Antoinette Crawford. Aku tau kau pernah bercinta dengan lelaki yang baru kau temui lima menit di Club," Aku memutar bola mataku. Tidakkah ia mengerti definisi dari mabuk? Aku mabuk saat itu.
"Tidak dengan Harry. Dia tak semudah itu. Dia tampan, berkelas, kaya dan kau tau? Dia sangat pintar dan cerdik, aku sampai kewalahan dibuatnya, aku sudah malu berkali-kali didepannya padahal kami baru kenal!" ujarku membuat Zoe terkekeh.
"Itu kau yang terlalu bodoh, Pamela. Wajahmu memang seperti wanita haus belaian makanya dia sangat mudah menebak isi otakmu yang m***m itu," ujar Zoe membuatku menginjak kakinya.
"Sialan. Kau pikir wajahmu tidak terlihat seperti wanita m***m?"
"Tentu tidak," Demi Tuhan wajah jalang satu ini benar-benar ingin ku lempar dengan tomat busuk. Namun Aku heran mengapa Aku tetap menyayangi sahabatku yang berwujud Jalang satu ini.
"Maddie itu kekasihnya?" tanya Zoe membuatku mengedikkan bahu.
Kami berdua berjalan menuju timbangan untuk menimbang buah agar mengetahui harga yang harus kami bayar, dan sialnya jaraknya cukup jauh membuat mulut Zoe yang sangat ingin tau itu terus bertanya padaku.
"Kau yakin itu temannya? Tidak mungkin itu hanya teman, mereka makan siang bersama, mesra pula. Memangnya seperti kau dan Harry, itu baru namanya berteman," demi Tuhan Aku benar-benar ingin mengutuk sahabatku satu ini.
"Kau! Bagaimana jika Aku berhasil mendapatkan Harry? Apa yang akan kau lakukan? Memotong milik Sammy yang kecil? Atau memutuskannya?" tanyaku dan Zoe memutar kedua bola matanya.
"Kau tidak pernah serius jika berhubungan dengan laki-laki. Kau itu wanita, Pamela. Kau akan menua, mengeriput, tidak punya anak. Kau mau? Jika begini terus kau akan terus menua namun tidak mendapatkan lelaki!" dan Si Zoe ini baru saja menceramahi ku, ceramah singkat. "Lebih baik bersama lelaki cupu ketimbang bersama lelaki tampan namun tidak serius."
"Ayolah, Aku masih muda dan ingin bersenang-senang."
"C'mon, kau 21 tahun, Pamela."
Aku memutar kedua bola mataku, "Ya, itu masih muda, Zoe!"
------------
Setelah percakapanku dengan Zoe tadi, pasti kalian berpikir jika Zoe jauh lebih baik ketimbang Aku. Memang benar. Aku pun merasa begitu namun Aku tetap tidak bisa, maksudku belum.
Sekarang Aku dan Zoe berjalan di toko furnitur yang cukup besar dan terkenal, kalian pasti tau. Kami bukan untuk mencari lemari atau apapun, kami hanya menjadi alat dapur! Ya, alat dapur! Zoe memang bodoh, kenapa harus ke toko sebesar ini jika ia hanya mencari alat dapur seperti spatula atau mixer atau apapun.
Saat Aku melihat berbagai alat untuk membuat kue, Zoe tiba-tiba menyenggol lenganku. Dimana membuatku hampir saja kembali menyumpahinya karena barang yang Aku sentuh hampir jatuh, dia kira Aku mau mengganti barangnya? Namun pandanganku terfokus kearah Maddie, ya Maddie.
Ada dua Maddie disana, maksudku Maddie dengan seseorang yang sangat - sangat mirip dengannya. Oh apakah itu yang dimaksud Harry kemarin? Jika Maddie memiliki kembaran.
Mereka sedang memilih-milih spatula dan alat memasak lainnya, Maddie tampak sangat senang berada didalam sini, wajah cantiknya semakin cantik kala ia tersenyum memerhatikan alat-alat dapur. Uh, sejujurnya Aku tak tau itu Maddie atau kembarannya, namun kuyakin itu Maddie. Mereka memiliki sedikit perbedaan.
"Bukankah itu kekasih Harry?" bisik Zoe membuatku menginjak kakinya sedikit.
"Temannya, bodoh."
Zoe memutar kedua bola matanya dan mengangguk, "ya, ya terserahm--"
"Oh Hai, Pamela!" Nah benar, itu Maddie. Buktinya ia mengenaliku.
Zoe menyenggol ku, kenapa sih dia ini?! Apakah hobi barunya sekarang adalah menyenggol ku?
"Uhm, ha-hai, Maddie," ujarku dengan gugup.
"Mencari sesuatu untuk dapurmu?" tanya Maddie membuatku mengangguk.
"Ya, spatula ku sudah sedikit membengkok," ujarku dan Maddie terkekeh.
"Itu menyebalkan."
Mataku tertuju pada kembaran Maddie, dari penglihatanku, dia sedikit berbeda dari Maddie. Jika Maddie terkesan lembut dan sopan dan feminim. Kembarannya yang satu ini lebih terlihat sepertiku, maksudku lebih liar dan sedari tadi Aku lihat ia tak pernah mengeluarkan senyumannya. Uh, itu bukan urusanku.
"Pamela, kenalkan ini Kakak-ku, namanya Siena," ujar Maddie dan Aku tersenyum, mengulurkan tanganku pada kembaran Maddie yang bernama Siena dan dia hanya tersenyum sedikit.
Aku kembali menarik tanganku saat Siena benar-benar tidak membalas jabatanku, Maddie menatap tidak enak kepadaku lantas Aku menggeleng dan tersenyum, mengisyaratkan jika Aku tak apa.
"Jika ini Zoe, dia sahabat ku yang berwujud jal--, kenalkan ia," ujarku dan sedetik kemudian Zoe mendeliki padaku, namun setelah itu dia berjabat tangan dengan Maddie.
"Senang berkenalan dengan kalian, kupikir Aku dan Siena hendak mencari alat lain. See you!"
"Aku tau Kau jalang paling kurang ajar dan menyebalkan, Zoe. Namun ternyata masih ada wanita lain yang lebih-lebih-lebih menyebalkan ketimbang dirimu," ujarku pada Zoe membuat Zoe tertawa.
Seketika bayangan kemarin, saat Zoe makan siang bersama Sammy yang menurutku sangat menyebalkan tidak berarti apa-apa lagi jika dibandingkan dengan kembaran dari Maddie yang bernama Siena tadi. Sialan.
"Balas dendam padanya," ujar Zoe membuatku melirik kepadanya.
"Dengan cara?"
"Rebut Harry, setidaknya kau bisa menyakiti Maddie, agar si Siena itu tau seberapa hebatnya kau," Aku tidak mengerti lagi dengan Zoe, tadi ia menyuruhku agar serius sekarang dia seolah berubah menjadi Iblis. Dan bodohnya iblis di dalam diriku ikut bergejolak.
-----------
Aku meminum wine ku yang disediakan disini. Bukan, Aku tidak keclub lagi, namun sekarang Aku sedang menghadiri acara kantor Ayahku, dimana Ayahku mengajak Ibuku dan Aku juga. Dan Aku sungguh berharap jika Harry ada disini, karena sedari tadi Aku tidak mengenal siapapun teman Ayahku. Hanya Harry.
Aku kembali menyesap, memerhatikan setiap orang yang berkenalan, mengobrol tentang bisnis. Aku tersenyum kecut karena itu, jika Aku boleh memilih, lahir di keluarga pengusaha macam ini atau lahir dari keluarga karyawan biasa, Aku lebih memilih lahir di karyawan biasa. Tak ada anak yang ingin lahir dengan finansial yang baik namun kurang kasih sayang. Aku bahkan berani bertaruh jika anak-anak dari teman Ayahku bukanlah anak bahagia, mereka bisa bahagia dengan hanya uang namun tidak karena kedua orang tua mereka.
Teman-teman ku selalu bisa memasak, membereskan rumah dan setidaknya memiliki teman yang banyak. Jika Aku? Aku hanya bisa bermalas-malasan, menyuruh pembantuku, memerintah orang dan Aku sebal akan diriku itu. Karena apa? Aku sudah terbiasa, sejak kecil. Ibuku tak pernah memarahiku karena Aku malas, ibuku tak pernah memarahiku karena Aku tidak bisa memasak, ibuku tidak pernah memarahiku karena Aku jahat pada orang. Ibuku hanya memarahiku ketika penampilan ku buruk.
Itu membuatku buruk jika disamping wanita-wanita koperasi yang pintar dalam meng-handle Rumah mereka. Yang pintar dengan emosi mereka dan yang pintar mengatur kehidupan mereka. Tidak sepertiku.
Iblis selalu mengiring jiwaku sejak Aku lahir. Namun Aku dapat merasakan malaikat juga, hanya saja tidak dapat mengenali malaikat itu.
Seseorang duduk disampingku, membuatku menoleh padanya dan ia menyeringai, dia yang memberiku julukan kucing dan macan yang tadi Aku cari, dan sekarang ia baru muncul.
"Kemana saja?" tanyaku dan dia menaikkan sebelah Alisnya.
"Mana Ayah dan Ibumu? Aku belum bertemu dengannya," Aku mendecak, dia bahkan tidak menjawab pertanyaanku dan malah bertanya.
Aku menggeleng lantas mengangguk, "Ayah dan Ibuku disini namun Aku tidak merasakan keberadaan mereka, biarkan saja," ujarku dan Harry tambah mengerutkan dahinya.
"Berhenti meminum wine, cupu. Kau sudah cukup mabuk," Aku terkekeh, ia kira Aku ini tidak biasa dengan minuman seperti ini?
Dan apa ia bilang? Aku cupu?
"A-aku cupu? Apa maksudmu?! Aku sudah biasa meminum ini dan jangan sekali-kali panggil Aku cupu."
Harry mengangguk merendahkan, what the fvck?! "Buktikan jika kau tidak cupu seperti kataku."
"Aku minum, itu sudah cukup, b******n," desis ku membuatnya terkekeh kecil.
Dia mendekat, "Anak berumur 12 tahun bisa meminum wine tanpa mabuk," ujar Harry membuatku rasanya ingin menonjol tulang pipinya.
"Aku membuatmu terangsang dengan memerlukan waktu 5 menit itu yang kau bilang cupu?!"
"Aku tidak terangsang kemarin," ujarnya membuatku mendekat padanya, Aku tak lagi peduli dengan image yang selalu dijelaskan Ibuku jika Aku didepan teman Ayahku.
"Oh benarkah?" Aku menjalankan tanganku kearah pahanya, dia hanya terkekeh dan membiarkanku. Matanya melirik kearah lain namun Aku tidak peduli, tanganku terus saja menjalar, "ini yang kau bilang tidak terangsang sedangkan mi--"
"Oh disini rupanya kau, Pamela sayang."