Miranda, ia mengedarkan bunyi suara tersebut. Ia dengan cepat, menyisir rambutnya dan ia gulung. Miranda berjalan keluar kamar, melihat ada pertengkaran kembali antara ibu mertuanya dengan
suaminya itu.
Miranda menatap jengah, suaminya itu mana mungkin akan mengambil dirinya.
Ia benar-benar tidak pernah melihat ketulusan dari mata si suaminya itu, Rifarda sudah berbicara jika ia tidak cinta namun jika ia dekat dan mengobrol tentang tetangganya itu pasti Rifarda akan cemburu,mungkin di dalam hatinya gosong rasanya.
"Jangan ngarep saya menjemput kamu!" dengan mendesis di depan Miranda, ibu mertuaMiranda sudah pergi berbincang dengan bibi di dapur.
Rifarda tersenyum mematikan, dan ia mengambil vape di dalam sakunya. Ia hisap kuat, ia tersenyum licik dan menatap Miranda yang hanya terdiam itu, tidak bergerak sama sekali.
Ingin Miranda menangis, dan ia tetap tahan!
Jangan nangisin laki-laki ba*i*ng*an itu!
Mirandamelangkah pergi, anggap saja tadi angin lewat.
Rifarda tersenyum sinis, ia pun melalang ke kamarnya. Mandi, berberes. Karena ia sudah letih, untuk pekerjaan ia izin dahulu. sebulan di rumah. Menenangkan pikirannya, dan ia akan bersantai.
"Eh, yah...Kok udah ke sini aja?" Miranda yang di depan teras, ia menemui ayah Aksa. Ya,ayah dari suaminya itu. Dan ayah Aksa menerima uluran tangan, Miranda menyalami tangan mertuanya itu.
"Assalamu'alaikum nak,"
"Wa'alaikumsalam...Masuk dulu yah,"
Ayahnya itu menolak untuk tua, dan masih sehat bugar saja makin gantengnya kemari. Coba aja ini bukan ayah dari suaminya, mungkin ia kepincut. Tapi, nggak!
Iya, inginnya Miranda emang terlalu jauh dan sifatnya itu seperti ayah Aksa begitu. Sayang sama istri, nggak dicampakkan juga istrinya.
"Iya, hm gimana Rifarda udah pulang?" tanya Ayah Aksa, dan Miranda mengangguk.
"Kayaknya masih berberes, yah..." jawab Miranda dengan senyuman tipis.
Ayah Aksa pun duduk, dan menatap di sekelilingnya.
Ibu Anin yang di sana tersenyum, ketika suaminya menjemput dirinya pasti. Bayangannya gitu, tapi kemungkinan salah! Jika ayah Aksa ke sini ingin menjenguk menantunya itu.
"Yah..."sapa ibu Anin, Miranda hanya diam dan tersenyum. Gimana
yah caranya ngelunakin hati suaminya itu? Dan gimana caranya
dapet perhatiannya, kek gini lah. Tapi, itu percuma sama saja mimpi yang jauh sekali.
Mereka berdekatan, dan ibu Anin menatap suaminya.
"Yah, boleh ya kalau menantu kita dibawa ke rumah?" ayah menampilkan raut wajah bingung, dan ayah melepaskan jasnya.
"Kenapa emangnya?"
"Karena kasian menantu kita, yah..."
Ayah lalu menatap Miranda, dan Miranda memalingkan arah matanya ke lain. Ibu Anin menghela napas, menarik tangan suaminya untuk tidak menatap menantunya seperti itu. Seperti dipengaruhi, begitulah yang ada di hati ayah Aksa.
"Lah, kenapa emangnya bu?" tanya lagi ayah Aksa.
"Ribut Lagi?" sambung ayah Aksa dengan helaan napas, baru saja ia pulang dari meeting dan langsung ke sini juga ia akan menjemput istrinya di sini, tapi sudah ada banyak masalah.
"Ya gitulah," dengan nada lemah.
Ayah Aksa mencium kening sang istri, istrinya langsung menatap tajam. Tidak malu dengan menantunya di situ? Heh, nggak gitu kali konsepnya. Itu sama saja menyakiti wahai para kaum-kaum itu, dan ayah Aksa menarik bahu istrinya. Ia pegang, dan menatapnya dengan serius.
"Udah, itu urusan mereka." pungkas ayah Aksa, dan ibu Anin beranjak berdiri. Tidak menerima keputusan final suaminya itu. yang dilontarkan
"Tapi, kasian Miranda yah yang tiap pulang suaminya, anak kita selalu main tangan,yah... Apa perlu aku kasih bukti, yah..." ucap Ibu Anin, ibu Anin mulai terisak. Ia tidak tahan dengan perlakuan anaknya dengan menantunya.
"Kita nggak bisa nge didik anak, yah.. Kalau kita kek gitu, los gitu, nggak nerima apapun. Dan kita nggak bantu mereka, dengan cara otak dingin mereka nggak akan pernah baik, yah..." ucap Anin dengan panjang, dan ayah Aksa pun terdiam. Ibu
Iya, tapi ini sudah tanggung jawab atas dirinya masing-masing. Orang tua cuman memberikan masukan, bukan untuk mengekang mereka dengan cara keras. Tapi, itu semua percuma karena anaknya itu tidak bisa dipercayai, dan jika Miranda dibawa oleh mertuanya juga tidak guna dengan adanya keputusan ini.
"Boleh, ya yah?"
Ayah Aksa menghela napas, dan memegang tangan istrinya.
"Biarkan mereka yang menyelesaikan, kita berikan nasihat jika tidak guna bagi Rifarda maka kita akan tindakan tegas, ayah akan bantu tapi nggak gini caranya bu..." dalih ayah Aksa, ibu Anin terisak kembali dan Miranda serasa sesak di sini.
Ayah Aksa menghela napas panjang, beliau sudah capek dengan rumah tangga anak satunya ini. Apalagi nanti dengan putra keduanya nanti, bentar lagi pernikahannya juga akan digelar dan anaknya yang sekarang menjadi seorang pilot. "Bu, tolong pahami keputusan ayah! Ayah lebih mengerti," ucap
Ayah dengan tegas.
Ibu beringsut langsung duduk dan memohon untuk mengizinkan menantunya tinggal di rumah mereka. Dan Miranda menjadi tidak enak hati, ia ingin sekali membicarakan ini dengan suaminya.
Ia beranjak dari sana, dan Miranda berjalan ke kamarnya.
"Assalamu'alaikum,"
"Hm... Ngapa kamu masuk?"
"Aku mau ngomong sama kamu, bentar kasih waktu aja!"
Rifarda tidak menjawab, ia lebih fokus ke handphonenya dan Miranda duduk di atas ranjang, ia menatap suaminya itu.
"Mas, tolong kita baikkan sebentar aja. Kasian itu, orang tua kamu mas. Mau bertengkar kayaknya, mas... Ini demi orang tua kamu, bukan apa-apa..." Rifarda menatap istrinya dengan mata menghunus tajam, lalu Miranda menatap ke bawah.
"Tatap mata ku dulu! Jangan mengalihkan!" tajam dan lugas.
Miranda dengan takut, ia menatap suaminya.
Rifarda mencengkram kuat dagu Miranda, "Kamu semuanya!"
"Akh, pembawa sial emang..." Rifarda pun beranjak dari ranjang dan melangkah pergi. Miranda mengaca diri di cermin, terlihat kemerahan yang tercetak jelas di dagunya.
Ia pun menambahkan bedak, atau apapun sebagai penutupnya dan ia mengelap air matanya.
"Aku harus kuat! Nggak boleh lemah," Miranda melangkah pergi, menyusul suaminya ke ruang tamu itu dan sementara Rifarda? la menatap kebencian, tercetak jelas di wajahnya jika ia menatap benci kepada sang ayah.
"Bu, udah!"
Ayah Aksa dan ibu Anin pun kaget, jika sudah ada Rifarda di sini dengan nada kencang pula.
Ibu Anin menatap anaknya dengan bengis, dan ayah Aksa membantu istrinya untuk duduk di sofa namun disingkirkan oleh Rifarda, Rifarda pun membantu ibunya.
Ayah Aksa hanya tersenyum tipis, sok atuh!
Lebih parah malahan, Miranda ikut duduk di samping suaminya itu.
"Yah, bu... Kita bisa selesaikan ini, dan jangan ayah sama ibu urusi rumah tangga anaknya! Kita udah dewasa, udah punya hak untuk pendapat masing-masing." ucap Rifarda dengan mata elang, dan ayah Aksa ingin menertawakan anaknya.
Alah, nanti juga ditinggal bentar aja udah kayak kandang macan
ini rumah.
"Iya, yah... Bu, kami akan selesaikan..."
"Baiklah kalau gitu, kalian bisa menyelesaikan. Berarti, bener 'kan bu... Udah kita pulang dulu, yuk bu! Udah sore, besok ke sini lah." ujar ayah Aksa dengan nada sedikit mengejek, tertawa hambar lah bahasanya.
Ibu Anin menggeleng, masih tidak percaya. Cuman akal-akalan
Miranda dan Rifarda ini, ibu Anin pun mendekati anaknya itu.
Bersambung...
Buat yang mampir boleh dibaca-baca yak?