Rasanya aku marah sekali melihat Rani dan cecunguknya memperlakukan Sea seperti itu. Coba kau pikir, suami mana yang tak akan marah jika istrinya ditampar, dijambak, dan dirobek bajunya hingga melihatkan sesuatu yang tak seharusnya diperlihatkan pada orang.
Untung saja Nana memberitahu tepat waktu, jika telat aku tak tahu bagaimana keadaan Sea. Saat datang saja keadaannya sudah sangat memprihatinkan, rambut yang tak tertata, pipi yang sudah memerah, serta seragam yang sudah robek.
"b*****t!"
Semua orang yang berada di dalam kelas itu menoleh ke arahku, termasuk Sea dan Rani. Tangan Rani yang tengah menjambak rambut Sea pun membuat amarahku memuncak, ditambah lagi gadisku yang menangis menahan sakit .
Tanpa disuruh, ketiga teman sekaligus sahabatku itu langsung mengerti apa yang harus mereka lakukan. Riza dan Fahri langsung memegang kedua tangan Lia, cecunguknya Rani dan Anton yang dengan tenaganya memaksa tangan Rani lepas dari rambut Sea.
Aku yang melihat bagian d**a Sea terekspos dan dilihat oleh banyak mata langsung melepas baju seragamku dan memakaikan pada tubuh mungil itu. Lalu memeluknya dengan rasa amarah yang tak kunjung reda.
Aku melepaskan pelukan itu lalu membalikkan badan menghadap dua iblis tak tahu malu itu.
"Lo salah berurusan sama gue."
Sebenarnya aku malas meladeni cewek tak tahu malu ini. Aku juga sangat malas harus berbicara panjang, karena itu bukan aku. Namun, kali ini ia sangat kelewatan. Aku tak terima jika ia mempermalukan istriku di depan teman-temannya.
"Gue gak suka lo deket sama dia, lo itu punya gue!"
"Apa lo bilang? Gue punya lo? MIMPI!" Aku tersenyum miring. Bisa-bisanya ia terlampau halu seperti itu.
"Lo punya gue!" katanya, cewek itu meronta di dalam genggaman tangan Anton.
"Lo mau tau gue punya siapa?" tanyaku, Rani terdiam seraya menatapku tajam.
Aku menghampiri Sea yang berada dalam pelukan Nana. Menariknya dengan kasar lalu menempelkan bibirku pada bibirnya, melumatnya dengan kasar dan sensual. Sea yang masih pemula hanya terdiam menikmati permainan yang aku lakukan. Namun, semakin lama ia semakin membuka akses untukku. Ia juga membalas ciumanku.
Ciuman kami berlangsung sekitar lima menit. Hal itu membuat wajah Sea bersemu merah, dan membuat seisi kelas menatap kami dengan terkejut. Mata Rani pun terlihat berkaca-kaca seperti menahan tangis. Memang aku peduli?
"Gue punya dia!" kataku seraya menunjuk Sea yang berada di belakangku.
"Lo jahat!"
"Dari dulu gue jahat." Aku memegang dagu Rani dan mengangkatnya. "Lo sentuh dia lagi, lo bakal mati di tangan gue!" Lalu kuhempaskan dengan kasar.
Aku tak peduli mau di cap sebagai seorang cowok yang kasar atau apapun itu. Aku tak peduli.
"Digilir aja," sahut Anton yang sedari tadi diam, diangguki oleh Fahri dan Riza.
"Serah lo bertiga, gara-gara l***e ini gue harus ngomong panjang lebar."
Aku tahu apa yang dimaksud digilir itu. Kalian tahu? Sudah, jangan kepo.
Setelah itu mereka bertiga membawa Rani dan Lia pergi. Aku tak tahu akan dibawa ke mana kedua cewek itu. Yang aku tahu, omongan Anton dan yang lain tak pernah main-main. Biarkan saja, toh dua cewek itu sudah berkali-kali dimasuki banyak cowok.
Aku membalikkan badan, di belakangku Sea tetap berdiri seperti awal tadi. Pipinya yang memerah karena tamparan dan rasa malu cukup membuatku gemas. Seragam putih yang aku pinjamkan pun membuatnya seperti tenggelam. Bayangkan saja, jika kupakai seragam itu pas, jika Sea yang memakai seragam itu bisa sampai setengah paha.
"Lo berdua ikut gue," kataku pada Sea dan Nana. Tanpa pikir panjang aku langsung menggendong Sea seperti bayi.
"Bilang ke guru, Sea sama Nana ikut gue."
*****
Tak tahu Deno akan membawaku dan Nana ke mana. Kami hanya bisa diam dan mengikuti langkah kaki suamiku ini. Hingga kami tiba di depan sebuah ruangan, di lantai paling atas. Pintu ruangan itu tertempel tulisan "rusak".
Hampir satu tahun sekolah di sini, aku tak pernah tau jika ada ruangan di dekat rooftop. Entah karena aku yang tak tahu atau memang karena tak pernah naik sampai ke sini.
Deno membuka pintu itu setelah mengambil sesuatu yang kuduga sebuah kunci. Setelah pintu itu terbuka, aku terperangah melihat bagian dalam ruangan itu. Dari luar tampak begitu lusuh dan tak terawat. Namun, jangan remehkan bagian dalamnya yang ternyata sangat mewah.
"Masuk," suruhnya pada Nana yang ada di belakang kami.
Ia menyuruh Nana untuk duduk di sofa yang berada tak jauh dari pintu. Sedangkan aku dibawa ke sebuah ruangan yang berada di pojok. Ruangan ini bisa dibilang luas tapi tak terlalu luas. Ia merebahkanku pada sebuah kasur yang mewah dan empuk.
Deno duduk di sampingku seraya memainkan ponselnya. Sepertinya sedang mengetik sesuatu.
"Ini ruangan apa kak?" tanyaku.
"Basecamp." Aku mengangguk mengerti. Ternyata Elang mempunyai sebuah basecamp yang sangat mewah.
"Mau makan apa?" Aku menggeleng lemah. Bukan ingin menolak, hanya saja memang tak ingin makan apapun saat ini.
Ia mengabaikan jawabanku dan mengetik sesuatu lagi. Setelah itu ia meletakkan ponselnya sembarangan dan merebahkan tubuhnya di samping tubuh mungilku.
"Nana gimana? Masa ditinggal sendiri?"
"Ada Anton sama yang lain."
"Tapi tadi gak ada."
"Ada."
"Tapi tad—"
"Bacot."
Aku terdiam, mengalihkan pandanganku yang mulai kabur. Aku tak suka dibentak seperti ini. Entah sudah berapa lama aku mengenal Deno, mungkin bisa kuhitung dengan jari, namun aku lupa, Deno tak pernah membentakku meskipun sikapnya sudah membuatku sakit hati.
"Se," panggilnya. Aku masih diam, air mataku sudah menetes membasahi bantal yang aku pakai. "Maaf."
"Gapapa."
Aku terkejut ketika ia memelukku secara tiba-tiba. Ia menenggelamkan wajahnya di ceruk leherku. Rasanya geli ketika bibirnya menyentuh kulit leherku.
Aku tak tahu apa yang ia lakukan di sana. Yang aku rasakan hanya geli, sakit, dan nikmat. Ia menggigit kulit leherku serta menjilatinya. Rasanya seperti sebuah, ah aku tak tahu.
"Kak, ngapain?"
Ia diam seraya mengambil ponselnya lalu memotret seni yang ia lukis di leherku. Sebuah tanda merah bekas gigitannya. Aku mengernyit tak mengerti apa maksud perbuatannya.
"Itu apa? Kok merah," tanyaku penasaran.
"Cupang."
"Cupang yang ikan hias itu? Sea dulu pas TK sering beli itu tapi gak sampai sehari udah mati," curhatku dengan sebal. Kudengar Deno hanya tertawa mendengar celotehku.
"Ini namanya kissmark, ini tanda kepemilikan. Jadi lo punya gue sekarang dan seterusnya." Aku mengangguk mengerti.
"Sea mau buat di Kakak," pintaku.
"Dengan senang hati."
Setelah mendapat persetujuan, aku memulai aksiku. Mengikuti apa yang telah Deno lakukan. Menggigit dan menjilatinya.
"Sakit Se," pekik Deno seraya meringis sambil memegangi lehernya yang aku gigit. Sedangkan aku hanya nyengir menampilkan deretan gigi putihku.
"Sea gak tau caranya."
"Nanti gue ajarin."
*****
NANA
Nana "Ya Allah Thor, masa gue ditinggal sendirian di sini. Terus mereka lagi mesra-mesraan di sana."
Author "Sabar ya, nanti aing bakal cariin jodoh buat kamu biar gak sendirian."
Nana " Makasih ya Thor,lo emang baik."
Author "Iye, baik-baik kamu disitu. Takut diculik Wewe."
Nana "Bangsyat lo, Thor."
Author "Maap."
Nana " Yaudah balik lagi sana."
Author "Sip."
*****
Gadis ini terlalu polos untukku, bahkan cupang saja ia tak tahu. Saking polosnya ia mengira bahwa cupang itu adalah ikan hias, ya memang tak salah tapi ya tetap salah, entahlah aku tak paham. Oh Tuhan, tapi aku bersyukur mendapat istri yang polos seperti ini.
"Sea mau buat di Kakak," kata Sea dengan malu-malu.
"Dengan senang hati."
Ia merangkak naik ke atas tubuhku lalu melakukan ap yang aku lakukan tadi. Awalnya memang enak, karena ia tak terlalu menggigit. Tapi, itu tak berlangsung lama. Ia menggigit leherku seolah ingin menembus kulit dan dagingku. Sakit.
"Sakit Se," pekikku seraya memegang bagian yang digigit olehnya. Sedangkan ia hanya menunjukkan giginya tanpa merasa bersalah sedikitpun.
"Sea gak tau caranya."
"Nanti gue ajarin."
"BOS, GUE DI DEPAN." Aku bangkit ketika suara Fahri terdengar jelas di telingaku.
Aku menghampirinya dan mengambil barang pesananku. Kukira hanya ada Fahri saja, nyatanya Anton, Riza dan Nana juga ikut mengantri di depan pintu.
"Ngapain?" tanyaku datar.
"Mau liat orang lagi ena-ena," jawab Anton yang disetujui oleh yang lain.
"g****k. Dah sana," usirku dengan perasaan kesal yang ada dalam hatiku. "Lo udah ambil kan?" Ia mengangguk. Tak berlama-lama lagi aku menutup pintu itu dan menguncinya.
Jika para murid lain dan para guru menganggap Elang itu berbahaya memang tak salah. Kami memang seperti itu, sikap brutal dan b******k memang sudah melekat dalam jiwa raga. Namun, kami tetap manusia dan anak muda yang punya sifat konyol. Bukan aku, tapi ketiga sahabatku itu.
Aku menghampiri Sea yang sudah duduk sambil bersandar di kepala ranjang. Kedua tangannya memijat bagian kepala.
"Kenapa?"
"Sea pusing, Kak."
"Makan dulu, terus tidur."
"Tapi kan bukan jam kosong."
"Gapapa, masih pada upacara. Urusan jamkos atau bukan biarin aja. Bolos." Ia mengangguk patuh seperti anak TK yang menggemaskan.
Aku membuka bungkusan makanan yang kupesan lewat Fahri. Aku tak tahu apakah Sea kan menyukainya atau tidak, yang penting aku sudah berusaha untuk perhatian.
Ia menggeleng ketika aku menyuapinya. Masih dengan alasan awal, tak lapar. Aku sampai harus kehabisan kesabaran hanya untuk menyuapi istriku ini.
"Makan dulu, abis itu gue ajarin bikin cupang."
Tanpa aba-aba ia langsung melahap makanan itu dengan cepat. Aku menggeleng heran melihat tingkahnya.