Kalau dijodohin sama kamu, mah, aku mau banget, dong!
- ASEA Nacita Juana -
>>>•••
Aku menekuk wajah, dengan bibir mengerucut pun menyapa mereka. Bukan menyapa sepertinya, tapi hanya melihat. Menyebalkan sekali rasanya. Aku sebenarnya tak bisa menerima, tapi bagaimana lagi. Papa telah mengancam akan menyita semua fasilitas yang telah ia berikan padaku. Dengan terpaksa harus mengikuti kemauan mereka.
Di sinilah aku, di sebuah restoran hotel bintang lima yang mewah. Mengenakan dress yang tadi dibelikan mama. Menyapa Tante Erika dan Om Arno, suaminya. Biasanya saat bertemu dengan mereka, wajahku sangat ceria. Namun, tidak sekarang. Bisa dibilang wajah ini menunjukkan permusuhan.
Kau tahu mengapa aku bisa ada di sini? Ingin tahu? Baiklah.
"Gak mau, Pa, Sea kan masih SMA. Lagi pula Sea gak tahu siapa anaknya Tante Erika. Jangan-jangan anaknya Tante Erika udah tua. Makanya mau dijodohin," tolakku ketika Papa berkata bahwa ia memiliki rencana perjodohan.
"Ngawur kamu, tuh! Nanti malam kita ketemu sama mereka. Anaknya Tante Erika itu sekolah di tempat kamu. Dia kakak kelas kamu."
"Papa Ganteng, ini bukan jamannya Siti Nurbaya lagi, Pa. Sea bisa kok nyari jodoh sendiri. Gak perlu di jodohin kayak gini. Kayak Sea gak laku aja."
"Kalau emang bisa, kenapa selama 18 tahun gak pernah pacaran? Deket sama cowok juga enggak, kan?"
Iya juga ya? batinku.
Memang tak pernah pacaran, tapi bukan berarti tak ada yang suka. Bahkan banyak. Banyak barisan cowok yang mengantri hanya untuk menjadi pacarku. Namun, dengan mudahnya papa bilang bahwa aku tidak pernah dekat dengan cowok? Astaga, menyebalkan sekali.
"Sudahlah, kamu hanya perlu menurut saja."
"Tapi, Pa-"
"Kalau kamu gak mau nurut sama Papa, Papa bakal sita semua fasilitas yang pernah berikan. Termasuk ponselmu."
"Yaudah iya, tapi calonnya ganteng, kan, Pa?"
"Ganteng bingits," jawab Papa seraya mengacungkan jempol kanannya.
Mama menyikut perutku sambil menatap dengan garang. Aku tak sadar bahwa Om Arno telah berada tepat di depanku seraya mengulurkan tangan. Dengan cepat membalas jabat tangan itu. Tentu dengan sedikit senyum terpaksa. Begitu pun ketika berhadapan dengan Tante Erika.
Setelah selesai ritual cipika-cipiki, mama mengajakku untuk duduk di meja yang telah dipesan. Begitu pula dengan yang lain. Banyak sekali hidangan yang tersaji di sana. Semua tampak begitu enak dan menggiurkan. Namun, tak ada yang menggugah seleraku.
Aku duduk sambil menyangga kepala dengan tangan kanan. Ah, aku mengantuk sekali. Padahal ini baru pukul 19.25 WIB. Ya mungkin karena memang malas untuk menghadiri acara perjodohan gila ini. Tapi bagaimana lagi, aku tak ingin jika fasilitas yang papa beri dicabut begitu saja.
Tak tahu bagaimana lagi caranya untuk menolak. Bahkan aku telah meminta pendapat pada Nana, tapi ia pun tak memiliki ide yang logis. Menyebalkan sekali. Ingin rasanya pergi dan tenggelam di laut yang dalam. Kalau perlu biar dimakan hiu sekalian. Atau mungkin tiba-tiba ada gerombolan perampok yang datang agar aku bisa kabur dengan bebas.
Pikiranku berkelana ke mana-mana, pasti akan dijodohkan dengan seorang laki-laki buruk rupa. Kalau ganteng gak mungkin dia mau dijodohkan, pasti dia akan menolak. Karena dia ganteng, pasti banyak yang suka dengannya. Aku yakin pasti laki-laki itu jelek, culun, cupu.
Arghhh, nyebelin banget!
"Loh anakmu mana, Er?" tanya mama ke Tante Erika.
Tak berniat untuk menyimak obrolan mereka. Bahkan aku sibuk memainkan ujung high heels berwarna pink, senada dengan dress ku.
"Orangnya masih di perjalanan, bentar lagi juga sampai," jawab Tante Erika.
Benar saja, lima menit kemudian, terdengar suara seorang cowok. Aku tak berniat untuk menatapnya. Jika didengar dari suaranya, kelihatannya dia ganteng. Tunggu dulu! Sepertinya aku mengenal suara itu. Siapa? Seperti ... Ah, aku tak boleh langsung menyimpulkan hanya dengan mendengar suaranya.
"Sea."
Aku mendongak ketika papa memanggil namaku. Ia mengisyaratkan untuk menatap cowok itu. Dengan malas mengarahkan bola mataku ke cowok itu. Dan ... BOOM ....
"Selamat malam, maaf terlambat, macet," ujar cowok itu seraya memposisikan duduk di atas kursi.
"Gapapa kok ganteng," ujarku dengan malu-malu. Mama dan yang lain menatap dengan cekikikan. Aku yang tadinya badmood abis, tiba-tiba bersikap manis seperti itu. Ah, malu.
"Aduh aduh, yang tadinya nolak sekarang malah langsung kecantol," sahut Papa dengan jahil menatapku.
"Dia itu Kak Deno kan Ma? Ihhh, Sea suka tahu sama Kak Deno. Sea tiap pagi masakin bekal tu buat Kak Deno," jelasku panjang lebar. Mereka yang ada di sana melebarkan matanya terkejut.
Aku yang sadar dengan ucapan kenyataan itu pun langsung membungkam mulut seraya mengibaskan tangan tanda bahwa itu semua hanya omong kosong. Namun, mereka malah tertawa melihat kebodohanku dan tak mempedulikannya.
"Gimana kalau besok langsung nikahin aja?" Kini Om Arno yang berbicara. Dalam hati aku berteriak jika aku sangat setuju.
"Gak!" ucap Deno, sukses membuatku cemberut. Kenapa tidak jawab iya saja. Kan enak bisa uyel-uyel sama babang ganteng.
"Kenapa?"
"Iya dong, Kak, mau aja, kan nanti bisa langsung buat dedek." Lagi, mulut laknat ini lagi-lagi asal berbicara. Lain kali mungkin harus dipasang gembok.
Semua tertawa. Kecuali Deno itu. Ia hanya diam dan menatapku datar. Aku sadar ucapanku salah, malu, tapi tak apa. Tak berapa lama, tawa itu mereda.
Makan malam pun dimulai. Aku meminum segelas air putih yang tersaji. Mama mengambilkanku sepotong kue kacang. Lalu melahapnya hingga tak tersisa. Setelahnya, Mama mengambilkanku secentong nasi dan rendang.
Setelah selesai makan, aku mengeluarkan ponsel dari dalam tas selempang berwarna peach itu. Membuka aplikasi chat, dan menampilkan puluhan chat yang belum aku baca. Aku membuka chat paling atas, dari Nana.
Nana Cantika
Cowoknya ganteng gak?
Asea Cans
Ganteng banget dong, kaya Manu Rios. Sea langsung jatuh cinta sama dia.
Nana Cantika
Ya udah buat aja
Asea Cans
Gak mau, dia punya Sea!
Nana Cantika
Pelit
Aku belum ingin memberitahu Nana kalau cowok yang dijodohkan denganku adalah Deno. Biarkan ia mengetahuinya sendiri.
"Sea!"
"Baik-baik ya kalian."
>>>•••
Mungkin membuatkan Deno bekal sudah menjadi hal wajib bagiku. Ya, walaupun aku tahu bekal itu akan berakhir di perut temannya atau mungkin di tempat sampah, tapi tak apa, aku akan selalu membuatkan bekal untuknya.
Oh, iya, setelah 3 hari perjodohan, belum ada perubahan juga. Ia masih tetap sama saat pertama kali bertemu, dingin. Bahkan ketika aku berbicara panjang lebar pun ia hanya menjawab dengan sangat singkat, hingga aku sendiri pun hanya bisa menghela napas. Ya, bagaimana pun juga harus bisa meluluhkan hatinya. Jika tak dalam waktu dekat pun tak apa. Aku akan bersabar menghadapi sikapnya yang begitu dingin.
Waktu sudah menunjukkan pukul 06.15 WIB, aku memakai kaos kaki dan sepatu, meraih tas dan ponsel yang berada di atas sofa.
Masih menunggu di depan pintu, siapa lagi kalau bukan Bang Daniel yang setia menjadi sopirku. Aku tak bermaksud durhaka, hanya saja memang kenyataannya begitu.
Lima menit berlalu, Bang Daniel belum juga terlihat batang hidungnya.
"BANG! AYO BERANGKAT!" Teriakanku menggema di seluruh penjuru rumah. Namun, nyatanya bukan orang yang aku harapkan yang muncul di depan mata. Mungkin lebih dari yang diharapkan. Aku baru ingat satu hal, kakak laki-lakiku itu sudah kembali ke Jerman tadi malam, huh! astaga! kenapa aku lupa.
"Masuk!" perintahnya dari balik kemudi mobil. Dari suara dan nada bicaranya, aku tahu siapa orang itu. Dengan senyum merekah dan hati berbunga, aku berlari menghampiri, membuka pintunya dan memposisikan p****t di kursi depan. Aku tersenyum manis padanya. Namun, seperti biasa yang terlihat, raut dinginnya.
"Kak Deno yang anter Sea?"
Deno tetap diam tak berniat menjawab pertanyaanku. Aku tak memperdulikan itu, toh sudah biasa dengan sikap acuhnya itu.
Kami saling diam dalam perjalanan, tak ada yang memulai pembicaraan. Hanya suara hiruk pikuk kendaraan yang terdengar di telinga. Aku merasa sangat canggung jika seperti ini. Namun, juga tak ingin membangunkan singa yang tengah tidur. Ya, walaupun Deno bukan singa, tetap saja jika terlalu cerewet ia akan menjadi murka.
"Bosen," gumamku yang mungkin hanya bisa kudengar sendiri.
"Udah makan?"
Aku menoleh ketika suaranya itu menelusup dalam indera pendengaran, mengerjapkan mata beberapa kali, mencoba untuk memastikan apa yang aku dengar tadi memang benar atau hanya khayalan semata.
"Apa?" tanyaku mencoba memastikan. Namun, ia hanya diam saja. Sepertinya memang sedang berkhayal. Ah, sudahlah.
Kusandarkan kepala pada sandaran kursi. Lalu memejamkan mata sebentar untuk menghilangkan rasa pusing yang tiba-tiba menyerang. Entah karena aku belum makan atau karena hal yang lain, tak tahu.
Tiba-tiba rasa mual mengguncang perut. Rasanya seperti ada sesuatu yang ada di perutku ini yang mau keluar. Namun, mana mungkin aku muntah di dalam mobil ini? Yang ada nanti akan dicakar olehnya.
Aku mencengkeram tangan Deno yang berada tak jauh dari tempatku duduk, memintanya untuk menepi sebentar. Ia menuruti dan menghentikan mobilnya di samping kebun yang berada di pinggir jalan raya. Aku turun lalu segera berlari mencari tempat yang tempat untuk mengeluarkan isi perut.
Setelah itu, aku berjalan menuju mobil Deno. Namun, tiba-tiba pandanganku menjadi buram.
*****
Bau obat yang begitu menyengat menyapa penciuman. Ruangan dengan warna putih mendominasi, serta kelambu dengan warna hijau di sampingku. Aku menatap sekeliling, banyak alat-alat medis yang berada di atas meja. Serta Deno yang duduk di sampingku.
Oh, rumah sakit, batinku.
Dua detik kemudian, aku bangkit dari tidur dan mencoba untuk pergi. Namun, tangan kekar Deno mencegah. Meronta dan memintanya untuk melepaskan pegangan itu. Namun, tenagaku kalah kuat dengannya. Rasanya ingin menangis jika seperti ini. Jujur aku sangat takut dengan rumah sakit, tapi kenapa Deno malah membawa kemari?
"Lepasin Sea," kataku lemah. Air mata sudah menetes sedari tadi.
"Kenapa nangis?"
"Sea takut rumah sakit."
"Kenapa takut?"
"Soalnya Sea pernah dibawa ke rumah sakit terus ada orang yang berdarah-darah gitu, terus ada yang meninggal. Terus kan di film gitu banyak hantunya. Sea kan takut," kataku dengan air mata yang makin membanjiri pipi.
"Ada gue."
"Tapi tetep takut, nanti kalau Sea digigit han—" kalimatku terhenti ketika bibir Deno menyatu dengan bibirku. Hangat, manis dan ... lembut menyapa tiba-tiba. Semua syarafku seolah mati rasa untuk sekedar menolak ciuman ini.
"Gak usah cerewet atau gue cium lagi!"
"Sea mau pul—" Lagi, kini dengan sedikit lumatan, ia mencari akses masuk ke dalam mulut, menggigit bibir bawahku hingga sedikit terbuka. Tak lama, ciuman itu diakhiri dengan kecupan singkat.
Aku diam seraya merebahkan tubuh lagi, menghapus air mata yang tersisa. Masih belum bisa mencerna apa yang barusan terjadi, ia menciumku.
Aku menyentuh bibir, memastikan apakah benar jika tadi memang aku melakukan adegan dewasa? Apa aku akan hamil? Kata mama, jika berciuman dengan cowok, aku akan hamil.
"Kak," panggilku, ia menoleh sekilas lalu fokus pada ponselnya lagi seolah tak terjadi apa-apa. "First kiss Sea ...."