Pelukan kakak itu nyaman, Sea suka!
- Asea Nacita Juana -
>>>•••
Mataku yang terasa berat ini dipaksa untuk terbuka. Kulihat mama berada di samping, sementara Deno di sofa dekat kamar mandi. Tanpa disadari, air mata jatuh dengan sendirinya.
"Ma, Sea mau peluk Kak Deno," kataku. Mama menatap dengan tatapan melarang. Bagaimana mungkin mama mengijinkanku untuk berpelukan dengan seorang pria?
"Gak bisa, Sea."
"Sea mau peluk, Ma."
"Gak bisa, dengerin Mama, kalian belum sah. Mama gak mau buat dosa di antara kalian. Paham?"
"Sea mau peluk Kak Deno," kataku lagi dengan menambah volume suaraku.
Deno yang tadinya asik menatap layar ponsel, kini mengalihkan pandangannya pada kami. Ia memasukkan ponselnya dalam saku lalu berjalan mendekat.
"Sea mau sama Kak Deno, Ma," kataku dengan isak tangis yang masih terdengar.
"Deno, kamu mau temani Sea sebentar?" tanya mama padanya, aku menatapnya dengan penuh harap. Ia mengangguk. "Baiklah, tante pergi dulu."
Ia duduk di tepi ranjang, membungkukkan tubuhnya untuk melepaskan sepatunya.
Dengan ragu aku mengulurkan tangan untuk memeluknya dari belakang. Berhasil! Namun, tak bertahan lama, ia menyentak tanganku dari perutnya. Lalu ia berdiri dan menatap dengan marah. Biar saja ia berpikir bahwa aku ini gadis murahan. Persetan dengan itu, yang aku mau hanya pelukannya. Sebentar saja.
Aku bangkit dari tidur, berjalan mendekat ke arahnya dengan sempoyongan. Lalu terjatuh tepat di pelukannya, aroma mint yang begitu menyegarkan memaksa masuk ke dalam penciumanku.
Kutatap wajahnya, jantung berdebar begitu cepat seolah habis lari maraton. Ia menatapku, atau lebih tepatnya di bibir?
Aku terkejut ketika ia mendorongku ke belakang hingga terjatuh di atas kasur. Ia menatap dengan tajam, seolah ia ingin menerkam saat itu juga.
"Maksud?"
"Ma—maksud apa?" tanyaku dengan gugup.
"Maksud lo sentuh gue."
Aku terdiam, air mata yang sempat terhenti pun menetes kembali.
"Mau pipis, Kak," kataku dengan malu. Ia bergerak ke samping, menyingkir.
Bagaimana bisa aku yang lemah seperti ini harus berjalan sendirian ke kamar mandi tanpa dibantu? Yang ada bisa terjatuh dan celaka.
"Bantuin."
Ia terkesiap dan melongo ketika mendengar ucapanku yang memintanya untuk menemani ke kamar mandi. Kami sama-sama diam mematung. Aku yang menahan pipis, dan ia yang bingung memikirkan sesuatu.
"Ayo, Kak. Udah mau keluar, nih!" rengekku.
Dengan wajah frustasi dan tidak ikhlasnya, ia membantuku berdiri. Meski tahu bahwa ia tak ingin disentuh dan tak ingin menyentuh. Mungkin karena mama telah mengamanahkanku padanya. Atau mungkin karena ia merasa kasihan?
Ia menuntunku dengan perlahan dan berhenti tepat di pintu kamar mandi. Ia melepaskan pegangannya pada kedua bahu, seolah meminta untuk segera masuk dan menyelesaikan ritual.
Namun, aku menggeleng dan memintanya untuk ikut masuk dan menemaniku.
>>>•••
Aku tak tahu apa yang dipikirkan gadis di depanku ini, hingga membuat ia meminta untuk menemaninya di dalam kamar mandi. Bagaimana pun juga aku adalah pria normal dan lagi, aku tak mau menyaksikan orang kencing tepat di depan mata sendiri.
"Gak!" jawabku seraya mendorongnya masuk ke dalam kamar mandi.
Entah karena doronganku yang terlalu kuat, atau memang ia yang terlalu lemah, ia jatuh tersungkur di lantai dengan dahi yang terbentur lumayan keras di pinggiran wastafel.
Aku menghela napas kasar. Seperti habis melakukan KDRT! Dengan putus asa aku memegang kedua bahunya dan membantunya untuk berdiri. Kututup pintu kamar mandi dan menuntunnya untuk duduk di atas kloset. Kulihat dahinya yang sedikit berdarah. Aku mengusap lembut luka yang disebabkan olehku itu.
"Maaf," kataku, ia hanya mengangguk dengan senyum terukir di pipinya.
"Sea mau pipis dulu, kakak hadap sana," ujarnya menyuruhku untuk membelakangi.
Aku menurut tanpa basa-basi. Entah kenapa jantungku seperti ingin berlari ketika mendengar suara 'pipisnya' itu. Aku bergerak dengan gelisah, astaga Tuhan, apa yang terjadi padaku?
"Kak, udah."
Aku berbalik badan dan menuntunnya untuk keluar dari kamar mandi, mendudukkannya di atas kasur, lalu pergi berniat untuk mencari obat merah dan plester. Namun, lagi dan lagi gadis itu menyuruhku. Ah, aku seperti babunya!
Kau tahu ia menyuruhku apa? Mengambilkan baju dan pakaian dalam!
Gue bisa gila kalau gini terus!
Awalnya ingin menolak, tapi melihat kondisi Sea yang terlihat lemas, membuatku tak bisa menolak. Apalagi luka di dahinya yang mungkin membuatnya sedikit pusing.
Aku berjalan menuju lemari dengan banyak stiker Spongebob itu. Membukanya dan memilih pakaian untuknya. Aku mengambil kaos berwarna hitam, celana panjang, dan juga ... BH.
Aku mendekatinya dan memberikan pakaian itu padanya. Namun, ia menolak dengan alasan gerah. Dengan kesal aku melemparkan baju itu di sampingnya, lalu pergi keluar kamar untuk mencari obat merah dan plester.
Dengan perlahan aku berjalan menuruni tangga menuju dapur, mencari Tante Kelly untuk bertanya di mana obat merah itu disimpan.
"Loh, kamu ngapain, Den?"
"Mau cari obat merah, Tan."
"Oh, itu deket pintu." Aku mengangguk dan mengambilnya, lalu kembali ke kamar Sea.
Aku membuka pintu dengan perlahan, memastikan gadis itu tidak sedang mengganti bajunya. Setelah yakin, aku melangkahkan kakiku memasuki kamar itu.
Kulihat Sea berbaring di atas kasur, dengan selimut yang membungkus tubuhnya. Seingatku tadi ia bilang jika gerah, tapi kenapa sekarang malah selimutan? Aneh. Aku duduk di pinggiran kasur, mencoba menarik selimut yang dikenakan gadis itu. Sedetik kemudian merutuki kebodohan itu. Mungkin lain kali harus minta ijin dahulu sebelum menarik selimut seseorang.
Wajahku terasa terbakar, mengalihkan pandangan dan menetralkan degup jantung yang tak berirama ini. Ah, ini bukan jatuh cinta, ini hanya karena rasa terkejut saja. Bagaimana tidak terkejut jika ia menaikkan setengah bajunya hingga mengekspos perutnya yang putih.
"Kenapa, Kak?" tanyanya. Aku belum menolehkan kepala lagi, hanya sedikit melirik dari ekor mata, memastikan bahwa pakaian gadis itu telah benar atau masih sama seperti tadi.
Setelah yakin bahwa ia telah membenarkan bajunya, aku mulai berani memandangnya lagi. Menyuruh Sea untuk duduk, ia menurut tanpa banyak bicara.
Menuangkan beberapa tetes obat merah ke kapas, setelah itu membersihkan darah yang sudah mengering di dahinya. Dahinya mengkerut dan tangannya yang berada di pahaku mencengkeram erat celanaku. Sepertinya ia kesakitan? Hebatnya ia tak menangis.
Ingin menyingkirkan tangannya dari paha, tapi ya, sudahlah. Biarkan ia menyalurkan rasa sakitnya padaku. Toh aku yang membuat ia kesakitan bukan?
Setelah kurasa bersih, aku membuka plester dari bungkusnya, kutempelkan pada luka itu.
Ia membuka mata dan melepaskan cengkeramannya. Sedetik kemudian ia tersenyum. Entah karena apa ia tersenyum, tak tahu.
"Sea mau bobok," ujarnya dengan nada manjanya. Aku hanya mengangkat sebelah alis, berpikir untuk apa ia bilang padaku? "Peluk."
Entah dorongan dari mana, aku yang seharusnya menolak tiba-tiba menurut dan memeluknya dalam dekapan. Entah dari kapan, aku menikmati setiap sentuhannya ini. Tak merasa risih lagi. Atau aku ....
Enggak, gak mungkin, ini cuma karena kasihan.
Ia meringkuk seperti anak bayi yang merasa kedinginan. Kepalanya mendusel di dadaku untuk mencari kenyamanan. Aku mengelus puncak kepalanya dengan lembut dan menciumnya, lalu memakaikan selimut pada tubuh mungil aku. Sesuatu yang besar menyentuh perutku, apa itu ....
Dengan nakalnya tanganku bergerak menyentuh beda itu, apa lagi Sea tak mengenakan bra, membuatku semakin ingin. Sea terpekik, menatapku sejenak, lalu kami tidur dengan posisi saling berpelukan. mungkin suatu saat nanti aku akan mendapatkannya, rasanya beda.
Aku tersentak sesaat, kenapa aku begitu perhatian padanya?
Apa aku jatuh cinta?
TIDAK!
Aku tak jatuh cinta padanya.
Aku hanya ... kasihan.