“Berjanjilah kamu akan menceraikan wanita itu, Dev. Aku nggak mau diduakan. Aku nggak mau jadi istri kedua.”
Catherine memeluk pinggang Devan erat.
Ada takut di hatinya.
Takut suatu saat Devan pergi meninggalkannya dan memilih Silvia.
Antusias Silvia tadi membuat nyalinya menciut.
Seolah karma akan datang sebentar lagi.
“Cath, maaf. Aku nggak bisa janji soal menceraikan Silvia.
Aku sudah berjanji sebelum menikahinya. Aku nggak akan meninggalkannya begitu saja.
Pernikahan bukan main-main.
Lagipula dia nggak punya siapa-siapa lagi. Aku harus bertanggung jawab.”
Devan mengusap rambut Catherine pelan, mencoba menenangkannya.
Ia tahu Catherine cemburu.
Catherine melepaskan pelukan kasar.
“Jadi kamu anggap pernikahanmu dengannya serius, Dev?!”
Ia tersohok.
Devan gugup.
“B-bukan begitu, sayang. Jangan salah paham.
Aku cuma nggak mau dibilang lelaki yang nggak bertanggung jawab.
Kamu tenang aja. Semuanya akan baik-baik saja.
Dia juga nggak minta hak apa-apa.
Dia cuma mau aku nikahi. Itu aja.
Percaya deh, cintaku cuma buat kamu.
Aku nikahin dia karena kasihan. Nggak lebih.”
Devan menyelipkan rambut Catherine ke belakang telinga, tersenyum menenangkan.
Lalu memeluknya erat.
“Benarkah? Kamu nggak akan punya perasaan buat dia kan, Dev?”
Catherine masih cemas.
“Tidak, sayang. Satu-satunya wanita yang bikin hatiku jatuh cinta cuma kamu.” tegas Devan.
Ia menghela napas berat.
Hatinya bimbang.
Ia memang ingin Catherine jadi satu-satunya istri.
Tapi kenyataan mempertemukannya dengan Silvia.
Ia nggak cinta Silvia.
Tapi ia bukan tipe lelaki yang kabur dari tanggung jawab.
Catherine mengepalkan tangan.
Biasanya Devan selalu menuruti kemauannya.
Tapi kali ini, Devan bersikeras.
Brengsek! Perjanjian apa sebenarnya yang mereka buat?
Aku nggak boleh remehkan Silvia. Dia serius mau balas dendam!
---
Setelah mengantar Catherine pulang, Devan langsung ke kamar Silvia.
Ia buka pintu tanpa permisi.
“Apa yang kamu omongin sama Catherine di meja makan tadi?”
Suara Devan dingin.
Silvia baru mau berbaring. Ia duduk lagi.
“Ngomong apa? Aku nggak ngomong apa-apa.
Dia aja yang sensitif. Nggak bisa nerima kalau kamu udah nikah sama aku.”
Silvia tersenyum miring.
Ia nggak peduli perasaan Catherine.
Mau Cathrine mengamuk sampai menghancurkan rumah, Silvia tetap santai.
Ini yang ia tunggu.
Catherine merasakan sakitnya ketika calon suaminya direbut wanita lain, seperti yang ia rasakan dulu.
Impas.
Devan menghembus napas kasar.
Ia mendekat, menarik selimut Silvia.
“Aku mau penjelasan. Kenapa kamu kirim foto pernikahan kita ke Catherine?
Bukankah aku sudah bilang jangan sebar pernikahan kita?
Tapi kamu nggak gubris!”
“Aku nggak pernah janji nggak akan ngasih tahu dia.” ucap Silvia masih santai.
Devan berkacak pinggang.
“Tapi kamu nggak seharusnya kasih tahu Catherine!
Kamu nggak hargai aku!
Akibatnya dia shock berat.
Padahal aku sudah rencanakan semua ini biar dia nggak sakit hati!”
Devan bingung.
Bukankah pernikahan ini kemauan Silvia?
Seharusnya Silvia lebih menghargainya.
Sikap Silvia aneh sejak awal.
Apalagi waktu minta dinikahi.
Jangan-jangan gadis ini punya rencana lain.
Devan mengerutkan dahi.
“Dengar, sepintar-pintarnya tupai melompat, pasti jatuh juga.
Serapat-rapatnya kebohongan disembunyikan, pasti terbongkar juga.
Aku nggak mau ya, suamiku terus-terusan bohongi orang.”
jawab Silvia menyindir.
Devan terdiam.
“Katakan dengan jujur padaku. Sebenarnya kamu ini mau apa?
Kamu lagi rencanakan sesuatu di belakangku?
Atau... Jangan-jangan kamu salah satu haters Catherine?”
Tatapannya tajam.
Silvia menarik napas dalam.
Ia memalingkan wajah sejenak, lalu menatap Devan dengan serius.
“Suatu saat kamu akan tahu. Aku cuma mau melakukan yang terbaik buat kamu.”
Devan menahan pundak Silvia kasar.
“Jangan main-main denganku, Silvia!
Katakan tujuanmu sebenarnya!”
Silvia menatap mata Devan.
“Kalau aku bilang sekarang, kamu akan percaya?”
Ia menyeringai kecil.
“Sudahlah, lupakan. Aku mau tidur.
Besok pagi aku harus siapin makanan buat kamu.”
Ia menarik selimut lagi.
“Ngga perlu. Aku khawatir kamu taruh racun di makananku.”
Devan ketus.
Ia berbalik mau pergi.
Tapi Silvia menahan tangannya.
“Tunggu! Mana mungkin aku mau meracunimu, dasar pria aneh!”
Silvia tersinggung.
“Sudahlah, berhenti bersandiwara di depanku!”
Devan menepis tangan Silvia kasar.
Spontan Silvia terjatuh dari tempat tidur.
“Aahh! Sakit!”
Kakinya yang masih diperban berdenyut nyeri.
Devan yang mau pergi berhenti.
Ia berbalik cepat.
“Tuh kan! Makanya jangan main-main denganku!”
Ia mendekat, tapi ragu mau mengangkat Silvia.
“Kenapa kamu diam aja lihat aku jatuh begini?
Apa kamu tega lihat istrimu kesakitan terus?
Tadi kamu perhatian banget sama kekasihmu.
Padahal aku ini istrimu yang lebih penting!”
Silvia menangis sambil mengusap kakinya.
“Sudah, berhenti nangis. Dasar wanita manja.”
Devan gemas.
Ia mengangkat Silvia dan membaringkannya di kasur.
Tapi Silvia sengaja melingkarkan tangan di leher Devan.
Akibatnya Devan tersungkur dan menindih tubuh Silvia.
Jarak mereka tinggal sejengkal.
Napas mereka saling menerpa.
Detak jantung Silvia berpacu cepat.
Untuk pertama kalinya, wajah mereka sedekat ini.
Tanpa permisi, Silvia mengecup bibir Devan cepat.
Devan terkejut. Matanya membelalak.
“Terima kasih banyak, suamiku...”
ucap Silvia tersenyum malu-malu.
---
Bersambung...