Pagi yang Membingungkan.
Nitara terbangun dengan tubuh yang terasa pegal di sekujur tubuhnya.
Kepalanya berat seperti baru saja dihantam sesuatu. Tenggorokannya kering, sementara perutnya terasa tidak nyaman. Ia mengerang pelan sambil memejamkan mata.
“Ya ampun…”
Tangannya meraba-raba sisi tempat tidur, mencari ponselnya yang entah berada di mana. Beberapa detik kemudian, bunyi dering yang begitu nyaring kembali terdengar.
Tara mengernyit.
Dengan mata yang masih terpejam, tangannya akhirnya menemukan benda tersebut.
Ia mengangkat ponsel ke telinga.
“Hallo…”
Belum sempat ia membuka mata sepenuhnya, suara seorang lelaki terdengar dari seberang.
“Kak Tara…”
Tara diam, suara itu terasa sangat familiar.
“Aku pulang dulu, tapi aku akan tanggung jawab untuk apa yang kita lakukan semalam.”
Mata Tara langsung terbuka. “Apa?”
Jantungnya seolah berhenti berdetak.
Ia menatap langit-langit kamar dengan napas tertahan.
“Semalam?”
Suara di seberang masih terdengar.
“Kak…”
Tara perlahan menurunkan ponsel dari telinganya.
Baru saat itulah ia menyadari sesuatu yang membuat tubuhnya seketika membeku.
Selimut yang menutupi tubuhnya berantakan.
Pakaiannya tidak berada sebagaimana mestinya dan yang paling membuat pikirannya kacau, ia tidak mengingat bagaimana dirinya bisa sampai berada dalam kondisi seperti ini.
Tara menarik selimut lebih erat. “Ya Tuhan…”
Tangannya gemetar, ingatan malam sebelumnya datang dalam potongan-potongan kecil.
Tara memejamkan mata kuat-kuat.
“Enggak…”
Ia mencoba mengingat lebih jauh, namun semakin keras ia memaksa pikirannya bekerja, semakin kabur semuanya yang ia ingat hanya dirinya berada di apartemen, kemudian rasa mual, toilet, Antares membantunya. Setelah itu, kosong.
Benar-benar kosong.
“Kak Tara?”
Suara Antares kembali terdengar dari ponsel, Tara tersentak.
“Kak, aku akan tanggung jawab.”
“Antares…”
“Iya, Kak.”
“Apa yang terjadi semalam?”
Hening sesaat.
Antares seolah sedang mencari kata-kata yang tepat.
Namun sebelum lelaki itu sempat menjawab, Tara langsung mematikan sambungan.
Klik.
Sambungan terputus.
Tara menatap layar ponselnya dengan nafas memburu.
Kemudian perlahan ia meletakkan ponsel di atas tempat tidur.
“Tidak…”
Ia menutup wajah dengan kedua tangan.
“Aku melakukan apa?” kepanikan tiba-tiba memenuhi dadanya. Ia menggeleng berkali-kali.
Tidak mungkin dirinya melakukan hal seperti itu.
Apalagi dengan Antares, lelaki yang beberapa tahun lalu masih dianggap sebagai adik kecil.
Antares adalah keponakan Sofia, sahabatnya sejak masa kuliah. Dulu, ketika Antares masih remaja, lelaki itu pernah dengan polos mengatakan bahwa dirinya menyukai Tara.
Saat itu Tara hanya tertawa.
Baginya, Antares hanyalah anak muda yang sedang mengalami masa puber dan salah mengartikan kekaguman sebagai cinta.
Ia bahkan pernah mengacak rambut Antares sambil berkata bahwa suatu hari nanti lelaki itu akan menemukan perempuan yang jauh lebih cocok dengannya.
Namun waktu ternyata mengubah semuanya.
Antares bukan lagi anak laki-laki yang dulu ia kenal.
Ia sudah dewasa dan semalam…
Tara menelan ludah, bahkan tidak sanggup menyelesaikan pikirannya sendiri.
“Kenapa aku minum?” Tara memukul pelan dahinya.
“Kenapa aku harus ikut?”
Ia meraih bantal kemudian menutup wajahnya.
“Kenapa aku tidak langsung pulang?”
Ingatan tentang dirinya yang mabuk membuat Tara semakin malu.
Ia teringat bagaimana dirinya sempat memuji Antares, bahkan mengatakan lelaki itu tampan.
Kemudian…
Tara langsung membuka mata.
“Jangan-jangan…”
Ia kembali menutup wajah.
“Ya Tuhan, Tara!”
Ia merutuki dirinya sendiri.
Selama bertahun-tahun ia selalu menjaga sikap. Ia bahkan dikenal sebagai perempuan yang sulit kehilangan kendali.
Tetapi hanya karena dua gelas alkohol, semua pertahanan itu seolah runtuh.
Ponselnya kembali bergetar, nama Antares muncul di layar. Tara menatapnya tanpa berani mengangkat.
Panggilan berhenti, beberapa detik kemudian, sebuah pesan masuk.
Tara tidak langsung membukanya, ia menatap layar itu cukup lama. Jantungnya kembali berdebar, akhirnya ia memberanikan diri membuka pesan tersebut.
Kak Tara, aku tahu Kakak mungkin belum mengingat semuanya. Jangan panik. Aku tidak akan lari dari apapun yang terjadi semalam. Kalau Kakak sudah siap, kita bicara.
Tara membaca pesan itu berulang kali, tangannya terasa dingin. Ia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Namun satu hal yang ia tahu pasti, mulai hari ini, hubungannya dengan Antares tidak mungkin lagi sama seperti sebelumnya.
Lelaki yang dahulu ia anggap sebagai bocah kecil itu kini telah masuk terlalu jauh ke dalam kehidupannya dan Tara tidak tahu harus menghadapi kenyataan tersebut dengan cara seperti apa.
“Kak Tara di mana?”
Suara Kanara terdengar dari seberang telepon.
Nitara yang sejak tadi duduk diam di ujung sofa langsung mengangkat wajah. Perempuan itu masih terlihat pucat. Rambutnya dibiarkan terurai, sementara salah satu tangannya sesekali memijat pelipis karena kepalanya belum benar-benar pulih dari pengaruh alkohol semalam.
“Semalam Mas Adi bilang Kak Tara pulang duluan,” lanjut Kanara. “Setelah itu enggak ada kabar lagi. Mobil Kakak juga masih di kelab.”
Tara menarik napas panjang. “Aku sudah di rumah.”
“Oh, syukurlah.” Kanara terdengar lega.
“Aku kira Kakak kenapa-kenapa. Aku tadi sempat mau telepon, tapi takut ganggu.”
“Enggak apa-apa. Aku memang pulang duluan.”
“Mobilnya mau aku bawa pulang enggak?”
Tara terdiam sejenak. “Memangnya kamu di mana?”
“Kebetulan aku nggak jauh dari lokasi semalam. Sekalian aku ambil mobil Kakak.”
Tara mengusap wajah. “Boleh, ya.”
“Boleh dong. Nanti aku bawa ke apartemen Kakak.”
“Iya.”
“Oke, siap.”
Panggilan berakhir.
Beberapa waktu kemudian,,,
“Nih.” Kanara menyerahkan kunci tersebut.
“Mobil Kakak sudah aman.”
“Terima kasih.”
Kanara masuk tanpa banyak bicara. Namun baru beberapa langkah, ia langsung berhenti.
Matanya mengamati Tara dari atas sampai bawah.
“Kak…”
“Hm?”
“Kakak baik-baik saja, kan?”
Tara mengernyit. “Kenapa?”
“Kelihatan pucat banget.”
Tara menghela napas.
“Aku baik. Cuma masih sedikit pusing.”
“Oh…” Kanara mengangguk.
“Efek alkohol memang begitu.”
Tara hanya menghela napas lagi.
Ia berharap percakapan itu berhenti sampai di sana.
Sayangnya, bukan Kanara kalau tidak memperhatikan sesuatu yang menurutnya aneh.
Mereka baru saja duduk di sofa ketika Kanara tiba-tiba menyipitkan mata.
“Kak.”
Kanara menunjuk leher Tara.
“Itu apa?”
Tara refleks menyentuh lehernya.
“Apa?”
“Yang di situ.”
Tara meraba bagian yang ditunjuk Kanara.
Begitu jemarinya menyentuh kulit lehernya, wajahnya langsung berubah.
Ada rasa nyeri samar di sana dan ketika ia menoleh ke arah cermin yang berada tidak jauh dari sofa, jantungnya seketika berdegup kencang.
Bercak kemerahan, bukan hanya satu ada beberapa tanda samar di sisi lehernya.
Tara langsung menarik rambutnya untuk menutupi bagian tersebut.
“Enggak ada apa-apa.”
Kanara semakin curiga.
“Enggak ada apa-apa bagaimana?”
“Cuma…” Tara mencari alasan.
“Kayaknya alergi.”
Kanara menatapnya datar.
“Alergi? Bentuknya kok aneh?”
Tara menelan ludah.
“Memangnya alergi harus bentuknya bagaimana?”
Kanara mendekat. “Bentar.”
Tara langsung mundur.
“Jangan.”
“Nih, aku lihat dulu.”
Kanara berhenti, ia menatap Tara beberapa detik.
Kemudian ekspresinya berubah menjadi penuh kecurigaan.
“Kak…Semalam Kak Tara sama siapa?”