Kabar yang Mengubah Segalanya
Sudah beberapa hari terakhir Nitara merasa tubuhnya sedikit berbeda.
Awalnya ia mengira hanya kelelahan.
Pekerjaan di kantor memang sedang cukup padat. Beberapa urusan perusahaan membuatnya harus datang lebih pagi dan pulang lebih lambat dari biasanya. Ditambah lagi, beberapa malam terakhir tidurnya tidak terlalu nyenyak.
Namun semakin hari, rasa tidak nyaman itu justru semakin jelas.
Kepalanya sering terasa pusing.
Perutnya mudah mual.
Tubuhnya cepat lelah, bahkan untuk melakukan pekerjaan ringan sekalipun.
Nitara yang biasanya mampu bekerja tanpa banyak mengeluh mulai beberapa kali meletakkan kepalanya di atas meja.
Bayu adalah orang yang paling sering memperhatikan perubahan itu.
Lelaki tersebut beberapa kali datang membawa vitamin, buah-buahan, makanan bergizi, bahkan minuman hangat yang menurutnya bisa membantu mengurangi rasa mual.
“Kamu harus lebih banyak istirahat,” kata Bayu suatu sore ketika mengantarkan beberapa kantong makanan.
Nitara hanya mengangguk.
Ia sendiri sebenarnya tidak terlalu memikirkan kondisinya.
“Paling cuma kecapekan.”
Namun setelah beberapa hari, kondisinya tidak kunjung membaik.
Pagi hari menjadi waktu yang paling berat.
Nitara sering merasa mual ketika mencium aroma makanan tertentu. Bahkan kopi yang biasanya menjadi minuman favoritnya beberapa kali membuat perutnya terasa bergejolak.
Ia juga mulai lebih sering mengantuk.
Namun karena tidak ingin terlalu memikirkan kondisi tubuhnya, Nitara tetap menjalani aktivitas seperti biasa.
Sampai hari itu.
Sejak siang, Nitara sebenarnya sudah menginginkan bubur.
Entah kenapa, makanan sederhana itu tiba-tiba terasa begitu menggoda.
Ia bahkan sempat mengirim pesan kepada Bayu.
Aku pengin bubur.
Bayu membalas beberapa menit kemudian.
Nanti pulang kerja kita cari.
Nitara tersenyum membaca pesan tersebut.
Keduanya memang tidak memiliki banyak waktu untuk makan siang bersama. Karena itu mereka sepakat makan sore setelah jam kerja.
Menjelang sore, Bayu sudah menunggu di depan gedung kantor.
Ia berdiri di samping mobil sambil sesekali melihat jam.
Begitu pintu gedung terbuka dan beberapa karyawan mulai keluar, pandangannya langsung tertuju pada Nitara.
Bayu mengangkat tangan.
Nitara yang melihatnya dari kejauhan tersenyum kecil.
Ia melangkah menuju lelaki itu.
Namun baru beberapa langkah, tiba-tiba pandangannya berubah.
Gedung di sekelilingnya terasa berputar, suara orang-orang menjadi samar.
Nitara berhenti.
Tangannya refleks meraih sisi kepalanya.
“Kenapa…”
Ia mencoba menarik napas.
Namun rasa pusing itu semakin hebat, kakinya mendadak kehilangan tenaga.
Bayu yang sejak tadi memperhatikannya langsung menyadari sesuatu.
“Nitara!”
Tubuh Nitara jatuh sebelum sempat mendapatkan pegangan.
Bayu berlari menghampiri dan menangkap tubuhnya.
Beberapa staf yang berada tidak jauh dari sana ikut berkerumun.
“Bu Tara!”
“Panggil ambulans!”
“Jangan dikerumuni, kasih udara!”
Bayu panik.
Wajah Nitara terlihat sangat pucat.
“Nitara, dengar aku.”
Tidak ada jawaban.
Bayu menepuk pipinya perlahan.
“Nitara…”
Namun perempuan itu tetap tidak merespons.
Untungnya, pada saat yang hampir bersamaan, Raka kebetulan berada tidak jauh dari lokasi.
Begitu mendengar kabar bahwa kakaknya pingsan, ia langsung datang.
“Ada apa?”
Tatapannya berubah ketika melihat Nitara berada dalam pelukan Bayu.
“Kak Tara?”
Bayu segera menjelaskan apa yang terjadi.
“Dia tiba-tiba jatuh. Sepertinya pusing.”
Raka tidak membuang waktu.
“Bawa ke rumah sakit sekarang.”
Dengan bantuan beberapa orang, Nitara segera dibawa ke kendaraan.
Rumah sakit menjadi jauh lebih ramai ketika Raka membawa Nitara masuk.
Kiandra yang kebetulan sedang berada di rumah sakit segera datang begitu menerima kabar.
Sebagai dokter sekaligus ibu Raka yang sejak lama sudah mengenal kondisi keluarga mereka, Kiandra langsung mengambil alih pemeriksaan.
Nitara masih belum sepenuhnya sadar.
Pemeriksaan dilakukan secara menyeluruh.
Kemudian beberapa pemeriksaan lanjutan dilakukan untuk mencari penyebab pingsannya Nitara.
Bayu berdiri di luar ruang pemeriksaan dengan wajah penuh kecemasan.
Raka mondar-mandir.
Sesekali ia melihat ke arah pintu.
“Kakakmu memang beberapa hari ini tidak enak badan?” tanya Kiandra ketika akhirnya keluar dari ruang pemeriksaan.
Raka mengangguk.
“Katanya pusing dan mual. Aku kira cuma kecapekan.”
Bayu ikut menyahut. “Beberapa hari ini memang begitu. Saya sempat membelikan vitamin dan makanan karena kondisinya terlihat tidak terlalu baik.”
Kiandra mengangguk pelan.
Ia kembali melihat hasil pemeriksaan yang ada di tangannya.
Ada sesuatu yang membuat ekspresinya berubah.
“Raka, ikut Bunda sebentar.”
Raka langsung memperhatikan wajah Kiandra.
“Kenapa, Bun?”
“Bicara di ruangan.”
Nada suara Kiandra membuat Raka semakin khawatir.
Mereka kemudian masuk ke sebuah ruangan kecil.
Begitu pintu tertutup, Raka langsung bertanya.
“Bunda menemukan sesuatu?”
Kiandra menarik nafas pelan.
Ia tahu berita yang akan disampaikannya bukan sesuatu yang mudah diterima.
“Raka, kondisi kakakmu tidak disebabkan hanya karena kelelahan.”
Raka mengerutkan kening.
“Terus?”
Kiandra menunjukkan hasil pemeriksaan.
“Kak Tara hamil.”
Raka membeku, untuk beberapa detik, ia hanya menatap Kiandra tanpa berkedip.
“Apa?”
Kiandra tetap tenang.
“Hasil pemeriksaannya menunjukkan kehamilan.”
Raka menggeleng pelan.
“Enggak mungkin. Kak Tara hamil?”
“Iya.”
Raka mengambil napas dalam-dalam.
Pikirannya langsung dipenuhi berbagai kemungkinan.
Selama ini Nitara tidak pernah mengatakan memiliki hubungan serius dengan siapa pun.
Yang ia tahu, beberapa waktu terakhir Nitara memang dekat dengan seorang lelaki bernama Bayu.
Namun hubungan itu pun, setahunya, belum sampai pada pembicaraan mengenai pernikahan.
Raka menatap Kiandra lagi.
“Bunda yakin?”
Kiandra mengangguk.
“Sangat yakin.”
“Tapi mungkin hasil pemeriksaannya salah?”
“Tidak.” jawab Kiandra tegas.
“Pemeriksaan yang dilakukan menunjukkan hasil yang konsisten. Kita juga akan melakukan pemeriksaan lanjutan untuk memastikan usia kehamilan dan kondisi kandungannya, tetapi untuk status kehamilannya sendiri, hasilnya jelas.”
Raka terdiam. Ia berjalan beberapa langkah kemudian berhenti di dekat jendela.
“Kapan?”
“Kemungkinan masih awal.”
Raka mengusap wajah. Pikirannya semakin kacau.
Ia mencoba mengingat beberapa minggu terakhir.
Nitara memang terlihat berbeda.
Sering mual dan mudah lelah bahkan beberapa kali menolak makanan tertentu.
Semua tanda itu ternyata bukan sekadar kelelahan.
“Bunda yakin Kak Tara hamil?”
Pertanyaan itu terdengar seperti pengulangan, tetapi kali ini bukan karena ia tidak mendengar jawaban sebelumnya.
Ia hanya membutuhkan kepastian.
Kiandra menatap putra dengan penuh keyakinan.
“Iya, Raka.”
Tidak ada keraguan dalam suaranya.
“Kak Tara hamil.”
Raka menundukkan kepala.
Untuk beberapa saat ia tidak mampu berkata apa-apa.
Ada banyak hal yang ingin ditanyakan.
Siapa ayah dari anak itu?
Mengapa Nitara tidak pernah mengatakan apa pun?
Apakah Bayu adalah lelaki yang selama ini bersamanya?
Atau ada sesuatu yang sama sekali tidak diketahui keluarga?
Raka menatap pintu ruangan tempat Nitara sedang beristirahat.
Bagaimanapun juga, pertanyaan itu bisa menunggu.
Untuk saat ini, yang terpenting adalah memastikan kakaknya baik-baik saja.
Beberapa waktu kemudian, Nitara akhirnya membuka mata.
Pandangannya masih kabur.
Kepalanya terasa berat.
Ia mencoba bergerak, tetapi tubuhnya terasa lemas.
“Kak Tara?”
Suara Raka membuatnya menoleh.
Raka berdiri di samping tempat tidur.
Wajahnya tampak jauh lebih serius daripada biasanya.
Di belakangnya ada Kiandra.
Nitara mengerjapkan mata.
“Aku di rumah sakit?”
“Iya.”
“Aku kenapa?”
Raka tidak langsung menjawab.
Ia menatap Kiandra sebentar.
Kemudian kembali melihat kakaknya.
“Kak…”
Nitara mulai merasa tidak nyaman melihat ekspresi adiknya.
“Ada apa?”
Raka menarik napas.
Sementara Kiandra berdiri tenang di samping tempat tidur.
“Nanti Bunda yang jelaskan.”
Nitara semakin bingung.
“Apa?”
Kiandra mendekat.
“Kamu pingsan karena kondisi tubuhmu sedang mengalami perubahan besar.”
Nitara menatapnya.
“Perubahan?”
Kiandra tersenyum lembut.
“Kamu sedang hamil, Tara.”
Dunia Nitara seolah berhenti, matanya membesar.
Bibirnya sedikit terbuka namun tidak ada suara yang keluar.
Hamil.
Satu kata itu berputar-putar di kepalanya. Nitara tidak lagi merasakan pusing, yang ia rasakan justru sesuatu yang jauh lebih menghantam.
Sebuah kesadaran yang perlahan menghubungkan dirinya dengan malam yang selama ini berusaha ia lupakan.
Malam bersama Antares.
Nitara menatap kosong ke depan.
Tangannya perlahan turun menyentuh perutnya sendiri.
Belum ada perubahan apa pun yang terlihat.
Namun di dalam sana, mungkin sudah ada kehidupan kecil yang mulai tumbuh.
Dan tiba-tiba, semua keputusan yang selama ini ia buat terasa tidak lagi sesederhana sebelumnya.