Situasi tidak akan membaik hanya karena Nitara memilih diam.
Ia menyadari hal itu sejak masih berada di rumah sakit. Semakin lama ia menyembunyikan siapa lelaki yang menjadi ayah dari bayi dalam kandungannya, semakin besar pula masalah yang akan muncul.
Namun untuk mengatakan nama itu bukan perkara mudah.
Nitara bahkan belum mampu mengatakannya kepada dirinya sendiri tanpa merasa dadanya sesak.
Antares.
Nama itu terus berputar di kepalanya sejak dokter memastikan kehamilannya.
Setelah kondisinya dianggap cukup baik, Nitara akhirnya diperbolehkan pulang. Raka mengantarnya bersama Kiandra, sementara Bayu memilih tidak banyak bertanya. Lelaki itu masih terlihat terpukul oleh kejadian di rumah sakit, tetapi ia cukup memahami bahwa Nitara sedang membutuhkan ruang.
Di rumah, keadaan justru tidak menjadi lebih tenang.
Kedua orang tuanya sudah menunggu. Pertanyaan yang sama kembali muncul, meskipun disampaikan dengan cara yang berbeda.
Siapa ayah dari bayi itu?
Mengapa Nitara tidak mau mengatakannya?
Apakah lelaki itu tahu tentang kehamilannya?
Apakah lelaki tersebut akan bertanggung jawab?
Nitara hanya memberikan jawaban seadanya.
Ia mengatakan belum siap membicarakannya.
Setelah itu, ia masuk ke kamar dan mengunci pintu.
Untuk saat ini ia hanya ingin tenang dalam waktu yang cukup lama, Nitara merasa ingin benar-benar sendirian.
Ia duduk di tepi tempat tidur sambil mengembuskan napas panjang. Kamar yang biasanya terasa nyaman malam itu justru terasa begitu sempit.
Matanya kemudian tertuju pada benda-benda yang diletakkan di atas nakas.
Sebuah alat tes kehamilan dan beberapa lembar hasil pemeriksaan rumah sakit.
Nitara meraih salah satu kertas tersebut.
Hasil pemeriksaan itu begitu jelas, tidak ada lagi ruang untuk menyangkal.
Ia benar-benar hamil.
Telapak tangannya perlahan berpindah ke perut.
Masih belum terlihat perubahan apa pun di sana. Tidak ada tanda yang bisa dilihat orang lain. Namun di dalam tubuhnya, sudah ada kehidupan kecil yang perlahan tumbuh.
Air mata menggenang di sudut matanya.
“Aku harus bagaimana?” bisiknya.
Nitara memejamkan mata.
Ia membayangkan wajah keluarganya jika mengetahui semuanya. Raka yang pasti akan marah. Ayahnya yang mungkin akan kecewa. Ibunya yang mungkin menangis. Bahkan keluarga Sofia pun tidak mungkin tinggal diam setelah mengetahui Antares terlibat dan yang paling membuatnya takut adalah Antares sendiri.
Apa yang akan dilakukan pemuda itu ketika mengetahui bahwa malam yang ingin mereka lupakan ternyata meninggalkan sebuah kehidupan?
Nitara mengambil ponselnya.
Jarinya sempat berhenti di atas layar cukup lama sebelum akhirnya membuka nama Antares.
Percakapan mereka sudah lama berhenti.
Sejak Nitara memintanya menjauh, Antares benar-benar menghormati permintaannya.
.
Dulu Nitara menganggap sikap itu sebagai sesuatu yang melegakan.
Kini justru membuatnya semakin gugup.
Ia mengetik sebuah pesan.
Aku ingin bertemu.
Nitara membacanya berkali-kali.
Namun bagi Nitara, mengirim pesan itu saja sudah terasa seperti membuka pintu menuju kekacauan yang selama ini ia hindari.
Akhirnya ia menekan tombol kirim.
Tidak sampai beberapa menit, balasan masuk.
Kapan?
Nitara terdiam.
Antares bahkan tidak bertanya mengapa.
Seolah lelaki itu memang selalu siap jika suatu hari Nitara kembali mencarinya.
Nitara mengetik perlahan.
Besok jam dua di Cafe Mentari.
Balasan kembali datang.
Baik.
Percakapan itu selesai.
Nitara meletakkan ponselnya di atas nakas.
Tatapannya kembali tertuju pada alat tes kehamilan dan hasil pemeriksaan.
Entah mengapa, dua benda sederhana itu sekarang terasa seperti benda yang mampu mengubah seluruh kehidupannya.
Ia menarik napas dalam-dalam, tidak pernah membayangkan akan berada dalam situasi seperti ini.
Selama ini ia selalu merasa mampu mengendalikan hidupnya sendiri. Ia terbiasa membuat keputusan dengan kepala dingin, menjaga jarak dari berbagai masalah, bahkan memilih hubungan yang menurutnya aman.
Namun satu malam telah menghancurkan semua perhitungan itu dan sekarang, ia harus berhadapan dengan lelaki yang menjadi bagian terbesar dari kekacauan tersebut.
Keesokan harinya, Nitara sudah tiba di Cafe Mentari beberapa menit sebelum pukul dua.
Ia sengaja datang lebih awal, bukan karena tidak sabar bertemu Antares.
Justru sebaliknya.
Ia membutuhkan waktu untuk menenangkan dirinya sendiri.
Nitara memilih meja di dekat jendela. Dari sana ia bisa melihat halaman depan cafe dengan cukup jelas. Sesekali tangannya menyentuh gelas air mineral di hadapannya, tetapi hampir tidak pernah benar-benar meminumnya.
Wajahnya masih sedikit pucat.
Ia sudah memakai riasan tipis untuk menyamarkan kondisi tubuhnya. Rambutnya ditata sederhana, pakaiannya juga tidak berlebihan namun sehebat apa pun ia berusaha terlihat baik-baik saja, kegelisahan di matanya tetap sulit disembunyikan.
Nitara berkali-kali melihat jam tangannya.
Belum pukul dua.
Antares belum datang.
Anehnya, semakin lama menunggu, jantungnya justru semakin berdebar.
Ia bertanya-tanya apakah lelaki itu akan berubah setelah mendengar kabar kehamilannya.
Apakah Antares akan panik?
Apakah dia akan menolak?
Atau justru mengingat perkataannya dulu tentang tanggung jawab?
Nitara menggigit bibir bawahnya.
Ia bahkan tidak tahu jawaban seperti apa yang sebenarnya ia harapkan.
Beberapa menit kemudian, suara kendaraan berhenti di depan kafe membuat perhatiannya teralihkan.
Nitara menoleh ke arah jendela.
Seseorang baru saja turun dari sebuah motor sport berwarna gelap.
Pemuda itu mengenakan jaket casual dan celana panjang. Tubuhnya tinggi dan tegap. Helm hitam masih menutupi sebagian besar wajahnya.
Nitara memperhatikan ketika lelaki itu membuka helm dan mengibaskan rambutnya yang sedikit berantakan.
Jantungnya mendadak berdetak lebih cepat.
Antares.
Ia mengenalinya bahkan dari kejauhan.
Antares kemudian berjalan menuju pintu cafe.
Nitara menatap tanpa berkedip, pemuda yang sekarang berjalan mendekatinya terlihat seperti lelaki muda pada umumnya.
Modis.
Percaya diri.
Tampan.
Tidak ada lagi sisa-sisa anak kecil yang dulu sering memanggilnya dengan sebutan kakak.
Nitara mendadak teringat masa lalu.
Dulu, Antares adalah anak laki-laki yang menurutnya terlalu muda untuk memahami perasaan sendiri.
Ia pernah menganggap pengakuan cinta pemuda itu sebagai sesuatu yang lucu.
Bahkan ketika Antares mengatakan bahwa suatu hari nanti ia akan membuat Nitara melihatnya sebagai seorang lelaki, Nitara hanya tersenyum dan menganggapnya sebagai omongan seorang anak muda.
Kini lelaki itu berdiri di depan pintu cafe, Nitara benar-benar menyadari kenyataan yang selama ini berusaha ia hindari.
Lelaki muda yang dulu memanggilnya Kak Tara itu kini adalah calon ayah dari bayi yang sedang dikandungnya.
Pikiran tersebut membuat nafas Nitara tercekat.
Antares masuk ke dalam kafe, pandangan mereka bertemu. Untuk beberapa detik, keduanya hanya saling menatap dari kejauhan.
Antares kemudian berjalan mendekat.
Nitara menegakkan tubuhnya, berusaha menyembunyikan kegugupan.
Namun telapak tangannya sudah mulai dingin.
Antares berhenti tepat di hadapannya.
“Sudah lama,” katanya pelan.
Nitara hanya mengangguk.
Ia menatap wajah lelaki itu sekali lagi, ia tidak melihat Antares sebagai anak kecil, tapi sebagai seorang lelaki dewasa.
Seorang lelaki yang sebentar lagi akan mengetahui bahwa kehidupannya telah berubah selamanya.
Nitara menarik napas panjang.
Ia tahu, setelah percakapan ini dimulai, tidak akan ada lagi jalan untuk kembali.
Karena kali ini ia tidak datang untuk membicarakan masa lalu tapi untuk memberitahu Antares tentang masa depan yang tumbuh di dalam rahimnya.