Begitu Andine sudah sampai di rumahnya dengan selamat dan tidak kekurangan apapun. Di depan pintu utama rumahnya sudah berdiri seorang perempuan seksi, yang memakai tanktop hitam dan celana selutut.
Kini dia tengah bersidekap d**a, dan menatap ke arah Andine dengan tatapan jutek dan galaknya. Malah lebih ke arah tatapan seorang Kakak yang mengintimidasi adiknya yang pulang malam.
Andine sendiri hanya acuh tak acuh, tak mengindahkan keberadaan kakak perempuannya yang bernama Lita itu. Andine sudah tahu, Kak Lita pasti akan memarahinya bahkan meledeknya lagi.
Karena saat Andine pertama kali pacaran dengan Tyan dulu, Kak Lita lah yang pertama kali menolak keras dan tidak setuju mereka menjalin hubungan.
"Kenapa mukanya sedih begitu? gak dapet kepastian lagi, di suruh sabar dan nunggu lagi, atau baru di usir?" tanya Lita dengan ekspresi jutek dan merendahkan.
Andine yang suasana hatinya sedang buruk itu, malah semakin buruk mendengar nyinyiran kakaknya yang seratus persen benar itu. Dia merasa di rendahkan dan di remehkan oleh kakaknya itu, Andine tidak menyukai hal itu.
"Lo kalo mau ngajak berantem sama gue, gak usah lah di saat gue lagi kaya gini."
"Gak lucu tau gak!! lo kalo emang mau berantem sama gue, nanti malam gue jabanin. Sekarang jangan ganggu gue, minggir!!"
sentak Andine dengan mata melotot ke arah Lita, karena dia emosi jiwa dan raga, Andine pun menyenggol lengan Lita dengan keras lalu masuk kedalam rumah dengan kaki di hentak hentakan.
Bukanya balik marah atau emosi, seorang Lita malah diam dan menatap kepergian adiknya itu dengan mata melotot tak percaya.
"Kapan sadarnya sih si Andine, kalo cowok itu gak pantes buat dia. Kenapa lo terlalu maksain dan ngeyel. Harus dengan cara apa lagi sih, biar bikin lo buka mata dan sadar."
Gumam Lita dengan hembusan nafas beratnya. Sebagai seorang kakak yang sudah dewasa, Lita memilih berjalan ke arah taman dan duduk disana sambil menikmati buah strawberry.
**
Pada malam harinya Andine termenung di dalam kamarnya dengan perasaan campur aduk. Beberapa kali matanya melirik ke arah ponselnya siapa tahu Tyan mengirim pesan kepadanya, atau simpelnya meminta maaf kepada Andine karena kejadian tadi pagi di rumahnya.
Namun sudah beberapa jam dia menunggu dari pagi tadi sampai malam ini, tak ada tanda tanda Tyan mengirim pesan kepadanya. Perasaan Andine semakin terluka ketika melirik ponselnya yang tak sesuai ekspetasi itu.
"Dia kemana sih? kok massage nya gak aktif terus dari tadi pagi, pas gue pulang dari rumah dia. Ini udah malam loh, dia masih belum aktif juga."
Seru Andine dengan lesu. Perasaanya tak bisa di jabarkan antara cinta, kecewa, berharap dan juga menunggu kapan pelangi indah antara dirinya dan Tyan akan tiba. Terdengar lebay namun itulah keinginan seseorang yang sedang di mabuk cinta.
Duarr
Duarr
Di luarsana tiba tiba saja terdengar bunyi petir yang menyambar nyambar dengan suara kerasnya. Refleks Andine membanting ponselnya karena terkejut dan memegang dadanya yang berdebar.
Andine pun langsung berdiri dari duduknya, lalu berjalan ke arah gorden kamarnya dan melirik ke arah luar gorden. Pemandangan di luar gorden tampak sangat gelap dan mengerikan.
Dimana cahaya petir yang saling menyambar di langit itu tampak terlihat jelas. Hingga beberapa detik kemudian hujan besar pun datang di tambah angin yang cukup kencang, mengibas ngibaskan dedaunan dan juga pepohonan.
"Habis lo gak dapet kepastian tadi pagi, malamnya langsung ada petir saling nyambar. Udah gitu hujan gede lagi, di tambah ada angin juga."
Celetuk Lita yang tiba tiba menerobos masuk ke kamar Andine, tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
Andine menggerutu kesal begitu melihat kedatangan Lita, yang main menerobos masuk kamarnya tanpa permisi itu. Sudah begitu, orang itu selalu saja cari masalah dengannya, Andine sebenarnya cape jika harus berantem dan adu mulut dengan kakaknya itu.
"Maksud lo apaan sih, kak? malah ngait ngaitin kejadian tadi pagi. Ini tuh gak ada hubungannya sama gue, bisa nggak gak usah so jadi dukun."
Cetus Andine dengan ngegas, sambil mendelik tajam ke arah Lita. Lita tersenyum mengejek mendengar jawaban adiknya itu, lalu duduk santai di kasur milik adiknya sambil menopang dagu.
"Kata siapa gak ada hubungannya. Justru gue percaya banget kalo hujan kali ini tuh adalah pertanda buruk buat lo. Alias tuhan lagi kasih tahu seorang Andine bocoran, atau lebih tepatnya peringatan sih."
Cetus Lita dengan tatapan menelisik ke arah foto foto Andine dan Tyan, yang banyak bertebaran di dinding kamar itu. Lita tersenyum meremehkan begitu melihat foto Tyan yang sedang tersenyum itu.
Selain itu yang semakin bertambah muaknya Lita adalah, begitu dia melihat foto Andine yang tersenyum bahagia sambil merangkul bahu Tyan. Astaga, Lita merasa bergidig ngeri melihat foto foto yang bertebaran di kamar adiknya itu.
"Pertanda apaan sih, hujan ini tuh murni kejadian alam gak ada hubungannya sama kisah gue. Lo tuh kaya dukun aja, masih percaya sama yang begituan. Mending lu ngebut deh, inget lo bukan penganut animisme dan dinamisme, LITA."
Seru Andine panjang lebar dengan kesal. Emosinya serasa mulai terpancing mendengar ocehan tidak berguna kakaknya itu. Andai saja Lita bukan kakaknya, sudah Andine jambak rambut Lita yang baru di cat dengan warna baru itu.
"Mau ngasih tahu tentang kebenaran soal sesuatu pun susah nempel di otak lo, Andine. Karena di otak lo itu, cuma ada si mocondo Tyan nyampe ke ujung kaki buluknya."
"Ternyata bener ya ngomong sama orang yang lagi mabuk cinta itu gak akan di dengar sama sekali, justru malah kita yang di anggap bego karena nyampein kebenaran."
Seru Lita dengan sewot dan berwajah garang mirip kak Ros itu. Sepertinya kedua kakak beradik itu tidak bisa akur jika di dekatkan, terlihat dari mata mereka yang saling tatap menatap horor saat ini.
"Udah deh, gue lagi gak mood adu argument sama lo." Cetus Andine menghela nafas lelah. Dia tidak mau berantem dengan kakaknya itu, apalagi gara gara soal Tyan lagi.
"Udah di pacari 7 tahun, gak dapet kepastian, mocondo, habis di usir bak ayam bekantan pula. Sekarang malah gak di peduliin alias di cuekin, masih aja kecintaan mahluk satu ini terhadap orang itu."
Seru Lita tertawa kencang dengan tatapan mengejek. Andine hanya bisa mengelus dadanya melihat tingkah kurang ajar kakaknya itu.
Ting..
Tiba tiba notifikasi ponsel milik Andine pun berbunyi, Andine yang tadinya tertunduk lesu itu pun langsung mengangkat kepalanya dengan mata berbinar. Karena di layar ponselnya tertera nama kontak Tyan yang mengirim sms kepadanya.
Tyan sungguh sangat perhatian dan peka, pikir Andine tersenyum bahagia. Buktinya Tyan tidak mengirim pesan padanya melalui massage, karena mungkin Tyan ingin keselamatan Andine terjaga. Dengan tidak mengirim pesan melalui massage, namun melalui sms.
"Nih coba lo lihat dengan mata kepala lo sendiri, wahai Lita. Kata siapa Tyan gak peduli sama gue. Noh lihat, dia ngirim pesan ke gue pake sms saking mau ngelindungi gue dari petir."
Ucap Andine dengan nada sombongnya, mengalihkan ponselnya tepat di depan mata Lita. Lita sendiri malah melotot kaget dan tak percaya, begitu dia membaca pesan sms dari Tyan untuk adiknya itu.
Lita pun tanpa pikir panjang langsung menabok pipi Andine agak keras agar segera sadar, lalu berkata kencang dengan serius.
"Kayanya lo kelainan deh, baca dulu itu isi smsnya apa. Lo gak sakit hati atau gimana gitu. Si Tyan mutusin elo begooo..!!!"
Teriak Lita emosi menatap adiknya dengan wajah geram. Mendengar kata putus yang di ucapkan Lita dari sms yang di kirim Tyan padanya.
Sontak membuat Andine terdiam dan menatap Lita dengan marah, Andine merasa Lita pasti sedang menipunya.
Duarr
Duarr
Tiba tiba terdengar bunyi petir saling menyambar di luar, yang membuat Lita dan Andine terkejut. Andine pun membanting ponselnya ke kasur, dan dua kakak beradik itu pun saling berpelukan tanpa sadar.
Setelah dirasa petir sudah tiada, pelukan mereka pun langsung terlepas dengan mata saling menatap horor. Andine yang masih tidak percaya bahwa isi dari pesan sms dari Tyan adalah kata putus pun, langsung mengecek ponselnya kembali.
"Hah putus, gak mungkin lah. Biar gue baca smsnya dengan bener, lo pasti lagi ngerjain gue kan?"
Seru Andine menatap Lita dengan tajam. Lita pun hanya diam terbengong bengong.
Begitu mata Andine membaca isi sms dari Tyan padanya. Baru saja paragraf pertama jantung Andine langsung berdebar kencang, Andine merasakan hatinya macam di tusuk sembilu tujuh buah.
Rasanya sangat sakit tak tertahankan, begitu Andine membaca perkataan dimana Tyan meminta maaf sebesar besarnya kepada dirinya, bahwa hubungan mereka harus berakhir sampai hari ini.
Ponsel Andine langsung terjatuh dengan keras, dan pecah berserakan. Tangannya gemetar memegangi dadanya yang semakin terasa sakit sambil berkata.
"Apa putus adalah akhir dari hubungan kita?" ucapnya dengan tatapan kosong.
***