Cuitan burung di pagi berkabut membangunkan aku dari lamunan. Tapi entah lamunan tentang apa, tentang siapa, tentang dimana dan kapan??? Semua hanya sebuah elegi dari nostalgia masa lalu yang masih saja terperangkap dalam kenangan. Ffiiuuuhhhh... Sebegitu indahnyakah masa laluku? Kurasa tidak juga.. walau masih saja ingin aku mengingatnya.. membuatku terhibur sejenak, mengalihkan kesibukan otakku dari rutinitas seorang ibu muda dengan dua anak.
"De, aku tunggu depan fakultas ya." Seseorang yang sebenarnya belum lama kukenal.. Mas Wanto.
"Iya mas, bentar ya..aku masih nunggu temanku." Balasku di telepon.
Tak lama, kami pun berlalu dengan sepeda motornya. Badannya yang tinggi besar, membuatku tenggelam dalam boncengannya. Aku rasa, aku mulai jatuh hati padanya.. aahh aku ini.
"De, udah sampe nih.. .mau turun ga? Atau mau ikut aku pulang? Haha.." becandanya menyadarkanku dari lamunan.
"Eh..iya mas.. turunlah aku.. masa ikut mas pulang, emang aku siapa kamu." Jawabku sedikit jutek.
"Eh iya ya. Emm.. klo gitu harus jadi apa dulu dong biar mau ikut aku pulang?" Tanyanya.
"Dih gitu.. jadi apa ya?? Ga tau aahh.." Jawabku.
"Yowes sana masuk..istirahat.. nanti aku telepon lagi ya".
"OK mas..makasih ya udah anter aku pulang"
Sejenak aku terdiam.. apa memang aku sudah jatuh hati pada Mas Wanto? Aaahhh... Baru saja dua minggu lalu kami berkenalan. Belum banyak hal yang aku tahu darinya. Dan aku rasa masih terlalu singkat untuk merasakan cinta.
***
Aku seorang mahasiswi di salah satu fakultas ekonomi di universitas di Jogjakarta. Dengan bermodal beasiswa dan semangat, aku beranikan melanjutkan pendidikanku di kota pelajar ini. Dulu, aku hanya sering bermimpi untuk bisa pergi pelesir ke kota ini. Namun saat inj, aku ada disini, jadi bagian dari kota ini, jadi bagian dalam cerita ini.
Mas Wanto ternyata jarang pulang ke Jogja, karena memang ia bekerja di luar pulau Jawa. Profesinya sebagai seorang geologist, mengharuskannya berlama-lama di situs penelitian. Dan aku rasa ia lupa padaku.
Telepon genggamku berdering, tidak hanya sekali, berkali-kali, puluhan kali. Saat aku masih terlelap..
"Halo, assalamualaikum.." Aku menjawab telepon itu.
"Wa'alaikumsalam.. masih tidur de?" Balas Mas Wanto dari ujung telepon.
"Masih" Jawabku singkat sambil berfikir, memangnya ini jam berapa? Sambil melirik jam dinding di kamarku. Jam 02.30 WIB.
"Tumben belum bangun jam segini de?"
"Hah..iya..semalem tidurnya kemaleman".
"Nanti kuliah jam berapa?" Tanyanya lagi.
"Emm.. aku ada kelas jam 9 sih mas. Kenapa?"
"Yowes, tunggu depan kost aja ya, nanti mas jemput".
Tepat jam 8.30 WIB, Mas Wan (begitu panggilanku untuknya) sampai di depan pagar rumah kost ku, pastinya dengan senyum simpulnya. Gemas sekaligus kesal juga kadang aku melihatnya. Aaahhh.. apa sih yang aku fikirkan tentang dia??
"Yuk, de.. nanti terlambat lho ngampusnya." Tegurannya memecah lamunanku.
"Eh..iya mas.. ayo." Seraya naik ke atas motornya.
Seharian itu entah kenapa fikiranku dipenuhi oleh semua tentangnya, wajahnya, senyumnya, suaranya, bahkan sampai aroma parfumnya pun serasa berkeliaran di hidungku. Ya tuhan.. apa yang sedang terjadi padaku? Apa benar ini cinta? Atau hanya sebuah kekaguman semata?. Hanya waktu yang bisa menjawab.
Waktu terasa berjalan sangat cepat hari iini. Dan lagi-lagi aku pun bertemu dengannya lagi. Dan..akhirnya waktu menjawab lamunanku selama ini.
"De, pacaran sama aku mau ga?". Tanya Mas Wan saat kami baru saja selesai makan bersama sore itu.
"Eeehh..emm..eemm...". Bingung aku harus menjawab apa.
"Mau ya berarti. Yes.. berarti aku boleh panggil sayang ya."
"Eeehhh..". Lagi-lagi aku tak bisa menjawab.
Namun tangannya sudah lebih cepat menggandeng tanganku. Dan aku pun menerimanya. Hatiku pun bergetar, tanpa alu sadari aku pun terlena. Sebentar saja aku sudah berada dalam pelukanmya. Benarkah ini? Atau salahkah? Entahlah..tapi aku menikmatinya. Aku pun menyimpulkan..cintaku yang semu..telah menjadi nyata.
Bersambung...