NOT ANGEL
Oleh : Sabellah Ramadhiani Fitri
Bagian Satu
New Delhi, 2003
Malam pergantian tahun di New Delhi, jalanan ibu kota dari negeri Barata ini tampak sepi. Tidak ada kendaraan roda dua, sepeda dan orang yang berjalan kaki. Jalan raya benar-benar sepi. Hanya ada satu atau dua mobil yang melewati jalan ini, melaju dengan kecepatan tinggi membelah hujan yang semakin deras membasahi bumi Barata. Salah satunya kendaraan roda empat berwarna putih yang mulai memperlambat kecepatan ketika mau masuk ke daerah perumahan warga. Dua orang di dalam mobil terlihat heran mendapati komplek tempat mereka tinggal pun sepi. Seperti tak ada tanda-tanda individu atau sekumpulan keluarga yang akan merayakan malam pergantian tahun. Hujan yang turun dengan deras di awal tahun ini memberi anugerah atau sebuah kutukan?
“Apa semua orang pulang kampung? Komplek ini jadi seperti pemukiman hantu,” gerutu gadis berpipi chubby yang duduk disamping kursi pengemudi sambil melihat area sekitar komplek dari dalam mobil.
“Entah kemana semua orang pergi. Bahkan jika terjadi kasus pembunuhan pun tak akan ada yang tahu, pos satpam tadi juga tidak ada yang jaga,” tambah pria berbadan tegap yang duduk di kursi pengemudi.
Pria pemilik d**a bidang itu menoleh ke samping kirinya lalu berkata, “Aahana! Tutup kacanya! Bagaimana jika ada kriminal yang sedang berkeliaran lalu bisa saja lehermu dibacok!” omel pria berdada bidang.
Aamar mencondongkan tubuhnya ke sisi kiri lalu tangan kirinya bergerak menekan tombol penutup jendela yang berada di sisi kiri Aahana. Setelah itu Aamar kembali ke posisi awalnya.
“Siapa yang berani menyakiti adiknya seorang inspektur?” tanya Aahana dengan nada sombong.
“Meski pun aku seorang polisi, jika kriminal itu berjumlah sepuluh orang dan aku sendiri, tetap saja aku kalah. Disituasi genting tidak akan terpikir untuk menelepon kantor polisi terdekat. Karena yang paling utama aku akan menyelamatkan nyawa adikku tersayang. Jadi Aahana, kau adikku satu-satunya yang paling merepotkan.”
“Memangnya kau punya adik selain aku?” ejek Aahana.
“Aahana! Jangan menyela jika orang tua sedang berbicara,” ucap pria berdada bidang memberi Aahana nasehat.
“Ya-ya-ya…, kakakku inspektur Aamar diusia-nya yang terbilang tua masih belum menikah, pfft…,” ejek Aahana.
“Itu karena aku sibuk mengurusimu! Usiaku masih 25 tahun. Seorang pria dengan usia segitu masih tergolong muda. Dasar bocah!” Balas Aamar mengejek Aahana.
“Aku tidak minta diurus olehmu! Mati tak mengenal muda atau tua. Kau yakin masih hidup diumur dua puluh enam tahun? Jangan pikirkan aku, menikahlah agar kau tidak mati sia-sia. Setidaknya jangan mati dalam keadaan membujang!” ucap Aahana sedikit kesal.
Aahana membuang pandangannya ke arah kaca mobil.
“Kak Aamar,” panggil Aahana tanpa menoleh.
“Tidak masalah aku mati dalam keadaan membujang. Aku tetap mati sebagai seorang pahlawan,” ucap Aamar dengan sombong.
“Pahlawan? Memangnya kau akan pergi berperang? Kau itu inspektur bukan tentara, hahaha…,” ledek Aahana.
Aahana sangat suka meledek kakaknya. Begitu pun dengan Aamar yang senang berdebat dengan adik perempuannya.
“Seluruh hidup telah aku dedikasikan untuk adikku tersayang, Aahana Kapoor. Aku akan melindungimu dengan sepenuh jiwa my little princess hahaha…,” ucap Aamar bercanda.
“Maksudmu, kau akan mati ketika sedang menjagaku?” Tanya Aahana untuk memastikan.
Aamar meng-iya-kan pertanyaan dari adiknya.
Aahana langsung menoleh kea rah Aamar dan langsung bertanya, “Jadi maksudmu aku penyebab kematianmu?”
Aamar menganggukkan kepalanya dan berkata, “Setelah mati aku akan bangkit dari kubur dan mencari kau! Aahana, dimana kau Aahana? Hahaha….”
Aamar tertawa semakin keras setelah melihat ekspresi wajah Aahana yang baginya begitu menggemaskan.
“Aku akan membakar jasadmu dan membuang abunya di sungai Gangga supaya kau tak bisa bangkit dari dalam kubur,” ucap Aahana masih saja meladeni ucapan dari kakaknya yang sama sekali tidak berbobot.
“Hahaha…, aku hanya bercanda,” kata Aamar mengakui ke-isengannya.
“Leluconmu tidak lucu!” bantah Aahana.
Aahana kembali membuang pandangannya keluar kaca.
“Mana ada orang yang sudi keluar saat hujan deras bercampur petir begini. Pantas saja komplek ini sepi,” gumam Aamar yang ternyata di dengar oleh Aahana.
“Ada,” ucap Aahana membalas gumaman dari Aamar.
“Siapa dan dimana?” Tanya Aamar penasaran.
“Baru saja kita melewatinya,” jawab Aahana.
Aamar penasaran dengan apa yang dikatakan oleh Aahana. Dari kaca spion dalam mobilnya dia melihat seseorang berjalan dengan sangat pelan sambil menunduk, menggunakan mantel hujan berwarna hitam.
Aamar tak mengehentikan mobilnya. Dia semakin melajukan kecepatan kendaraannya lalu lima menit kemudian mereka tiba di depan sebuah rumah yang cukup besar.
Seorang satpam membuka pagar rumah lalu Aamar kembali menjalankan mobilnya, masuk ke dalam garasi mobil. Tiba di rumah, Aahana dan Aamar disambut oleh dua orang wanita tua, mereka adalah asisten rumah tangga ini.
“Aahana, kali ini aku berbicara serius. Tidak selamanya aku berada di dekatmu, jadi kau harus peduli kepada dirimu sendiri dan selamatkan lah dirimu sendiri terlebih dahulu,” ucap Aamar serius.
Aahana hanya memberi jempolnya lalu berjalan masuk ke dalam kamarnya.
TO BE CONTINUED