“April!, Dimana kamu!” fokusku tiba-tiba buyar kala seseorang memanggil namaku dengan kerasnya,bahkan seperti sebuah teriakan.
“Iya Mas kenapa?” tanyaku yang kini sedang melihat Mas Janu, penampilan yang kusut dan tau muka penuh amarah.
“Maksud kamu apa, mempermalukan Vanya ditempat umum dan menamparnya!” aku tersentak karena Mas Janu meneriaki ku dengan kerasnya.
“Maksud Mas gimana yah!” Ucapku bingung dengan penuturan Mas Janu.
“Jangan pura-pura Ngak tahu, tapi kamu ajak Vanya ketemuan dan kamu permalukan dia hingga kami tampar dia kan!, Selama ini aku diam ketika kamu terus membahas hubungan dengan Vanya, tapi aku juga tidak bisa diam saja ketika kau sudah menyakiti Vanya hanya kamu merasa cemburu!”
“Mas memang aku ketemu dengan Vanya tadi, tapi aku sama sekali Ngak nampar ataupun mempermalukan Vanya, kita hanya makan biasa!”
“Cukup!!!, Jujur aku sudah Ngak kenal dengan kamu, kamu sudah berubah aku Ngak habis fikir!”
“Asal mas tau yah, Vanya itu rubah, dia itu licik bahkan dia dengan bangganya bilang kalau dia hanya memanfaatkan kamu!”
“Udah yah, aku Ngak mau denger omongan kamu itu, bahkan kamu bukannya mengaku malah menumpukkan kesalahan orang lain dan menuduhnya!”
“Aku bicara fakta, Vanya itu perempuan Ngak bener, dia licik dan kamu masih membela jalang itu!!”
Plakk
Dan semua sudah berakhir, tamparan itu sangat kencang pipiku rasanya panas dan perih, bahkan sepertinya berdarah sudut bibirku, aku hanya tertunduk dan tersenyum tipis.
“Sebaiknya kamu renungi kesalahanmu!” Januari pergi tanpa rasa bersalah dan sepertinya memang dia sudah tidak perduli lagi.
Badanku merosot aku hanya bisa menangis dan terisak,bahkan hatiku lebih sakit dari sebuah tamparan yang mungkin bekasnya tidak separah hatiku.
Kamu berhasil membuatku merasakan sakit lagi dan lagi, dan sepertinya sekarang adalah saatnya aku mengambil keputusan dan secepatnya pergi.
*
“b*****t!” Janu berteriak kasar, bahkan para pengunjung club menatap heran dengan tingkah laki-laki itu.
“Seharunya loe N
ngak harus nampar istri loe seperti itu, dan seharusnya Loe itu lihat dari dua sisi, aneh gue sama loe, kemari ajah ngejar-ngejar tuh cewek, sekarang sudah Loe nikahin dengan gampangnya juga Loe sakitin dia!” Janu tertegun mendengar penuturan dari sahabatnya yang bernama Haris itu, mereka bersahabat sudah cukup lama.
“Gue refleks ngak maksud untuk sakitin dia, Loe tau kan gimana cintanya gue sama April” Jelas Janu yang penuh rasa bersalah itu.
“Mending Loe balik, minta maaf dari pada disini males gue lihat Loe mabok kaya gitu!”
Janu, laki-laki itu setelah pertengkaran dengan sang istri dia pergi melampiaskan dengan pergi ke club, perasaannya kacau disatu sisi dia marah disisi lain dia merasa bersalah karena telah menampar sang istri.
“Malam ini gue nginep di apartemen loe!” untuk sekarang dia hanya perlu menenangkan pikirannya, mungkin dengan tidak pulang ke rumah dulu bisa membuat suasana hatinya lebih tenang.
“Terserah !” ucap Haris berjalan pergi dari Club’ itu.
Sepertinya Haris, Juna mendapatkan pesan dari Vanya yang mengatakan bahwa untuk menemaninya malam ini, dengan cepat diapun akhirnya menuruti dan menemui Vanya.
“Kamu ngak papa kan?” Tanya Januari
“Ngak ko aku cuman takut” Jawab perempuan itu dengan muka yang menyedihkan, dan sebenarnya itu hanyalah topeng belaka
“Aku disini, lebih baik kamu istirahat jangan terlalu dipikirin apa yang terjadi hari ini!” wanita itu mengangguk.
Kita tidak akan tau apa yang akan terjadi hari esok, hanya saja selagi kamu punya kesempatan maka perbaikilah , mungkin apa yang kamu benci sekarang bisa jadi hal itu yang membuat kamu bahagia.
**
"Semalam kamu tidur dimana Mas?” tanyaku yang kini menatap Januari karena semalam dia tidak pulang dan pagi ini dia datang dengan keadaan yang bertanya.
“Rumah Vanya!” Ucap Janu dengan dinginnya.
“Mas istri kamu itu aku, bukan Vanya bahkan kalian Ngak ada ikatan sama sekali tapi kamu nginep di rumah wanita itu!” aku berucap dengan geramnya.
“Ini juga semua salah kamu, kalau kamu Ngak ngelakuin hal yang nyakitin Vanya mungkin dia Ngak akan stres seperti itu!” Januari tak kalah, dia berteriak dan membentakku dengan kencangnya.
“Sudah aku bilang aku sama sekali tidak melakukan itu Mas!” perasaan saat kita difitnah itu sangatlah menyakitkan, apalagi Ketika orang yang kita sayang tidak percaya lagi kepada kita.
“Buktinya sudah jelas! Dan kamu masih mengelak seharusnya kamu mikir dan atas kesalahan kamu!” cukup sudah rasanya sangat menyakitkan, rasanya aku ingin pergi saja dari semua permasalahan ini.
“Kamu mau bukti? Baik, akan aku buktikan dan jika semua kebenaran itu terbukti, jangan pernah berharap aku bisa memaafkan kamu lagi!” aku pergi dari hadapan laki-laki itu menuju kamar tamu, hatiku lagi-lagi dihancurkan oleh orang yang sama, bahkan dengan bodohnya aku memaafkan dan menikah dengan sosok sepertinya.
“Aku akan beri bukti itu Jan, tapi setelah itu akan aku pastikan kamu tidak akan melihat aku dan calon anakmu lagi!” Ucapku yang kini tertunduk menangis.
Setelah lelah menangis akupun membereskan beberapa baju dan memasukkannya kedalam koper, beberapa pembantu menatapku dengan heran karena aku mendorong sebuah koper.
“Non mau kemana?” ucap bibi
“Bi aku cuman mau keluar dulu, nanti kalau Mas Janu mencari ku bilang saja bukti yang diinginkan mas Janu sudah saya simpan di laci kamar!” akupun melangkahkan kakiku keluar dari rumah itu, dan memasuki Taxi yang sudah aku pesan tadi.
Semua akan segera berakhir dan pada akhirnya aku kembali merasakan sakit untuk kesekian kalinya, aku hanya bisa berharap setelah ini aku bisa menemukan kebahagiaanku, meskipun hanya dengan anak yang aku kandung ini.
Selamat tinggal Januari, kamu berhasil Menyakiti dan memberikan aku luka lagi, kamu laki-laki pertama yang membuatku jatuh cinta dan kamu juga laki-laki pertama yang membuatku terluka hingga sulit untuk disembuhkan.
Kini aku sudah sampai disalah satu bandara internasional, dengan koper yang aku tarik aku berjalan kearah seseorang yang sudah dari tadi menunggu ku.
“Kamu yakin akan pergi?” tanya laki-laki itu menatap ku dengan intens
Akupun mengangguk dan kini kami berdua berjalan menuju pesawat, laki-laki itu menggandengku dan memberikan ku rangkulan yang membuatku kian merasa sakit dan sedih.
*
Januari menatap aneh dengan kondisi rumah yang sepi bahkan sang istri yang biasanya akan menyambutnya kini tidak terlihat sama sekali.
“Bi!” teriak Januari memanggil sang pembantu.
“Iya tuan”
“Kemana April?, Saya ko Ngak lihat dia?”
“Emm anu tuan, tadi Non April pergi bawa koper trus dia bilang sama saya, kalau tuan tanya soal Non April cuman disuruh bilang, kalau bukti yang diinginkan Tuan sudah Non April simpen di laci meja samping kasur di kamar, itu saja tuan!”
“Argghh!” Januari berteriak dan dia berjalan menuju kamar dengan langkah lebarnya itu
Sebuah map dibuka dan terdapat perekam serta surat didalamnya, perlahan laki-laki membuka perekam itu dengan perasaan yang gamang.
“Sepertinya kamu masih tertarik terhadap suamiku, sampai-sampai dibelikan apartment baru bahkan kamu sepertinya dilindungi sekali oleh Mas Janu!”
“Ahh, sepertinya yang sangat tertarik itu suami kamu deh, soalnya kan aku sudah suruh dia untuk ngak ngurusin masalahku, tapi dia dengan lantangnya membelaku dan berjanji melindungi ku!”
“Emm, memang suamiku itu terlalu bodoh, bahkan selama ini dia sebenarnya hanya diperalat saja, ck ck kasihan sekali!”
“Ya dia terlalu bodoh, mau saja dimanfaatkan olehku!”
“Sepertinya sangat gampang sekali, menyingkirkan lawan sepertimu, Vanya!”
“Dan sepertinya sebelum aku tersingkirkan, aku akan menyingkirkan kamu terlebih dahulu!”
“kamu itu sama sekali tidak pandai menyembunyikan belang mu, emm silahkan singkirkan aku, aku tunggu itu!”
“b******k kau Vanya, b*****t! Apa yang sudah aku lakukan terhadap April lagi-lagi aku menyakiti dia, Arghhh!!!!” Januari berteriak frustasi dengan rasa bersalahnya dengan perasaan yang menyakitkan itu berlahan dia membuka sebuah surat dengan rangkaian kata yang membuatnya semakin bersalah.
Kamu mau bukti kan Mas? Sebenarnya aku sudah merekam percakapan itu ketika bertemu dengan Vanya hari itu, aku tidak bodoh ko mas, aku hanya ingin melihat apa yang akan dilakukan oleh wanita itu, dan setelah dia memfitnahku bahkan kamu pun sama sekali tidak mempercayai ku.
Jadi untuk apa aku disisi mu lagi Mas, dulu kami bilang tidak akan menyakiti aku tapi lagi dan lagi kamu terus sakiti dan lukai aku, bahkan aku fikir dengan adanya pernikahan ini kamu akan benar-benar menepati janjimu dan memberikan kebahagiaan tapi lagi-lagi aku salah besar.
Aku pergi, jangan cari aku lagi, dan sesuai perkataan ku kemarin setelah buktinya kamu punya jangan pernah berharap maaf dariku, dan satu lagi Aku hamil, usianya sudah 3 bulan lebih jadi jangan pernah cari aku dan anak ini.
“Arghhhh maafkan aku hiks.. aku sudah menyakiti kau lagi sayang, maafkan aku seharusnya aku percaya sama kamu arghhhhhhhh!” Januari meremas rambutnya dan memukul dirinya sendiri, dia berteriak frustasi akan akibat dari sebab yang telah dia lakukan, dan sekarang di hanya bisa menagis pilu.