Kehilangan sang istri akan kesalahan yang dia perbuat, yang menjadikan sebuah penderitaan bahkan sang ibu enggan melihat’ atau berbicara kepadanya. Dia hanya bisa terus mencari keberadaan sang istri dengan perasaan yang berkecamuk dengan sejuta rasa bersalah.
Bugh
Satu pukulan mendarat di wajah tampan seorang Januari, bahkan kini laki-laki itu enggan untuk membalas orang yang memukulnya.
“b*****t!” teriak laki-laki yang memukuli Januari.
“Kamu tau, aku sudah lama mencintai April, bahkan ketika di memilih kamu yang sudah menyakitinya pun aku mengalah, tapi sekarang kamu sakiti lagi orang yang aku cintai!, Bahkan wanita itu sedang mengandung, dimana otak kamu sialan!!” Laki-laki itu Karen, sang sepupu yang dengan perasaan penuh amarahnya dia datang ke kantor setelah mendengar kabar tentang wanita yang masih sampai saat ini dia cintai disakiti lagi oleh seorang laki-laki b******n.
“Bang! Aku..” belum sempat Januari melanjutkan pembicaraannya dia kini karena menarik kerah sepupunya.
“Dengar kesempatan kamu sudah habis, dan aku tidak akan membiarkan kamu memiliki April lagi, bahkan ketika nanti aku menemukannya akan aku pastikan kamu benar-benar tidak akna bisa memilikinya lagi!” Karen pun pergi sedangkan kini Januari tertunduk dan berteriak dengan kencangnya.
Seharusnya dia tidak melakukan Kesalahan yang fatal ini, karena mengingat sosok April yang cantik dan manis membuat para pria mengagumi akan kecantikannya, bahkan sepupunya sendiripun tertarik dan menyukai April.
“Anjing!!” Januari melemparkan vas bunga hingga beberapa barang di ruangan kerjanya, dia berteriak dan mengumpat bahkan amarahnya kini sudah sangat besar.
“Tidak akan aku biarkan orang lain memiliki April selain aku!” Januari semakin kesetanan ruangan itu hancur akibat amarah yang meluap itu.
Sekalipun Januari mati maka dia tidak akan membiarkan wanitanya direbut dan dimiliki oleh orang lain, meskipun dosanya sudah begitu besar dan tidak akan termaafkan, itu tidak akan sama sekali membuat Januari hilang arah dan menyerah begitu saja.
Setiap hati selalu memantau dan mencari keberadaan sang istri, bahkan detektif ternama pun sampai saat ini belum bisa menemukan titik terang dari keberadaan sang istri.
Sepertinya memang banyak orang yang melindungi wanitanya agar tidak bisa ditemukan olehnya, tapi dia tetap gigih untuk menemukan sang istri.
Meskipun tiap tahunnya tidak ada sama sekali titik terang, bahkan banyak orang yang hampir menyerah dengan kasus ini, sudah lima tahun berlalu wanitanya sulit sekali untuk ditemukan, hampir penjuru Indonesia sudah dia telusuri.
Banyak sekali orang yang dia bayar untuk menemukan sang istri, dia tidak akan menyerah, selagi dia bernafas dia akan terus mencari dan meminta maaf kepada sang istri bagaimanapun itu caranya.
Kini Karen sedang memandangi foto sang istri, dia mengusapnya dan tidak pernah berhenti menatapnya, bahkan diruangan kerja dan kamarnya banyak sekali foto sang istri yang dia pajang.
Foto ketika dulu mereka pacaranpun terpanjang di setiap sudut kamarnya, sosok April sangat berarti bagi seorang Januari, tidak akan ada yang pernah bisa menggantikan dirinya.
Hubungan Januari dengan sang ibu masih sama, bahkan ketika kerumah Orangtuanya dia hanya berbicara dengan sang ayah, dia juga rindu sosok ibunya yang cerewet itu, bahkan ketika SMA dia di Indonesia dan orangtuanya di Amerika dia tidak merasakan rindu yang sangat berat seperti sekarang ini.
“Mah apa kita Ngak terlalu jahat sama Janu, selama Lima tahun ini dia sangat tertekan hidupnya sudah sangat berantakan!” ucap Pak Wahyu ayah dari seorang Januari.
“Mas, kita sudah bahas ini sebelumnya bukan, lagian ini adalah balasan buat dia!” Balas sang istri.
“Mah, sudah lima tahun dia terpisah dari istri dan anaknya, lagian cucu kita juga sangat merindukan sosok ayahnya!”
“Aku tau mas, tapi itu kembali lagi ke April, lagian itu semua belum seberapa jika dibandingkan rasa sakit yang menantu kita rasakan!”
“Pokonya kita harus membicarakan ini lagi dengan April, Bagaimanapun mereka juga masih suami istri, Januari juga punya hak akan itu!”
Sang istri gaya terdiam dengan keputusan yang tidak akan pernah diganggu gugat, karena setah sang suami mengatakan iya, maka itu yang akan terjadi.
**
“Momy!!!” Teriak seorang anak laki-laki yang kini tengah berlari menuju pelukan sang ibunya.
“Gimana seru Ngak sekolahnya?” tanya sang ibu.
“Ngak!, Temen-temen pada cengeng, ion Ngak suka!” ucap anak yang memanggil dirinya ion tersebut.
“Loh kok gitu, emang cengeng kenapa?” ujar sang ibu.
“Ihh kan momy! Meleka itu ngaknmau ditinggal sama momynya, kan kata Bu gulu, momy itu duduknya di lual bukan ikut ke dalam!” sang ibu tersenyum mendengar penuturan putranya.
“Trus ion Ngak ikutan nangis juga pas tadi pagi Momy cuman nganterin ion sampai gerbang sekolah?” tanya sang ibu.
“Momy cantik, ion kan anak hebat, kata papah Dewa, ion Ngak boleh cengeng, karena yah cengeng itu plempuan, kan ion laki-laki!”
“bagus kalau begitu, ion sudah punya teman tapi pas tadi di kelas?”
“Ishh Momy mah kaya waltawan, nanya mulu kan ion mah pulang, lapal”
"Yaudah kita sekarang pulang!”
Dengan penuh antusias anak laki-laki dan sang ibu pulang ke rumah, Rion Naresta anak laki-laki yang April Lahirkan Empat tahun yang lalu, kini anak itu sudah tumbuh menjadi sosok yang ceria, pintar, dan tampan tentunya.
“Momy masak apa hari ini?” tanya ion dengan wajah polosnya, siapapun yang melihatnya pasti akan tertarik dengan ketampanan dan kelucuannya.
“Momy masak ayam kecap kesukaan ion, dong!” balas April
“Wahh, ayam! ion suka ayam, biar bisa terbang kaya papah Dewa!” April terkekeh dengan jawaban sang anak.
“Loh ayam kan Ngak bisa terbang kaya butung sayang, meskipun punya sayap tapi dia Ngak bisa terbang tinggi!” jelas April.
“Yahh, Ngak papa deh nanti ion ikut terbang sama papah Dewa jar bisa ngalahin Ayam, hihihi!” Aprilpun tertawa.
Ibu dan anak itu kini menikmati makanannya, bahkan ion yang sudah suka sangat ayam sejak lama, diapun bisa menghabiskan ayam kecap itu hingga tersisa tulangnya. Setelah makan, ionpun kini sedang memainkan mainan pesawat yang diberikan oleh Dewa, dengan senangnya anak itu menerbangkan pesawat menggunakan tangannya.
“Momy, Yuhuuu!” teriak ion, mencari dan ibu
“Iya kenapa sayang?” tanya April.
“Oma sama Opah kapan kesini, ion kangen pengen malak uang Opah lagi!” pertanyaan yang absurdnya bahkan anak berumur Empat tahun lebih itu sudah tahu palak memalak dengan sang kakek bahkan sang paman yang dipanggilnya papah yaitu Dewapun sering menjadi korbannya.
“Momy Ngak Ngak tau sayang, tapi biasanya akhir bulan kan Oma sama Opah suka kesini!” jelas April.
“Mom, kenapa Oma sama Opah, datangnya akhir bulan, bukan awal bulan, bukannya orang akhir bulan itu tidak punya uang ya mah”
“Loh kata siapa itu?”
“Kata Aunty Tika, katanya akhirnya bulan itu tanggal tua, nah setiap orang di akhir bulan pasti pada Ngak punya uang, pantesan Opah selalu kasih ion uang sedikit, ternyata Opah datangnya ditanggal tua!” ion terus mengoceh sementara April hanya bisa menggelengkan kepalanya, entah gen dari mana kecerewetan yang sang anak punya, terkadang April hanya bisa pusing sendiri atas perilaku ion yang unik.
“Ngak semua orang Ngak punya uang dia akhir bulan itu sayang, karena kalimat itu hanya diperuntukkan bagi para pegawai yang di gajihnya awal bulan, jadi akhir bulan disebut tanggal tua dimana hasil gajih dari bulan sebelumnya sudah habis, tapi kan Opah Ngak punya gajih, tapi dia meng gajih orang!” Dengn sabar Aprilpun menjelaskan kepada sang anak.
“Oh, berarti Opah punya uang dong, jadi kalau begitu, ion bisa minta uang sama mainan sama Opa!, Yeyyyyg uhyuuu!”
“Tapi jangan keseringan yah, Ngak baik, masa setiap kali kesini kamu palakin, Ngak boleh yah, kalau Opah ngasih baru kamu terima!”
“Iya Momy, tapikan kata Opah aku boleh minta apa ajah, bahkan gedung tinggi pun Opah akan belikan untuk ion katanya!” sudah tak sanggup rasanya memberikan penjelasan kepada anak satu-satunya itu, karena pasti dia yang akan mengalah.
“Yasudah, sekarang ion tidur siang dulu, nanti sore kita ketempat Aunty Tika yah!” bocah itupun mengangguk dan pergi ke kamar, setidaknya untuk sekarang dia bisa bernafas lega.
@@@
“Aunty Tika, yuhuuuu dimanakah engkau berada!” teriak ion ketika datang di toko bunga milik sang ibu.
“Aunty Tika!” diapun terus mencari hingga merasa jengkel sendiri.
“Iya tuan, ada yang bisa hamba lakukan!” ucap Tika yang kini tengah menggoda ion.
“Ihh Aunty Ngak budeg kan, ion panggil juga dali tadi!” ionpun merajuk dan memeluk kedua tangannya dengan bibir manyunnya.
“Maafkan hamba tuan, tadi hamba sedang dibelakang jadi tidak mendengar panggilan tuan!”.
“ion Ngak suka, Auntynya lama, padahal ion mau main pesawat-pesawatan sama Aunty!” Tikapun membuang nafas.
“Ok, sekarang maunya, nanti Aunty kasih!”
“Bener Aunty?”
“Iya”
“ion mau eskrim, ya ya ya!” bocah itu memohon dengan wajah lucu dan wajah imutnya.
“Huff, baiklah tapi yang murah yah, Aunty belum gajihan Ok!”
“Ok, Aunty Meluncur........”
Tika hanya bisa bernafas dan tersenyum kecil, lagi-lagi bocah itu memalaknya secara halus, bahkan setiap dia ketoko bunga pasti banyak alasan hingga dia harus diberikan eskrim atau mainan. Bisa-bisa dia menjadi gelandangan kalau terus dipalak oleh bocah itu, kalau bukan anak dari Mbak April, mungkin Tika akan mempertimbangkan lagi untuk tidak menjaganya ketika Mbak April sedang pergi keluar.
Dengan hati yang berat dia membelikan satu cup eskrim dan memandangi ion yang sedang menikmati Eskrim tersebut, dia hanya bisa membuang nafas melihat isi dompetnya yang sudah menipis.
"lain kali kalau mau eskrim, suruh papah Dewa saja yang belikan yah!, belinya yah banyak jadi Ngak harus pergi ke kedai eksrim!" ucap Tika dan bocah itu hanya mengangguk tanpa mau membalas ucapannya.