Pagi ini Nare dan Arga bangun kesiangan. Padahal mereka harus pergi ke kantor. Bersiap - siap dengan terburu - buru sampai Arga lupa memakai dasinya. Dan Nare lupa memakai lipstik nya. Bahkan keduanya juga melewatkan sarapan pagi ini.
"Aduh udah deh Mas nanti aja di mobil atau enggak di kantor deh. Ribet nih, nanti yang ada tambah telat" ucap Nare yang jengah dengan Arga yang ribet dengan dasinya sejak tadi.
"Nanti masa aku ke kantor kayak gini sih, Sha. Kamu juga sih lagian kok bisa-bisanya gak bangunin aku" ucap Arga.
"Kok kamu malah nyalahin aku?" Protes Nare tak terima,
"Kamu kan juga salah disini" lanjutnya.
"Itu kan emang udah jadi tugas kamu, Sha" ucap Arga.
Nare memilih untuk diam. Dan langsung berjalan mendahului Arga menuju mobilnya sendiri.
"Loh kamu? heh! naik mobil saya Naresha." teriak Arga.
"Gak usah" balas teriak Nare.
Nare mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Arga yang melihatnya langsung mengikuti mobil Nare.Namun sial nya, Nare mampu menyalip beberapa mobil membuat Arga kehilangan jejaknya.
Arga mengerang frustasi. "Arrgh sial"
Sedangkan Nare mengulas senyum kemenangan. Tidak tahu saja bahwa dulu ia adalah pembalap handal. Baik motor maupun mobil.
Saat Nare memasuki kawasan kantor, banyak karyawan menatapnya dengan bermacam-macam. Dari yang menatapnya biasa saja, hingga menatapnya tidak suka secara terang-terangan.
"Enak banget ya jadi istri bos, bisa masuk kantor kapan aja. Lah coba kita , telat dikit kena point" ucap para karyawan yang tidak suka kepada Nare.
Sedangkan Nare hanya menundukkan kepalanya. Sejujurnya telat seperti ini bukan keinginannya. Tak lama Arga datang dengan langkah tegap nya. Membuat para karyawan yang tadinya bergosip ria mendadak diam. Tatapannya beralih pada sang istri. Melihat Nare yang diam saja membuatnya sedikit khawatir. Terlebih tadi pagi ia membuat nya kesal.
•••
"Lo sakit Re?" tanya Yani saat melihat wajah pucat Nare.
Nare menggelengkan kepalanya. "Gue cuma lupa pake lipstik tadi" alibinya.
Yani menatap Nare curiga. "Gak usah bohong lo sama gue" ujar Yani yang sudah paham betul dengan sikap Nare.
Nare menelungkupkan kepalanya di meja. "Gue gak papa, beneran. "
Saat tengah asik memejamkan mata di dalam telungkupan nya , salah satu karyawan memanggilnya. "Nare, kamu di panggil pak bos tuh"
Nare spontan langsung mendongakkan kepalanya. "Oh iyaa, makasih yaa" ujarnya.
Karyawan itu mengangguk. "Sama-sama."
Nare berjalan ke ruangan Arga dengan membawa beberapa tumpukan berkas yang memang akan ada keperluan dengan Arga.
Tok... tok ... tok ...
"MASUK" teriak Arga dari dalam.
Setelah mendapatkan izin untuk masuk, Nare segera masuk ke dalam ruangan bos serta suami nya itu.
"Ada yang bisa saya bantu pak?" tanya Nare sopan.
Arga melirik Nare dingin. "Pakaikan saya dasi" ujarnya dengan menyerahkan dasinya.
"Maaf pak, tapi ini kantor. Dan bapak juga bisa pakai dasinya sendiri" ucap Nare bersikap profesional. Setelah mendengar cibiran orang-orang kantor pagi tadi ia bertekad untuk selalu professional,
"Dan ini berkas yang harus bapak baca dan tanda tangani" lanjutnya.
Arga memicingkan matanya. "Yang bikin saya kesiangan terus lupa pakai dasi siapa?"
"Maaf pak, untuk urusan rumah tangga tidak perlu dibawa sampai ke kantor" ucap Nare dingin.
"Apa ada lagi yang ingin bapak bicarakan?" tanya Nare.
Arga menatap wajah istrinya itu. Betapa terkejutnya ia mendapati wajah pucat istrinya. "Kamu sakit?"
Nare menggeleng. "Saya cuma lupa pakai lipstik, apa ada lagi yang ingin bapak sampaikan? jika tidak saya permisi" pamitnya.
Nare langsung berjalan keluar dari ruangan Arga. Perutnya nyeri sekali akibat tidak makan seharian ini.
*****
"Re, Lo bener gak mau pulang aja?" Tanya Yani saat mendapati Nare yang semakin pucat.
"Kenapa gue harus pulang?" tanya Nare.
Yani menjitak kepala Nare pelan. "Lo sakit bodoh" ujar Yani yang kesal dengan sifat keras kepala Nare.
"Enggak Yan, gue cuma lupa pakai lipstik tadi. Lagian kalo gue pulang takut nya mereka ngerasa dibedain" Jelas Nare
Yani menghela nafas kasar. "Tapi kan ini posisi nya lo sakit Naresha."
Nare tetap dengan pendiriannya dan menggelengkan kepalanya. "Gue gak pa-pa" ujarnya dengan memaksakan tersenyum.
"Kalau ada apa-apa bilang sama gue ya" akhirnya Yani pasrah.
Nare tersenyum tipis seraya mengangguk meyakinkan sahabat nya bahwa dirinya baik-baik saja.
•••
Jam telah menunjukkan pukul 17:00. Yang artinya sudah jam pulang kerja. Nare langsung membereskan meja kerja nya dan bersiap untuk pulang. Saat hendak berdiri sakit di kepalanya membuat ia berhenti dan berpegangan sudut meja.
Saat itu juga Arga keluar dari ruangannya dan betapa terkejutnya ia saat melihat istrinya hendak lunglai.
Buru-buru ia berlari dan menangkap tubuh Nare. "Kamu kenapa?"
Nare tidak menjawab. "Hey kamu kenapa? sayang hey"
Arga langsung menggendong Nare bridal style dan membawa nya ke mobil. Nare sudah tidak sadarkan diri sejak Arga menggendong nya.
Arga menjalankan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju rumah sakit. Sungguh ia sangat khawatir dengan keadaan istrinya saat ini.
"DOK DOKTER! TOLONG ISTRI SAYA DOK" teriak Arga saat sampai di rumah sakit.
Para perawat langsung sigap membawa brankar dan Arga langsung meletakkan Nare di atas brankar tersebut.
"Kamu kenapa sih, Sha" gumam Arga seraya membantu para perawat membawa Nare ke UGD.
"Bapak mohon tunggu sebentar yaa" Ucap perawat itu saat Arga hendak ikut masuk.
Arga berjalan mondar mandir di depan ruangan tempat Nare diperiksa oleh dokter. Dirinya menyesal telah menyalahkan Nare tadi pagi. Padahal ia juga terlibat dalam ketelatan tadi pagi.
Setelah 20 menit menunggu, akhirnya dokter keluar dari ruangan Nare. Arga langsung bangun dari duduknya.
"Gimana keadaan istri saya dok?" tanya Arga khawatir.
"Istri anda tidak apa-apa, hanya dehidrasi dan seperti nya istri anda telat makan hari ini. Maagh nya kambuh" jelas Dokter tersebut.
"Baik dok terimakasih" ucap Arga.
Dokter itu mengangguk. "Untuk obatnya bisa di tebus di apotek ya pak. Dan di ingatkan lagi kepada istrinya jangan sampai melupakan makan. Karena maagh nya bisa kronis kalau kejadian seperti ini terus terulang,”
"Kalau gitu saya permisi" lanjutnya.
Arga langsung masuk ke dalam ruang rawat Nare. Dilihatnya Nare yang sudah sadarkan diri dan sedang menatap kosong ke arah langit-langit.
"Kamu udah sadar? mana yang sakit? kamu kapan sadar?" tanya Arga beruntun.
"Baru aja, gak ada yang sakit" ucap Nare singkat.
"Kamu makan ya? nanti aku minta Tio bawain bubur" bujuk Arga.
"Tadi udah makan" ucap Nare berbohong.
"Gausah bohong Naresha Agnia Chalondra" desis Arga.
"Saya gak lapar" ucap Nare.
Arga menghela nafas panjang. "Makan ya? dikit aja gak pa-pa, nanti magh kamu makin parah sayang" bujuknya.
"Udah aku bilang aku gak lapar!" Sentak Nare.
Tepat pada saat itu juga perawat datang membawa makanan untuk Nare. "Permisi, ini makanannya di makan yaa" ujarnya.
"Tuh kan, harus dimakan ya kan, Sus?" Ucap Arga mengompori.
Suster itu mengangguk. "Iyaa kalau gak dimakan nanti bisa kambuh lagi magh nya" ujar Suster tersebut yang mulai mengikuti permainan Arga yang sedang membujuk istrinya untuk makan.
"Tuh denger kan? sekarang makan" tekan Arga.
"Kalau gitu saya permisi" pamit suster tersebut.
"Ayo makan, Mas suapin sini" bujuk Arga.
Akhirnya Nare menganggukkan kepalanya pasrah dan menerima suapan dari Arga.
"Udah" ucap Nare saat merasa kenyang.
"Dikit lagi ya?" bujuk Arga.
"Saya udah kenyang, Pak" ucap Nare.
Arga menatap tajam Nare. "Mas gak suka kamu ucapin itu selain di kantor."
"Udah kebiasaan" ucap Nare santai.
"Tapi aku suami kamu Sha, bukan bapakmu" ucap Arga.
"Terserah saya" ucap Nare seraya membalikkan badannya memunggungi Arga.
Arga mengheka nafas kasar. "Kamu masih marah?"
Nare hanya diam tanpa menjawa pertanyaan Arga. Sebenarnya ia sudah tidak marah soal tadi pagi. Hanya saja, perkataan orang-orang kantor membuatnya kepikiran dan tidak nyaman. Terlebih tadi saat pulang Arga membawa nya ke Rumah Sakit. Ia takun akan dikira caper dan hanya berpura-pura.
"Jawab, Sha" desis Arga.
"Oke aku minta maaf" final Arga.
Merasa tidak ada jawaban Arga menarik bahu istrinya.
"Apasih!" sentak Nare,
"Kalau mau ganggu mending kamu keluar" lanjutnya.
"Kamu ngusir aku?" Arga menatap Nare sengit.
"Ngerasa gitu? yaudah" ucap Nare dan kembali membalikkan badannya lagi.
Arga keluar dari kamar rawat Nare dengan membanting pintu. Membuat Nare berjenggit kaget. Arga bukan pulang, melainkan ke kantin membeli makanan untuk dirinya dan Nare jika nanti Nare lapar lagi. Sekalian menebus obat, dan membeli beberapa kebutuhan orang sakit. Seperti minyak angin, dan lainnya.
Saat kembali ke kamar Nare, betapa terkejutnya ia saat mendapati Nare yang tidak tertidur tetapi telfonan dengan seseorang.
"Oh ya? masa sih Ron, kayaknya aku gak pernah liat kamu chat aku" ucap Nare.
Roni b******n. Batin Arga.
Mereka telfonan cukup lama. Sampai Nare tertawa terpingkal-pingkal entah apa yang dibicarakan nya. Arga yang merasa jengah langsung menghampiri Nare dan mengambil ponsel Nare dengan kasar.
"MAS" sentak Nare.
Arga memutuskan panggilan tersebut. Dan menatap tajam ke istrinya. "Jadi ini alesannya kamu nyuruh aku keluar?"
"Kamu salah paham" ucap Nare.
Arga tertawa kecut. "Salah paham gimana? kamu kelihatan nya seneng banget kalau sama dia"
"Balikin handphone aku" pinta Nare.
Bukannya mengembalikan handphone kepada pemiliknya, Arga malah sengaja membawa handphone Nare ke saku celananya.
"Gak ada, sekarang tidur" ucap Arga dingin.
"Kamu ada masalah apa sih?!" ucap Nare menaikkan suaranya.
"Kamu yang ada masalah apa Re?! kamu seolah-olah jadiin aku yang bersalah disini" ucap Arga.
"Padahal kalo di pikir-pikir lagi cuma kamu yang punya masalah" sindir Arga.
"Nih handphone kamu. Silahkan telpon Roni sepuasnya" ucap Arga dengan melemparkan handphone milik Nare ke arah pemiliknya.
Setelahnya Arga berjalan keluar ruangan dan tidak lupa menutup pintu dengan cara membanting. Ia memutuskan untuk tidur di bangku yang di sediakan di depan kamar rawat Nare. Nare di perintahkan oleh doker untuk rawat inap agar kondisi nya selalu terpantau oleh dokter.
Arga menghubungi asisten rumah tangga yang berada di rumah Wina.
"Halo bik, saya minta tolong ambilkan baju saya sama Nare di Rumah, tolong sekalian di bawa ke rumah sakit ya bik, beberapa aja jangan banyak-banyak" ucap Arga.
Setelah menelepon asisten rumah tangga yang bekerja di rumah Mamanya, Arga kembali masuk ke kamar rawat Nare dan berjalan menuju sofa. Membaringkan tubuhnya yang letih dan mulai memejamkan mata. Melupakan Nare yang ternyata masih terjaga dengan genangan air di pelupuk matanya.
Iya, Nare menangis.