"Lin, Lina." Suara yang tak asing itu tentu saja Lina kenali.
Itu adalah suara Bastian yang memanggil nya. Bastian berdiri di depan gerbang kampus menunggu Lina menghampiri nya, tapi Lina langsung mengabaikan nya.
Merasa di abaikan oleh, Lina. Bastian langsung menggapai tangan Lina dan menarik Lina ke arah nya.
Lina yang tak terima tangan nya di sentuh oleh pria seperti Bastian langsung meronta dan melepaskan tangan nya secara paksa dari genggaman Bastian.
"Lepas!" Lina dengan tegas langsung memberikan jarak di antara mereka berdua.
Bastian mengepalkan tangan nya, mencoba bersikap tenang. "Lina, aku bisa jelasin semua kejadian kemarin. Itu semua salah paham," Ucap Bastian.
Lina memutarkan kedua bola mata nya dan melipat kedua tangan nya di depan d**a. "Salah paham bagian mana yang kamu maksud Bastian?" tanya Lina sambil menghela nafas nya.
"Argh! Lina, apa kau bisa memahami ku sedikit saja?" Bukan nya menjelaskan tentang salah paham nya. Bastian justru meminta Lina untuk bisa memahami diri nya.
Lina tersenyum tipis dan sedikit tertawa mendengar omongan Bastian. "Haha, memahami mu. Memang nya selama ini di mana letak diriku yang tidak memahami mu Bastian?"
"Kau tidak pernah ingin aku menyentuh mu, bahkan kau hanya memperbolehkan ku untuk memegang tangan mu. Bahkan untuk ciuman di bibir saja kau tidak mau!"
Mendengar ucapan Bastian, Lina langsung terdiam kaku. Pupil mata nya terlihat membesar karena terkejut.
"Jadi selama ini kau hanya menginginkan hal hal seperti itu Bastian?" tanya Lina dengan mata nya yang terbuka lebar.
Bastian menelan air ludah nya dia merasa kali ini dia sudah salah bicara. "Bu-bukan begitu maksud ku, Lina. Tapi bukan kah itu sebenarnya hal yang wajar di antara pasangan. Aku berselingkuh dari mu karena aku pria normal, aku ingin mendapatkan sentuhan dari pasangan ku." Bastian mempertegas keinginan nya.
Lina langsung membalas perkataan Bastian. "Jadi pria normal itu harus berselingkuh? Jadi pria yang setia dengan pasangan nya itu bukan pria normal? Jawab aku Bastian."
"Bukan itu juga maksud ku Lina... Bagaimana aku menjelaskan nya kepada mu..." Bastian merasa bingung dalam menghadapi Lina.
"Aku paham sekarang Bastian," ucap Lina.
Bastian menaikan satu alis nya ketika mendengar ucapan Lina. "Apa yang telah kau pahami?"
Lina menatap lekat mata Bastian dan mendekat kan diri nya selangkah lebih dekat. "Aku paham kenapa kau selalu dekat dengan Freya. Kau menginginkan sentuhan tapi aku tidak bisa memberikan itu, dan Freya dia bisa memberikan itu untuk mu." Lina mulai menahan tangis nya.
Lina, kembali menggenggam tangan nya dengan erat. "Selamat menjalani kisah cinta mu yang baru Bastian. Mulai sekarang aku, kamu dan Freya kita tidak punya hubungan apapun lagi," sambung Lina.
Bastian tidak terima dia di putuskan oleh Lina begitu saja. Bastian merasa kesal dia pun langsung menarik Lina dan membawa nya ke sebuah ruangan kosong di kampus mereka.
"Kau mau bawa aku kemana Bastian. Lepas! Lepaskan!" Lina terus meronta karena pergelangan tangan nya yang terasa sakit akibat di genggam dengan kuat oleh Bastian.
Bastian yang berhasil membawa Lina ke tempat kosong, langsung mendorong Lina ke tembok dan mengunci nya dengan tubuh tinggi nya.
"Lina, kau tidak akan bisa kabur dari ku." Tegas Bastian sambil memegang pipi Lina.
Lina yang merasa terancam mencoba melawan Bastian dengan kekuatan nya walaupun dia tau dia pasti kalah.
"Mau apa kau Bastian? Kau tidak berhak menyentuh ku! Lepaskan aku! Lepaskan!" Lina mencoba melepaskan diri dari Bastian yang ingin mencium nya secara paksa.
Bastian terus memegang kuat pipi Lina agar bisa mencium nya, tapi tindakan itu terhenti ketika Bastian mendengar seseorang yang secara sengaja mengeluarkan suara batuk nya.
"Uhuk, uhuk." Pria itu berjalan dengan santai nya sambil memutar sebuah kunci di jari nya mendekati Lina dan Bastian.
Pria yang terlihat seperti berandalan itu tiba-tiba berjongkok di samping Bastian yang masih mengunci Lina dengan tubuh nya.
Bastian menatap ke arah pria tersebut. "Apa? Pergilah ini bukan urusan mu." Tegas Bastian.
Pria yang entah siapa nama nya itu tiba tiba mengeluarkan ekspresi seperti kebingungan. "Ehm..., aku jadi berpikir ini menjadi urusan ku apa bukan ya. Karena tadi aku sedang tidur tapi malah mendengar suara perempuan meronta dan itu menganggu tidur ku."
Sejenak pria itu kembali terdiam dan tiba-tiba...
"BUK." Satu pukulan keras mendarat di wajah Bastian, membuat nya kehilangan keseimbangan dan lepas dari Lina.
"Aku akan menganggap ini sebagai urusan ku. Karena kau pertama menganggu tidur ku, dan kedua kau memaksa seorang perempuan untuk berhubungan dengan mu." Pria itu dengan santai nya bicara dengan Bastian yang terjungkal di lantai.
Bastian yang tidak terima langsung mencari pembelaan untuk diri nya. "Aku tidak menganggu tidur mu, dan perempuan ini adalah kekasih ku!"
"Apa yang di katakan nya benar Nona?" Pria itu bertanya kepada Lina.
Lina pun mengambil kesempatan untuk menyelamatkan diri nya. "Tidak! Saya bukan lagi kekasih nya. Dia memaksa saya, tolong bantu saya." Lina merasa ketakutan untuk sesaat tapi dia juga merasa aman karena ada yang menolong nya.
"Ehm..., jadi begitu. Kau dengar Lelaki banci dia bukan lagi kekasih mu tapi kau malah memaksa nya. Seperti nya satu pukulan tidak akan memuaskan ku." Pria itu memukul mukulkan kedua tangan nya, bersiap untuk menghajar Bastian habis habisan.
Bastian yang tau diri nya terancam dan tidak mungkin melakukan perkelahian akhirnya memilih mengalah. "Sudahlah lupakan saja! Aku akan pergi dari sini. Lina, urusan kita belum selesai."
Pria yang menolong Lina langsung membalas omongan dari Bastian. "Ouh, apa kau mencari gara-gara lagi dengan perempuan ini? Ingat jika urusan mu dengan perempuan ini belum selesai, maka urusan mu dengan ku juga belum selesai."
Bastian menggertakkan gigi nya, merasa kesal karena telah di ganggu oleh orang lain. "Kau! Lihat saja nanti. Kau akan menyesal karena sudah menganggu ku hari ini!" Bastian langsung pergi dan berbalik meninggalkan Lina dengan pria asing tersebut.
Pria itu langsung melepaskan mantel nya dan menutupi badan Lina. "Kau bisa memanggilku Leon. Aku lihat lutut mu terluka, ayo kita pergi ke UKS. Kau bisa jalan sendiri kan?." Leon berbicara sambil memalingkan wajah nya dari Lina.
"Hah?" Lina kebingungan dengan sifat laki-laki yang baru menyelamatkan diri nya tersebut.
Lina membatin dan berbicara dalam hati nya sendiri. "Aku berterima kasih karena pria ini mau menolong ku. Tapi apa itu tadi, dia langsung menyebutkan nama nya, ya sudahlah aku harus mengobati lutut ku terlebih dahulu."
Lina akhir nya di antar oleh Leon ke UKS dan membantu Lina untuk mengobati lutut nya yang sedikit tergores.
Lina mencoba bicara kepada Leon tapi dia benar benar merasa gugup. "Te-terimakasih sudah menolong ku tuan Leon."
Leon yang dari tadi fokus mengobati lutut Lina tiba-tiba berhenti dan menatap ke arah Lina. "Panggil saja aku Leon, nama mu tadi Lina kan. Aku akan memanggil mu Lina, kau tidak perlu berterimakasih aku memang tidak suka ada pria yang memaksa wanita. Tapi kalau kau tadi menerima nya mungkin aku akan menikmati nya hahaha."
Candaan Leon membuat pipi Lina memerah dan membuat Leon tersadar bahwa Lina mungkin bukan perempuan yang bisa di ajak bercanda tentang hal intim.
"Maafkan aku, aku tadi hanya bercanda. Sekali lagi maafkan aku, aku harus nya tidak melontarkan candaan seperti itu kepada orang yang baru ku kenal." Leon merasa telah mempermalukan diri nya sendiri.
Lina hanya terdiam dia tidak tau harus menjawab perkataan Leon dengan kata-kata yang seperti apa.
Tanpa Lina sadari kaki nya sudah selesai di obati oleh Leon. Leon yang awal nya merasa percaya diri tiba-tiba merasa canggung karena candaan yang baru saja dia buat.
Leon pun mencoba mencairkan suasana di antara diri nya dan Lina. "Ekhm, aku sudah mengobati lutut mu. Minumlah obat ini ketika kau merasa pusing. Jika pria banci itu menganggu mu lagi kau bisa bilang pada ku." Leon masih saja berbicara sambil memalingkan wajahnya.
Lina membalas kebaikan Leon dengan senyuman manis nya. "Terimakasih atas bantuan nya Leon. Kapan kapan aku akan mentraktir mu makan nanti, kalau begitu aku pergi dulu. Byeee."
"Ehm," Jawab Leon singkat.
Lina akhirnya meninggalkan Leon yang masih duduk di atas sofa dan berpura-pura mengalihkan pandangan nya dari Lina.