Rafa pulang pukul sepuluh lewat, dan lampu ruang tengah masih menyala.
Ia tidak pernah terbiasa dengan itu. Di rumah ini, tiap kali ia membuka pintu, ada seseorang yang menunggu. Rumah itu masih berbau cat baru, dan perabotnya masih terlalu rapi untuk disebut dihuni. Alin duduk di sofa panjang dengan buku di pangkuan dan secangkir teh yang uapnya sudah habis, kakinya terlipat di bawah rok rumah warna krem. Ia tidak berdiri menyambut seperti istri-istri yang pernah Rafa lihat di film, tidak pula bertanya kenapa terlambat. Ia hanya mengangkat wajah, dan dari sorot matanya Rafa tahu: malam ini tidak akan berakhir dengan "selamat tidur".
"Sudah makan?" tanya Alin.
"Sudah di kantor." Rafa melonggarkan dasi dan menaruh tas kerja di kursi. Jawaban itu bohong. Perutnya kosong sejak siang, dan kepalanya penuh angka-angka audit yang harus ia pertanggungjawabkan di depan Pak Hendro hari Kamis nanti. "Kamu belum tidur?"
"Aku menunggu kamu, Mas." Alin menutup bukunya. Ia tidak tersenyum, tetapi suaranya tetap lembut seperti biasa. "Aku mau bertanya satu hal. Sudah seminggu aku menunggu kamu cerita sendiri, tapi sepertinya kamu tidak akan mulai."
Rafa duduk di sofa seberang. Sesuatu di dadanya sudah mulai mengeras sebelum kalimat berikutnya keluar. Ia ingin melonggarkan dasinya lagi, tapi tangannya tak mau bergerak, seolah gerakan sekecil apa pun akan dibaca sebagai pengakuan.
"Rabu lalu ada tamu di rumah Mama," lanjut Alin. "Seorang ibu, kira-kira umur Mama. Pakai kerudung krem, tas besar. Aku dengar dari tangga, ia menyebut nama Qenna di depan Mama. Mama menyebutnya menantu."
Rafa tidak bergerak.
"Aku antar ibu itu sampai gerbang," kata Alin. "Aku tanya, Qenna itu siapa. Dia memandangku lama sekali, lalu jawab: 'Tanyakan pada suamimu, Nak.' Terus ia pergi naik angkot." Alin menaruh bukunya di meja. "Jadi aku tanya sekarang. Qenna itu siapa, Mas?"
Ibu panti. Rafa nyaris menyebutnya keras-keras. Kerudung krem, tas besar, nada yang tegas tetapi tidak pernah membentak. Ibu Aisyah, yang selalu memanggilnya "Nak Rafa" dengan hangat, yang sampai hari ini masih mengira ia suami anak asuhnya. Perempuan itu datang ke rumah Mama dengan naik angkot, dan Mama tidak mengatakan apa pun kepadanya.
"Mas?"
"Istri pertamaku," ucap Rafa pelan. Kalimat itu terdengar kecil sekali di ruangan sebesar itu. "Sudah selesai."
"Aku tahu kamu pernah menikah." Alin tidak mengalihkan pandang. "Waktu itu Mama bilang sebentar, tidak lama, dan urusannya sudah beres. Aku percaya. Tapi seseorang yang sudah selesai tidak membuat ibunya datang ke rumah Mama."
"Alin ...."
"Aku tidak marah." Itu benar, Rafa bisa melihatnya. Wajah istrinya terlalu tenang untuk orang yang marah. "Aku cuma ingin melihat suratnya."
Perutnya mencelos.
"Surat apa?"
"Surat cerai kamu dengan perempuan itu. Papa pernah melihat salinannya, Mas. Mama yang menyerahkan sendiri ke Papa, katanya biar Papa tenang soal pernikahan kita. Papa bilang cukup. Tapi aku belum pernah melihatnya, dan sekarang aku mau. Bukan karena tidak percaya padamu." Ia menggeleng pelan. "Karena aku istrimu, dan aku berhak tahu apa yang berdiri di bawah kakiku."
Papa. Pak Hendro. Sumber dana perusahaan Rafa, lelaki tegas yang hanya perlu satu kalimat untuk menarik semuanya kembali. Rafa mengusap wajah dengan kedua tangan.
"Suratnya ada di Mama," ujarnya akhirnya. "Aku belum pegang."
"Kalau begitu, besok aku minta pada Mama."
"Jangan." Terlalu cepat. Rafa mendengar sendiri nadanya yang terlalu keras, dan melihat bahu Alin menegang seperti dipukul pelan. "Maksudku, biar aku yang ambil. Aku saja. Mama sedang tidak ... Mama akhir-akhir ini sensitif."
Alin menatapnya agak lama. Lalu ia berdiri, merapikan roknya, dan mengambil cangkir tehnya dari meja.
"Aku tidak akan menagih malam ini, Mas," katanya. "Tapi jangan biarkan sampai lupa."
Langkah kakinya menaiki tangga terdengar teratur dan pelan. Di anak tangga paling atas ia berhenti, tanpa menoleh.
"Mas."
"Ya?"
"Kalau jawabannya buruk, aku lebih suka mendengarnya darimu daripada dari orang lain."
Pintu kamar atas ditutup tanpa bunyi.
***
Rafa mengambil ponselnya sebelum pikirannya sempat melarang. Nada sambung hanya sekali.
"Kenapa menelepon malam-malam?" Suara Mama Jamilah terdengar seperti baru bangun, tetapi tajam. "Ada masalah di kantor?"
"Ada apa dengan surat itu, Ma?"
"Surat apa?"
"Surat cerai. Alin minta lihat." Rafa berdiri dan berjalan ke jendela, memunggungi tangga. "Katanya Mama sudah memberi salinan ke Pak Hendro. Rafa tidak pernah tanda tangan apa pun. Rafa tidak pernah ke pengadilan. Rafa tidak pernah menjatuhkan ...." Ia menahan sisa kata itu di tenggorokan. "Surat itu mana, Ma?"
Keheningan di seberang berlangsung dua napas.
"Sudah Mama urus lewat pengacara," jawab Mama Jamilah, datar, seperti orang yang menjelaskan jadwal tukang kebun. "Kamu tidak perlu melihatnya. Kamu tidak perlu ingat. Urusan itu sudah selesai, Rafa."
"Tapi Rafa belum ...."
"Dengar Mama baik-baik." Suara itu menurun, dingin, setiap kata dijatuhkan satu per satu. "Perusahaanmu masih berdiri karena Pak Hendro. Pak Hendro puas karena surat itu ada. Kalau kamu membuka mulut, kalau kamu bertanya ke siapa pun, kalau Alin sampai curiga, kamu akan kehilangan semuanya. Kamu tutup mulut. Mama sudah bilang. Mengerti?"
"Ma, ada ibu panti yang datang ke rumah Mama hari Rabu. Kenapa Mama tidak cerita?"
"Karena tidak penting." Satu detik jeda. "Perempuan itu orang kampung yang mau menumpang kasihan. Sudah Mama usir. Tidak ada lagi yang perlu kamu pikirkan."
"Ma ...."
"Tidur, Rafa. Besok kamu rapat."
Sambungan terputus.
Rafa tetap berdiri, ponsel masih menempel di telinga yang sudah sunyi. Tangannya dingin. Di kepalanya berputar kalimat yang tadi ia dengar dari mulut Alin, "tanyakan pada suamimu", dan ia sadar Ibu Aisyah tidak berbohong pada Alin, tidak juga menjelaskan. Perempuan tua itu hanya menaruh kebenaran di tangan orang yang berhak, lalu pergi naik angkot. Ia menatap pantulan dirinya di kaca jendela: lelaki dengan dasi kendor, kemeja berkeringat, mata yang terlalu lelah untuk usia sekian. Mama tidak menyangkal, dan itu yang membuat tubuhnya membeku. Mama tidak berkata "tentu saja ada suratnya". Mama berkata "sudah Mama urus". Bedanya hanya satu kata, dan Rafa mengenal ibunya cukup lama untuk tahu bahwa ia tidak pernah memilih kata sembarangan.
***
Ia kembali duduk di sofa tempat Alin tadi menunggu. Bantalnya masih hangat. Jempolnya menggulir daftar kontak, melewati nama-nama rekan bisnis, nama sopir, nama vendor, sampai berhenti pada sebuah nama yang hanya berisi dua huruf dan sebuah gelar: pengacaranya sendiri, yang biasa mengurus urusan perusahaannya. Bukan pengacara yang Mama sebut. Tidak pernah disuruh Mama.
Layar menyala di wajahnya. Satu ketukan lagi, dan ia bisa mendengar nada sambung, lalu suara seorang lelaki mengantuk menjawab, lalu ia bisa bertanya, secara resmi dan tertulis, apakah ada perkara perceraian atas nama Rafa dan Qenna di pengadilan mana pun.
Ibu jarinya melayang di atas tombol hijau itu.
Dari lantai atas terdengar bunyi tempat tidur yang berderit pelan, tanda Alin belum tidur. Dari jalan di luar, ada bunyi motor yang lewat, makin jauh, makin lenyap.
Rafa menekan tombol samping. Layar mati. Ia meletakkan ponsel itu di meja, menghadap ke bawah, dan duduk lama di ruang tengah yang terlalu terang, dengan satu-satunya jawaban yang ia punya: besok pagi ia akan tetap berangkat ke kantor, seperti biasa, seolah tak ada yang terjadi.