Mama Jamilah menerima kiriman itu di teras belakang, pukul delapan pagi, ketika teh melatinya masih mengepul. Ponselnya bergetar dua kali. Satu pesan dari nomor yang tidak ia simpan dengan nama, hanya sederet angka, berisi tiga belas gambar dan satu kalimat pendek: "Sesuai perintah, Bu. Yang terakhir kemarin sore."
Ia menggulir satu per satu dengan kacamata baca di ujung hidung.
Perempuan itu naik bis dengan masker. Perempuan itu turun di depan gedung berkaca. Perempuan itu mengepel di lorong, wajahnya pucat, rambutnya diikat rendah. Rumah kontrakan kecil dengan pagar tralis. Mobil bak, kardus-kardus, dua orang yang ia tak kenal. Lalu gambar kesebelas, kedua belas, ketiga belas, dan Mama Jamilah menaruh cangkirnya pelan-pelan agar tidak berbunyi.
Gerbang sebuah panti asuhan. Qenna dengan kardus di tangan. Dan di depannya, tinggi, berkaus polos, tangan baru saja melepas kardus itu: seorang lelaki yang jelas bukan orang suruhan siapa pun.
Mama Jamilah memperbesar gambar itu sampai wajah lelaki tersebut memenuhi layar. Tampan, bersih, rahang tegas. Sorot matanya, bahkan dari sudut yang jauh, tidak menunjukkan seorang pria yang sedang membantu pegawai rendahan.
Ia tersenyum puas, lalu menekan nomor putranya.
"Mama?" Suara Rafa serak, seperti baru bangun. "Ada apa pagi-pagi?"
"Makan siang di sini hari ini. Bawa Alin."
"Rafa ada urusan ...."
"Hari Minggu tidak ada urusan yang lebih penting dari ibumu." Ia berhenti sebentar, memilih nada. "Alin sehat? Dia tidak bertanya-tanya yang aneh-aneh, kan?"
"Tidak, Ma. Dia tenang."
"Bagus. Perempuan yang tenang memang menyenangkan." Mama Jamilah menutup galeri gambar dengan satu jari. "Dan ada yang ingin Mama tunjukkan padamu. Jam dua belas."
***
"Ma." Rafa menaruh sendok di pinggir piring. Nasi sup iga di depannya baru tersentuh sedikit. "Surat itu. Alin sudah bertanya."
Meja makan di rumah Mama Jamilah selalu terlalu besar untuk jumlah orangnya. Hari Minggu ini hanya mereka bertiga. Alin duduk di sebelah Rafa, mengenakan blus biru muda dengan rambut digelung rapi, makan pelan dengan punggung lurus, sesekali menimpali pembicaraan kecil Mama tentang arisan, hujan, harga cabai. Ia sopan, ia tersenyum, dan ia belum sekali pun menyinggung percakapan Rabu malam itu. Rafa tahu ia sedang diberi waktu dan itu lebih menakutkan daripada didesak.
"Nanti," jawab Mama Jamilah, mengelap sudut bibir dengan serbet. "Kita bicarakan setelah makan. Alin, kamu mau tambah buah? pembantu baru memotong melon di dapur."
"Boleh, Ma. Biar Alin ambil sendiri."
Alin berdiri dan menghilang ke arah dapur. Begitu langkahnya hilang, Mama Jamilah mendorong piringnya sendiri ke samping dan meraih ponsel dari pangkuan.
"Lihat ini."
Rafa mengerutkan alis. Ponsel itu berpindah ke tangannya, dan layar memperlihatkan foto pertama: sebuah bis, seorang perempuan di jendelanya.
Kunyahan di mulutnya berhenti.
Qenna lebih kurus. Itu hal pertama yang ia sadari, dan hal pertama yang menyakitkan. Pipinya tirus, rambutnya diikat rendah, seragam kebiruan longgar di tubuhnya. Matanya menatap lurus ke jalan dengan keteguhan yang aneh, padahal Rafa ingat betul bagaimana mata itu dulu menatapnya, bulat, percaya, tidak pernah curiga.
"Mama menyuruh orang mengikutinya?"
"Mama menyuruh orang memastikan dia tidak mengganggu kita." Suara Mama Jamilah datar. "Geser terus."
Ia menggeser. Gedung perkantoran. Lorong. Kontrakan. Kardus. Lalu foto yang terakhir.
Rafa berhenti bernapas.
Gerbang panti. Qenna berdiri di sana, memeluk kardus, dan di depannya seorang lelaki yang tangannya baru terlepas dari kardus yang sama. Jarak mereka tak sampai satu langkah. Qenna mendongak. Lelaki itu menunduk. Dari foto itu Rafa tidak bisa mendengar apa-apa, tetapi ia melihat cara bahu lelaki itu condong sedikit ke depan, cara orang yang ingin menjaga tetapi menahan diri.
"Siapa dia?"
"Pemilik kantor tempat perempuan itu bekerja."
"Kantor apa?"
"Gedung yang ada di foto kedua. Perempuan itu bekerja sebagai petugas kebersihan di sana." Mama menyesap teh. "Namanya Armand. Duda. Kaya. Tidak mungkin orang seperti itu membawa dus ke panti anak yatim hanya karena kasihan pada petugas kebersihan."
"Mereka tidak mungkin ...."
"Tidak mungkin apa? Kamu pikir lelaki mana yang mau berdiri di gerbang panti sambil memegang kardus orang lain, kalau tidak ada maunya?" Mama mengangkat bahu. "Lihat, dia sudah punya yang lain." Mama menurunkan cangkir. "Kamu tidak perlu merasa bersalah lagi, Rafa. Kamu sudah berbuat sebaik yang bisa kamu lakukan. Dia tidak sendirian. Dia tidak menunggumu. Kamu bebas."
Bebas. Kata itu terdengar seperti ejekan.
Terakhir kali ia menatap Qenna lama-lama, perempuan itu berdiri di kamar hotel Denpasar dengan rambut kusut, menarik lengan bajunya, memohon agar tidak ditinggal sendirian. Rafa menghapus gambaran itu sebelum sempat utuh. Tetapi foto di tangannya tidak bisa dihapus secepat itu.
Rafa menatap foto itu sampai ujung jarinya memutih di sekeliling ponsel. Ada panas yang merambat di leher dan telinganya, bukan marah, bukan sepenuhnya. Lebih seperti ia ditampar oleh sesuatu yang sudah lama ia tutup rapat di dalam peti. Lelaki itu memegang kardus Qenna. Lelaki itu berdiri di tempat yang dulu ia bayangkan akan ia isi. Ia membayangkan tangan lelaki itu, aroma lelaki itu, dan mendadak ingin menghantamkan sesuatu ke meja.
Dan di bawah panas itu ada rasa malu. Malu karena ia cemburu. Seorang lelaki yang menikah lagi dua hari setelah akad, yang membeli tiket untuk dirinya sendiri, yang membiarkan perempuan itu pulang tanpa jemputan, tidak punya hak apa pun atas sesuatu seperti ini. Ia tahu itu. Dan tetap saja ada kalimat yang sudah naik ke ujung lidahnya, berat, tak bisa ditahan.
"Dia masih ...." Rafa menelan ludah. "Dia masih ...."
"Masih apa?" Mama menatapnya tanpa berkedip.
Rafa menutup mulut. Kata itu, istriku, tersangkut di pangkal tenggorokan seperti duri ikan. Ia bisa mengucapkannya. Ia tahu apa yang akan terjadi kalau ia mengucapkannya di meja ini, di rumah ini, dengan Alin tak jauh dari sini. Ia mengatupkan rahang dan menyerahkan ponsel itu kembali ke Mama.
"Tidak apa-apa. Rafa cuma kaget."
"Kaget itu wajar. Besok juga hilang."
"Anak pintar." Mama Jamilah meraih ponselnya sambil tersenyum puas.
Ada bunyi kecil di belakang mereka. Seperti tutup piring diletakkan di atas meja marmer, sangat pelan.
Rafa menoleh.
Alin berdiri di ambang ruang makan, nampan melon di kedua tangannya. Entah sejak kapan ia di sana. Matanya terarah pada layar ponsel yang belum sempat dikunci Mama, pada foto lelaki dan perempuan di gerbang itu, dan perlahan naik ke wajah Rafa. Tidak ada pertanyaan di tatapannya. Tidak ada kemarahan. Hanya sesuatu yang sangat tenang, sangat teliti, seperti orang yang baru membaca halaman terakhir buku yang selama ini ia kira sudah ia pahami.
"Alin," panggil Rafa.
Alin meletakkan nampan itu di meja tanpa suara. Ia tersenyum kecil kepada Mama. "Melonnya manis, Ma. Alin permisi sebentar. Kepalaku agak pusing."
"Pusing? Minum obat dulu, Nak."
"Nanti saja, Ma. Cuma perlu berbaring sebentar."
"Alin ...." Rafa berdiri setengah.
"Makan saja dulu, Mas." Suaranya ramah. Seramah orang yang sedang menutup sebuah pintu.
Ia berbalik dan menaiki tangga menuju kamar tamu di lantai atas, langkahnya tidak lebih cepat dari biasanya. Pintu menutup tanpa bunyi. Di meja, melon itu mulai berair.
***
Pukul sepuluh malam Rafa mengetuk pintu kamar tamu. Tak ada jawaban, tetapi lampu masih menyala di celah bawah pintu, dan ia masuk.
Alin duduk di tepi ranjang dengan gelungnya yang mulai longgar, kedua tangan terlipat di pangkuan. Ia tidak menangis. Matanya hanya terarah ke jendela yang gelap.
"Alin, aku bisa jelaskan."
"Mas Rafa tidak perlu menjelaskan malam ini." Suaranya pelan dan rata. "Aku tidak bertanya apa-apa."
"Dia bukan ...." Rafa berhenti. Ia sendiri tidak tahu kalimat itu mau diakhiri dengan apa.
"Besok pagi aku pulang ke rumah kita, bukan ke rumah Mama. Itu saja." Alin menoleh sebentar, tanpa marah, lalu kembali ke jendela. "Kalau Mas mau tidur di sini, matikan lampunya. Aku sudah selesai bicara."
Rafa berdiri sepuluh menit di ambang pintu dan tidak mendapat satu kata pun lagi. Ia mematikan lampu, menutup pintu, dan di lorong yang gelap baru sadar bahwa ia lebih takut pada diam perempuan itu daripada pada teriakan mana pun.