Lima hari sudah lewat sejak Siska mengirim pesan itu, dan tidak ada yang terjadi.
Tidak ada telepon dari Armand yang murka, tidak ada kabar dari Mama Ningsih, tidak ada desas-desus yang sampai ke telinganya lewat teman lama. Jumat pagi itu ia duduk di meja rias kamarnya sambil menatap ponsel lama yang sudah tidak berisi apa-apa selain pesan terkirim, dan perasaan yang naik pelan-pelan di dadanya bukan lega. Lebih mirip kecewa pada diri sendiri, yang lalu cepat berubah jadi marah pada orang lain.
Ia sudah mengorbankan sesuatu untuk kalimat itu. Ia sudah melewati tiga puluh detik ragu dan satu malam tanpa tidur, dan hasilnya nol.
"Sis, kamu mau ke mana pagi-pagi?" Suara Mama Sulastri terdengar dari bawah tangga ketika Siska turun dengan tas di bahu dan kunci mobil di tangan. "Papa baru saja minum obat. Sarapan dulu."
"Ada urusan, Ma. Sebentar."
"Urusan apa?"
Siska sudah di pintu. "Urusan yang seharusnya selesai dari kemarin-kemarin."
Mobilnya meluncur keluar dari halaman sebelum Mama Sulastri sempat menahan. Di kaca spion, bayangan ibunya berdiri di teras dengan satu tangan terangkat setengah, lalu mengecil dan lenyap di tikungan.
Sepanjang jalan ia menyusun kalimat. Ia akan bicara tenang, ia memutuskan. Ia akan datang sebagai tamu, bukan sebagai mantan istri, dan bertanya pada perempuan itu langsung, di depan Armand kalau perlu, apakah ia pantas disebut jujur. Di lampu merah kedua, kalimat itu sudah bukan pertanyaan lagi. Di lampu merah ketiga, ia mulai membayangkan wajah-wajah di sekitar yang akan mendengar jawabannya.
Ia parkir di seberang gedung dan menunggu sampai jam di dasbor menunjukkan pukul tujuh empat puluh, saat arus karyawan paling padat. Lalu ia menutup pintu mobil dan menyeberang jalan dengan kacamata hitam terpasang rapi, tumit sepatunya berbunyi di aspal seperti hitungan mundur.
Pikiran terakhirnya sebelum masuk lobi adalah sesuatu yang tidak ingin ia akui: ia tidak benar-benar ingin melukai perempuan itu. Ia hanya ingin satu orang di dunia ini merasa seperti yang ia rasakan.
Pikiran itu ia tinggalkan di pintu putar, bersama kacamatanya.
***
Qenna sedang berlutut menggosok bagian bawah meja resepsionis ketika bunyi lift lantai dasar terus-menerus berdenting. Karyawan mulai berdatangan. Sepatu, tas, kopi di cangkir kertas, gumaman "pagi" yang saling bersahutan. Pagi itu dua petugas lobi sedang izin, jadi ia dan Citra membagi pekerjaan: Citra mengepel sisi kaca depan, Qenna hanya mengelap meja dan menata brosur, pekerjaan yang tidak menuntut membungkuk.
Ia menegakkan badan, memegang punggung bawahnya, dan melihat Siska.
Perempuan itu berdiri di pintu putar dengan gaun krem dan kacamata hitam yang ia angkat ke atas kepala. Ia tidak menuju meja resepsionis. Ia berjalan lurus melewati kerumunan, mengitari area yang baru dipel, dan berhenti tepat tiga langkah dari Qenna. Dalam hitungan detik, riuh karyawan yang baru datang itu mengendur menjadi sunyi bergumam.
"Selamat pagi, Bu," ucap Qenna pelan. "Ada yang bisa saya bantu?"
"Banyak." Suara Siska terang dan jelas, cukup untuk didengar oleh sepuluh orang yang kebetulan berdiri paling dekat, dan yang berdiri di belakang mereka. "Saya hanya ingin lihat langsung seperti apa orangnya. Perempuan yang membuat Mas Armand tidak mau kembali."
Qenna merasakan darah menjauhi wajahnya.
"Saya tidak mengerti maksud Ibu."
"Tentu saja kamu mengerti." Siska tersenyum, senyum yang sama seperti di kafe seberang jalan, rapi dan dingin. "Pantas dia menolak. Ada cleaning servis yang sedang hamil dan mengisi ruangannya tiap hari."
Kata "hamil" jatuh di tengah lobi seperti piring pecah.
Qenna mendengar sesuatu bergeser di belakangnya. Seorang karyawan berbisik. Yang lain berbisik juga. Dari sudut mata, ia menangkap kilatan layar ponsel yang diangkat, satu, lalu dua, lalu entah berapa. Di ujung kaca depan, Citra berdiri kaku dengan gagang pel di kedua tangannya, matanya bergeser antara Qenna dan Siska.
Ia ingin lari. Itu kenyataannya. Seluruh tubuhnya menyuruh berbalik, masuk ke pantry, menutup pintu, menunggu semuanya lewat. Tetapi empat hari yang lalu ia mengaku kepada seorang ibu di pantry, dan pengakuan itu, anehnya, tidak meninggalkan apa-apa selain rasa lega. Ia tidak akan membuat pengakuan itu sia-sia dengan berlari sekarang.
Di sudut pandangnya, resepsionis menutup mulut. Seorang satpam setengah melangkah, lalu ragu, menunggu aba-aba dari siapa pun. Dan di dekat tiang, Sindy berdiri dengan tas yang melorot dari bahu, matanya membulat, tangan kanannya sudah bergerak ke arah Qenna sebelum berhenti di udara.
Qenna menggeleng kecil ke arah sahabatnya. "Jangan. Biar aku," batinnya.
Pelan, ia meletakkan lap di meja resepsionis. Ia melangkah satu langkah ke depan, lalu menarik napas.
"Saya tidak merebut siapa pun, Bu."
"Oh, ya?" Siska memiringkan kepala. "Lalu anak itu milik siapa? Karena setahu saya, ruangan itu tidak berisi apa-apa selain kamu dan seorang lelaki yang baru bercerai."
"Anak ini milik saya." Suaranya bergetar, dan ia tidak berusaha menyembunyikannya. "Dan ayahnya bukan siapa pun yang bekerja di gedung ini. Saya datang ke sini setiap pagi untuk mengepel lantai, Bu, bukan untuk mengambil suami orang. Ibu boleh bertanya pada siapa pun."
"Siapa pun akan bilang begitu." Siska melangkah setengah, merendahkan suara tetapi tidak cukup rendah. "Kamu pikir lelaki seperti dia akan memilih perempuan yang perutnya sudah ada isi dari lelaki lain? Kamu hanya sedang dipakai. Kasihan, sungguh."
Beberapa wajah di kerumunan berubah. Ada yang mengernyit tidak enak, ada yang justru mengangkat ponsel lebih tinggi. Qenna mengenali kedua jenis wajah itu. Ia pernah melihatnya di gang kontrakan, di depan pagar, di tangan ibu-ibu yang menunjuknya dari seberang selokan.
"Saya tidak perlu dikasihani, Bu."
"Semua orang yang dibohongi merasa begitu."
"Kalau Ibu mau marah pada seseorang, marahlah pada Pak Armand di ruangannya. Bukan pada saya di lantai yang baru saya pel."
"Kamu pikir saya takut menemuinya?"
"Saya ... saya pikir Ibu memilih lobi, bukan ruangannya." Suaranya bergetar, dan Qenna menelan ludah. "Soalnya di sini banyak saksi."
Siska terdiam setengah napas. Qenna menyesal ucapan itu keluar, tetapi tidak menariknya.
"Jadi menurutmu aku sengaja mencari penonton?" Siska akhirnya bersuara, rendah.
"Ya." Qenna menatap matanya dan mengeratkan genggaman pada gagang pel supaya tangannya berhenti gemetar. "Tapi yang bawa sepuluh pasang mata itu Ibu. Bukan saya."
Ada yang mendengus tertahan di barisan karyawan. Wajah Siska menegang sepersekian detik, lalu pulih. Ia membuka mulut untuk menjawab.
Gagang pel berdebum pelan di lantai. Citra sudah menyeberangi lobi tanpa Qenna sadari dan berdiri di sampingnya, bahu mereka nyaris bersentuhan, ember kecil masih tergantung di satu tangannya seolah ia lupa melepasnya. Ia tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya menatap Siska dengan wajah orang yang sedang menghitung, dengan sangat teliti, berapa banyak hal yang bisa ia lempar kalau terpaksa.
Qenna merasakan sesuatu yang hangat di sikunya. Ia tidak menoleh.
Di belakang Qenna, pintu lift khusus direktur berdenting.
***
Armand turun dari lantai direktur dengan satu map di tangan dan pikiran separuh di tempat lain, Hans menyusul di belakangnya sambil membahas jadwal rapat yang tidak benar-benar ia dengar. Selama lima hari ia mengawasi pintu pantry dari sudut mata dan tidak sekali pun mengetuknya. Teh hangat yang ia titipkan lewat Hans dikembalikan utuh dengan catatan satu baris: terima kasih, saya belum butuh. Ia menerimanya. Ia menerima semua yang Qenna putuskan, dan menyimpan rasa tidak enak itu di tempat yang tidak bisa dilihat siapa pun.
Pintu lift terbuka, dan ia melihat lobi kantornya berubah menjadi lingkaran manusia. Hans di sampingnya berhenti bicara di tengah kata.
"Pak ...," bisiknya.
"Diam sebentar, Hans."
"Itu Bu Siska."
"Aku lihat."
Kepala-kepala menoleh padanya, lalu cepat menunduk. Beberapa ponsel buru-buru diturunkan. Di tengah lingkaran, Qenna berdiri tegak dengan celemek biru dan tangan terkepal di sisi tubuh, dan di depannya, tiga langkah saja, Siska.
Langkah Armand terhenti. Map di tangannya hampir tergelincir. Ia tidak mendengar kalimat-kalimat yang sudah terucap, tetapi ia mendengar yang terakhir. Siska tidak menoleh ke arahnya, namun suaranya diangkat cukup tinggi untuk memastikan Armand mendengar.
"Kalau tidak percaya, tanyakan saja langsung padanya, siapa ayah anak itu."