Video itu sampai ke grup arisan hari Kamis, enam hari sesudah direkam.
Mama Ningsih sedang menyiram anggrek di teras belakang ketika ponselnya berbunyi tiga kali berturut-turut. Ia mengelap tangan di ujung kain, membuka layar, dan melihat nama seorang teman arisan yang rumahnya dua jalan dari sini, dengan tanda seru merah di sampingnya. Di bawahnya ada kiriman video berdurasi dua menit lebih, diberi keterangan: "Jeng, ini kantornya Armand bukan? Semoga bukan seperti yang kelihatan ya."
Ia duduk di kursi rotan dan menekan tombol putar.
Gambarnya bergoyang. Lobi kantor Armand dari sudut yang tidak enak, di antara punggung dan bahu orang. Seorang perempuan bergaun krem berbicara keras. Seorang perempuan berseragam biru berdiri di depannya dan menjawab dengan suara bergetar. Mama Ningsih mengenali kedua orang itu. Ia mengenali Siska sejak langkah pertama, dan ia mengenali perempuan satunya sejak ia mengangkat dagu.
Video berpindah di sebuah pemotongan kasar. Sekarang anaknya berdiri di anak tangga, dan ia mendengar anaknya berbicara dengan suara yang tidak pernah ia dengar sebelumnya, tenang dan teguh. Saya jamin dengan nama saya sendiri.
Ia memutar sampai selesai. Lalu sekali lagi dari awal.
Di bawah video itu sudah ada tiga puluh dua komentar dari anggota grup. Ia tidak membacanya. Ia mengetik singkat, "Terima kasih, Jeng, sudah dilihat. Tolong jangan dikirim ke grup lain ya. Itu karyawan Armand yang sedang sulit," lalu mematikan layar dan memandangi anggrek yang basah.
Dulu ia akan membiarkan semua ini lewat, seperti ia membiarkan banyak hal lewat selama tiga tahun pernikahan anaknya. Hari ini ia membuka kontak lain.
"Pak Ahsan?" ucapnya ketika sambungan tersambung. "Ini Ningsih. Maaf mengganggu istirahat Bapak."
"Tidak mengganggu, Bu." Suara Papa Ahsan lebih pelan dan lebih berat daripada yang ia ingat, dengan jeda di antara kata-kata seperti orang yang sedang mengejar napas. "Kami baru kembali dari terapi. Ada apa?"
"Saya mau cerita sesuatu yang tidak enak, dan saya harap Bapak mau mendengar sampai habis."
Ia bercerita tentang pesan tanpa nama, tentang foto di dalam map cokelat, tentang lobi dan video yang sekarang sudah sampai ke kelompok arisannya. Ia tidak menyebut nama Siska dengan nada menuduh. Ia hanya menyebutnya sebagai fakta, setenang mungkin, seperti membaca daftar belanja. Di seberang sana tidak ada suara kecuali napas yang makin tidak teratur.
"Pak? Bapak masih di sana?"
"Saya di sini." Papa Ahsan berdeham. "Terima kasih sudah mengatakannya langsung kepada saya, Bu Ningsih. Itu tidak mudah."
"Saya tidak menelepon untuk menyalahkan. Siska masih anak kita berdua dalam arti tertentu." Mama Ningsih memilih katanya hati-hati. "Tapi perempuan yang dipermalukan itu sedang hamil, Pak, dan tidak ada siapa-siapa yang membelanya selain anak saya dan beberapa temannya. Saya tidak bisa diam."
"Tidak perlu diam." Papa Ahsan menarik napas panjang. "Saya akan urus."
***
Siska dipanggil ke ruang kerja pukul tiga sore. Bukan oleh Mama Sulastri, melainkan oleh seorang perawat yang mengetuk pintu kamarnya dan berkata dengan sopan bahwa Bapak menunggu.
Ruang kerja itu bau obat gosok dan kayu tua. Papa Ahsan duduk di kursi kecil di balik meja, tongkat bersandar di sisinya, bukan kursi besar yang dulu ia kuasai dengan satu gerakan dagu. Serangan kedua, tak lama setelah sumbatan pertama dibuka, mengambil sebagian kekuatan tangan kirinya, dan lengan itu kini ditopang bantal kecil. Mama Sulastri berdiri di sudut dengan tangan bertaut, wajahnya sembap, dan Siska tahu dari wajah itu bahwa ia sudah terlambat melakukan sesuatu, entah apa.
"Duduk," kata Papa Ahsan.
"Pa ...."
"Duduk."
Siska duduk.
Papa Ahsan meletakkan ponselnya di meja, layar menghadap ke arah Siska. Gambar yang sangat ia kenal bergerak di sana: gaun krem, kacamata yang terangkat ke kepala, dan suaranya sendiri yang terdengar jauh lebih jelek dari yang ia kira. Kasihan, sungguh.
"Papa dengar ini dari Bu Ningsih hari ini," ujar Papa Ahsan lambat-lambat. "Bukan dari kamu. Bukan dari Mama. Dari ibunya Armand."
"Pa, aku cuma ...."
"Kamu membuntuti lelaki yang sudah kamu tinggalkan. Kamu datang ke kantornya dan mempermalukan seorang perempuan hamil di depan seratus orang." Ia mengucapkan semuanya tanpa mengangkat suara. "Dan ada pesan tanpa nama yang sampai ke ibunya hari Minggu lalu. Jangan bilang itu bukan kamu. Papa melihat wajahmu waktu turun makan malam hari itu."
Siska tidak membantah. Itu jawabannya.
"Papa sudah menampar kamu sekali, dan Papa menyesali itu dengan cara yang tidak pernah Papa akui. Hari ini Papa tidak akan menampar. Papa mau mengambil."
Ia mengulurkan tangan kanannya yang masih bisa digerakkan. "Kartu. Dan kunci mobil."
"Pa, aku butuh mobil untuk ...."
"Untuk menemui Robi?" Papa Ahsan menatapnya. "Dia belum menghubungimu seminggu ini, kan?"
Siska membuka mulut dan tidak ada yang keluar.
"Kartu. Kunci mobil. Dan kamu tidak menerima apa pun dari rumah ini sampai kamu meminta maaf kepada perempuan itu. Bukan kepada Armand. Kepada dia."
"Aku tidak mau ...."
"Kalau begitu kamu tidak punya kartu dan tidak punya mobil." Suaranya tetap datar. "Itu pilihanmu, Sis."
Ia menyerahkan kartu itu dengan tangan yang tidak terasa seperti miliknya. Kunci mobil jatuh ke atas meja dengan bunyi logam kecil, dan bunyi itu terus bergaung di telinganya sampai ia naik ke kamar.
Ponsel lamanya bergetar di atas kasur. Robi. Ia menunduk dan membaca: Sis, kita jeda dulu ya. Aku lagi banyak urusan, jangan telepon dulu. Tidak ada tanda baca, tidak ada nada, hanya perintah yang disamarkan.
Siska menjatuhkan diri ke lantai, punggung bersandar pada ranjang, dan membuka komentar di bawah video yang beredar entah di akun siapa. Cleaning servis hamil, gaun mahal. Kasihan yang perempuan, ya. Itu mantan istri direktur, kan? Ia menggulir sampai bawah. Ia berharap menemukan namanya dihina, dan memang ada. Yang tidak ia duga adalah ia tidak merasa apa pun terhadap hinaan itu.
Ia menangis juga akhirnya. Bukan karena Armand. Bukan karena Robi. Karena suara datar Papa yang tidak naik, karena tangan yang terulur, karena ia sadar sudah seumur hidup berusaha dicintai oleh orang yang terbiasa mengambil, bukan memberi.
Jarinya membuka kontak Mama Sulastri. Mama ada di bawah, hanya satu lantai. Tetapi ia tidak bisa mengetik apa pun selain satu kata: Ma.
***
Malam itu di panti, Qenna duduk di kursi rotan di ruang tamu dengan ponsel di pangkuan, tidak berani menyentuhnya.
Sindy mengirimkan video itu pukul tujuh, bersama pesan panjang: Qen, aku tidak mau kamu lihat ini sendirian, tapi sudah beredar ke luar kantor. Teman sepupuku yang kerja di tempat lain mengirim balik. Kamu berhak tahu.
"Putar saja, Nak," ucap Ibu Aisyah dari kursi di sebelahnya. Tangannya sedang memilah bawang dari baskom di pangkuan. "Yang kamu takutkan lebih menakutkan daripada yang kamu lihat."
Andin menarik bangku kecil dan duduk di lantai di dekat kaki Qenna, tidak berkata apa-apa.
Qenna menekan tombol putar. Lobi itu, suaranya sendiri terdengar kecil dan aneh. Ia menonton ketika dirinya meletakkan lap, ketika berkata saya tidak merebut siapa pun, ketika Armand turun dari lift. Ia menonton sampai bagian ia maju satu langkah dan mengatakan ia janda. Ibu Aisyah berhenti memilah bawang di bagian itu.
Video selesai. Ruang tamu hening, hanya terdengar suara anak-anak di kamar belakang.
"Kamu berdiri sendiri hari itu, Nak," ucap Ibu Aisyah pelan. "Di depan semua orang itu, kamu berdiri sendiri. Ibu bangga."
"Tapi kalau ini sampai ke Mama Jamilah, Bu ...." Qenna menggenggam ponselnya. "Atau ke Rafa."
Nama itu keluar begitu saja, dan ruangan menjadi lebih sunyi dari sebelumnya. Andin mendongak. Ibu Aisyah meletakkan baskom bawang di lantai, pelan.
"Kalau sampai, ya sampai," ujar Ibu Aisyah. "Tapi kamu boleh berusaha agar tidak."
Qenna mengetik dengan jari yang masih gemetar, di grup kecil berisi tiga nama. Sin, Cit, tolong. Jangan ada yang meneruskan video ini ke luar kantor. Aku mohon.
Balasan Citra masuk sebelum ia sempat meletakkan ponsel. Sudah kutahan dari kemarin, Qen. Tapi aku tidak bisa menjamin semua orang.
Qenna menatap kalimat itu cukup lama. Di luar jendela, gerimis mulai jatuh di halaman panti.