Ibu Aisyah sedang menumbuk bumbu di dapur ketika Andin muncul di ambang pintu dengan mata lebih besar dari biasa.
"Bu. Ada ibu-ibu di depan. Mobilnya bagus, tapi ibunya tidak mau masuk sebelum Ibu keluar."
"Siapa?"
"Katanya ibunya Pak Armand."
Ibu Aisyah meletakkan alu. Ia mencuci tangan di bak, mengeringkannya pada ujung kerudung, dan melangkah ke teras tanpa tergesa. Selasa sore, pukul tiga lewat. Anak-anak kecil sedang tidur siang, anak-anak besar belum pulang. Qenna masih di kantor.
Perempuan di depan pagar berdiri dengan tas anyaman besar di kedua tangan, blus gading, rambut disanggul sederhana. Sopirnya menunggu di balik kemudi, kaca jendela diturunkan seperempat. Ia tidak membawa pengawal, tidak membawa map, tidak membawa wajah seorang nyonya besar yang hendak memeriksa tempat.
"Bu Aisyah?" Suaranya sopan dan sedikit canggung. "Saya Ningsih. Ibunya Armand. Maaf datang tanpa kabar."
"Silakan masuk, Bu." Ibu Aisyah membuka pagar. "Anak saya juga tidak tahu Ibu datang, jadi kita sama."
Mama Ningsih tersenyum, kecil dan lega. Ia menyerahkan tas anyaman. "Ini cuma buah. Jeruk, apel, pisang. Saya tidak tahu apa yang biasa dimakan anak-anak, jadi saya beli yang mudah dikupas."
"Pisang itu disukai semua anak di sini, Bu. Terima kasih."
Ibu Aisyah membawanya ke dapur, bukan ke ruang tamu. Ia tidak mengatakan alasannya, dan Mama Ningsih tidak bertanya. Perempuan itu hanya duduk di bangku kayu di dekat meja panjang, meletakkan tasnya di pangkuan, dan menatap panci-panci yang menggantung di dinding seperti seseorang yang baru masuk rumah ibunya sendiri.
"Saya tidak akan basa-basi lama," katanya akhirnya. "Saya sudah bertemu Qenna di kantor Armand, tiga pekan lalu. Bukan pertemuan yang baik. Saya datang tanpa memberi tahu dan menanyakan hal yang tidak pantas ditanyakan di pantry."
"Qenna cerita."
"Dia cerita?"
"Dia selalu cerita, Bu. Cuma kadang butuh tiga hari." Ibu Aisyah menarik semangkuk jeruk dan mulai mengupas. "Dia bilang Ibu menanyakan sarapannya."
Mama Ningsih menutup mulutnya dengan jari. Bahunya berguncang sekali, antara tawa dan sesuatu yang lain. "Saya tidak tahu harus bertanya apa lagi. Perempuan seumur saya tidak diajari cara bertanya kepada orang yang sedang hamil dan sendirian."
"Tidak ada yang diajari, Bu. Kita belajar sambil jalan." Ibu Aisyah mengangkat bahu kecil. "Saya membesarkan tiga puluh anak di rumah ini, dan setiap anak datang dengan pertanyaan yang belum pernah saya dengar."
"Itu pertanyaan yang benar."
Hening sebentar. Dari ruang sebelah terdengar bunyi pintu lemari. Andin sedang berpura-pura tidak mendengar sambil menata piring dengan sangat lambat.
"Bu Aisyah, saya mau jujur," ujar Mama Ningsih. "Saya takut. Anak saya baru keluar dari pernikahan yang saya dan suami saya paksakan. Saya melihat dia belakangan ini, dan dia tertawa, dan tertawanya karena seorang perempuan yang masih terikat dengan lelaki lain. Saya takut dia terluka dua kali dan saya yang memulainya."
"Lelaki yang meninggalkannya itu belum pernah mengucapkan talak," ucap Ibu Aisyah pelan. Ia tidak mengangkat mata dari jeruk. "Ibu sudah tahu itu, ya?"
"Dia bilang begitu. Dia juga bilang ibu mertuanya mengirim surat."
"Saya belum pernah melihat surat itu." Jari Ibu Aisyah berhenti. "Dan saya tidak percaya selembar kertas bisa membereskan apa yang tidak dibereskan oleh mulut seorang suami. Tapi Qenna tidak mau mendengar itu dari saya. Dia sudah cukup keras pada dirinya sendiri."
"Saya tahu perasaan itu."
Mereka berdua menatap kupasan jeruk yang menumpuk di mangkuk. Ibu Aisyah menggeser sebagian ke sisi Mama Ningsih, dan Mama Ningsih, tanpa banyak berpikir, ikut mengupas. Tangannya tidak pandai. Kulit jeruk itu sobek di beberapa tempat dan ia tidak mengeluh.
"Hari Minggu sebulan yang lalu," kata Ibu Aisyah, tiba-tiba, "Armand datang membawa beras dan susu dari kantornya. Saya melihat sebuah mobil berhenti di seberang jalan, kacanya gelap, dan tidak ada yang turun. Saya tidak berkata apa-apa kepada anak-anak. Tapi saya ingat mobil itu."
Mama Ningsih meletakkan jeruk. "Itu Siska, Bu. Mantan istri Armand."
"Ibu yakin?"
"Dia membuntuti Armand ke sini. Dan dia yang mengirim foto-foto yang membawa saya ke kantor hari itu. Ayahnya sendiri yang menebaknya, dan Siska tidak membantah." Wajahnya mengeras sedikit, lalu melunak lagi. "Saya sudah bicara dengan ayahnya. Dia tidak akan datang lagi ke sini. Mudah-mudahan."
Ibu Aisyah mengangguk, dan itu satu-satunya komentar yang ia ucapkan.
***
Qenna pulang pukul lima lebih sedikit, diantar Citra sampai pertigaan, dan menemukan sedan hitam asing terparkir di depan pagar panti. Dadanya mengencang. Ia mempercepat langkah, membuka pagar, dan melihat Ibu Aisyah di teras bersama seorang perempuan yang punggungnya ia kenali.
"Bu ...?"
"Masuk, Nak." Ibu Aisyah berdiri. "Ibu Ningsih datang membawa buah. Kalian bicara berdua dulu."
Mama Ningsih bangkit dari kursi plastik. Di meja kecil di sampingnya ada piring berisi jeruk kupas yang bentuknya tidak rapi, dan Qenna butuh waktu untuk menyadari bahwa perempuan inilah yang mengupasnya.
"Qenna." Mama Ningsih menyapa lebih dulu. "Maaf mengganggu sore kamu. Saya tidak akan lama."
"Tidak apa-apa, Bu. Silakan duduk."
Mereka duduk berhadapan, dengan jarak satu meja dan satu piring jeruk di antaranya. Ibu Aisyah masuk ke dalam dan menutup pintu perlahan.
"Saya mau mengatakan sesuatu yang terus terang." Mama Ningsih menaruh tangannya di lutut. "Saya takut anak saya terluka lagi. Saya tidak akan menyembunyikannya. Tapi saya juga tidak mau menyuruh kamu menjauh, karena setelah hari Senin itu saya sadar saya tidak berhak."
Qenna menggenggam ujung roknya. "Saya tidak minta apa pun dari Pak Armand, Bu."
"Saya tahu. Itu yang membuat saya mau bicara." Mama Ningsih memandangnya lurus. "Syarat saya cuma satu. Jangan jadikan Armand tameng."
"Tameng?"
"Dari lelaki yang meninggalkan kamu. Dari ibunya. Dari semua yang akan datang." Suaranya merendah. "Armand itu mudah sekali berdiri di depan orang yang ia pedulikan. Dia melakukannya untuk saya bertahun-tahun, dan saya membiarkannya. Saya tidak mau kamu membiarkannya juga."
Kalimat itu terasa seperti ditaruh pelan-pelan di atas dada Qenna. Ia menarik napas dalam-dalam.
"Saya tidak akan menjadikan siapa pun tameng, Bu."
"Bagus." Mama Ningsih mengangguk sekali. "Satu lagi. Surat cerai yang kamu terima itu. Saya tidak tahu apa pun tentang hukum. Tapi ada seorang pengacara keluarga kami, Pak Dimas. Ia sedang menangani perkara panjang di luar kota dan baru bisa menerima tamu setelah bayimu lahir. Jangan lakukan apa pun soal surat itu sebelum Pak Dimas membacanya. Jangan mengurusnya sendiri, jangan menemui ibu mertuamu, jangan menandatangani apa pun."
Qenna menunduk. Ia memikirkan Mama Jamilah, tangan yang menamparnya di kontrakan, amplop cokelat yang tebal. Ia memikirkan betapa malunya jika Armand tahu ia harus merepotkan keluarganya sekali lagi. Dan ia memikirkan lebih dalam lagi, hal yang tidak ingin ia ucapkan: ia takut membangunkan sesuatu yang sekarang tertidur.
"Saya malu merepotkan, Bu."
"Ini bukan repot. Pak Dimas pengacara keluarga kami bertahun-tahun, dan kalau urusan ini ternyata hanya selembar kertas, dia akan menyelesaikannya dalam satu hari." Mama Ningsih menegakkan duduk. "Tapi saya mau kamu yang memutuskan."
Hening. Dari dalam rumah terdengar sayup nyanyian anak-anak kecil yang sudah bangun.
"Saya tunggu sampai bayi ini lahir, Bu," ucap Qenna akhirnya. "Saya tidak mau membangunkan Ibu mertua saya sebelum saya kuat."
"Itu cukup." Mama Ningsih berdiri. Ia mengambil tasnya dan, di ambang tangga teras, berhenti. "Jaga makanmu. Jeruknya habiskan. Itu saya kupas sendiri."
"Ibu mengupasnya sendiri?"
"Hasilnya tidak bagus, saya akui."
Qenna tertawa kecil, dan Mama Ningsih ikut tersenyum samar. Di anak tangga terakhir ia berbalik, mengeluarkan selembar kartu dari tasnya, dan menyodorkannya tanpa kata. Nama Pak Dimas tercetak rapi, lengkap dengan nomor kantor dan satu nomor tangan yang ditulis dengan pena.
"Simpan saja. Tidak perlu dihubungi sekarang."
Setelah sedan hitam itu menghilang di ujung jalan, Qenna membawa kartu tersebut ke kamar belakang dan menyelipkannya ke dalam buku catatan kehamilan, tepat di halaman yang sama dengan nama yang pernah ia coret sampai kertasnya hampir sobek.