Satu orang. Qenna menimbang dua kata itu sejak Ibu Aisyah meninggalkan kamarnya dan sampai Selasa pagi tiba, ia belum menemukan jawaban yang aman.
Tamu panti biasanya banyak. Donatur, tetangga, ibu-ibu pengajian yang suka membawa kue lapis. Kalau Ibu Aisyah bilang satu orang, berarti bukan salah satu dari mereka. Berarti seseorang yang dipilih. Qenna menyisir rambut di depan cermin kecil kamar belakang dan meyakinkan diri bahwa ia tidak sedang berdandan. Ia hanya mengganti kerudung polos dengan yang bermotif tipis, kemudian mengganti lagi ke yang polos, lalu menyerah.
"Kak Qenna! Tikarnya sudah!" Andin muncul di ambang pintu dengan pipi merah dan sarung tangan masak di satu tangan. "Bu Aisyah bilang Kakak duduk di kursi rotan saja, jangan bantu apa-apa."
"Aku mau bantu menata gelas."
"Kata Bu Aisyah, kalau Kakak berdiri lebih dari lima menit, Bu Aisyah akan menjewer telinga Kakak."
"Bu Aisyah tidak pernah menjewer."
"Tapi tadi dia bilang begitu dengan muka serius."
Qenna menyerah untuk kedua kalinya. Ia berjalan pelan menyusuri koridor menuju ruang depan, melewati dapur yang mengepul dan bau santan, bawang goreng, serta kunyit. Anak-anak berlarian dengan kemeja putih dan peci. Dari halaman terdengar suara sandal dan tawa. Lalu sebuah mobil sedan hitam masuk melewati pagar yang terbuka lebar, pelan, seperti takut menggilas sesuatu.
Qenna berhenti.
Sedan itu ia kenal. Tidak mungkin ia tidak mengenalnya, ia sudah berbaring di kursi belakangnya dengan tangan memegang perut.
Pintu terbuka. Armand turun, mengenakan kemeja putih lengan panjang dan celana gelap, tanpa jas, tanpa dasi. Tangannya kosong. Ia berdiri sejenak di samping mobil, memandangi halaman penuh anak-anak, dan seseorang pasti mengatakan sesuatu padanya, sebab ia tersenyum kecil.
"Om bawa apa?" Anak berkepang dua sudah menyerbunya dari samping.
"Tidak bawa apa-apa."
"Kok tidak bawa apa-apa?"
"Karena Om diundang. Bukan datang sendiri." Armand menjawab dengan sangat serius, dan Qenna dari balik tiang teras hampir tertawa melihat wajah serius itu.
Ibu Aisyah keluar dari dapur sambil mengelap tangan di celemek. "Nak Armand. Terima kasih sudah datang."
"Terima kasih sudah mengundang, Bu."
Ibu Aisyah menoleh sejenak ke arah tiang tempat Qenna bersembunyi. Ia tidak mengatakan apa pun. Hanya mengangkat satu alis, dan itu cukup.
Qenna ingin marah. Ibu Aisyah tidak pernah menyembunyikan apa pun darinya sejak aturan "tidak ada kebohongan di rumah ini" ia buat sendiri, dan hari ini ia melanggarnya dengan senyum polos seperti anak kecil yang menyembunyikan permen. Tetapi ia tidak menemukan marah di mana pun. Yang ada hanya kakinya yang ingin melangkah mundur dan kakinya yang ingin maju, bertengkar tanpa suara.
***
Doa dimulai setelah azan, di ruang depan yang tikarnya digelar rapat sampai ke teras. Anak-anak duduk bersila berderet menurut tinggi badan, dan Ibu Aisyah memimpin dengan suara yang pelan, lambat, seperti menuang air ke gelas yang sudah penuh. Armand duduk di barisan paling belakang, di dekat pintu, punggung tegak dan peci hitam pinjaman yang kebesaran.
Ketika Ibu Aisyah sampai pada doa untuk ibu dan bayi yang selamat, "lindungilah ia, jagalah apa yang ia kandung, jadikan anaknya penyejuk mata", suaranya sedikit bergetar. Dari kursi rotan di sudut Qenna melihat Armand menunduk dan mengusap wajahnya dengan telapak tangan, bukan karena ritual, dan mengucapkan amin yang paling lama di seluruh ruangan.
Ia cepat-cepat mengalihkan pandang ke lantai.
***
"Sebentar saja, Nak," ujar Ibu Aisyah. "Bantu Ibu mengangkat ini."
Armand mengangkat panci besar berisi nasi kuning dari kompor dengan dua kain di tangan, memindahkannya ke meja panjang di sudut dapur. Sudah lama sekali ia tidak melakukan hal sesederhana ini. Dapur panti itu kecil, panas, penuh barang-barang yang dipakai bukan untuk dipajang. Dari jendela terlihat Andin menyuapi seorang anak kecil dengan kerupuk.
"Ibu mengundang kamu bukan untuk menguji," kata Ibu Aisyah, memunggungi sambil mengaduk kuah. "Ibu mau melihat apakah kamu betah di sini tanpa alasan."
"Tanpa alasan?"
"Tanpa uang, tanpa mobil, tanpa kartu nama. Cuma kamu, dapur ini, dan Ibu yang suka cerewet." Ia mematikan api. "Sudah lima pekan kamu tidak datang. Hans cerita."
Armand menatap panci yang masih mengepul. Hans memang tidak bisa menyimpan apa pun.
"Bu." Ia menarik napas. "Saya mau bicara terus terang, boleh?"
"Silakan."
"Saya menghormati yang Ibu minta di rumah sakit. Saya tidak datang karena itu. Bukan karena tidak ingin." Ia berhenti sebentar, lalu meneruskan dengan suara yang rendah dan tegas. "Saya tidak akan melamar istri orang, Bu. Yang saya takutkan bukan ditolak. Saya takut perhatian saya jadi utang yang ia merasa harus bayar, karena saya atasannya dan ia tidak punya banyak pilihan. Kalau suatu hari dia bebas dan memilih, saya ada. Kalau tidak, saya tetap atasan yang baik dan teman yang tahu tempatnya."
Ibu Aisyah berbalik. Matanya tidak menyorot marah, juga tidak lunak. Ia menimbang.
"Kalau dia memilih orang lain?"
"Maka saya akan menjadi orang yang paling berterima kasih bahwa dia memilih sendiri, Bu." Ia menatap lurus. "Saya tidak mau jadi pilihan karena tidak ada yang lain."
"Bebas dan memilih," ulangnya pelan. "Dua syarat itu bukan milik Ibu, Nak. Bukan juga milikmu. Itu milik Qenna dan Allah."
"Saya tahu, Bu."
"Kamu selalu bilang tahu." Sudut bibirnya naik sedikit. "Ibu mulai suka kalau anak muda bilang tahu dan ternyata memang tahu."
Dari ruang depan terdengar pintu berderit. Ibu Aisyah melirik, tetapi tidak berkata apa-apa.
***
Qenna berdiri di balik daun pintu yang terbuka sedikit, satu tangan di kusen, satu lagi di perut. Ia tidak menguping. Ia hanya ingin mengambil gelas, dan gelas itu ternyata di meja dapur, dan sebelum sampai ke meja ia mendengar kalimat itu.
Sebagian kalimat itu.
"Dua syarat. Bebas. Memilih," ulangnya dalam hati.
Wajahnya panas sampai ke telinga. Ia mundur selangkah, dua langkah, dan hampir menabrak meja tamu. Dadanya berdebar tidak keruan, bukan debar yang membuat sesak, tetapi debar yang membuat ingin berlari, dan itu lebih mengerikan.
"Saya tidak akan melamar istri orang," gema suara Armand di kepalanya.
Ia mengepalkan tangan di perut. Kalimat itu seharusnya melegakan. Lelaki itu menyebut batas, mengakui status Qenna, tidak menawarkan apa-apa yang bisa ia tolak. Tetapi justru karena itu ia tidak sanggup mengangkat wajah. Ia merasa ketahuan menyimpan sesuatu yang bahkan belum ia ketahui.
"Kak Qenna, mukanya merah banget," bisik Andin yang mendadak muncul dari bawah lengannya. "Kakak demam?"
"Tidak. Cuma ... panas."
"Panas? Kan mendung."
"Andin."
"Iya, Kak. Aku tidak lihat apa-apa." Andin berbalik dan berlari pergi dengan senyum yang sama sekali tidak terlihat seperti tidak melihat apa-apa.
Qenna menarik napas panjang, memejamkan mata, dan merapikan kerudungnya dua kali. Ketika Armand keluar dari dapur dengan lengan baju tergulung dan sisa nasi kuning di jarinya, ia sudah berdiri tegak di tengah ruang depan dengan wajah sedatar yang bisa ia paksa.
"Pak Armand."
"Qenna." Armand berhenti. Tatapannya berpindah ke wajahnya, perut, kembali ke wajah. "Kamu ... kelihatan sehat."
"Dokter bilang boleh berjalan di rumah." Ia mencari-cari sesuatu untuk dikatakan. "Saya dengar, Bapak tidak bawa apa-apa."
"Saya diundang."
"Berarti Bapak lapar."
Ujung bibir Armand bergerak, nyaris. "Sedikit."
"Ada bubur kacang hijau di dapur." Qenna menelan ludah, memilih menatap kancing kemejanya saja. "Bubur kacang hijau, Pak. Tanpa santan, kata dokter, tapi saya sudah makan dua mangkuk dan belum ada yang protes."
"Saya mau," jawab Armand. Hanya itu, dan suaranya lebih lembut daripada yang pernah ia dengar.